
“Saya ingin mencari kebenaran tentang mendiang paduka Raja, ayahandaku. Saya juga ingin memiliki Advandli, saya tak mau menyerahkannya pada orang lain.” lanjut Jasper membuat kami semua tercengang akan keluguan dan kejujurannya, dia memang tidak tahu hitam putihnya dunia.
“Apa anda tahu konsekuensinya, pangeran Jasper?” Tanya letnan Goldy terlihat sangat tertarik dengan jawaban Jasper.
“Tentu saja, saya tahu saya akan menentang ibunda ratu dan seluruh kerajaan. Bahkan saya juga akan menjadi buronan kerajaan. Lebih jauh lagi mungkin saya akan mati ditangan bandit dan perampok padang pasir sebelum tujuan saya tercapai."
"Tapi saya tidak perduli! Saya sudah membuat keputusan bulat. Saya tak mau lagi hidup dalam kekangan, dan menuruti semua perintah ibunda Ratu."
"Saya tahu semua yang dilakukan ibunda ditujukan untuk kebaikan saya. Tetapi tetap saja saya tak mau menjadi boneka hidup selamanya. Saya ingin dapat menentukan jalan hidup saya sendiri. Sesuai dengan keyakinan saya sendiri."
Kami semua terdiam dan hanya bisa melongo mendengar jawaban jujur dan lugas Jasper. Tak mengira dia bisa memiliki keyakinan sekuat itu untuk menentukan jalan hidupnya sendiri. Bahkan jika harus menentang sang Ratu dan seluruh kerajaan.
Letnan Goldy pun terdiam cukup lama memikirkan jawaban Jasper. Rupanya dia juga tak mengira akan mendapat jawaban selugas itu.
“Sekarang untuk Platina dan Saphir,” dia sepertinya sudah puas dengan Jasper. Kemudian mengalihkan pandangannya kepada kedua gadis itu.
“Apa kalian yakin untuk meneruskan pelarian ini? Kalian berdua bisa tinggal disini, kemudian aku dan Diamond akan memikirkan cara untuk memulangkan serta mengurangi hukuman kalian. Sejujurnya aku dan pastinya Diamond sendiri juga tidak akan rela kalian ikut menemani mereka...terlalu berbahaya.” Tatapan Goldy melunak penuh kasih menghadapi kedua gadis itu. Seperti tatapan seorang kakak kepada adiknya.
“Maaf kak, setelah sejauh ini kami berjuang bersama-sama, aku tak bisa membiarkan mereka bertiga pergi begitu saja. Aku akan ikut kemana saja mereka pergi,” jawab Platina mantap tanpa keraguan.
Entah kenapa kau merasa hatiku melonjak kegirangan mendengarnya. Walaupun dilain pihak aku juga sependapat dengan letnan Goldy, bahwa lebih baik untuk membiarkannya tinggal demi keselamatannya.
“Aku juga sama. Anda tak usah merasa bersalah pada kakakku. Kak Diamond pasti mengerti karena dia sudah hapal benar bagaimana sifatku. Dan aku sudah bertekat pergi dengan keinginanku sendiri,” Saphir juga menjawab dengan nada sangat mantap.
“Huh dasar kalian ini,” Goldy membuang dan menghela napas panjang.
“Sudahlah, kalian boleh pergi setelah fuels gear kalian terisi penuh. Aku juga akan memerintahkan teknisi untuk meng-upgrade peta West line pada sistem nafigasi gear kalian. Paling tidak agar kalian tidak tersesat ke wilayah kekuasaan kerajaan musuh dan dapat langsung ke zona bebas,” lanjutnya membuat kami sangat lega.
"Kalian harus ekstra hati-hati, zona bebas sangat ganas." Goldy memperingatkan, mungkin tidak senang dengan wajah lega kami. Wajah yang seolah kegirangan karena mendapat ijin untuk bertamasya. Padahal yang harus kami hadapi adalah zona berbahaya dengan banyaknya bandit dan permampok Padang pasing yang siap menghadang kami.
Kami berlima serempak menganggukkan kepala sebagai jawaban. Sekaligus menyakitkannya bahwa kami akan baik-baik saja.
“Tapi bagaimana dengan anda dan anak buah anda disini? Bagaimana jika ketahuan oleh istana bahwa kalian membantu pelarian kami?” tanyaku merasa tak enak jika bantuannya pada kami kali ini akan menyusahkan seluruh prajurit di West line.
“Jangan khawatir, anggap saja kalian tak pernah kemari. Tak ada bukti juga bahwa kalian pernah menginjakkan kaki disini.” Letnan Goldy tersenyum nakal menunjuk kamera pengintai di sudut ruangan yang dalam kondisi stand by.
Kamera itu terus saja merekam sebuah gambar yang ditempelkan tepat didepannya, kurasa gambar ruangan ini dalam keadaan kosong. Dasar nakal, percuma saja aku mencemaskan markas ini kalau isinya orang-orang yang menganut ‘Diamondisme’, yah mereka pasti bisa bertahan.
“Kami semua di markas West line ini ingin membalas budi kepada sersan Zircon yang telah menyelamatkan atasan kami. Terima kasih sersan,” ucapan santai Goldy mampu membuat wajah Zircon yang tanpa ekspresi memerah.
“Tidak Letnan, akulah yang diselamatkan olehnya,” timpal Zircon.
“Tetap saja Kolonel bisa bertahan sejauh ini karena anda,” Jawab Goldy terlihat sangat tulus.
“Khusus untukmu sersan Opal Sumeragi, aku akan membuat perhitungan pribadi kepadamu kalau sedikit saja kulit Platina sampai tergores! Jagalah dia baik-baik.” Pria itu mengalihkan pandangan kepadaku.
Sedikit senang juga dengan pengakuan Goldy terhadap hubunganku dengan Platina. Tunggu-tunggu, tapi bagaimana dia bisa tahu? Bukannya hanya sebagian orang terdekat saja yang mengetahui tentang hubungan kami? Apakah Platina sendiri yang menceritakan kepadanya?
Letnan Goldy mengangguk memegang kata-kataku dan Platina tersenyum sambil tersipu malu.
“Sambil menunggu pengisian bahan bakar gear kalian, sebaiknya kalian juga mengisi perut. Ayo sini makanlah hidangan seadanya dari kami.” Goldy mengakhiri pembicaraan dan menggiring kami ke ruang perjamuan.
“Terima kasih” Jawab kami kompak sebelum mengikutinya.
Selanjutnya setelah menikmati jamuan, pengisian Fuels dan penginstalan navigasi map, kami semua pamit undur diri. Dan Goldy mengantar dan melepaskan kepergian kami dari hanggar gear markas besar West Line itu.
Berkat peta yang diinstal dalam program navigasi gear kami, hanya dalam waktu dua jam kami sudah keluar dari wilayah west line dan memasuki zona bebas. Tak perlu banyak waktu pula untuk membuktikan betapa berbahayanya zona bebas ini.
Baru beberapa meter saja melewati tempat ini, segerombolan perampok menyerang kami, bukan perampok biasa karena mereka juga memakai gear walaupun tidak begitu canggih. Tapi bagaimanapun juga yang namanya gear tetap saja berbahaya dan merepotkan untuk dihadapi.
Parahnya hampir setiap beberapa kilometer berjalan, selalu ada saja bandit atau perampok ber-gear yang menghadang, seakan ada seseorang yang mengawasi pergerakan kami dan sengaja mengirim mereka untuk menghambat perjalanan kami.
“Apakah BloodyHell masih jauh dari sini?” Tanya Platina membuat sambungan ke gearku, kelihatan kelelahan setelah pertarungan kami yang ke 27 kali.
“Entahlah, aku juga tak tahu. Peta yang diupgradekan hanyalah peta West line dan bagian awal zona bebas, selebihnya bahkan tak ada yang pernah memetakan zona ini.
"Kita hanya bisa berjalan mengikuti insting sambil dan berdoa agar tidak tersesat di gurun pasir ini” Jawabku tak tega melihatnya kelelahan begitu.
“Kita istirahat sebentar ya, sekalian charge. Kalau tidak kita bisa kehabisan fuels dan tenaga sebelum sampai disana” tanpa menunggu jawabanku. Platina menghentikan gearnya di rimbunan kecil pepohonan, satu-satunya pepohonan yang kami temui selain perdu-perdu dan rumput kering di gurun pasir super tandus ini.
“Baiklah kita istirahat sebentar” putusku setelah melihat keadaan Saphir dan Jasper tidak jauh berbeda dengan Platina, kelelahan. Sebenarnya wajar saja sih mengingat mereka tidak pernah mengendalikan gear dan bertarung dalam waktu selama ini.
“Tapi jangan terlalu lama! Berhenti disini terlalu berbahaya.” Tambahku begitu melihat pandangan menusuk penuh ketidaksetujuan dari Zircon di layar komputerku. Namun demikian, karena ketiga temanku yang langsung mematikan mesin gearnya, mengaktifkan mode charge untuk sedikit mengisi bahan bakar, sepertinya tidak mendengarkan kalimat tambahanku.
Aku dan Zircon hanya bisa membuang napas panjang melihatnya.
“Tetap waspada Opal! Kita harus melindungi mereka!” Ujar Zircon sebagai ganti kalimat ‘ini semua salahmu!’ yang diperhalus.
Tanpa diperingatkanpun dari tadi aku sudah meningkatkan kewaspadaanku. Kutambahkan jangkauan indra eksternal Hydra agar dapat meningkatkan jarak radius disekitar kami yang bisa kuawasi. Satu hal yang kusyukuri adalah tak satupun dari Platina, Saphir ataupun Jasper yang keluar dari gearnya. Dengan begini kami tak akan begitu keteteran saat ada musuh yang tiba-tiba menyerang.
“Ayo kita berangkat lagi!” Ajak Zircon 17 menit kemudian, dan anehnya semua langsung menurut tanpa membantah. Kami pun kembali terbang beriringan melanjutkan perjalanan.
Beberapa jam kemudian, saat matahari sudah hampir kembali ke peraduannya, saat kelelahan mulai melanda yang menyebabkan konsentrasi dan daya tahan tubuh kami hampir mencapai titik penghabisan, tiba-tiba saja sebuah gear semerah darah melintas diatas kami dengan kecepatan tinggi. Gear itu menembakkan chi super besar ke arah Serpent, gear Platina sehingga gear itu terpental belasan meter dari posisinya semula, tersungkur di tanah berpasir yang tandus.
..._______#______...
🌼Yuuuuks gaes PLIIIIS jangan lupa kasih LIKE, VOTE dan KOMEN 🌼