Almekia Kingdom

Almekia Kingdom
64. Jasper - Brother



Turnamen Bloody hell sudah mencapai babak perempat final sekarang, hanya tinggal tersisa delapan orang peserta yang bertahan untuk bertanding di babak ini. Untungnya aku, Zircon dan Saphir, kami bertiga cukup beruntung untuk bisa menang dan melangkah sampai sejauh ini.


Jujur saja aku sangat cemas dan tidak percaya diri kalau harus memikirkan pertandingan yang akan berlangsung hari ini. Bagimana tidak, lawan yang akan kami hadapi tentunya lebih kuat dari lawan-lawan sebelumnya. Kemampuan tempur masing-masing peserta juga pasti lebih hebat lagi.


Terlebih lagi setelah melihat secara langsung pertandingan antara perwakilan Ruby pertama yang misterius di pertandingan babak sebelumnya. Entah siapa dia, dia begitu mengerikan dengan segala kecepatan dan ketepatan gerakannya. Bagaimana jadinya Saphir saat harus melawannya nanti? Mau tidak mau aku jadi tidak tenang karena mencemaskan gadisku itu. Khawatir akan keselamatannya.


Sedangkan aku sendiri harus juga harus melawan Jade pada pertandinganku nanti. Jade yang notabene sangat disegani di kota ini. Entah siapa sebenarnya Jade, yang jelas dia pastilah orang yang sangat hebat. Apalagi dia mendapat keistimewaan yang sama dengan Simone sang pemenang turnamen tahun lalu. Dia dapat langsung melaju ke delapan besar tanpa pertarungan kualifikasi.


Mungkinkan kehebatan dan kekuatan tempurnya bahkan selevel dengan dengan sang juara? Aduuuuh memikirkannya membuatku semakin tegang, gugup dan tidak percaya diri saja.


"Langkah pertama akan sangat menentukan, Saphir. Lawanmu itu bahkan sanggup meringkus musuhnya hanya dengan gerakan pertamanya." Zircon memberikan masukan pada Saphir sebelum gadis itu dipanggil untuk pertandingan pertamanya.


"Ya ya aku mengerti, Zirc. Intinya aku harus bisa menghindari serangan pertama dan mendadaknya kan? dan jika aku bisa menahan serangan pertamaanya maka akan sedikit aman kan?" Ujar Saphir dengan nada sedikit kesal.


Aku tahu benar dia ketakutan dan sama gugupnya denganku. Dan masukan-masukan tentang kehebatan musuhnya tentu tidak akan membantu menenangkan, dan malah membuat semakin down perasaannya.


"Yah belum tentu aman juga. Kalau bisa melewati serangan pertama masih ada serangan kedua dan ketinganya." Zircon meluruskan pemikiran Saphir yang salah. Memang tidak boleh lengah hanya karena berhasil menghindari serangan pertama saja.


"Sudahlah tidak usah terlalu dipikirlan lagi. Lakukan yang terbaik. Stay safe," ujarku menambahkan memberi saran. Aku hanya ingin sedikit membesarkan hatinya. Saphir mengangguk tersenyum sangat manis padaku sebagai jawabannya.


Kuantarkan Saphir sampai pintu masuk hanggar gear dan kugenggam erat kedua tangannya sebagai penyemangat sebelum dia beranjak memasuki hanggar gear itu.


"Good luck, lakukan yang terbaik. Dan ingat, yang paling penting adalah keselamatanmu," ujarku.


"Ok, doain ya," Saphir terlihat lebih tenang dan ceriah dengan mode penyemangat dariku.


Aku kembali keruang tunggu dan mengambil posisi disebelah Zircon yang telah berdiri ditengah ruang sambil menyilangkan kedua tangan di dadanya. Dia terlihat sangat serius memperhatikan layar yang masih menampakkan arena pertandingan kosong.


"Aku mendapat firasat buruk" Ujarnya segera saat aku sudah mendekat padanya.


"Firasat buruk bagaimana?" Tanyaku penasaran.


"Entahlah, rasanya ada perasaan yang sangat tidak nyaman di dada. Yah semoga saja kau dan Saphir dapat melalui pertandingan ini tanpa adanya luka yang serius..." Ucapannya terhenti saat kedua gear yang akan bertanding memasuki arena pertandingan.


"Selamat datang di pertandingan pertama babak perempat final. Di pertandingan pertama ini akan bertarung perwakilan dari nona Ruby yang pertama dalam gear birunya. Dia akan melawan nona Saphir yang kali ini mendapatkan gear berwarna putih." Terdengar suara wasit menggema memperkenalkan kedua gear yang telah ada di arena.


"Baiklah apa kalian berdua siap? Ready? GOOO!" Lanjut sang wasit sambil menembakkan pistol tanda dimulainya pertandingan pertama di perempat final.


Hampir sama seperti pertandingan sebelumnya, perwakilan pertama Ruby langsung menerjang tanpa membuang waktu sedikitpun. Saphir mundur beberapa langkah menghindari serangan itu, tapi entah bagaimana gear biru lawannya itu seakan lebih cepat gerakannya.


Gear biru itu men-tackle kaki gear putih Saphir sehingga gear itu kehilangan keseimbangan dan untuk sesaat mengambang, mengapung di udara untuk beberapa saat. Tak membuang waktu, gear biru langsung menyambutnya dengan cekikan tepat di leher gear Saphir dan didorongnya gear yang dipiloti Saphir itu jatuh sampai terhempas dan berdebam dengan sangat keras ke lantai arena.


Dapat kurasakan semua orang yang hadir termasuk diriku tercengang dan terdiam. Dengan mulut ternganga demi melihat pertarungan yang berlangsung sangat cepat ini.


Gear putih Saphir sekarang tergeletak tak berdaya di lantai arena dengan gear musuhnya mencekik dan menindih di atas tubuhnya. Kedua gear itu diam, senyap, dan tak bergerak untuk beberapa saat lamanya, membuatku merasa tidak nyaman karena menghawatirkan keadaan Saphir.


Apa Saphir baik-baik saja? Apa dia pingsan? Atau mungkin dia masih sedikit pusing dan kaget karena goncangan tiba-tiba dan sangat keras? Akibat terbantingnya gear yang dikemudikannya ke lantai?


Kebisuan yang mencekam itu berlangsung cukup lama, selama beberapa menit. Bahkan suasana penonton juga ikut sunyi, mereka sibuk menerka-nerka apa yang sedang terjadi di arena. Sampai kemudian wasit melakukan hitungan mundur dan menyatakan bahwa Saphir sudah tak mampu lagi melanjutkan pertandingan setelah hitungan kesepuluh berakhir.


Sorakan dan gemuruh tepuk tangan membahana diseluruh ruangan dan arena. Sebagian decakanan kagum dan umpatan juga terdengar menandakan mereka-mereka yang kalah bertaruh.


Dapat kulihat dilayar besar di tengah ruangan, gear biru bangkit dari atas gear putih Saphir kemudian melesat kembali ke hanggar. Tapi gear Saphir tetap diam membatu, terlentang di lantai arena.


'Saphir? Kamu kenapa? Kamu baik-baik saja kan?'


Beberapa petugas menghentikan langkahku tepat di depan pintu, melarangku masuk. Tapi mereka akhirnya membiarkannku masuk setelah aku sedikit memohon.


"Tolonglah, aku hanya ingin tahu keadaannya."


Begitu memasuki hanggar dapat kulihat gear putih yang tadi dipiloti Saphir telah mendarat di gear pad hanggar. Aku membuang napas lega melihatnya, syukurlah sepertinya dia baik-baik saja.


Paling tidak Saphir masih bisa mengemudikan gearnya kembali ke hanggar. Berarti dia masih sadar dan keadaan tubuhnya baik-baik saja.


Dapat kulihat pintu kokpid gearnya terbuka dan gadisku itu melompat perlahan dari kokpidnya. Dia mendarat ringan ke lantai hanggar. Gadis itu tetap berdiri disana, tanpa niat bergerak dari posisinya.


Kemudian dia jatuh dan terduduk lemas dengan seluruh tubuhnya yang gemetaran dan pandangan kosong. Gadis itu meringkuk memeluk kedua lututnya dan bersandar di kaki gearnya dengan sangat sedih.


'Kenapa? Kamu kenapa, Saphir?'


"Saphir?..." Sapaku menghampirinya yang berwajah pucat pasi, ketakutan.


Saphir tidak bereaksi menjawab penggilanku dan tetap meringkuk dengan tubuh gemetarnya. Segera saja kuhampiri dan kuraih tubuh gemetar itu, kupeluk dia erat-erat, berusaha menenangkan dan sedikit memberinya kehangatan serta dorongan semangat.


"Sudah, sudah tidak apa-apa," kubelai perlahan rambutnya sambil terus mendekapnya dalam pelukanku. Dapat kurasakan gadis itu mulai menangis terisak di dalam pelukanku.


"Dia...dia adalah kakakku, Jez!" ujar Saphir tiba-tiba.


"Kakakmu? Siapa?" tanyaku kebingungan.


"Kawanku tadi, gear biru perwakilan pertama dari Ruby. Dia kak Diamond" ujarnya disela-sela tangisnya.


"Apa? Apa maksudmu?" Tanyaku masih tidak dapat mencerna perkataan Saphir.


"Dia kak Diamond! Bagaimana mungkin aku dapat melawannya?" lanjutnya setelah sedikit tenang.


Dengan masih berlinang air mata Saphir melepaskan pelukanku dari tubuhnya. "Dia bahkan belum sembuh benar, Jez. Kenapa dia kesini? Kenapa dia memaksakan diri mengikuti turnamen ini?"


Saphir menanyakan sesuatu yang sama persis ada di kepalaku. Bagaimana bisa Diamond ada disini?


"Apa kau sempat berbicara dengannya tadi?" Tanyaku jadi tersadar bahwa dalam beberapa menit kebisuan tadi kedua gear itu sedang berkomunikasi. Saphir sedang berbicara dengan kakaknya, Diamond.


"Iya, entah bagaimana kakak bisa menerobos dan meng-hack komputer gearku, untuk membuat sambungan internal kepadaku, dia muncul di layar komputeku." Jawab Saphir membenarkan segala kecurigaanku sebelumnya.


"Kakak menjelaskan tentang keadaan istana saat ini yang kacau karena ulah kita. Mengatakan tentang betapa sedih dan terpukulnya ayah, ibu, paduka ratu, para orang tua kita dan semuanya setelah kepergian kita dari istana,"


"Betapa gempar dan hebohnya keadaan istana setelah pelarian kita. Pencarian besar-besaran, ratusan prajurit dikerahkan ke segala penjuru kerajaan untuk mencari keberadaan kita." Lanjutnya dengan nada getir dan sangat sedih disela-sela tangisnya.


Sekarang aku mengerti kenapa Saphir tampak begitu terpukul dan sedih seperti itu. Bagaimanapun dia adalah seorang gadis berhati lembut yang tak akan tega melihat orang-orang yang dicintainya besedih dan kesusahan. Dia pasti merasa sangat bersalah.


Ditambah lagi mungkin Saphir juga sangat merindukan keluarga dan rumahnya. Segala kesulitan dan tekanan yang dihadapinya selama pelarian semakin menambah besar keinginanya untuk kembali pulang ke istana. Kembali ke pelukan keluarganya yang aman.


Aku tak bisa menjawabnya, kepedihan dan rasa bersalah yang sama juga selalu menghantuiku. Apalagi semua ini terjadi karena aku? Semua kegilaan ini hanya demi diriku? Hanya demi ambisiku untuk mengungkap segala misteri tentang mendiang ayahanda Raja.


Tanpa sanggup berkata-kata, akhirnya kubantu Saphir untuk berdiri dari duduknya. Kutuntun pula tubuh gadisku itu perlahan keluar dari hanggar gear dan membawanya kembali ke ruang tunggu.


..._______#______...


🌼Yuuuuks gaes PLIIIIS jangan lupa kasih LIKE, VOTE dan KOMEN 🌼