
Entah sudah berapa lama aku tertidur di dalam tabung penyembuh ini. Begitu kubuka mataku kudapati tubuhku masih berada di dalam tabung penyembuh, dengan cahaya kuning yang hangat menyelimuti seluruh permukaan tubuhku.
"Kau sudah bangun Diamond?" Amethys tersenyum menyambut dan menghampiriku. Menekan tombol untuk membuka tabung yang menutupi tubuhku.
Perlahan aku duduk bangkit dari tidurku. Kugerak-gerakkan perlahan tubuhku untuk mengembalikan kesadaranku. Rasanya lebih ringan seolah semua rasa lelahku tadi telah hilang begitu saja. Seolah tenaga dan staminaku kembali terisi sampai penuh.
"Jam berapa ini? Sudah berapa lama aku tidur?" Tanyaku kehilangan orientasi waktu.
"Jam tiga-an sore. Kau cuma tidur dua jam saja kok." Amethys menyerahkan kemejaku yang tadi kulepaskan sebelum memasuki tabung. Segera kukenakan kembali kemeja itu dan sedikit kurapikan penampilanku.
"Amy..." Ujarku dengan pikiran masih melayang. Belum sadar sepenuhnya dari tidur nyenyakku.
"Ya? Kenapa? Apa kau perlu sesuatu?" tanya Amy dengan siap siaga.
"Aku lapar..." Dan hal pertama yang kurasakan adalah perutku yang sudah keroncongan. Cacing-cacing di dalamnya seolah sudah melakukan demo dengan memukuli ususku hingga berbunyi krucuk-krucuk.
"Goldy sudah menyiapkan jamuan makan siang di ruang pertemuan. Kau mau kesana? Atau kubawakan saja makananmu kesini?" Amy memberi penawaran.
"Aku akan kesana. Oiya rombongan penjemputan sudah datang?" Aku berjalan perlahan meninggalkan ruangan klinik dengan Amy mengikutiku dari belakang.
"Sudah, Mereka datang tak lama setelah kedatangan kita. Tahukah kau siapa yang datang menjemput kita?"
"Siapa?" tanyaku sambil lalu.
Siapapun yang dikirimkan untuk menjemput para gadis ini paling prajurit berpangkat sersan atau letnan. Tidak mungkin untuk mengirimkan pejabat tinggi hanya untuk menjemput mereka kan?
"Ayahmu. Rombongan perdana mentri."
"Hah? Ayah? Tumben-tumbennya ayah keluar dari istana?" Aku benar-benar kaget mendengarnya. Sungguh kejadian langkah sampai ayah keluar istana.
"Sepertinya mereka baru selesai perundingan diplomasi dengan Saxan kingdom tentang batas wilayah perbatasan West Line." Amy menjelaskan.
"Oh, begitu rupanya..." Pembicaraan kami berhenti saat kami tiba di ruang pertemuan.
Segera saja kumasuki ruangan itu dan kudapati rombongan yang terdiri dari lima orang. Tiga orang sedang duduk-duduk disana, sementara dua yang lainnya berdiri dengan siaga di belakang mereka. Ayahku sang perdana menteri, menteri luar negeri Paman Gildart, sekretaris negara dan dua orang pengawal pribadi kementrian.
"Kolonel Diamond Lionheart menghadap perdana menteri." Aku menghampiri ayahku dan memberikan penghormatan formal kepadanya. Ayahku tersenyum dan menyambut penghormatanku, menyuruhku duduk di kursi tepat dihadapnnya.
Amethys juga melakukan penghormatan yang sopan pada ayah dan menteri luar negeri sebelum akhirnya dia mengambil duduk di sebelahku.
"Lapor perdana menteri. Misi penyelamatan tawanan atas nama Sersan Opal Sumeragi dan Platina Newgate telah berhasil dilaksanakan. Saya telah membawa kedua target penyelamatan ke wilayah aman West Line." Aku memberikan laporan sebelum ayahku bahkan memintanya.
"Sebagai tambahan saya juga berhasil membawa Saphir Lionheart yang kebetulan dapat kami temukan di kota Bloody Hell. Sementara Sersan Zircon Zancovick dan pangeran Jasper Durclauth belum dapat kami temukan keberadaannya." Aku memberikan laporan resmi tentang misi penyelamatanku pada ayahku dan kedua pejabat tinggi di depanku.
"Bagaimana dengan pelaku penculikan? Apa kau berhasil meringkusnya?" Menteri luar negeri ikut bertanya padaku dengan penasaran.
"Prioritas utama kami adalah menyelamatkan para sandera. Jadi saya sebisanya menempuh jalan damai untuk bernegosiasi dengan mereka." Aku memberikan jawaban. "Memang ada sedikit pertempuran kecil, tapi fokus kami bukanlah untuk meringkus mereka."
"Baiklah laporan diterima." Ayah terkesan ingin cepat-cepat mengakhiri laporanku. Mungkin beliau takut aku akan kelepasan. Sesuatu yang seharusnya masih merupakan rahasia bagi kerajaan.
"Apa kalian sudah makan?" Tanya Ayahku dengan nada yang lebih santai. Sengaja mengalihkan perhatian dan pembicaraan kami. "Makanlah dulu. Tidak usah sungkan dengan kami."
Aku dan Amy mengangguk dan tersenyum sebaagi jawaban. Kami langsung mengambil piring dan mengisinya dengan berbagai hidangan yang tersaji di meja. Kami pun menyantap dan menikmati makanan dipiring kami dengan lahapnya.
Terutama aku, aku benar-benar kelaparan setelah proses penyembuhan tadi. Seolah-olah seluruh cadangan makanan di tubuhku digunakan habis semua untuk melakukan proses penyembuhan.
"Jauh lebih baik," Jawabku singkat. Sambil terus menyuap dan mengunyah makananku.
"Ibumu sangat mengkhawatirkanmu. Tapi melihatmu yang doyan makan begini sepertinya kekhawatirannya sia-sia saja." Ujar ayahku dan langsung disambut dengan tawa oleh semua yang hadir di ruangan ini.
"Oh ayolah ayah, aku lapar. Aku sedang dalam masa penyembuhan, butuh lebih banyak asupan gizi." Jawabku berdalih, mencari pembenaran dari napsu makanku yang memang terlihat berlebihan.
"Kalau melihat keadaanmu sekarang. Saya juga tak akan percaya bahwa anda masih koma di rumah sakit, dengan tujuh belas luka tembakan sebulan yang lalu." Paman Gildart sang menteri luar negeri berkomentar.
"Dalam sebulan saja kau sudah dapat kembali bertugas dan menyelesaikan misi sulit dengan sempurna. Benar-benar kemampuan yang sangat menakjubkan, Kolonel Diamond." Lanjutnya memberikan pujian kepadaku.
"Tidak, Paman salah. Aku masih sangat lemah. Paman pasti akan menertawakanku kalau tahu berapa lama aku bisa bertahan mengendarai gear." jawabku sambil mendengus pasrah mengingat kelemahanku.
"Wah kau bahkan sudah bisa mengendarai private gear?" Paman Gildart kembali bertanya keheranan. "Putra anda sungguh sangat tangguh, Perdana Menteri. Anda pasti sangat bangga padanya." Paman Gildart tidak mengindahkan keluhanku, malah beliau berkomentar pada ayah.
Entah cuma perasaanku saja atau apa, dapat kulihat sekilas wajah ayahku mengeras dan dia sedikit menggeratkan geliginya. Apa dia tidak senang dengan pujian untukku sebagai putranya? Apa dia tidak bangga memiliku sebagi putranya?
"Selesaikan makanmu, lalu temui aku di ruangan sebelah." Tiba-tiba ayah bangkit dari kursinya. Mberikan perintah ayahku padaku sebelum beranjak dari duduknya, meninggalkan ruangan kami.
Aku hanya bisa mengerutkan dahi mendengar perintah darinya. Apa-apaan itu? Apa ayah ingin mengatakan sesuatu padaku? Sesuatu yang rahasia dan tidak bisa diketahui orang lain?
Cepat-cepat kuselesaikan prosesi makanku, lalu aku pamit undur diri juga mengikuti ayahku pergi dari meeting room. "Aku pergi dulu paman."
"Yah pergilah sebelum ayahmu kesal menunggumu." Paman Gildart menyetujui bahwa aku harus secepatnya menemui ayah.
Aku hanya tersenyum menangapinya. Bahkan Paman Gildart yang seorang menteri pun tak berani membuat ayahku menunggu terlalu lama. Ayah ternyata memang sangat mengerikan sebagai seorang Perdana Menteri Almekia Kingdom.
Kuketuk pintu dan kumasuki ruangan pertemuan yang lebih kecil. Kudapati ayahku yang terduduk sendirian di salah satu kursi. Terlihat sedang termenung memikirkan sesuatu sambil sesekali mengetukkan penanya ke meja.
"Aku datang ayah," sapaku padanya, memberitahukan kedatanganku pada beliau.
"Kemarilah aku ingin berbicara denganmu." Ayah menunjuk kursi tepat di hadapannya.
"Ada apa ayah?" Aku mengambil duduk di kursi yang ditunjuknya, di hadapan ayahku. Dapat kulihat helagatnya yang tidak biasa. Tak biasanya ayahku segelisah ini, sepertinya dia akan berbicara sesuatu yang sangat serius.
"Diamond...Kau adalah putraku apapun yang terjadi. Aku dan juga ibumu sangat bangga padamu. Bangga memilikimu sebagai putra kami." Ayahku memulai pembicaraannya. Pembicaraan yang aku tak tahu apa maksudnya. Kenapa beliau membicarakan hal ini?
"Aku tahu..." Aku benar-benar bingung sekarang harus bereaksi bagaimana. Tak dapat menebak kearah mana pembicaraan kami akan berlanjut.
"Pernahkah kau berfikir bagaimana kau bisa memiliki darah solaris murni?" tanya beliau menyelidik.
"Sering. Tapi aku tahu ayah juga berdarah solaris murni. Jadi kupikir aku mendapat gen dominan dari ayah." Jawabku memberikan sedikit argumen.
"Kau benar, aku memang berdarah solaris murni." Ayahku berhenti sejenak dan membuang napasnya perlahan.
"Tapi Agatha, istriku bukan keturunan ras solaris. Tak mungkin kau akan memiliki darah murni jika kau adalah anak kami." Lanjut ayahku dengan nada sedih.
'Haaaah? Apa maksud ayah dengan perkataannya?'
..._______#_______...
🌼Yuuuuks gaes PLIIIIS jangan lupa kasih LIKE, VOTE dan KOMEN 🌼