
Sudah seminggu berlalu sejak Jasper, Zircon, Opal, Platina dan Saphir adikku satu-satunya pergi dari istana. Tidak sedikit pasukan yang sudah dikerahkan untuk mencari mereka, segala kecanggihan teknologi dan informasi juga dikerahkan semaksimal mungkin, tapi tetap saja hasilnya nihil.
Tak ada seorangpun yang mengetahui dimana keberadaan mereka. Kemana sebenarnya mereka? Kenapa bahkan dengan sistem satelit juga tak dapat menemukan lokasi mereka? Jawabannya hanya ada satu. Mereka pasti ada di sana, kita tanpa akses internet atau jaringan yang dapat ditangkap oleh satelit. Bloody Hell.
Sialan! Aku kesal sekali! Disaat adik-adikku itu kemungkinan besar sedang dalam bahaya, aku malah enak-enakan tiduran disini. Tiduran di kamar mewah royal class rumah sakit pusat. Aku tak sanggup melakukan apapun untuk mencari mereka.
Gara-gara ‘Mind reading’ waktu itu kondisi tubuhku yang seharusnya sudah pulih 100%, malah baru pulih 77%. Aku sudah sanggup berdiri dan berjalan sendiri sih walaupun sangat perlahan karena masih sering pusing dan lemas. Jauh lebih baik lah daripada harus memakai kursi roda.
Lama-lama aku jadi muak pada tubuhku sendiri yang selemah ini. Aku ingin menyusul mereka, memastikan keadaan dan keselamatan mereka. Aku yakin sekali mereka pergi kesana, mereka pasti ke Bloody Hell.
“Aaaa...ayo buka mulutmu!” Amy menyodorkan sesendok bubur padaku. Makanan membosankan dan tidak enak rasanya, hambar.
Mau tak mau kubuka juga mulutku menerima suapannya, meskipun aku sudah sangat bosan memakan bubur itu.
“Sudahlah Diamond, jangan pikirkan mereka lagi. Ada Opal dan Zircon bersama mereka, mereka pasti baik-baik saja. Kau hanya perlu berkonsentrasi pada kesembuhanmu, semakin cepat kau sembuh semakin cepat pula kau menyusul mereka.” Disodorkannya sesendok bubur lagi padaku.
“Yah. Kau benar,” jawabku pasrah.
Aku sadar betul akan ketidak berdayaanku. Mau bagaimana lagi? Segala peralatan super canggih di rumah sakit ini saja tak bisa memberikan banyak kemajuan yang berarti untuk kesembuhanku.
Dan kalau aku nekat memaksakan diri untuk pergi, bisa-bisa aku mati konyol. Aku juga tak segila itu ingin mati, enak saja. Aku belum nikah oii!
Lagipula dengan keadaan tubuhku saat ini, aku tak yakin kuat mengemudikan gearku sampai Bloody Hell. Jadi bisa apa selain pasrah dan tiduran di rumah sakit sampai dinyatakan sembuh?
“Hallo Diamond! Kau masih hidup kan?” Paman Topaz memasuki kamarku tepat saat Amy meletakkan piring bekas makanku yang hanya kumakan tak sampai separuhnya. Sudah eneg dan tak bisa lanjut mengahbiskannya lagi.
Selama seminggu ini beliau selalu datang untuk memberiku ‘heal’ dan ‘cure’, penyembuhan dengan menggunakan tenaga dalamnya. Sesuatu yang tak bisa dilakukan sembarang orang non penyembuh. Petarung murni sepertiku bisa juga melakukan 'heal' tapi tidak untuk menyembuhkan, hanya dapat mencegah luka bertambah parah.
“Tentu saja paman, aku tak akan mati sebelum merebut Amethys dari tangan paman,” Jawabku asal. Tetapi mampu membuat paman Topas tertawa lebar dan memerahkan wajah cantik Amy.
“Jadi bersiaplah untuk melepaskannya, paman!”
“Dalam keadaan sekarat pun masih bisa bercanda, ini baru namanya kolonel Diamond Alexiel Lionheart.” Tiba-tiba sesosok tubuh yang paling tidak terduga muncul di hadapan kami. Seseorang yang paling tak terduga untuk datang menjenguk di rumah sakit pada siang bolong begini.
Paduka ratu! Beliau menghampiriku sambil tersenyum simpul. Kuamati wanita setengah baya itu, beliau nampak cantik dan anggun seperti penampilan kesehariannya sebagai seorang ratu. Yah meski wajahnya terlihat sedikit pucat dan sembab di bagian kedua matanya. Sepertinya beliau telah banyak menangis beberapa hari ini.
Amy dan Paman Topaz serempak memberi penghormatan pada paduka Ratu. Aku juga berusaha sebisa mungkin menekuk tubuhku, memberi penghormatan juga walaupun rasanya sangat menyakitkan bagiku.
Paduka ratu cepat-cepat menerima penghormatan kami dan menghampiriku. Beliau membantuku menegakkan kembali tubuhku, bersandar kemudian mengambil duduk di kursi tepat disebelah ranjangku.
“Bagaimana kabarmu, Diamond? Sepertinya sudah mulai membaik,” diamatinya diriku dengan seksama.
“Ya lumayan lah, tapi aku sudah bosan tiduran terus disini,” jawabku santai.
“Ada apa bi? Tak biasanya bibi datang pada jam seperti ini?” tanyaku menyelidik.
Bibi Nefrit terdiam sejenak, dengan canggung beliau memandang Paman Topaz dan Amethys bergantian seakan meminta persetujuan mereka.
Paman Topaz cepat-cepat mengangguk sementara Amy tetap terdiam tanpa ekspresi. Dengan sedikit ragu bibi Nefrit mengeluarkan dan menyodorkan secarik amplop merah padaku.
“Tadi pagi ada surat yang dialamatkan ke istana tetapi diatas namakan untukmu, Diamond.Ini bukalah,” Ujar beliau penuh harap, mungkin mengharap akan mendapat suatu petunjuk dimana putranya berada dari surat itu.
Perlahan kubuka amplop surat merah yang masih tersegel rapi. Aku merasa sedikit khawatir melihat warna merah itu, warna kesukaanku dan juga warna yang mengingatkanku pada seorang gadis nan jauh disana.
Dengan hati-hati kubuka amplop itu, didalamnya terdapat selembar kertas putih dengan tulisan tinta merah. Detak jantungku seakan berhenti beberapa saat demi membaca surat itu.
**Halo kolonel Diamond
Aku kangen!!! kangen, kangen dan kangen!!! Pokoknya kangen!!
Oiya aku punya barang bagus lho, kau pasti tertarik. Ada emas putih yang rapuh dan cincin permata yang bimbang.
Bagaimana?... Datang dan temui aku di tempat biasa, bawakan juga barang kesukaanku sebagai gantinya hehe kau tahu yang kumaksud kan?
Kuharap kau secepatnya datang, kalau tidak aku takut tak sengaja merusak kedua barang berharga itu.
Salam rindu, muach
Ruby**
Kubaca sekali lagi surat itu, bahasa kacau yang digunakan dalam surat jelas-jelas membuktikan surat ini asli dari Ruby yang kukenal. Isi surat juga dengan gamblang menyebutkan dia telah menawan Platina dan Opal. Kuperiksa sekali lagi amplop merah tadi dan kutemukan beberapa helai rambut panjang berombak milik Platina.
“Diamond? Apa isi surat itu?” Desak bibi Nefrit khawatir, melihatku yang sedari tadi terdiam memandangi surat dan amplop merah itu. Tanpa menjawab langsung kuserahkan surat itu pada beliau dan langsung dibacanya.
“Apa? Apa maksudnya ini? Jangan-jangan pengirim surat ini telah menawan Platina dan Opal? Lalu. Lalu bagaimana dengan yang lainnya? Bagaimana dengan Jasper, Saphir dan Zircon?” lanjut beliau benar-benar panik setelah membaca surat itu.
“Opal ditawan? Tidak mungkin!” Amethys ikut panik demi mendengar kabar tentang adiknya. Direbutnya surat dari tangan bibi Nefrit dan segera dibacanya.
“Disini sama sekali tidak disebutkan tentang Jasper, Zircon dan Saphir, kurasa mereka berhasil meloloskan diri sehingga penawan itu tidak mencantumkan nama mereka,” ujar paman Topaz dengan kepala dingin setelah ikut membaca surat di tangan Amy.
Beliau memang tactician hebat, masih bisa berpikir jernih meskipun menyangkut Opal, putra kandungnya sendiri. Padahal pastinya beliau juga sama khawatirnya.
“Apa kau tahu barang kesukaannya yang harus kita serahkan ini, Diamond?”
“Uang. Atau bisa juga emas mengingat dia adalah perampok. Dia tidak menyebutkan jumlahnya, jadi kurasa dia menginginkan emas, beberapa batang kurasa cukup. Ruby bukan orang yang terlalu mementingkan materi,” jawabku.
“Tak masalah. Emas tebusan akan kusiapkan berapapun banyaknya. Yang penting mereka selamat,” bibi Nefrit menimpali jawabanku.
“Yang jadi masalah sekarang bukanlah uang tebusan yang dimintanya, melainkan siapa yang harus mengantarkannya. Sepertinya dia mengharuskan Diamond yang bernegosiasi untuk membebaskan mereka,” Paman Topaz menambahkan sambil memandangku dengan pandangan yang sulit diartikan.
“Kenapa harus Diamond?” tanya Amy tiba-tiba dengan nada suara kasar, mungkin dia lupa bahwa paduka ratu ada disampingnya.
“Dia bahkan belum sembuh benar, apa kalian ingin membunuhnya? Kenapa kalian terus saja menghambat kesembuhannya?”
“Tak apa-apa Amy, aku yang akan menjemput mereka. Ruby itu gadis yang sangat keras kepala dan seenaknya. Dia tak akan segan menyakiti atau membunuh orang hanya untuk kesenangannya. Sebaiknya kita menuruti saja keinginannya untuk keselamatan mereka.” Aku tersenyum berusaha menyakinkan gadisku itu. Senang sih diperhatikan olehnya. Tapi rasanya dia jadi over protectiv padaku.
“Tidak! Tidak boleh! Aku tak akan mengijinkan Diamond keluar rumah sakit sebelum kondisinya benar-benar sehat. Aku tak mau terjadi sesuatu lagi padanya! Sudah cukup semua yang dialaminya.” Amy tetap bersikeras.
Sunyi sesaat, kami benar-benar tak mampu membalas perkataan Amy. Bagaimanapun juga dialah yang paling setia menjaga dan merawatku selama di rumah sakit, selain ibuku tentunya.
Saat itulah sesuatu yang sangat tidak terduga terjadi. Paduka ratu bangkit dari kursinya, mundur beberapa langkah, kemudian membungkukkan tubuhnya dengan hikmat tepat di hadapanku.
“Maafkan aku, Diamond. Semua salahku, akulah satu-satunya orang yang patut disalahkan atas semua kejadian ini... Aku tahu benar aku sudah tidak pantas meminta pertolonganmu setelah apa yang kulakukan."
"Tapi kumohon dengan amat sangat, Diamond selamatkan anakku, selamatkan Jasper. Hanya kau yang bisa menyelamatkan mereka. Aku, aku benar-benar tak berdaya dengan segala kekuasaan ini, aku tak bisa berbuat apa-apa...” Baik aku, Amy dan Paman Topaz hanya bisa melongo melihat perbuatan paduka ratu itu.
...________#________...
🌼Yuuuuks gaes PLIIIIS jangan lupa kasih LIKE, VOTE dan KOMEN 🌼