Almekia Kingdom

Almekia Kingdom
38. Jasper - Escape (2)



"BERHENTI!! BERHENTI ATAU KAMI TEMBAK!!"


Terdengar suara ancaman dari posko penjagaan di bawah kami. Suara sirine yang memekakkan telinga juga ikut berbunyi nyaring. Seolah mengatakan ada pelarian atau buronan akan kabur melewati tembok.


Rupanya salah satu dari kami entah siapa, atau bahkan mungkin kami bertiga sekaligus yang mengenai sinar laser atau lampu sorot tadi. Kami tak berhasil menghindari sorotan lampu dan sinar laser tadi dengan selamat.


Mau tak mau harus kuacungi jempol, memuji system keamanan ibukota ini. Sulit sekali untuk ditembus, tapi kali ini malah menyusahkan untukku. Rasanya seperti senjata makan tuan saja.


"Terus maju! Jangan pedulikan mereka!" Saphir memberikan komando.


"Tapi kita sudah ketahuan." Platina sedikit ragu.


"Yang penting kita kabur dulu." Aku menyetujui usulan Saphir. Masa mau menyerahkan diri?


Aku tak memperdulikan suara sirine yang keras berbunyi itu. Seperti halnya Saphir dan Platina aku semakin menancap gas, memacu gearku kencang-kencang. Tak memperdulikan rentetan tembakan yang mulai diarahkan ke kami. Menghindar dan terus menghindar sampai kami terlepas dari jarak tembak mereka.


Rentetan tembakan itupun berhenti, tetapi sebagai gantinya lima gear standart terbang dari arah tembok mengejar dan mengikuti kami. Berniat menangkap kami yang dianggap sebagai buronan kerajaan.


Kami terus saja kabur dan kabur, tak ingin menambah masalah lagi dengan bertarung melawan mereka. Terbang sejauh mungkin dari tembok besar yang mengelilingi ibukota kerajaan.


Beberapa kilometer jauhnya kami kabur untuk menghindari kejaran mereka. Sampai akhirnya kemudian kami mendengar suara ledakan-ledakan dibelakang kami. Dan begitu kulihat dan kuperhatikan lebih seksama ternyata suara itu berasal dari Fenrir dan Hydra yang sedang bertarung meringkus kelima gear pengejar kami tadi.


"Kalian baik-baik saja?" Tanya Opal cemas dengan membuat sambungan kepada ketiga gear kami sekaligus. Setelah membereskan kelima gear itu dan menghampiri kami.


"Bukannya sudah kubilang, jangan sampai terlalu mencolok dan menarik perhatian? Kenapa malah jadi seheboh ini?" Lanjutnya entah mengapa nampak begitu kesal dan marah kepada kami bertiga sekaligus.


"Sudahlah tak usah dibahas lagi. Yang penting Jasper sudah kami antarkan dengan selamat sampai bertemu dengan kalian. Lagipula sekarang kita sudah aman kan?" Platina berusaha meredakan suasana.


"Tapi kalau begini jadinya kalian tak bisa kembali ke istana kan?" Timpal Zircon terlihat berusaha menekan emosinya.


Aku kaget sekali mendengar perkataan Zircon. Memikirkan ucapannya yang sangat masuk akal. Kenyataan ini membuatku dapat memahami alasan kenapa baik Opal dan Zircon sampai semarah itu.


"Gear kalian sudah dikenali oleh penjaga perbatasan, tinggal menunggu waktu saja untuk mengetahui siapa pengendalinya." Zircon menjelaskan situasinya.


"Ditambah lagi kalian berdua jelas-jelas kabur melarikan seorang pangeran!" Saking geramnya Zircon sampai memakai kalimat-kalimat panjang.


Baik Aku, Saphir dan Platina hanya bisa melongo dalam gear masing-masing. Terkejut dan kaget menyadari betapa serius dan bahayanya masalah yang kami timbulkan.


Bagaimana ini? Baru saja kami memulai aksi untuk mencari paman Obsidian tapi sudah dihadapkan masalah pelik begini. Apa kami harus menyerah dan kembali pulang ke istana? Apa kami harus menggagalkan semua rencana kami?


"Habisnya...habisnya kami tak tahu bagaimana cara menghindari sensor Flashlight dan laser tadi." Saphir membela diri tak mau kalah.


"Bukannya aku hanya mengatakan untuk mengantar Jasper sampai perbatasan? seharusnya kalian kembali ke istana setelah tembok terlihat. bukan malah ikut menyeberang." Ujar Opal geram.


"Lalu, lalu kita harus bagaimana?" Pertanyaan bodoh itu terlontar begitu saja dari mulutku. Tak tahu lagi harus bagaimana selanjutnya.


"Terserah padamu. Mau lanjut atau balik pulang ke istana." Zircon malah mengembalikan keputusan kepadaku.


"Kita sudah sejauh ini, tak mungkin untuk kembali." Saphir memberikan suaranya.


"Benar sekali. Kalau kita kembali juga pasti akan mendapatkan hukuman yang sangat berat." Platina sedikit bergidik membayangkan hukuman apa yang kira-kira akan mereka hadapi kelak.


"Bagaimana, Jez?" Opal mendesakku untuk mengambil keputusan. Seolah menegaskan bahwa dia kan menghormati apapun keputusanku nanti. Karena bagaimanapun pelarian dan semua rencana gila ini semua berawal karena aku.


"Aku pribadi si meemilih lanjut." Aku memutuskan.


"Aku ikut," Saphir menyetujui.


"Aku juga." Platina tak mau kalah.


"Baiklah." Opal membuang napas pasrah. "Tak ada pilihan lain, kita terpaksa harus mengajak mereka berdua. Kalaupun mereka kembali ke istana pasti mereka akan dihukum dan dipaksa mengungkapkan semua rencana kita" Jawab Opal mengambil kesimpulan apa yang akan kami lakukan. Dia memang tipe yang memiliki control emosi yang luar biasa bagus dan berkepala dingin.


"Sebaiknya kita segera pergi dari sini sebelum bala bantuan pasukan pengejar kita tiba!" Opal membawa Hydra melesat terbang diikuti oleh Fenrir dan gear kami bertiga tanpa berkomentar sedikitpun. Kami berlima menerbangkan gear kami dan memacunya dengan kecepatan tinggi. Ingin secepatnya pergi menjauh dari area perbatasan ibukota kerjaaan.


Bagaimana mungkin hal ini bisa terjadi? Aku tak sanggup membayangkan bagaimana reaksi bibi Agata dan paman Kunzite, Diamond belum juga sembuh dari sakitnya, kekhawatiran mereka akan putranya itu masih belum berakhir. Malah sekarang harus ditambahi dengan Saphir pergi tanpa pamit dan terancam menjadi buronan, gara-gara aku.


Belum lagi paman Euclase dan bibi Emerald yang pastinya lebih heboh lagi karena Platina, putri semata wayang mereka tiba-tiba menghilang.


Dan bagaimana kira-kira reaksi ibunda ratu jika mengetahui aku tidak ada di kamarku besok pagi? Apakah beliau akan khawatir seperti paman dan bibi lainnya? Atau mungkin marah karena aku membawa Advandli tanpa ijin? Bahkan mungkin justru kecewa karena sikapku yang kekanak-kanakan dan sangat gegabah dalam mengambil keputusan? Keputusan egois tanpa memikirkan segala akibat yang ditimbulkan bagi diriku dan orang lain?


"Jez...Aku, takut!" Tiba-tiba Saphir muncul di layar komputerku, melakukan sambungan pribadi hanya untuk kami berdua saja. Wajah gadis itu tampak begitu pucat, sedih dan dengan tubuhnya yang sedikit gemetar menahan tangisnya jatuh.


"Saphir...jangan takut. Aku akan selalu menemanimu. Kami semua bersamamu." Jawabku sok tenang dihadapannya, berusaha menenangkan dan menguatkannya. Padahal aslinya aku juga sama takut dan gugupnya denganya. Aku yang bahkan tak pernah sekalipun keluar istana tanpa pengawalan.


"Ibu pasti sangat sedih, ayah juga akan kecewa... Apa kita masih bisa kembali lagi ke istana lain kali? " Tanyanya begitu memilukan sehingga aku hanya mampu mengangguk menjawabnya walau dalam hati akupun meragukannya.


Kelima gear kami terus melaju dalam kegelapan malam, beriringan di dalam diam. Tak ada yang sanggup berkata-kata atau bercengkerama. Semua sibuk dengan pikiran masing-masing. Memikirkan bagaimana nasib kami selanjutnya, bagaimana kami akan hidup sebagai buronan? bagaimana cara kami untuk mencapai kota BloodyHell? Segalanya penuh dengan ketidak pastian.


Tapi tekad kami sudah bulat untuk mengungkap segala misteri tentang kerajaan ini. Tak ada lagi kata mundur, kami akan terus maju tanpa menoleh kebelakang lagi.


"Selamat tinggal istana, ibukota, dan segala kehidupanku. Semoga masih ada kesempatan untukku kembali pulang kesini kelak" Ujarku dalam hati sambil memandang salah satu layar kokpidku yang menampakkan pemandangan dibelakangku. Pemandangan ibukota dengan gemerlap lampu-lampunya, semakin kecil dan semakin menjauh sebelum akhirnya hilang dari pandangan.


...__________#__________...


🌼Yuuuuks gaes PLIIIIS jangan lupa kasih LIKE, VOTE dan KOMEN 🌼