Almekia Kingdom

Almekia Kingdom
104. Jasper - Cemetery (2)



"Jasper?...don't tell me." Zircon kaget sekali mendengar jawaban Ruby dan aku hanya bisa ternganga takjub.


'Kaulah itu ayahanda Raja? Kaulah Jasper yang dimaksud oleh Ruby?' jeritku dalam hati.


"Seingatku satu-satunya yang dianggap saudara oleh ayahku adalah pria bernama Jasper itu. Pasti itu adalah makamnya." Ruby menjawab dengan sedikit menggali ingatannya.


"Jasper? Jasper Durchlaucth? Mendiang paduka Raja?" Tanyaku sangat penasaran dengan ucapannya.


"Aku tak tahu apa dia orang yang sama. Jasper saudara ayahku dengan Jasper ayahmu." Ruby mengatakannya dengan nada penyesalan.


"Dimana? Dimana pusara saudara ayahmu? Dimana makam Jasper?" tanyaku semakin mendesaknya.


"Aku, aku tak tahu tepatnya dimana makam itu. Yang pasti ada di komplek pemakaman ini" Ruby terlihat sedikit takut melihat ketidak sabaran dariku.


"Iya, itu dimana?" Nada suaraku sudah naik satu oktav tanpa bisa kucegah.


"Jes, calm down." Zircon berdiri diantara aku dan Ruby. Mungkin dia takut aku akan menyakiti Ruby kalau gadis itu tak bisa memberikan jawaban.


Dengan rasa frustasi dan penasaran yang memuncak aku langsung beralih dari kedua temanku itu. Berlari berkeliling komplek pemakaman itu. Memeriksa satu persatu batu nisan dan tulisan yang terukir disana. Mencari dan terus mencari, berharap menemukan nama itu. Berharap menemukan batu nisan yang bertuliskan nama ayahku.


Zircon dan Ruby seakan mengerti apa yang sedang kupikirkan dan ingin kucari. Keduanya juga ikut berkeliling komplek pemakaman, mencari-cari dari satu makam ke makam yang lainnya. Membantuku mencari nama ayahku.


Aku berhenti sejenak setelah berkeliling beberapa putaran. Tanpa hasil yang kudapatkan. Nama ayahanda Raja tak dapat kutemukan dimana pun.


'Dimana? Kau ada dimana ayahanda?'


Kuamati seluruh komplek pemakaman ini dengan teliti. Ayahanda adalah seorang raja. Pastinya moloseumnya jauh lebih megah daripada yang lainnya. Berarti tidak mungkin ada disekitar sini.


Sejauh aku berkeliling dan membaca berbagai nama di batu nisan tadi, memang banyak sekali bangsawan dengan segala gelarnya dimakamkan disini. Tapi tak satu pun kubaca nama raja yang bersemayam di kompleks pemakaman ini.


'Berarti bukan disini. Pemakaman para raja dan ratu bukan disini, tapi dimana?'


Kuedarkan sekali lagi pandanganku kesegala penjuru dan kudapati pucuk-pucuk bangunan berkubah yang lebih besar dan megah. Jumlahnya cukup banyak tapi terpisah-pisah dengan jarak yang lumayan jauh.


Bangunan-bangunan berkubah itu tersembunyi dan tertutup rimbunnya pepohonan rindang yang hijau. Jauh disana, di seubuah pulau kecil yang terletak di tengah-tengah danau keabadian.


"Disana!" Ujarku menunjuk pulau di tengah danau itu.


"Dimana? Di danau?" Zircon bertanya kebingungan.


"Maksudmu di pulau di tengah danau?" Tanya Ruby sepertinya dapat menangkap maksudku.


"Bagaimana kita dapat kesana?" tanyaku.


"Ada sebuah dek perahu di dekat kuil. Pasti ada sebuah perahu juga disana." Ujar Ruby.


Tanpa basa-basi aku beranjak dari posisiku. mendahului kami berjalan kearah kuil. Melangkah dengan langkah cepat seakan tak ingin membuang waktu sedetik pun.


Ruby dan Zircon mengikuti langkahku dari belakang. Kami berjalan sampai ke kuil, melewatinya dan terus berjalan menyusuri tepian danau menuju sebuah dek perahu yang terbuat dari kayu.


Dan benar saja di tiang pancang dek terlihat ikatan tali yang menyambung dengan sebuah perahu dayung dari kayu yang bersandar di sebelah dek.


"Kita bisa menggunakan perahu ini." Ujar Zircon mengamati perahu itu dengan seksama. Lalu mendahului kami berdua untuk menaiki perahu. Memeriksanya apa kira-kira perahu ini aman untuk kami naiki bertiga sekaligus.


"Aman. Bisa dinaiki." Zircon memberitahu kami.


Zircon mengulurkan tangannya untuk membantu Ruby menuruni dek dan menaiki perahu, duduk di kursinya di bagian tengah. Akupun mengikuti mereka berdua menaiki perahu. Berjalan terus sampai ke posisi paling ujung perahu. Untuk menjaga keseimbangan, aku dan Zircon di posisi ujung dan Ruby di tengah perahu.


"Gimana cara menjalankannya?" tanyaku sedikit bingung. Seumur-umur aku tak pernah menaiki perahu tradisional seperti ini.


"Kau dayung dari sisi depan. Aku yang mengatur sisi belakang. Cukup kepakkan dayungnya ke air dengan arah berlawanan dengan tujuan kita." Jawab Zircon sambil memberikan contoh mengepakkan dayungnya dan membuat perahu kami bergerak beberapa centi meter kedepan.


"Kalau mau lebih cepat bisa sedikit pakai tenaga dalam. Tapi jangan banyak-banyak. Takutnya perahu akan terguling karena hentakan tenaga yang terlalu besar." Ruby ikut memberikan saran pada kami.


Aku dan Zircon hanya mengangguk menjawabnya. Berkonsentrasi untuk mendayung dengan sedikit mengerahkan tenaga dalam kami dengan kekuatan yang sedang dan stabil. Perlahan namun pasti perahu kami mulai bergerak, meninggalkan tepian danau. Semakin ke tengah dan semakin mendekati pulau di tengah danau. Dekat dan semakin dekat.


Ruby mencelupkan tangannya ke air. Memainkan jemarinya dengan mengaduk-aduk air dipermukaan danau. Sesekali gadis itu mencipratkan air danau pada Zircon, menggodanya. Zircon hanya tersenyum menanggapi kenakalan Ruby itu. Lagi-lagi keduanya berlaku seolah dunia milik mereka berdua dan aku hanya orang ngontrak. Sialan.


Beberapa menit kemudian sampailah kami di tepi pulau kecil ditengah danau. Aku mendahului Zircon dan Ruby untuk melompat menuruni perahu. Langsung bergegas dan berlari menuju bangunan beratap kubah yang kulihat dari kompleks cemetery tadi. Ke sayap kanan pulau ini.


Kudapati sebuah moloseum megah dan besar, beratap kubah berwarna putih bersih. Seluruh bangunan itu terbuat dari marmer yang mengkilat dan tak akan rusak termakan waktu. Tepat di tengah-tengah bangunan terdapat dua buah bentukan persegi panjang sebesar seukuran peti mati. Salah satunya kosong dan ditumbuhi rerumputan sedangkan salah satunya menyerupai balokan batu nisan sebuah makam.


Aku berjalan semakin mendekat kearah makam itu. Makam yang terbuat dari batu marmer yang halus dan sangat mengkilat berwarna hitam. Diatas batu itu terukir dengan huruf-huruf indah bak kaligrafi tulisan yang telah lama aku cari:


*Disini telah bersemayam dalam damai


Jasper Soltnse Durchlaucth


Seorang prajurit yang tangguh


Suami tercinta


Seorang ayah terkasih


Sahabat kesayangan


Raja yang agung bagi kerajaan Almekia


Semoga namamya tetap abadi dalam kemegahan dan kejayaan Almekia Kingdom*


Mataku terbelalak demi melihat batu nisan bertuliskan nama ayahnda Raja. Sesuatu yang sudah dicari dan diidamkannya sejak lama. Kubaca lagi dan lagi untuk memastikan bahwa apa yang kulihat ini nyata. Bukan sekedar khayalan atau mimpiku semata. Aku bahkan mencubit lenganku sendiri beberapa kali, menyakinkan diri bahwa aku sedang tidak bermimpi.


'Ayahanda...akhirnya aku menemukan dirimu.'


Aku terduduk lemas dan tersungkur ke batu nisan itu, seolah tulang-tulangku serasa melunak seketika. Lemah dan tak bertenaga. Kupeluk erat batu nisan itu, batu nisan ayahandaku. Akhirnya aku menemukan makam itu, makam ayahandaku. Tempat terakhir dimana tubuh ayahandaku bersemayam.


Air mataku mengalir deras tak terbendung begitu saja. Aku menangis meraung-raung, tertawa dan dan tersenyum sekaligus. Seperti orang gila saja rasanya.


Segala rasa seperti bercampur aduk dan tumpang tindih memenuhi seluruh jiwa dan perasaanku. Rasa senang, rasa bangga, rasa haru, rasa sedih dan rasa pilu semua bercampur menjadi satu. Melebur dan mengharu biru di dadaku.


"Ayahanda...Ayahanda..." Sapaku sambil membelai lembut batu nisan ayahandaku.


Zircon dan Ruby berhasil menyusul dan menghampiriku setelah menambatkan perahu dengan aman. Mereka mendekat dan mengamati batu nisan yang kupeluk dengan sangat kaget. Keheranan juga bagaimana aku bisa menemukan makam ayahanda dengan tepat. Seolah ada yang membimbingku kesana secara tidak sadar.


Ruby menaburkan bunga dari keranjang terkahir yang dibawanya sejak tadi. Menaburkannya disekeliling batu nisan mamer yang masih kupeluk erat. Zircon berlutut dan menepuk ringan punggungku, seakan memberiku selamat karena telah berhasil menemukan makam ayahandaku.


"Anakmu ini sudah dewasa, Ayahanda. Maafkan aku...Maafkan aku yang tidak pernah sekalipun mengunjungimu sebelumnya. Maafkan aku yang tidak tahu-menahu mengenai dirimu. Maafkan aku yang sudah menjadi anak yang sangat tidak berbakti padamu..." Ujarku terisak berbicara kepada batu nisan ayahandaku. Berharap beliau dapat mendengarnya.


"Ayahanda, aku akan menjaga ibunda untukmu. Aku akan membahagiakannya untukmu...Dan aku juga akan menjaga kerajaanmu. Meneruskan kejayaan kerajaan yang telah kau perjuangkan dengan mempertaruhkan nyawamu ini." Lanjutku sambil terus memeluk dan membelai nisan marmer itu.


Aku duduk belama-lama disana sambil terus saja memandangi dan memeluk dan membelai batu nisan itu. Seakan ingin melepas kerinduan yang mendalam pada ayahanda yang bahkan tak pernah sekalipun kutemui. Air mataku mengalir deras seakan tak terbendung lagi, mengalir dan terus mengalir membasahi batu nisan marmer itu.


Sementara Zircon dan Ruby meninggalkanku, sedikit menjauh. Untuk dapat memberiku privasi dan waktu yang lebih leluasa dengan makam ayahku. Membiarkanku berbicara dan mencurahkan segala perasaan yang ingin kuucap dan kuungkapkan kepada mendiang ayahanda Raja.


..._______#_______...


🌼Yuuuuks gaes PLIIIIS jangan lupa kasih LIKE, VOTE dan KOMEN 🌼