
Entah sudah berapa lama aku pingsan, begitu sadar kudapati diriku terkurung di dalam ruangan yang dingin, gelap dan pekat, tak ada secerca cahaya pun yang menerangi. Bahkan aku tak tahu pasti saat ini masih siang ataukah sudah malam...
“Tina? Platina?...” tanyaku tak yakin akan mendapatkan jawaban.
Tak yakin ada orang lain di ruangan ini selain aku. Kugerak-gerakkan tangan dan kakiku, ternyata tanganku terborgol dan kakiku terikat dengan tali. Kusentakkan kakiku untuk melepaskan ikatanku tapi tetap kubiarkan tanganku terborgol.
Kususuri seluruh lantai dan dinding ruangan, mencari petunjuk tentang ruangan tempatku disekap ini. Besi dimana-mana, lantai dan dinding ruangan semuanya terbuat dari besi, mungkin aku disekap dalam kontainer atau gerbong kereta api.
“Uuuuuh...uuuh...” samar-samar kudengar suara rintihan yang sangat lemah dan lirih.
“Tina? Platina dimana kau?” mulutku tiba-tiba keluh karena was-was, takut terjadi sesuatu pada Platina.
Sunyi, tak ada jawaban. Sebagai gantinya suara rintihan tadi terus terdengar, semakin lemah, membuatku bertambah panik...
“Tenanglah, Opal!” Perintahku pada diriku sendiri yang anehnya selalu tidak bisa tenang dan berfikir rasional mengenai hal-hal yang menyangkut Platina...
"Tenanglah!” kuatur napasku dan kupusatkan konsentrasiku.
Sebagai hasilnya dapat kudeteksi asal suara rintihan tadi, disebelah kanan depanku. Reflek aku berdiri dan berlari menuju kearah itu, berhenti sejenak begitu menyadari tanganku masih terborgol. Kukerahkan segenap tenagaku ke kedua tanganku dan kusentakkan sehingga rantai borgol itu terputus.
Kubuat cahaya kecil diujung jariku dengan sedikit mengerahkan energi chi-ku.
“Platina...” aku melesat menghampiri sesosok tubuh yang meringkuk gemetaran di sudut ruangan, tak salah lagi gear suit kuning itu adalah pakaian yang tadi dikenakan Platina.
“Platina...Bertahanlah, Platina...” kuraih tubuh lemah itu. Kubuat pencahayaan untuk memeriksa keadaannya dengan membakar sesuatu yang kutemukan di lantai. Kurasa tak akan berbahaya melakukan pembakaran karena ruangan ini terbuat dari besi seluruhnya.
Kuamati dan kuperiksa dengan seksama tubuh Platina dari ujung rambut sampai ujung kaki. Tubuhnya sangat panas dan penuh peluh. Sepertinya dia demam karena luka-lukanya yang tak terobati akibat pertarungan tadi , mulai terinfeksi.
Bagaimana ini? Dia harus secepatnya mendapat pertolongan, jika tidak bisa fatal akibatnya. Tapi di tempat ini tak ada apapun yang bisa dipakai untuk mengobatinya, bahkan air bersih juga tak ada...
“Hei dasar bodoh! Apa yang kau lakukan?” Tiba-tiba sebuah pintu terbuka dari salah satu sisi ruangan, cahaya yang sangat terang langsung menyeruak masuk menyilaukan mataku.
“Mau mati hah? Kalian bisa mati kehabisan napas kalau nekat menyalakan api di ruang tertutup ini!”
Seorang gadis muda seusiaku berdiri diambang pintu sambil berkacak pinggang. Rambut panjangnya berwarna kemerahan dan terikat tinggi diatas kepalanya.
Gaya berpakaiannya membuatnya terlihat bengis dibalik kecantikannya, dia mengenakan kaos merah tanpa lengan, celana panjang berbahan kulit, sepatu boot tinggi dan sarung tangan dari bahan kulit, serta banyak pisau menempel di ikat pinggang dan pahanya.
“Maaf, aku tidak akan macam-macam, tapi kumohon tolonglah temanku! Dia sakit, dia membutuhkan perawatan secepatnya” jawabku merendah.
'Sialan, aku paling benci harus mengemis pertolongan pada orang lain. Tapi demi Platina...'
“Huh dia gadis idiot yang kembali hanya untuk menyelamatkan cecunguk lemah sepertimu kan?” Gadis itu mendekati kami, mengamati keadaan Platina dengan lebih seksama.
“Dia bukan sekedar ‘teman’ tentunya? Dia apamu?” tanyanya tersenyum sinis.
“Ehm...dia, dia kekasihku. Tolong selamatkan dia.”
“Dasar cecunguk pengecut, masa hanya untuk melawan seorang wanita kau sampai mengorbankan kekasihmu seperi ini? Laki-laki macam apa kau?” Cetus gadis itu semakin menusuk tetapi ikut berlutut di sebelahku memeriksa keadaan Platina.
“Jadi pilot gear merah tadi adalah...kau?” Tanyaku setengah tak percaya dan dibalasnya dengan dengusan mengejek.
Sungguh memalukan, kami semua berlima dibuat kerepotan, bahkan aku dan Platina sampai tertangkap oleh hanya karena seorang wanita?
Yah walaupun dengan belasan anak buahnya sih. Siapa sebenarnya gadis ini? Dia terkesan kasar dan sadis, tapi tak dapat dipungkiri kemampuan gearnya benar-benar jempolan.
“Aku bisa menolongnya asal kau menuruti beberapa syarat dariku. You got it, jerk?”
“Syarat? Syarat apa? Katakanlah! Aku rela melakukan apa saja demi keselamatannya.” jawabku tak sabar.
“Tak ada dokter, hanya alat dan obat seadanya. Kau tak setolol itu sehingga tak bisa mengurusnya kan?"
"Kuperingatkan kau jangan macam-macam atau kalian berdua akan mati. Nanti saja kuberi tahu apa yang harus kau lakukan untukku. Bagaimana?”
“Baiklah aku setuju,” tak ada pilihan lain bagiku selain untuk menyetujui persyaratan darinya.
Tanpa menjawab kuangkat tubuh Platina dari lantai, kugendong di depan dadaku. Dalam gerakan yang sangat cepat gadis berambut merah itu menggerakkan tangannya dengan sebilah pisau dan memotong beberapa helai rambut Platina.
“Hei...apa yang kau lakukan?” protesku marah dengan tindakannya yang tiba-tiba itu.
Memang tidak begitu terlihat hasil potongannya karena hanya beberapa helai rambut yang diambilnya, tapi tetap saja aku tak suka rambut Platina diambilnya. Untuk apa rambut itu? Aku takut dia akan menggunakannya untuk suatu kejahatan lainnya.
“Apa? Kau mau melawan, brengsek? Diam saja dan ikuti saja aku!” Jawabnya mengacuhkanku dan terus saja berjalan mendahului langkahku.
Kupikirkan sekeras apapun tetap tak bisa kutemukan jawaban mengapa dia mengambil beberapa helai rambut Platina. Beberapa kemungkinan terburuk juga melintas dibenakku, tapi segerah kutepis jauh-jauh. Semoga saja hanya kekhawatiranku semata.
Bagaimanapun dalam kondisi kami saat ini, hanya dia yang bisa menyelamatkan Platina. Akhirnya aku berjalan perlahan dibelakang gadis itu, mengikutinya.
Gadis berambut merah membawa kami ke bangunan persegi di dekat gerbong penyekapan kami. Gadis itu membawa kami ke suatu kamar. Yah paling tidak ada sebuah ranjang untuk meletakkan dan merawat Platina disana. Sebuah kamar kecil sederhana yang hanya berisi sebuah ranjang singgle bed, kursi dan meja kecil untukku merawat Platina.
Peralatan medis sederhana juga disediakan sesuai dengan janjinya padaku. Setelah memenuhi semua kebutuhan perawatan dan menyediakan air minum untuk kami, gadis itu pergi begitu saja.
Yah paling tidak kami masih bisa hidup asalkan ada air, walau tanpa makanan. Mungkin kaki masih bisa bertahan beberapa hari kedepan.
Setelah gadis itu pergi segera kurawat Platina dan kupastikan keadaanya aman serta demamnya. Kukompres keningnya dengan saputangan basah sampai aku ketiduran juga disamping ranjangnya. Memang perjalan jauh dan terkurasnya tenagaku membuatku sangat lelah dan mengantuk.
Aku tersentak kaget saat kurasakan usapan halus dikepalaku. Buru-buru kugosok kedua mataku untuk mengembalikan kesadaranku. Begitu membuka mata kudapati senyuman manis Platina menyambutku.
“Selamat pagi, Kak Opal” sapanya riang.
Aku balas tersenyum, lega rasanya melihat dia segar dan sehat setelah semalaman penuh aku merawatnya dan berjaga di samping ranjangnya.
"Aku, aku kenapa?" tanya Platina kebingungan.
"Kau terluka karena pertarungan tadi. Lukamu terinferksi sehingga membuatmu demam. Tapi sepertinya sekarang sudah aman." Aku berusaha menjelaskan keadaannya. Kuperiksa sekali lagi suhu tubuhnya dengan meletakkan punggung tanganku ke dahinya. Sudah tidak panas lagi.
“Terima kasih, Kak Opal. Aku pasti sudah mati kalau tak ada kau. Sungguh beruntung sekali bisa bersama dokter serba bisa sepertimu.” ujarnya tersenyum manis padaku.
“Tina, maafkan aku. Karena aku kau sampai seperti ini” ujarku penuh penyesalan.
"Aku juga tak akan bisa berbuat apa-apa jika tanpa pinjaman peralatan dan fasilitas dari gadis itu...”
“Gadis? Siapa?” Sanggah Platina penasaran.
“Aku,” tiba-tiba saja orang yang kami bicarakan muncul di ambang pintu.
“Hai bagaimana keadaanmu?” tanyanya. Aku merasa sikapnya pada Platina cukup ramah, beda sekali dengan sikapnya padaku.
“Hai, terima kasih ya. Aku sudah baikan,” jawab Platina dengan nada khasnya yang ramah dan ceria.
“Namaku Platina Vse Bessemertie dan ini Opal Hiryu Sumeragi,” tanpa sempat kucegah Platina dengan polosnya membeberkan identitas kami.
Mampvs! Bisa-bisanya Platina membocorkan identitas kami semudah ini? Pada pimpinan perampok yang menyerang kami...
Gadis itu tercenung cukup lama mendengar ucapan Platina. Terlihat sedikit kaget mendengarnya, mungkin karena kepolosan Platina atau karena nama kami.
“Bessemertie...Sumeragi...” guman gadis itu seperti sedang memikirkan dan merencanakan sesuatu.
Samar-samar kulihat dia tersenyum sinis dengan sedikit roman puas di wajahnya, membuatku sedikit merinding dengan apa yang sedang dipikirkannya. Bukan tidak mungkin dia mengetahui siapa kami sebenarnya dari nama belakang kami.
"Oh maaf, namaku Ruby,” jawabnya akhirnya.
Ada apa ini? Kenapa aku mendapat firasat buruk dari senyumannya barusan? Apa dia dapat mengenali nama belakang kami? Apa dia tahu bahwa kami berasal dari keluarga bangsawan istana?
'Damn! Semoga saja ini hanya kekhawatiran ku yang tak beralasan.'
...________#________...
🌼Yuuuuks gaes PLIIIIS jangan lupa kasih LIKE, VOTE dan KOMEN 🌼