Almekia Kingdom

Almekia Kingdom
102. Zircon - True Love (2)



"Apa kau ingin kita menikah disana nantinya, Ruby?" Tanyaku pada gadis itu. Ingin tahu bagaimana konsep pernikahan yang diinginkan olehnya. Karena sebagai calon suami aku juga ingin mewujudkan pernikahan yang diidamkannya olehnya.


"Tidak! Aku tidak mau." Jawab Ruby cepat-cepat. Jawaban yang diluar dugaanku.


Ruby yang telah lama tinggal di daerah ini, mengerti tradisi dan kebanggan melangsungkan pernikahan sakral. Kenapa malah tak ingin untuk menikah di kuil itu? Apa dia juga tak suka dengan konsep pernikahan abadi dengan segala konsekwensinya?


"Aku tak mau salah satu dari kita harus menderita terlalu lama. Karena kita tak tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Bagaiman jika takdir yang tak terbantahkan harus memisahkan kita?" Ruby menjawab dengan mantap dan menatapku tajam.


"Aku setuju." Aku tersenyum puas dengan jawab Ruby.


"Kau boleh menikah lagi dan melanjutkan hidupmu dengan bahagia bersama wanita lain. Jika aku yang pergi duluan meninggalkanmu dan dunia ini." Ruby memberiku sebuah pernyataan tegas.


Keren banget kan calon istriku? Mana ada coba wanita lain yang sepertinya? Biasanya wanita lain tak akan rela suaminya untuk menikah lagi. Bahkan jika setelah dirinya meninggalkannya sendirian. Tapi Ruby malah lebih memilih membiarkanku untuk mencari kebahagiaan dengan wanita lain daripada terpuruk dalam kesedihan karena kenangan tentangnya.


Yah semoga saja takdir menyedihkan itu tak akan menghampiri kami. Semoga kami dapat menjadi pasangan yang harmonis sampai kakek nenek nanti.


"Hal yang sama berlaku untukmu juga Ruby. Kau berhak memperoleh pengganti diriku jika aku pergi terlebih dahulu meninggalkan dirimu. Kau berhak untuk hidup bahagia." Aku juga memberikan pernyataanku kepadanya.


"Kau bebas mencari isteri yang lain yang bisa membahagiakanmu jika aku yang duluan mati." Ruby menatapku dengan penuh arti dan tersenyum sinis. "Tapi aku sendiri yang akan membunuh kau, jika berani berselingkuh saat aku masih hidup" Lanjutnya dengan mengepalkan tinjunya padaku.


"Tidak akan. Hanya kau yang akan selalu ada di hatiku. Tak ada yang lainnya." Aku menyanggupi mantap.


"Akan ku pegang perkataanmu." Jawab Ruby padaku.


"Hahahaha, yaampun kalian berdua bahkan sudah berfikir sampai sejauh itu tentang hubungan kalian?" Jasper tiba-tiba tertawa melihat tingkah dan pembicaraan kami berdua yang mungkin terlalu serius dan aneh untuk didengarkan. Kami yang bahkan belum melangsungkan pernikahan.


"Tentu saja," jawabku.


"Karena kami pasti akan menikah." Ruby ikut menjawab dengan mantap. Jawaban yang mampu membuatku kegirangan demi mendengarnya.


"Saphir ingin melaksanakan pernikahan di kuil dan danau keabadian itu" Ujar Jasper sedikit kecewa.


"Selamat ya!" Komentarku padanya. Sudah jelas, gadis seperti Saphir atau Platina pasti menginginkan pernikahan yang sakral dan fenomenal begini. Tanpa memikirkan lebih jauh dampak selanjutnya. Kemungkinan yang dapat terjadi kemudian hari.


"Bagaimana denganmu sendiri?" tanya Ruby penasaran dengan pendapat Jasper pribadi.


"Aku tak keberatan." Jasper berkata mantap. "Sama seperti kedua orang tuaku, aku rela terikat dengan cinta abadi dengan Saphir. Walau apapun yang akan terjadi selanjutnya pada kami di waktu mendatang. Baik suka maupun duka," lanjutnya.


"Yah semoga saja kisah cinta kalian abadi. Semoga kalian panjang umur sampai kakek nenek," Doaku untuk Jasper dan Saphir. Tak ingin kejadian pahit yang terjadi pada orang tua Jasper dan Ruby kembali menimpah Jasper dan Saphir nantinya.


Baik, aku, Jasper maupun Ruby kompak mengamini doa yang kupanjatkan untuk kedua temanku itu.


"Ini ruang kerja ayahku. Biasanya beliau menghabiskan waktu disini untuk membaca dan menulis entah apa itu. Menyelesaikan administrasi dan segala urusan kota juga disini." Ruby mengantarkan kami ke salah satu ruangan di rumah. Sebuah ruang baca yang mirip perpustakaan mini dengan banyak sekali buku disana.


Aku dan Jasper segera berpencar untuk memeriksa seluruh ruangan ini. Kudekati meja kerja yang terbuat dari kayu berukir indah di tengah ruangan. Diatasnya terdapat banyak sekali kertas-kertas. Kupilah satu persatu kertas itu, kubaca sekilas isinya. Mungkin saja ada yang berguna bagi pencarian kami.


Jasper menghampiri rak buku, mencari judul buku atau hal lain yang terdapat disana yang sekiranya berkaitan dengan tujuan kami juga. Ruby juga ikut mencari dari barang-barang yang berserakan di lantai. Cukup lama kami bertiga berkutat dengan pencarian kami, seperti mencari sebuah jarum di tumpukan jerami.


"Sepertinya peta ruins. Mungkinkah reruntuhan kuno tempat ayahmu menghilang?" Aku menerka-nerka.


"Bisa jadi. Sebaiknya kita simpan ini, siapa tahu dapat kita pergunakan kelak," Ruby membenarkan ucapapanku.


Jasper menunjukkan sebuah buku yang berjudul The History of Solarian. "Buku ini tersimpan dengan posisi yang ganjil. Seakan sengaja agar dapat ditemukan dengan mudah. Dan setelah kuperiksa ada satu halaman yang terlipat."


Aku dan Ruby mendekat ke arah Jasper, mengamati halaman buku itu. Disana kami dapati dua buah lencana berukir indah. Satu lencana berwarna biru dengan ukiran berbentuk ombak di lautan yang bergulung-gulung. Satu lagi lencana berwarna kuning keemasan dengan ukiran berbentuk emas batangan yang bertumpuk tumpuk. Kedua simbol itu memiliki poros berbentuk lempengan bulat sebesar bola pingpong.


Apa maksud kedua lencana ini? Kuambil holocell dari kantongku dan kuambil foto kedua gambar itu. Kalau-kalau kami membutuhkannya kelak.


"Ombak...Lautan biru...Emas kekuningan...Emas yang kokoh" Jasper tiba-tiba berguman lirih.


"Sepertinya aku pernah mendengarnya. Tapi dimana ya?" jasper berusaha mengingat isi kepalanya.


"Pewaris tahta Almekia Kingdom, kejayaan akan berkibar kembali saat emas yang kokoh bertemu dengan lautan biru yang dalam, tenang menghanyutkan, bersatu..." Jasper tiba-tiba mengatakan sebuah kalimat yang sangat misterius.


"Darimana kau mendengar kata-kata itu?" tanyaku penasaran mendengar kata-kata yang puitis dan misterius dari mulutnya.


"Old Balz. Aku mendengarnya dari Old Balz waktu itu di rumah sakit." Jawab Jasper memastikan ingatannya.


"Tapi apa maksudnya ini?" Ruby bertanya kebingungan dengan semua teka teki yang kami temukan.


"Dan ini satu lagi." Kutunjukkan sebuah kertas usang lainnya yang kutemukan di atas meja kerja paman Obsidian.


Kertas itu dilukis abstrak dengan gambar dua buah bulatan. Gambar yang tampak seperti matahari dan bulan. "Bulan dan matahari," ujarku mencoba kembali merenungi apa maksud dari gambar itu.


"Bulan dan bintang indah berkilauan, tapi merekapun akan mati tak berdaya tanpa secercah cahaya dari sang surya." Sekali lagi Jasper mengatakan kata-kata indah bak puisi yang sangat sulit dimengerti.


"Apa lagi itu?" Tanyaku penasaran. "Bukannya bintang tak butuh cahaya dari matahari untuk dapat hidup?"


"Ibunda ratu pernah menggumamkan kata-kata itu di istana. Dulu aku juga berpikir sama sepertimu...Tapi sekarang aku mengerti. Aku sudah tahu maksud perkataan beliau." Jasper mencoba membuat analisa.


"Hah? bagaimana?" Ruby terlihat sangat kebingungan mencerna ucapan Jasper.


"Bulan adalah mesyats, Nama lengkap ibunda ratu adalah Nefrit Mesyats Mountbatten. Bintang adalah Sterne, aku sendiri Jasper Sterne Durchlaucth. Dan sang surya adalah Soltnse pastilah ayahanda raja Jasper Soltnse Durchlaucth." Jasper mengatakan analisa atas nama keluarga kerajaan. Analisa yang sangat masuk akal.


"Jadi semuanya berhubungan. Semua seperti kepingan-kepingan puzzle yang masih terpisah. Kita harus bisa menatanya menjadi kesatuhan utuh." Aku mengambil kesimpulan dari ketiga barang temuan kami itu. Ketiga barang yang pasti berhubungan dengan kejadian masa lalu. Berhubungan dengan misteri besar yang ingin kami pecahkan.


"Yah kau benar. Kita akan menggali jauh lebih dalam lagi misteri ini. Mengungkapkan lebih banyak lagi kebenaran yang lama terkubur." Ujar Jasper penuh tekad dan pandangan mata membara, bersemangat.


..._______#_______...


🌼Yuuuuks gaes PLIIIIS jangan lupa kasih LIKE, VOTE dan KOMEN 🌼