Almekia Kingdom

Almekia Kingdom
83. Opal - Tecnician



Tepat tengah hari aku mengajak Platina untuk kembali kembali ke tournamen hall. Setelah kami puas berkeliling kota, membeli segala sparepart gear yang dibutuhkan untuk Fenrir, dan mengisi perut kami sampai kenyang.


Setelah bebas dari tawanan kami tak ingin lagi merasakan yang namanya kelaparan dan kehausan. Kami punya uang kok yang kami bawa dari istana. Buat apa lagi? Habiskan saja daripada hidup susah.


Aku dan Platina berjalan beriringan dan bergandengan tangan layaknya lovie dovie yang sedang kasmaran. Berjalan sampai ke hanggar gear tempat Fenrir di parkirkan. Kudapati Zircon sudah berada di hanggar gear turnamen itu.


Kuhampiri dan kusapa dia, "Hi Zirc, selamat ya." Sapaku sambil menepuk ringan punggung Zircon yang sedang sibuk mengutak-atik layar komputer yang menunjukkan data statistik gearnya.


"Selamat untuk apa?" tanyanya heran setelah melihat aku yang menepuk punggungnya.


"Selamat telah berhasil masuk babak final, dan mendapat kekasih baru" jawabku sambil mengedipkan mataku, sedikit menggodanya.


"Hah? Kekasih? bagaimana kau tahu?" Ujar Zircon kaget mendengar godaanku padanya.


Aku pun menjadi ikut heran mendapati reaksi Zircon yang sedikit berlebihan itu. Sahabatku itu terlihat salah tingkah dengan wajahnya yang merah padam. Kenapa dia? Masa dia bisa semalu itu untuk Simone?


"Tentu saja kami tahu. Seluruh kota juga tahu. Karena dia menyatakan rasa cintanya padamu di tengah turnamen hahahha." Kali ini Platina yang menjawab pertanyaan Zircon.


Gadis itu tertawa geli mengingat pertandingan terakhir Zircon. Pertandingan yang sangat menghibur.


"Aku tak sanggup menyakiti orang setampan tuan Zircon hahahha." Akupun ikut tertawa tak kuat membayangkan berbagai ungkapan cinta Simone pada Zircon kemarin. Pernyataan cinta yang entah beneran atau bercanda saja. Tapi dua-duanya tetap saja mengerikan untuk dibanyangkan.


"Sialan! Jangan bahas si brengsek itu lagi!" Sungut Zircon dengan nada sangat kesal.


Jadi dia sekesal itu dengan tingkah Simone? Lalu sesaat tadi aku menangkap reaksi malu-malunya untuk siapa? Apakah ada kekasih yang lain? Wah menarik ni...Apa Zircon menemukan seorang gadis yang mampu mencuri hatinya di kota Bloody Hell ini?


"Atau jangan-jangan ada kekasih yang lain?" celetukku penasaran mencoba menyelidiki.


"Sudah hentikan!" Wajah Zircon kembali bersemu merah kali ini. Aneh sekali, pasti ada yang tidak beres.


"Seorang gadis atau jangan-jangan seorang pria lagi?" Aku semakin mendesaknya.


"Fvck off!" Umpat Zircon marah padaku.


"Kalau kau semarah ini berarti benar ada seorang gadis sepertinya. Syukurlah...Akhirnya kau menemukan seseorang untuk melabuhkan hatimu." Kuungkapkan kebahagiaan bahwa akhirnya Zircon dapat menemukan tambatan hatinya yang baru. Tak lagi terjebak cinta sepihaknya pada Kak Amethys.


"Waaah selamat ya Kak Zircon, semoga lancar dan sukses hubungan kalian." Platina ikut memberikan ucapan selamat dengan polosnya.


"Kalian berdua berisik!" Zircon mendengus kesal.


"Aku memanggilmu kesini untuk membantu manteinance gearku. Bukan untuk bercanda dan menggodaku begini, Opal!" Kali ini Zircon memberikan penekanan pada nada bicaranya sebagai tanda dia tak ingin membahas masalah itu lebih jauh lagi.


"Huft. Paling tidak kau harus berterima kasih padaku. Kau mendapatkan teknisi gratis yang bahkan rela berbelanja keperluan untuk perbaikan gearmu sendiri." Aku mendengus pasrah tak melanjutkan menggodanya.


Aku menghampiri Fenrir. Kuamati statistik dan grafik tentang gear biru itu yang ditampilkan oleh layar komputer yang telah disambungkan ke Fenrir.


"Tak ada kerusakan berarti. Cuma butuh mengganti beberapa sparepart yang rusak," jawabku setelah mengamati layar beserta statistik-nya.


"Kau bisa mengubah mode serangannya?"


Biasanya Zircon dan Diamond paling anti untuk menggunakan mode auto pilot saat bertarung. Mereka berdua adalah tipe petarung sejati yang suka bertarung habis-habisan mengikuti insting.


"Tidak juga. Hanya untuk berjaga-jaga saja. Kalau dikombinasikan bisa? Jadi misalnya musuh melakukan serangan yang tak kusadari tetapi Fenrir dengan segala sensornya pasti lebih menyadarinya, sehingga bisa membantuku menghindari serangan itu" Zircon menjabarkan maksud keinginannya.


"Hmmm. Kalau begitu kita tingkatkan saja sensor ekternalnya. Bisa juga kuatur agar autopilot gearmu fokus pada pertahanan sehingga kau bisa fokus menyerang." Aku menawarkan sebuah solusi dari permintaan Zircon.


"Boleh. Karena akan sulit untuk memikirkan serangan dan pertahanan sekaligus." Zircon menyetujui usualan yang kukemukakan.


"Tetapi autopilot akan menguras banyak fuels gearmu. Kau harus bertarung dalam tempo cepat. Yah meskipun tak ada batasan waktu yang mengikat seperti kasus Diamond si..."lAtau gunakan saja mode auto pilotnya pada saat yang mendesak saja?" Aku mengingat-ingat tentang segala kemungkinan yang dapat dilakukan dalam pengaturan autopilot mode.


"Itu lebih baik," Zircon menyetujui saranku.


"Menurutmu senjata apa yang harus aku pakai nanti? dan Jade akan menggunakan senjata apa untuk melawanku?" lanjutnya bertanya padaku.


"Senapan dan pedang." Platina tiba-tiba saja ikut menyeletuk diantara percakapan kami.


"Benar. Jade pasti akan memakai senapan dan pedang juga. Sama persis dengan senjataku." Aku menyetujui perkataan Platina kali ini.


"Pria itu terlalu sombong. Dia lebih suka bertarung dengan senjata yang sama persis dengan musuhnya. Seperti pertarungannya dengan Diamond kemarin. Dia membawa rangkaian senjata yang sama persis dengan yang dibawa oleh Diamond." Aku mengemukakan analisaku berdasarkan sifat Jade.


"Hmmm tidak buruk, dia menginginkan pertarungan yang adil," celetuk Zircon terdengar tak keberatan.


"Zirc, jangan terlalu berfikir untuk bertanding dengan cara fair di turnamen ini. Kau harus memanfaatkan segala peluang dan kesempatan yang kau punya untuk menang. Anggap saja kau sedang berperang, jika kau lengah Jade tak akan segan membunuhmu" Aku mengingatkan Zircon tentang betapa berbahayanya Jade dari pertandingan beringasnya melawan Jasper dan Diamond.


"Kau benar. Bagaimana pun aku harus bisa mengalahkan Jade kali ini" Zircon menyetujui.


"Kau ingat? Gear Jade rusak parah gara-gara serangan Diamond di bagian lengan kirinya. Kau dapat memanfaatkan keadaan itu. Dalam waktu sehari tak mungkin untuk memperbaiki kerusakan sefatal itu. Anggap saja ini sebagai kesempatan yang diberikan Diamond untukmu." Aku sedikit memberi tips pada sahabatku itu.


"Benar juga," jawab Zircon sedikit tidak senang dengan saranku kali ini. Mungkin dia menganggap sedikit tidak adil untuk mengincar kelemahan Jade begitu.


"Tapi bahkan setelah berhasil memenangkan turnamen kau pasti akan mendapat masalah lagi...Ruby...bagaimana kau menangani gadis egois itu? Apa kau akan setuju untuk menikahinya?"


Aku bisa membayangkan seandainya Zircon berhasil memenangkan pertandingan dan menjadi juara turnamen tahun ini. Apa yang akan dilakukannya? Apa dia akan menikahi Ruby? Apa Zircon tahu seperti apa Ruby itu? gadis egois yang juga sama kejam dan bengisnya dengan Jade kakaknya.


"Kita lihat saja nanti..." Jawab Zircon tersenyum simpul. Namun kemudian memalingkan mukanya dariku, dapat kulihat daun telinganya bersemu kemerahan. Mau tak mau aku jadi heran melihatnya.


Ada apa ini? Apa dia malu? Apa Zircon menyukai Ruby? apa kekasih lain yang dimaksudkannya tadi adalah Ruby? Aku semakin penasaran dan menerka-nerka segala kemungkinan yang terjadi diantara Zircon dan Ruby.


Tetapi sekeras apapun aku berpikir. Atau mencoba menghubungkan segala rantai peristirlwa. Aku tak dapat menemukan tautan, tak bisa membayangkan bagaimana kisah cinta mereka dapat terjalin.


Zircon kemudian beranjak menaiki gearnya dan memasuki kokpidnya. Sepertinya tak mau lagi melanjutkan pembicaraan tidak penting ini. Dia lebih tertarik untuk memulai proses mantainance gearnya.


Aku pun menurut saja, segera kuutak-atik komputer yang terhubung dengan gear itu. Kulakukan maintenance dan sedikit mengubah setingan gear biru itu menjadi semi autopilot seperti yang dikehendaki Zircon. Menata dan mengatur pula jurus-jurus kombo untuk pertarungan melawan musuh dengan senjata senapan dan pedang.


..._______#_______...


🌼Yuuuuks gaes PLIIIIS jangan lupa kasih LIKE, VOTE dan KOMEN 🌼