Almekia Kingdom

Almekia Kingdom
57. Diamond - West Line (2)



Entah sudah berapa lama aku tertidur dan terbuai dalam kenyamanan tabung penyembuh. Begitu kubuka mataku kudapati tubuhku masih berada di dalam tabung. Cairan hijau yang tadi mengelilingi tubuhku sudah hilang berganti dengan cahaya kuning keemasan yang sejuk. Kuamati keadaan sekelilingku, sepertinya hari sudah pagi.


"Anda sudah bangun Kolonel?" Midori tersenyum, berjalan mendekat dan menghampiriku. Dia menekan tombol untuk membuka tabung yang menutupi tubuhku. Memastikan proses penyembuhan yang harus kujalani telah selesai.


Perlahan aku duduk di meja perawatan dan kugerak- gerakkan perlahan tubuhku. Rasanya lebih ringan seolah semua rasa lelahku tadi telah hilang.


"Aku seperti tak mengenali tubuhku sendiri," kukatakan uneg-uneg yang mengganjal dihatiku kepadanya.


"Hahaha" Midori tertawa ringan.


"Kemarilah," ditunjukkannya padaku sebuah layar komputer yang menunjukkan data statistik-statistik keadaan tubuhku.


"Seperti yang tertulis disini, tubuh anda sudah pulih hampir 100%. Tapi perlu anda ketahui Kolonel, tubuh manusia itu tidak sesederhana yang bisa dijabarkan angka-angka. Mereka memiliki aturannya sendiri dan semua berbeda tergantung individu masing-masing." Lanjutnya menjelaskan begitu aku sudah dekat dengan tempatnya berdiri, ikut mengamati layar.


"Khusus untuk kasus anda, kurasa tak ada masalah berarti. Hanya saja sel-sel tubuh anda banyak yang mati karena kejadian naas beberapa waktu yang lalu. Anda sangat beruntung tidak mati setelah menerima tembakan sebanyak itu."


Aku hanya bisa tersenyum getir mendengar penjelasan darinya. Seharusnya aku sudah mati ya? Jadi ini seperti kesempatan kedua untukku? Mungkin musibah kemarin bisa menjadi teguran untukku agar lebih berhati-hati dalam mempertaruhkan nyawaku.


"Dan setelah berbagai proses penyembuhan yang anda lalui, sel-sel tubuh anda yang mati telah berganti menjadi sel-sel hidup yang baru. Tapi tetap saja usia sel itu masih terlalu muda, butuh waktu sampai mereka matang. Analoginya seperti anak kecil yang baru lahir, tentu berbeda dengan orang dewasa."


"Yang artinya butuh waktu juga untuk anda kembali kepada keadaan tubuh anda sebelum sakit. Sebut saja ini adalah masa pemulihan." Midori mengakhiri penjelasannya tentang keadaan tubuhku.


Aku membuang napas kesal mendengarnya. Hanya bisa pasrah saja menerima keadaan tubuhku yang semenyedihkan ini. Paling tidak kan aku masih hidup.


"Berapa lama aku bisa bertahan dalam pertarungan?" Tanyaku langsung to the poin. Menanyakan hal yang harus kuketahui sebelum melangkah lebih jauh.


Kuambil gear suitku yang terlipat rapi di meja dan segera kukenakan. Kurapikan penampilanku agar lebih layak untuk berhadapan dengan seorang wanita. Masa mau terus-terusan telanjang dada?


"Sejujurnya anda belum boleh terlalu banyak bergerak. 30 menit pertarungan normal atau 10 menit pertarungan gear pasti sudah sangat membebani tubuh anda untuk saat ini," jawab Midori.


"Oke aku mengerti," ujarku sedikit ngeri.


Bagaimana mungkin aku hanya dapat bertahan sesingkat itu? Bagaimana jika aku harus bertarung dengan lawan yang kuat nantinya? Aku tak bisa tenang memikirkan kemungkinan-kemungkinan buruk yang akan kuhadapi nanti.


"Ini obat penghilang rasa sakit dosis tinggi cuma ada 3 ampul. Bisa anda gunakan di saat-saat yang mendesak," diserahkannya sebuah kotak obat berukuran kecil padaku.


"Terima kasih Midori," kuambil kotak itu dan kumasukkan saku celanaku.


Tak beberapa lama kemudian Amethys dan Goldy memasuki rungan klinik, memberitahukan bahwa Ruby sudah datang menjemput. Inilah yang kusuka dari Goldy, dia seakan dapat membaca pikiranku. Dia akan membereskan urusan yang tidak bisa kutangani bahkan hanya dengan sedikit perintah sederhana. Entah bagaimana dia bisa menghubungi Ruby, bahkan bernegosiasi dengannya agar mau menjemputku pagi ini. Memundurkan waktu dari jadwal awal penjemputan di malam hari kemarin.


"Kami titipkan Kolonel ceroboh kami padamu, nona Sumeragi." Kata Goldy saat melepas kepergian kami.


"Tolong anda jaga dia untuk kami. Jangan biarkan dia bunuh diri lagi." Midori ikut memberi pesan.


"Enak saja bunuh diri," sungutku kesal.


"Tentu, akan kupastikan dia kembali ke sini hidup-hidup." Amy menyanggupi permintaan kedua nak buahku itu dengan mantap.


"Terima kasih untuk segalanya," lanjut Amy menyalami Goldy dan Midori bergantian. Aku pun ikut menyalami mereka berdua sambil tersenyum cengengesan.


"Jangan mati, Diamond!" Goldy menekankan ucapannya padaku. Dan aku mengangguk mantap, untuknya. Tak ingin membuatnya khawatir padaku.


"Ada wanita secantik nona Sumeragi yang bersedia disisimu. Kamu harus sayang pada nyawamu sendiri mulai sekarang." Teriak Goldy saat aku dan Amy sudah berlalu meninggalkan klinik, berjalan beriringan ke arah hanggar gear.


"Tentu saja!" Jawabku lantang padanya tanpa menoleh kebelakang lagi.


Aku dan Amethys kembali menaiki gear kami, Poenix dan Leviatan yang sudah disiapkan di hanggar. Dapat kulihat gearku sudah terisi fuels penuh, dan peta navigasi juga telah diupgrade. As expected dari Goldy yang selalu bisa mempersiapkan segalanya tanpa perlu perintah lagi.


Setelah memastikan segala persiapan kami ok, segera kuterbangkan gearku. Leviathan ikut meluncur dan terbang mensejajari Poenix. Kubuat sambungan ke markas besar West Line setelah terbang sedikit jauh. Dan dapat kulihat wajah Goldy muncul di monitor gearku. Dia yang sedang berdiri di ruang kendali markas besar West Line.


"Dimana Ruby?" Tanyaku padanya.


"Di bukit pasir sebelah selatan," Jawab Goldy mengirimkan lokasi yang harus kami tuju.


"Good luck," lanjutnya mengakhiri sambungan.


Di sana dapat kulihat sebuah pesawat tempur berukuran besar menunggu kami. Ruby dan empat orang anak buahnya menanti kami di luar pesawat.


"Kolonel!" Ruby langsung berlari dan menghambur ke pelukanku begitu aku keluar dari kokpid gearku.


"Aku kangeeeen" Lanjutnya mencium ringan pipiku kanan dan kiri bergantian tanpa permisi. Aku diam saja menerima perlakuannya, tak berani bereaksi.


Tepatnya bingung bagaimana harus bereaksi dalam situasi tidak mengenakkan ini. Jika aku menolak atau menghalau tindakan Ruby, gadis itu bisa marah. Dan dampaknya? Bisa saja dia mencelakai Opal dan Platina yang sedang menjadi tawanannya.


Sementara kalau aku menerima perlakuan Ruby dengan senang hati, entah apa yang akan dilakukan Amy. Mungkin dia akan marah atau bahkan menghajar ku habis-habisan nanti.


Ruby memang selalu heboh begini setiap kali bertemu denganku, sudah biasa. Dalam keadaan biasa aku tak akan sebingung ini. Tapi kali ini berbeda. Ada yang tidak biasa, dapat kurasakan hawa membunuh yang jelas terpancar dibelakangku, Amethys.


'Aduh mampvs, sepertinya dia marah.'


Sekilas kulirik gadisku itu, wajah cantiknya tetap tenang tanpa ekspresi melihatku dipeluk dan dicium oleh wanita lain. Pandangan matanya tajam dan lurus menusuk padaku. Dan yang paling parah dapat kurasakan dia mengeluarkan aura yang sangat mengancam, aura membunuh. Mungkinkah dia cemburu? Hehe rupanya dia bisa manis juga.


"Kau lama sekali? Aku sudah menunggumu sejak kemarin malam," ujar Ruby kesal tapi dengan nada sok imut dan sok manja padaku.


"Maaf ada sedikit kendala," jawabku singkat.


"Sudah bawa semua barang yang kupinta?"


"Tentu saja," kuberikan isyarat kepada Amy untuk maju menyerahkan koper yang penuh berisi emas batangan.


Salah satu anak buah Ruby menerimanya, membuka dan memeriksanya. Bersiul senang dengan mata melebar saat melihat isinya.


"Dapat, bos." ujarnya memastikan pada Ruby.


"Siapa dia?" Tanya Ruby ketus setelah menyadari kehadiran Amethys. Terlihat sangat tidak senang mengetahui ada gadis cantik yang menemaniku.


"Dia Amy, asistenku." Jawabku memperkenalkan Amethys yang langsung mengangguk sopan dan tersenyum ramah kepada Ruby.


"Cih! Untuk apa kau bawa dia. Mengganggu saja!" Ruby terang-terangan merengek mengeluhkan kehadiran Amy disana.


"Sudah jangan hiraukan dia." Aku mencoba meyakinkan Ruby bahwa Amy bukan siapa-siapa.


"Lalu dimana hadiah yang kau janjikan padaku?" Tanyaku ingin secepatnya mengakhiri transaksi ini.


"Ada di rumah. Ambil saja sendiri" Jawab Ruby seenaknya. Jawaban yang benar-benar di luar dugaanku.


Kupikir dia akan menyerahkan tawanan saat kami memberinya apa yang dia inginkan. Tapi ternyata gadis ini jauh lebih licik dari yang kukira.


"Apa? Ini tidak sesuai dengan isi suratmu," aku berusaha memprotes tindakannya.


"Nyawa mereka ada padaku sekarang. Suka-suka aku donk mau bagaimana. Terserah saja Kolonel mau ikut denganku mengambilnya atau tidak..." Jawab Ruby sok dramatis, menyebalkan sekali.


"Baiklah aku akan ikut," aku menyerah menghadapi gadis seenaknya ini. Khawatir terjadi sesuatu pada Opal dan Platina kalau aku tidak mau menuruti kehendak Ruby.


"Nah gitu donk. Nanti anda hanya perlu melakukan beberapa hal kecil untukku," ujar Ruby kegirangan sambil menggandeng lenganku, mengajakku berjalan beriringan menaiki pesawatnya.


Amethys mengikuti kami dari belakang memasuki pesawat juga setelah mengeset gear kami menjadi mode autopilot.


Hal kecil? Aku tak bisa membayanglan apa yang harus kulakukan untuknya. Hal kecil bagi Ruby bisa saja berbahaya dan pempertaruhkan nyawa.


Tak beberapa lama kemudian pesawat yang kami naiki lepas landas, terbang dengan stabil menyusuri padang pasir tandus di bawah kami.


Phoenix dan Leviathan yang sudah dalam mode autopilot juga ikut terbang dibelakang pesawat kami. Entah kemana Ruby akan membawa kami, aku benar-benar tak tau arah. Sepanjang yang dapat kulihat dari jendela pesawat hanyalah hamparan gurun pasir maha luas tanpa batas. Entah dimana arah utara, selatan barat dan timurnya.


...______#_______...


🌼Yuuuuks gaes PLIIIIS jangan lupa kasih LIKE, VOTE dan KOMEN 🌼