Almekia Kingdom

Almekia Kingdom
48. Opal - Prisonner (2)



Ada apa ini? Kenapa aku mendapat firasat buruk dari senyumannya barusan? Apa dia dapat mengenali nama belakang kami? Apa dia tahu bahwa kami berasal dari keluarga bangsawan istana?


'Damn! Semoga saja ini hanya kekhawatiran ku yang tak beralasan.'


Aku dan Platina cukup tahu diri untuk tidak menanyakan nama belakang dari gadis itu. Di kawasan zona bebas yang kejam ini tidaklah aneh kalau seseorang tidak mempunyai keluarga. Dan baru kusadari kemudian hari bahwa ini adalah kesalahan terbesar kami. Seharusnya kami bertanya nama gadis ini saat ini juga, untuk tahu siapa dirinya sebenarnya.


Ruby, nama yang sangat sesuai untuknya. Permata merah yang tangguh dan kokoh serta memukau siapapun yang memandangnya. Cocok dengan rambut merah dan penampilan tomboynya.


Selanjutnya yang terjadi benar-benar diluar dugaanku, Ruby dan Platina berbicara kesana kemari dengan tak tentu arah. Bahkan keduanya seolah menganggapku hanya sebagai pajangan yang tak perlu digubris. Mereka terlihat sangat akrab meskipun baru pertama kali bertemu. Seperti ada suatu ikatan tersembunyi diantara mereka.


“Ruby, kenapa kau menyerang kami?” tanya Platina membuatku akhirnya tertarik untuk mengikuti pembicaraan mereka.


“Kenapa? wajar saja kan? Kami ini adalah kawanan perampok. Jadi kami akan menyerang siapapun yang lewat untuk mendapatkan buruan... it’s just a job, men” jawabnya enteng, seolah tak punya dosa.


“Kalau hanya berniat merampok, mengapa harus menyerang dengan membabi buta menggunakan senjata lengkap begitu?” kuungkapkan ketidak percayaanku pada jawabannya. Terlalu mencurigakan.


“Apa kalian berniat menghalangi kami ke Bloody hell?” sedikit kupancing Ruby agar mau memberi sedikit petunjuk lokasi kami saat ini berada.


“Itu karena kalian terlalu bersemangat melawan, tentu saja kami tak sudi kalah dari bedebah-bedebah macam kalian.” Ruby mendengus dan mengalihkan pandangannya padaku. Kemudian gadis itu menyunggingkan senyuman sinisnya padaku.


“Dasar kau cecunguk idiot! Mencegahmu untuk ke Bloody hell? Bah, kau pikir ini dimana? Ini Bloodyhell, bodoh!” jawabnya sangat kasar.


Aku benar-benar melongo sekarang. Merasa sangat tolol mendengar jawabnya. Jadi selama ini kami sudah berada di Bloody Hell? Kota tujuan kami?


“Lalu untuk apa? Jangan bilang hanya untuk iseng atau kesenangan pribadimu!” aku sudah kehabisan akal menghadapi gadis aneh ini.


“Benar! Ini karena urusan pribadiku. Aku sudah memperhatikan kalian sejak awal. Sejak kalian memasuki zona bebas dari arah West Line. Kukira kalian yang datang dari arah West line ini adalah suruhannya, seseorang yang sudah mengalahkan dan  menaklukanku...” jawab ruby. Dapat Kuamati tiba-tiba wajah gadis itu memerah, entah marah atau malu.


“Ruby?...Jangan-jangan dia?...” Tanya Platina seolah dapat mengerti. Dan Ruby mengangguk semangat sebagai jawabannya.


Tingkah kedua gadis ini membuatku mengerutkan dahi, semakin bingung melihatnya.


“Sejak dulu, kalau lagi suntuk aku selalu pergi ke West line atau South line untuk membuat onar bersama teman-temanku.” Ruby memulai ceritanya, membuatku sedikit sebal mendengarnya.


Jadi dia pelaku kekacauan yang sering merepotkanku? Aku kesal mengetahui dialah pelaku kekacauan di South line, markasku.


“Tapi entah mengapa setiap kali aku mengacau di West line dia yang selalu datang menghadangku. Dia selalu bisa meringkusku dengan mudah. Tapi kemudian melepaskanku pergi begitu saja setelah menasehatiku macam-macam."


"Berkali-kali hal itu terjadi sampai akhirnya aku keasikan melakukan kejahatan hanya untuk bertemu dengannya. Tapi akhirnya aku benar-benar keterlaluan, aku sampai melukainya cukup parah saat terakhir kali mengacau. Dia tetap tidak marah, sambil tersenyum dia mengatakan kalau kenakalanku kali itu sudah kelewat batas. Dan dia tak mau lagi mengurusi segala keisenganku.” Ruby berhenti sebentar dan wajahnya berubah menjadi sendu.


"Tanpa kusadari ada tembakan kami yang nyasar mengenai penduduk West line dan membuatnya mati seketika itu. Setelah kejadian itu, dia tak mau lagi menemuiku meskipun aku berkali-kali membuat kerusuhan di West line..."


"Setelah tak bisa bertemu lagi, baru kusadari aku suka padanya, sangat ingin berjumpa dengannya... Aku kangen! Pengen ketemu!” Ruby menceritakan dengan sangat bersemangat.


Sedikit kaget juga mendengar kisah cinta Ruby yang cukup aneh. Tak kusangka gadis itu bisa juga jatuh cinta. Dan lagi kurasa tak akan mudah meringkus gadis setangguh ini, tapi pria itu malah bisa melakukannya berkali-kali? Hebat!!


“Kau pasti sangat merindukannya...” Ujar Platina prihatin mendengar kisah Ruby.


'Duh harusnya kau menasehatinya untuk tidak melakukan kekacauan, Tina. Jangan malah mengomentari tentang kisah cintanya saja.'


Entah kenapa aku tak dapat menerima alasan konyolnya untuk membuat kekacauan. Hanya untuk menarik perhatian seorang pria? Dan harus merepotkan segenap pasukan West Line dan South Line sekaligus? Yang benar saja!


Ruby mengangguk sedih menjawabnya, “Aku terakhir melihatnya beberapa hari menjelang natal. Benar-benar natal terburuk dalam hidupku.”


Dia yang selalu menangani hampir semua masalah di West Line seorang diri. Ditambah lagi setelah natal dia memang tak pernah muncul lagi di West Line. Tentu saja karena keadaannya...


“Ruby, jangan-jangan yang kau maksud adalah pimpinan tertinggi West Line?” tanyaku menyelidik.


“Benar sekali! Dia adalah kolonel Diamond Lionheart” jawab Ruby dengan wajah malu-malu.


Dieeeeng! Ternyata benar apa yang kutakutkan.


Diamond lagi? Duh berapa banyak wanita dalam hidupmu? Dasar Playboy kelas kakap!


Tiba-tiba saja kurasakan tenggorokanku kering dan keluh. Jadi Ruby adalah gadis berwajah inocent itu?...


Aku tak habis pikir kenapa banyak gadis-gadis yang tergila-gila pada pria slebor seperti Diamond bahkan tanpa disapa sekalipun. Memang sih dia pria yang menarik, macho dan keren. Tapi bukannya Zircon jauh lebih tampan? Benar-benar membingungkan jalan pikiran wanita dan cara mereka memilih lelaki.


“Apa kalian kenal dengannya? Kurasa orang dengan pangkat cukup tinggi sepertinya pasti sering ke istana.” tanya Ruby riang pada kami. Tapi sedetik kemudian nada bicaranya berubah menjadi tegas penuh ancaman.


“Kalian sebagai putra-putri seorang mentri tinggi Almekia kingdom pasti sering berurusan dengan orang istana bukan?” lanjutnya bertanya.


Deg!! Bagaimana dia tahu bahwa kami adalah putra-putri mentri kerajaan Almekia? Apakah dia sudah menyelidiki tentang kami? Atau lebih parah jangan-jangan dia sudah menyelidiki tentang istana dan para pejabatnya?


Tapi sepertinya Ruby malah tidak tahu kalau Diamond adalah putra perdana mentri. Memang sih dia tak memakai nama belakang Paman Kunzite, Baltazhar melainkan memakai nama bibi Agata, Lionheart.


Bagaimana ini? Aku jadi semakin bingung menghadapi gadis ini. Apakah Ruby ini teman ataukah lawan kami? Kenapa dia menolong kami?


Dan satu hal lagi yang semakin menggangu pikiranku adalah alasan dia mengambil beberapa helai rambut Platina... Semakin merinding saja aku memikirkan apa mungkin yang akan dilakukannya.


“Nona Ruby, tuan besar ingin  berbicara dengan anda,” seorang pria berperawakan kekar menghampiri kami.


“Aku sudah tahu, bodoh! Sebentar lagi aku kesana,” jawab Ruby beranjak pergi.


”Sementara ini kalian tetap tawananku, aku tak akan melakukan hal buruk pada kalian kalau kalian tidak macam-macam, apalagi berniat kabur!” lanjutnya mengancam kami.


“Aku suka kalian, teman ngobrol yang baik dan tentunya uang yang menggiurkan. Jadi jangan paksa aku untuk membunuh kalian...” Dia membuat gerakan jemarinya di sekitar leher seolah-olah sedang memenggalnya. Kemudian dia tersenyum sinis dan meninggalkan kamar kami.


“A...apa maksudnya?” Tanya Platina ngeri melihat perubahan sikap Ruby.


“Kenapa Ruby jadi begitu?”


“Ruby, sebenarnya dia adalah pilot dari gear merah yang meringkus kita. Pimpinan kelompok perampok yang menyerang kita.” Kujelaskan siapa sebenarnya Ruby yang baru saja berbicara akrab dengannya.


“Kurasa itu adalah sosok asli Ruby sang pimpinan perampok padang pasir, sadis dan licik...Paling tidak kita tak dikurung di ruang gelap lagi. Untuk sementara sebaiknya kita lakukan saja perintahnya demi keselamatan kita”


“Aku...aku takut. Bagaimana kalau dia sampai tahu Kak Diamond sudah memiliki kak Amethys?” tubuh Platina sedikit bergetar ketakutan. Mungkin dia menyesal juga sudah berakrab ria dengan pelaku penyerangan kami.


“Tenanglah Tina. Aku akan selalu menjagamu," aku mencoba menenangkan gadisku itu.


Kalau masalah Diamond aku juga tak bisa apa-apa. Aku takut membayangkan apa yang akan dilakukan oleh Ruby, gadis nekat itu. Dia tak akan segan-segan menyiksa atau bahkan membunuh untuk mendapatkan keinginannya. Semoga saja tak akan ada kejadian buruk yang melibatkan Diamond dan Amethys.


...__________#__________...


🌼Yuuuuks gaes PLIIIIS jangan lupa kasih LIKE, VOTE dan KOMEN 🌼