
Seperti hari-hari sebelumnya, hari ini pun kuhabiskan waktuku dengan berjalan-jalan berkeliling kota Bloody Hell. Beberapa hari yang lalu Zircon sudah mendaftarkan nama kami untuk mengikuti turnamen. Turnamen yang bertujuan untuk mengetahui kehebatan seseorang. Karena hanya orang kuat yang bisa bertemu dengan jendral besar penguasa kota ini, Paman Obsidian.
Babak penyisihan turnamen akan diadakan besok siang, jadi selama tiga hari ini kami praktis menganggur hanya untuk menanti acara besok siang.
Yah tidak sepenuhnya menganggur si karena aku keluyuran tiap hari berkeliling kota Bloody Hell ini. Rasanya sangat menyenangkan. Aku menikmati saat-saat kebebasanku tanpa segala pengawalan, jadwal dan tata krama istana yang mengikat.
Kami memanfaatkan hari-hari bebas kami untuk mencari petunjuk sebanyak-banyaknya tentang paman Obsidian. Ditambah lagi, kami juga mencari berita tentang keadaan Opal dan Platina yang terpisah dari kami. Mungkin saja ada yang pernah mendengar tentang perampokan tiga hari yang lalu dan bagaimana korbannya. Apa mereka baik-baik saja?
Berhari-hari kami berpencar menyusuri kota, menghapal jalanan dan struktur kota ini. Bertanya-tanya kepada siapapun berwajah ramah yang ternyata sangat jarang di kota ini.
Entah mengapa aku merasa sangat familier dengan kota yang tak pernah sekalipun kudatangi ini. Rasanya sangat tidak asing untuk berada di kota ini. Lebih jauh, aku bahkan bisa tahu dengan detail setiap lorong dan sudut kota kumuh ini. Seolah semuanya sudah tercatat dalam memori otakku.
Rasanya aneh sekali karena Zircon saja masih sering nyasar di kota ini. Hal yang sangat wajar, mengingat bentuk bangunannya yang hampir sama semua. Sebaliknya aku malah hafal dan tidak pernah kehilangan orientasi arah disini. Aku bahkan sering merasa bahwa pernah tinggal di kota ini untuk beberapa lama dan menjelajahi setiap sudutnya.
Beberapa kali ingatan yang aku bahkan tak ingat pernah mengalaminya menyerbu dan menyeruak masuk kedalam kepalaku saat aku melewati tempat-tempat tertentu. Seperti fatamorgana yang menyerbu, menghanyutkan, menyesakkan, kadang sedikit menyakitkan pula. Setiap kali ingatan itu melandaku, ingin membawaku ke alam mimpi, bahkan tak jarang mengalahkan kesadaranku.
Kutelusuri jalan setapak yang semakin jauh membawaku ke bagian dalam kota. Dan seperti hari-hari sebelumnya langkahku selalu saja terhenti oleh tembok besi super tinggi yang menjulang. Tembok yang memisahkan daerah pemukiman pinggiran Bloody Hell dengan daerah Middle Part.
Sudah kucoba berbagai rute untuk mencapai Middle Part ini, tapi tembok besi itu ternyata tak bercela. Melingkar sempurna mengelilingi daerah itu dengan hanya sebuah gerbang yang terdapat disebelah balai ujian. Dan hanya bisa terbuka dengan ijin petinggi wilayah itu atau acces card untuk para penghuninya.
Kuamati sekali lagi tembok besi itu, entah mengapa mengingatkanku pada tembok batas kota kerajaan yang berhasil kami terobos beberapa hari yang lalu.
Tapi tembok besi ini terlihat jauh lebih kokoh dan tak mungkin ditembus, tak mungkin dipanjat karena tak ada pijakan sama sekali. Apalagi di bagian atasnya terdapat aliran listrik bertegangan tinggi berbentuk jaring yang menutupi seluruh bagian Midle part. Kurasa bahkan gear dan pesawat pun tak akan bisa melewatinya dengan selamat.
Aku beranjak dari tembok besi itu, kuperhatikan bangunan-bangunan kumuh disepanjang jalan yang kulalui. Kebanyakan bangunan di wilayah ini sudah tak terpakai, tak berpenghuni.
Kuamati beberapa orang yang berpapasan denganku menuju sebuah bangunan besar bertuliskan rumah sakit. Tanpa sadar dahiku berkerut melihat bangunan yang kotor dan sama sekali tidak steril itu. Bahkan beberapa bagian bangunan sudah retak, bagaimana bisa mereka menyembuhkan dengan keadaan bangunan yang menyedihkan seperti ini?
Tiba-tiba sekali lagi kepalaku berdenging, dan pandanganku berputar-putar. Sebisa mungkin kucari sesuatu yang bisa kupakai sebagai pegangan, untuk menopang tubuhku agar tidak jatuh ke tanah.
Malam yang sangat gelap, bahkan rembulan dan bintang pun menolak untuk bersinar di langit malam itu. Hujan sangat lebat dengan kilatan petir menyambar-nyambar.
Di ujung jalan dapat kulihat dua sosok tubuh. Dua orang pria berjalan terhuyung-huyung. Keduanya saling menopang satu sama lain, menuju rumah sakit yang sama persis dengan yang kulihat tadi. Tapi sepertinya bangunan itu terlihat jauh lebih baru dan bersih daripada yang kulihat tadi.
Mungkinkan ini rumah sakit tadi beberapa tahun yang lalu? Apakah aku sedang melihat kejadian masa lalu?
Kedua pria itu sepertinya sedang terluka sangat parah. Darah segar berwarna merah mengucur deras dari tubuh mereka yang basah kuyup. Meleleh terbawa air hujan hingga memerahkan tanah yang mereka lalui.
Siapa kedua pria itu? Aku hanya bisa melihat sosok belakang mereka, keduanya berambut panjang sepunggung. Salah satunya berambut hitam diekor kuda sedang yang lainnya berambut pirang keemasan. Warna yang terlihat begitu mewah seperti emas yang bertahtah di kepalanya. Rambut itu dikepang panjang di punggungnya. Pria itu membawa dua cambuk diselipkan di ikat pinggangnya sebagai senjatanya, sebagai pengganti pedang.
"Nyut...nyut...Uuuuhhhg," kepalaku semakin sakit saat tiba-tiba setting lokasi berubah.
Jalanan utama kota Bloody Hell yang tadi kulewati. Dua orang pria yang tadi kulihat sosok belakangnya, sedang bertarung habis-habisan. Mereka dikeroyok dari segala penjuru oleh belasan musuh bersenjata tajam. Bahkan beberapa lawan mereka juga menggunakan senjata api.
Setelah kuamati cukup lekat dapat kukenali pria berambut hitam itu. Yah tak salah lagi, dia adalah Paman Morgan, ayah Zircon. Wajahnya kakunya terlihat jauh lebih muda dan tampan daripada yang biasa aku lihat di istana. Apakah itu paman Morgan waktu muda beberapa tahun yang lalu?
Siapa pria satunya? Aku kaget sekali begitu berhasil melihat wajahnya dengan jelas. Wajah yang sangat tidak asing bagiku, bibir itu, hidung itu, bentuk dan profil wajah itu... Semuanya adalah wajahku! Mirip sekali seakan aku berkaca pada diriku sendiri beberapa tahun mendatang. Hanya saja wajah pria itu lebih tegas dan dewasa dibanding wajahku saat ini.
Yang membedakan kami adalah warna rambut dan warna mata. Rambutku coklat keemasan sedangkan warna rambut pria itu lebih terang, berwarna pirang keemasan. Kedua bola mataku berwarna coklat keemasan seperti mata ibunda ratu, sedangkan pria itu memiliki warna mata biru sejernih lautan.
"Jez! Jasper!" sebuah suara tiba-tiba terdengar sayup.
"Jasper! Bangunlah!" panggilan padaku semakin keras, bahkan tubuhku juga terasa terguncang.
Seketika ingatan di kepalaku yang berkelebat seperti tampilan film langsung terputus dan lenyap begitu saja. Seseorang sedang memanggil-manggil namaku dan menggoncang-goncangkan tubuhku.
Kudapati diriku terbaring dan terbujur dijalanan tepat di depan rumah sakit kumuh. Kudapati juga kepalaku berada di pangkuan seseorang yang memanggil namaku dengan sangat khawatir, Saphir.
"Jez? Kau tidak apa-apa kan? Bagaimana kau bisa pingsan di tengah jalan begini?" Saphir membantuku berdiri dan membersihkan pakaianku yang kotor.
"Ya, aku tidak apa-apa kok Saphir," jawabku sekenanya mencari alasan. Tidak mungkin kan aku mengatakan kalau aku mimpi siang bolong begini, sambil jalan lagi.
"Aku cuma sedikit pusing saja"
"Sebaiknya kau jangan pergi sendirian setelah ini, aku takut kau pingsan lagi dan tak ada yang menolong. Untungnya tadi aku melihatmu dan kuikuti" tambahnya masih khawatir.
"Kita kembali saja ke penginapan saja agar kau bisa istirahat," tambah Saphir menyarankan.
Aku hanya mengangguk setuju menjawabnya, mendahuluinya berjalan kearah penginapan kami.
"Zircon mana?" tanyaku padanya.
Aduh kepalaku masih sakit sekali, entah gara-gara fatamorgana tadi atau gara-gara kepalaku yang terbentur sesuatu saat jatuh pingsan tadi.
"Entahlah mungkin dia sedang mencari si gadis berambut merah," Saphir mengekor dibelakangku.
"Haha gadis berambut merah..." aku tertawa ringan mengingat betapa kesalnya Zircon menceritakan pertemuannya dengan gadis itu. Gadis aneh katanya.
"Jez? Kau kenapa? Beberapa hari ini kau terlihat aneh sekali" tanya Saphir menyelidik.
"Maaf Saphir, aku juga belum yakin. Aku belum bisa mengatakannya padamu, suatu saat pasti akan kuceritakan padamu," jawabku memberinya isyarat bahwa aku tak ingin melanjutkan pembicaraan.
Saphir hanya mengangguk serta mengikutiku langkahku dalam diam, membiarkanku terlarut dalam pikiranku. Dia tahu benar aku sedang membutuhkan waktu untuk berpikir.
Ada apa ini? Kenapa aku sering mendapatkan ingatan-ingatan masa lalu seperti tadi di kota ini? Siapa sebenarnya pria berambut kepang dalam ingatanku itu? Kenapa dia bisa berkali-kali muncul dalam ingatanku jika aku bahkan aku tidak pernah sekalipun bertemu dengannya?
Dan lagi bagaimana mungkin dia bisa memiliki wajah semirip itu denganku? Rasanya aku seperti melihat diriku sendiri pada orang itu. Rasanya akulah yang mengalamai sendiri semua kejadian yang dialaminya beberapa tahun yang lalu.
Parahnya lagi hampir setiap malam aku juga selalu memimpikan ibundaku. Jauh dari lubuk hatiku yang terdalam sebenarnya aku rindu sekali pada beliau, ingin bertemu dan berada disisinya.
Aku tahu betul bahwa aku menyukai Saphir. Tapi entah bagimana seperti ada sisi lain dari diriku yang diam-diam malah mencintai ibundaku sendiri. Bukan sebagai ibuku tapi lebih dari itu. Seperti perasaan seorang pria kepada wanita yang dicintainya. Perasaan tahu, tidak wajar dan tidak semestinya tentu saja.
Kadang aku jadi takut pada diriku sendiri, dengan segala setuatu yang bisa terjadi namun diluar kendaliku. Aku takut Saphir mengetahuinya, takut dia akan kecewa padaku. Mengiraku menghianatinya, menduakannya dengan ibuku sendiri.
...________#________...
🌼Yuuuuks gaes PLIIIIS jangan lupa kasih LIKE, VOTE dan KOMEN 🌼