
Setelah beristirahat dua puluh menit dari pertandingan sebelumnya, panitia memanggil namaku ke hanggar dan bersiap untuk pertandingan selanjutnya. Pertandingan kedua untuk babak perempat final.
Kutitipkan Saphir yang sudah sedikit tenang pada Zircon di ruang tunggu. Zircon hanya mengangguk ringan menjawabnya. Menemani Saphir untuk berdiri di sampingnya.
"Jez ingat ya, kau harus menyerah jika keadaan sudah terlalu berbahaya. Jangan terlalu memaksakan diri!" Sekali lagi Zircon mengingatkanku.
Aku hanya bisa menjawabnya dengan anggukan mantap tanpa niatan mendebatnya.
Entah sudah berapa kali dia mengatakannya padaku, mengingatkan tentang betapa mengerikannya Jade. Mengingatkan kalau aku bisa mati konyol jika memaksa melawan musuh yang memiliki pengalaman dan kemampuan jauh di atasku.
Dan Zircon menduga Jade minimal memiliki level yang sama dengannya atau Opal. Bahkan mungkin bisa lebih hebat lagi. Membuat aku semaki grogi dan perutku semakin mulas saja rasanya.
Begitu kumasuki hanggar kudapati gear berwarna merah sudah menantiku di sana. Dari luar gear ini kelihatan lumayan dibandingkan gear yang kami pakai di babak sebelumnya, walau tentu saja tak secanggih private gear kami.
Segera kumasuki kokpid gear merah itu, mengamati status gear di layar komputer. Aku mengatur senjataku dan jurus-jurus combo yang sekiranya akan dapat kugunakan nanti.
Kali ini aku mendapatkan katana sebagai senjata, pedang panjang yang ringan seperti yang biasa digunakan para samurai dari Jepang jaman dulu. Aku menyukainya, katana memiliki jangkauan serang lebih luas dan luwes. Serta bentuknya yang ramping dan ringan memungkinkan untuk melakukan serangan cepat dan tebasan berulang.
Kuterbangkan gear merahku ke arena pertandingan begitu persiapan selesai. Disana sudah berdiri tegak menungguku Jade didalam gear hitamnya yang bersenjatakan sebilah pedang standart.
'Yah paling tidak katanaku lebih panjang dari pedangnya. Jangkauan serangku lebih luas darinya', kuhibur diriku sendiri untuk menenangkan perasaan.
"Pertandingan perempat final yang kedua akan segera dimulai. Di sebelah kanan, dengan gear merahnya Jasper. Akan melawan Tuan Jade disebelah kiri dengan gear hitamnya. Jangan lupa untuk memberikan dukungan kepada petarung andalan kalian!" Wasit membuka acara dan memperkenalkan aku dan Jade kepada seluruh hadirin.
Kemudian wasit menanyakan kesiapan kami berdua sebelum menyatakan pertandingan dimulai.
"Apa kalian berdua siap? READY? GOOOOO!!" suara tembakan pistol menggema sebagai pertanda dimulainya pertandingan.
Saat wasit menyatakan dimulai pertandingan segera kuterbangkan gearku menerjang gear hitam. Kuserbu dengan serangan sabetan pedang bertubu-tubi. Aku jadi ingat saran Zircon pada Saphir tadi, bahwa serangan pertama sangat penting dan aku harus benar-benar memanfaatkannya dengan maksimal.
Beberapa kali kusabetkan pedangku ke tubuh gear hitam Jade, tetapi lawanku itu tetap diam tak bergeming dari posisinya.
Aku sedikit heran melihat lawanku yang sama sekali tidak menghindar ataupun bereaksi apapun setelah menerima seranganku ini. Membuatku merasa tidak nyaman, sepertinya ada yang tidak beres dengannya.
Aku melompat mundur beberapa langkah mengambil ancang-ancang sebelum kulayangkan tendangan memutar. Tendangan keras dengan kaki kananku ke arah badan gear hitam itu.
Seranganku kali ini berhasil membuat gear itu bergeming, terlempar dari tempatnya berdiri meskipun dia masih bisa kembali berdiri tegak. Tetapi sama seperti sebelumnya dia kembali terdiam, tidak berniat untuk melakukan perlawanan padaku.
Kukerahkan sedikit tenaga dalamku untuk membentuk chi angin kesekeliling pedangku. Kulakukan itu untuk mempertajamnya menjadi berkali-kali lipat. Selanjutnya sekali lagi kulayangkan rentetan serangan pedang dengan tusukan dan sabetan beruntun pada gear hitam Jade.
Kali ini seranganku dapat menggores dan melukai gear lawanku itu di berbagai tempat di tubuhnya. Memaksa gear hitam itu terseret mundur beberapa meter dan jatuh berlutut untuk mempertahankan keseimbangannya. Tapi kemudian dia kembali berdiri, memperbaiki posisinya sebelum akhirnya diam dan tak bergerak lagi.
Aku benar-benar kesal dibuatnya sekarang, geram dengan tingkah janggal Jade. Apa-apaan ini? Apa dia tak berniat melawanku dengan serius? Dan lagi pertahannya begitu kokoh. Bagaikan tembok baja yang sempurna dan sangat sulit untuk ditembus, membuatku semakin kalut dan frustasi saja dibuatnya.
"Cuma begitu saja kemampuanmu hah?!" Tiba-tiba kudengar suara dengan nada mengejek menggelegar dari gear hitam itu.
"Kuberi kau kesempatan menyerangku dua kali lagi, sebelum aku balik menghabisimu." Lanjutnya dengan nada mengejek dan merendahkanku, membuat emosiku semakin meluap saja.
Segera kulancarkan serangan kombo dengan menggabungkan serangan fisik dan chi sekaligus. Kusabetkan katanaku beberapa kali padanya, kutendang gear hitam itu dengan kekuatan penuh dan terakhir kulancarkan serangan chi api untuk membakar seluruh tubuhnya.
Aku benar-benar kehabisan akal sekarang. Bagaimana aku bisa mengalahkannya? Dia sangat kuat, levelnya sangat jauh diatasku. Mungkin aku melawannya bisa diibaratkan seperti anak kecil yang menantang bertarung pada orang dewasa. Kalah telak.
Sekali ini kukerahkan lagi tenaga dalamku untuk menghasilkan petir. Petir itu disingkronkan dengan katanaku sehingga setiap serangannya akan menghasilkan serangan energi petir juga.
Kusabetkan pedangku beberapa kali pada gear hitam itu. Kali ini gear itu meliuk-liuk menghindari seranganku. Mungkin dia sadar bahwa terlalu berbahaya untuk menerima seranganku ini secara langsung. Damage yang diterimanya bisa terlalu besar dan berakibat fatal.
Beberapa kali kulancarkan serangan sampai kudapatkan sedikit celah. Kuhimpun dan kukerahkan tenagaku, kuhunuskan pedangku untuk menusuk gear hitam musuhku tepat didadanya.
Betapa kagetnya aku saat gear hitam itu dapat menangkap pedangku yang hanya beberapa inchi saja dari dadanya dengan tangan kirinya. Membuatku tak bisa bergerak untuk sesaat dan dia tak menyia-nyiakan kesempatan itu. Tangan kanannya yang masih bebas bergerak tiba-tiba menghimpun tenaga dalamnya berbentuk bola energi yang cukup besar. Energi angin sepertinya.
Gawat jarakku terlalu dekat dengannya dan aku tak akan bisa menghindarinya. Aku tahu betul kalau aku tak akan bisa selamat tanpa terluka jika dia langsung menyerangku dengan serangan sebesar itu.
Haruskah aku menyerah sebelum semuanya terjadi? Tidak! Aku tak ingin menyerah. Tidak sebelum aku berusaha untuk melawannya.
Saat bola energi ditangan kanannya sudah sebesar bola basket, dia menghantamkan bola itu ketubuh gearku. Sialnya, tentu saja tak dapat menghindar karena jarak kami yang terlalu dekat.
Dapat kurasakan pusaran energi yang panas dan membakarku. Gerakan berputar bola itu semakin cepat dan mampu membuat lubang besar menganga di dada gearku.
Membuat aku dan gearku terdorong dan terlempar, tersungkur belasan meter dari tempat awalku berdiri. Dapat kurasakan konsleting dan panas diseluruh tubuh gearku, seakan-akan gear yang kupiloti ini bisa meledak beberapa saat lagi.
Gawat ini tidak main-main aku bisa beneran mati kalau gear ini meledak dengan aku masih di dalamnya.
"Aku...aku menyerah!" teriakku lantang, putus asa.
Benar kata Zircon tak ada gunanya untuk memaksakan dan membahayakan nyawaku. Jika memang dari awal pertarungan ini tak mungkin untuk dapat kumenangkan. Menyerah bukan berarti kalah. Menyerah merupakan strategi terbaik untuk saat ini, stretegi untuk bisa bertahan hidup.
Aku cepat-cepat keluar dari kokpid gearku, melompat darinya dan berlari sekencang mungkin menjauhi gear itu. Tak kuhiraukan teriakan wasit yang mengumumkan kemenangan Jade. Tak kuhiraukan tepuk tangan, teriakan kemarahan bahkan cemoohan banyak penonton padaku. Teriakan marah dan makian serta umpatan yang menyebutku sebagai pengecut.
Aku berlari dan terus berlari menjauhi gear yang tadi kupiloti itu. Dan benar saja saat jarakku sudah cukup jauh darinya, gear itu meledak hebat dan hancur berkeping-keping menjadi serpihan kecil. Energi ledakannya bahkan sampai mendorong tubuhku jatuh terjerembab kelantai arena.
Ini gila! Jade benar-benar maniak sinting yang tak akan segan-segan untuk membunuhku. Perlahan aku bangkit dengan tubuhku yang terasa sakit semua karena pengaruh ledakan tadi.
Kutatap tajam Jade yang telah keluar dari kokpid gearnya, duduk santai di bahu gearnya. Dia mengamatiku dan balik menatapku tanpa rasa bersalah dan bahkan tersenyum sinis.
"Huh dasar kecoak, gak mau mati-mati juga ahahaha," ujarnya dengan penuh hinaan padaku.
'What the fvck,' umpatku dalam hati saja.
Aku hanya bisa diam membisu tanpa menjawab sambil menahan emosiku. Meluapkan emosiku dengan menggertakkan gigiku dan menggepalkan erat kedua tanganku.
Aku sudah kalah, tak ada gunanya lagi meladeni kegilaannya. Percuma saja toh hasil pertandingan sudah ditetapkan siapa pemenangnya. Semua hanya akan memperburuk keadaan jika aku terpancing emosi dan nekat melawannya. Kuteruskan langkahku cepat-cepat kembali ke hanggar gear, dan kembali keruang tunggu.
...______#______...
🌼Yuuuuks gaes PLIIIIS jangan lupa kasih LIKE, VOTE dan KOMEN 🌼