Almekia Kingdom

Almekia Kingdom
87. Diamond - Final Battle



Beberapa menit sebelum pertandingan final dimulai suasana turnamen hall sudah sangat gaduh seperti kapal pecah. Bahkan dari ruangan klinik yang terletak di sudut terpencil bangunan pun kehebohan masih dapat terdengar dengan jelas. Seolah ribuan orang telah hadir dan berkumpul di bangunan ini.


Mereka benar-benar bersemangat untuk pertandingan hari ini. Menantikan pertandingan babak final, pertandingan yang paling dinantikan sepanjang turnamen ini. Menjadi saksi hidup pertandingan final turnamen Bloody Hell tahun ini. Saksi hidup lahirnya juara baru turnamen ini pula. Karena Simone si juara tahun lalu sudah kalah di babak semifinal.


Kebanyakan dari para penonton ini juga bertaruh, mempertaruhkan uang dan harta mereka untuk mendukung jagoan-jagoan favorit mereka. Berharap tebakan mereka benar dan bisa mendapatkan keuntungan berkali-kali lipat dari jumlah yang mereka keluarkan. Dan aku pun tak mau kalah untuk ikut bertaruh juga.


'Kau harus menang Zirc, satu juta Gills kupertaruhkan untukmu.'


Seakan ingin ikut merayakan euforia pertandingan final ini kami semua memutuskan untuk berkumpul bersama di ruang tunggu klinik. Rencananya si nonton bareng seperti yang sering dilakukan para kawula muda jaman now dari monitor yang ada disana.


Menonton Zircon yang akan berjuang, memperjuangkan nasib kami di BloodyHell ini. Memperjuangkan kemungkinan kami untuk dapat ke midlle part dan menemui paman Obsidian disana.


Aku beranjak dari ranjangku di ruang perawatan. Bosan juga rasanya duduk dan tiduran disana seharian. Aku berjalan ke arah ruang tunggu klinik dan disana kudapati semua member pelarian istana berkumpul disana. Yah selain Zircon yang akan bertanding dan Opal yang menjadi teknisinya untuk pertandingan ini tentunya.


Jasper, Saphir, Amethys dan Platina semua hadir lengkap hadir di ruang tunggu. Mereka menyambutku dan memberikan sebuah kursi kosong untukku. Mempersilahkan aku duduk disana.


"Bagaimana persiapan mereka, Tina?" tanyaku pada Platina yang sebelum kesini masih menemani Zircon dan Opal di hanggar.


"Semua Ok. Tak ada kerusakan berarti untuk Fenrir dari pertarungan sebelumnya. Kak Opal hanya melakukan maintenance dan light service saja sambil mengubah settingan gear itu sedikit sesuai permintaan Zircon," jawab Platina.


"Tidak ada kerusakan berarti? Bukannya dia melawan juara turnamen tahun lalu?" tanyaku keheranan.


Apakah Zircon sudah menjadi sekuat itu? ataukan lawannya yang terlalu lemah? Mana mungkin untuk pertarungan serius dua private gear kelas atas tanpa menyebabkan kerusakan yang berarti?


Betapa kagetnya aku saat kudapati keempat orang hadir di ruangan ini malah tertawa terbahak-bahak mendengar pertanyaanku. Membuatku semakin heran dan kebingungan. Sebenarnya apa yang terjadi pada pertandingan semifinal Zircon melawan Simone?


"Memangnya kenapa? apa ada yang aneh dengan pertandingan itu?" tanyaku.


"Hahaha aduh, aduh perutku sakit kalau harus mengingatnya," Saphir tertawa terpingkal-pingkal.


"Benar sekali. Itu pertandingan terkonyol sepanjang masa!" celetuk Platina juga tertawa cekikikan.


"Kujamin kau pasti senang melihatnya hahaha." Jasper pun ikutan tertawa ngakak tak tertahankan.


"Maaf aku belum sempat menceritakan padamu tentang pertandingan itu," Amethys juga ikutan cekikikan menyodorkan holopadnya padaku.


Kemudian Amy menekan tombol play untuk mulai menayangkan rekaman vidio pertandingan semifinal Zrcon dan Simone. Pada bagian-bagian awal sengaja dipercepat dan kemudian dibiarkan berjalan dengan normal setelah beberpa menit berlalu.


"Haaaah? Apa-apaan ini hahahha?" tanpa bisa kucegah akupun tertawa terbahak setelah mononton sampai selesai pertandingan itu.


Tertawa sampai bekas luka di dadaku sedikit ngilu karena kebanyakan bergerak dan tertawa. Benar-benar pertandingan terkoyol yang pernah kulihat. Aku jadi penasaran seperti apa Simone ini. Kok ada orang yang kayak gitu, idup lagi hehe.


"Harusnya aku melihat ini sebelum Zircon kesini tadi," ujarku sedikit kecewa karena melewatkan kesempatan emas untuk meledek Zircon.


Tak bisa kubayangkan bagaimana reaksi Zircon yang sangat serius dan dingin itu saat diperlakukan begitu oleh musuhnya. Membayangkan wajah kesal Zircon saja sudah lucu rasanya hahahha.


Terngiang dan terbayang dengan jelas di benak kami tentang pertandingan absurd itu. Pertandingan epic yang pasti akan terkenang sepanjang masa. Pertandingan sekaligus pernyataan cinta dari Simone kepada Zircon.


"Sepertinya pertandingan final sudah dimulai," Saphir menyeletuk dengan bersemangat. Menghentikan tawaan dan candaan kami.


Benar saja suasana turnamen hall benar-benar riuh sekarang. Oleh teriakan dukungan kepada kepada kedua peserta pertandingan final ini. Dapat kulihat gear hijau Jade sudah lebih dahulu mendarat di arena. Tak lama kemudian gear biru Zircon juga mendarat di arena berhadapan dengan gear Jade.


Kedua gear itu membawa set senjata yang sama persis. Sepertinya memang sudah menjadi kebiasaan Jade untuk pamer dan melawan melawan musuhnya dengan senjata andalan dari musuhnya. Seakan Jade ingin menegaskan bahwa dia bisa mengalahkan musuhnya itu dengan senjata keahliannya sendiri.


Suara wasit kemudian menggema di seluruh arena. Memperkenalkan kedua finalis yang akan bertarung itu. Tak lupa juga sang wasit mempromosikan untuk bertaruh dan berjudi memberikan dukungan pada keduanya. Kemudian sang wasit menembakkan pistol sebagai tanda dimulainya pertandingan itu.


The battle begin. Pertandingan Final turnamen BloodyHell telah dimulai.


Dapat kulihat di layar gear biru Zircon langsung menodongkan kedua senapan pada gear Jade tanpa kompromi. Dia menembaki musuhnya dengan tembakan yang cepat dan akurat. Gear hijau Jade langsung saja melesat meliuk-liuk menghindari rentetan tembakan ganas yang mengarah padanya.


Gear hijau Jade dengan cepat memperbaiki posisinya dan segera melancarkan serangan balasan. Dia menerjang mendekati Fenrir sambil terus menembakkan kedua senapan di tangannya ke gear biru itu.


Bukannya menghindar, Zircon malah memilih untuk ikut menerjang gear lawannya. Seakan tak mau kalah dia menembaki juga gear hijau Jade dengan kedua senapan ditangannya. Zircon menggerakkan gear birunya juga untuk mendekati Jade, menerjangnya.


Kedua gear itu seakan sama-sama tak memperdulikan tembakan yang mengenai tubuh gear masing-masing. Ledakan-ledakan terjadi saat peluru-peluru dari senapan mereka saling bertemu dan beradu, menghancurkan satu sama lain.


Ledakan dan percikan api juga terjadi di segala penjuru yang menenai tubuh kedua gear itu, saat salah satu dari mereka gagal menahan serangan rentetan tembakan peluru. Tetapi sekali lagi kedua gear itu seolah tak memperdulikannya, mereka semakin memacu gearnya mendekat dan semakin dekat.


"PLAAAANK"


Suara keras terdengar saat kedua gear itu beradu dan bertemu. Bertabrakan dengan kerasnya. Senapan keduanya beradu, saling menghunus, bertabrakan, dan menekan satu sama lain.


Gerakan kedua gear itu terhenti, karena saling mendorong dan mengerahkan kekuatan pada senapan-senapan yang tersilang berhadapan di depan dada mereka.


Untuk beberapa saat kedua gear itu saling berpandangan, saling mengancam satu sama lain. Seakan meluapkan kebencian yang mereka pendam dihati masing-masing. Seakan keduanya dapat melihat wajah masing-masing musuhnya, memaki atau mengumpat penuh dendam.


Beberapa saat berlalu sampai akhirnya keduanya melompat menjauh dan kembali mengatur posisi mereka. Mangatur kuda-kuda dan sebelum melanjutkan serangan dan pertempuran.


Kulihat Zircon lebih unggul dalam menggunakan senapan. Yah memang itu adalah senjata spesialisasi yang selalu digunakan Zircon sejak mengenal Fenrir.


Jade mungkin sama halnya denganku, kami masih bisa memakai senapan dengan sama baiknya. Kami bisa memakai semua jenis senjata apa saja untuk bertarung.


Tetapi tetap saja ada perbedaan yang nyata jika harus berhadapan dengan ahlinya. Aku menduga Jade adalah pengguna pedang seperti halnya diriku, makanya dalam pertandingan melawanku kemarin gerakannya lebih bebas dan tidak sekaku sekarang.


..._______#_______...


🌼Yuuuuks gaes PLIIIIS jangan lupa kasih LIKE, VOTE dan KOMEN 🌼