Almekia Kingdom

Almekia Kingdom
92. Zircon - Winning Prize (2)



Dengan sangat amat dongkol aku berjalan perlahan memenuhi panggilan pembawa acara itu ke tengah arena dan menaiki podium penghargaan. Tidak menghiraukan segala respon dan sambutan disekelilingku, aku berjalan santai. Kutempati mimbar paling tinggi untuk juara satu, dan berdiri tegak disana.


"Baiklah terakhir kita panggilkan Nona Ruby Nightray yang merupakan ketua penyelenggara turnamen Bloody Hell sekaligus menjadi hadiah utama turnamen tahun ini." Sang pembawa acara kali ini memanggil Ruby untuk ikut bergabung ke tengah arena.


"Nona Ruby adalah putri dari Jendral Obsidian Nightray. Nona Ruby memiliki wajah yang sangat cantik ditambah lagi beliau juga ahli beladiri dan mengendalikan gear. Sungguh beruntung sekali pria yang bisa mendapatkannya. Tetapi tentu saja tak mudah, karena harus memenangkan dulu turnamen Bloody Hell tahun ini."


Tiba-tiba suasana arena menjadi heboh karena teriakan dan pekikan bersemangat dari segala penjuru. Teriakan memuji dan mengagumi serta siulan menggoda yang ditujukan pada seseorang yang baru saja berjalan perlahan keluar dari suatu ruangan.


Jantungku rasanya berhenti berdetak untuk sesaat ketika kulihat seorang gadis yang sangat amat cantik itu. Bahkan setelahnya jantungku berdebar dengan sangat kencang demi mengamati gadis itu dengan pakaian ala-ala putri padang pasir. Pakaian berwarna biru yang secerah langit disiang hari. Ruby.


Ruby berjalan pelan ketengah arena. Biasanya gadis itu selalu tampil dengan gaya tomboynya yang casual. Ternyata dengan penampilannya yang lebih feminim begini dapat membuatnya berkali-kali lipat jauh lebih mempesona. Kecantikan yang mampu menggetarkan hati siapa saja yang memandangnya.


Ruby segera mengambil simbol hadiah dari panitia yang telah berjajar di sebelah kanan podium.


"Untuk juara ketiga mendapatkan uang tunai masing-masing 5.000.000 gills dan mendapatkan acces key ke middle part. Disana mereka juga akan mendapatkan fasilitas rumah tinggal untuk satu tahun mendatang di middle part." Ruby berjalan menyerahkan hadiah-hadiah itu pada Diamond dan Simone kemudian menyalami mereka.


Dapat kulihat Ruby sedikit berbincang ringan saat memberikan hadiahnya pada Simone dan Diamond. Mungkin ucapan selamat kepada keduanya. Gadis itu nampak tersenyum dan tertawa bahagia, cantik.


"Untuk juara kedua akan mendapatkan uang tunai 10.000.000 gills dan mendapatkan acces key ke middle part. Disana beliau juga akan mendapatkan fasilitas rumah untuk satu tahun mendatang. Yah walaupun Tuan Jade tentunya sudah menjadi warga tetap midle part si hahaha." Sang pembawa acara menjelaskan hadiah untuk Jade.


Ruby kembali mengambil hadiah dari tangan panitia kemudian menghampiri Jade dan menyerahkan hadiah itu padanya. Terlihat sedikit ragu dan gentar juga sebelum mendekat ke arah Jade.


Akhirnya Ruby juga menyalami Jade. Yang dibalas oleh pria itu dengan memalingkan wajahnya dari Ruby. Entah dia merasa malu atau marah karena tak bisa memenangkan turnamen. Karena merasa hancur harga dirinya setelah segala omong besar dan ancamanya kejinya pada gadis itu. Tapi pada akhirnya Jade gagal membuktikan ucapannya. Gagal mendapatkan Ruby sebagai calon istrinya.


"Dan terakhir, untuk sang juara kita. The champion of Bloody Hell tournamen tahun ini akan mendapatkan uang tunai sebesar 20.000.000 gills dan mendapatkan acces key ke middle part. Disana beliau juga akan mendapatkan fasilitas rumah mewah untuk satu tahun mendatang." Ruby kembali ke panitia yang membawa hadiah, mengambilnya dan memberikannya untukku.


"Selamat ya, you're doing great." Ruby menyalamiku dan tersenyum sangat indah.


"Terimakasih," jawabku balas tersenyum.


"I'm yours now." Ruby menambahkan malu-malu.


"I'll take you." Aku menyanggupi padanya. Untuk menjadi pasangannya, untuk membawanya pergi dari kota terkutuk ini. Sesuai janjiku padanya sebelumnya.


"Thanx," Ruby mengakhiri percakapan kami karena tak enak terlalu mengulur jalannya acara ini.


"Marilah beri tepuk tangan dan sambutan yang meriah untuk para pemenang turnamen kita!" Ujar sang pembawa acara saat Ruby menjauh dariku. Diikuti dengan gemuruh riuh tepuk tangan, pujian dan segala bentuk bunyi-bunyian lainnya dari segala penjuru arena. Sebagai penghormatan untukku sang pemenang turnamen.


"Kemudian yang paling ditunggu-tinggu adalah hadiah utama turnamen ini. Nona Ruby sendiri silahkan menghampiri calon suami anda." Sorakan dan siulan kembali terdengar dengan lebih hebohnya.


Setelah pengumuman tadi dapat kulihat Ruby berjalan perlahan ke arahku dengan keanggunan bak dewi dari surga. Juntaian kain-kain di gaun Padang pasirnya yang beterbangan ditiup angin gurun yang kering seakan menambah pesona kecantikannya. Rambut merahnya yang kali ini dibiarkan terurai panjang dengan dipadukan tiara bertahtahkan batu permata merah delima yang menghiasi dahinya. Semakin membuat sosok gadis itu menjadi begitu sempurna.


"Dan inilah pasangan yang seakan ditakdirkan dari langit untuk bersatu. Tuan Zircon yang setampan dan sekuat dewa Apollo akhirnya dapat memenangkan Nona Ruby dengan kecantikannya dan kekuatan yang sempurna seperti dewi Athena. Marilah kita berikan restu kita pada mereka!"


Gelombang kemeriahan dan gemuruh teriakan semakin meledak-ledak, membahana di seluruh arena. Sebagai respon pada sambutan berlebihan dari pembawa acara yang mengatakan bahwa aku dan Ruby bagaikan pasangan Dewa Dewi Romawi.


"Cium cium cium ciuuum!!"


Entah dari arah mana juga terdengar kata-kata saru itu ditengah keributan. Kata-kata itu semakin keras, semakin banyak dukungan pada kami berdua untuk segera melakukan tindakan memalukan itu.


Gila! Mana mungkin kami berdua dapat berciuman dihadapan ribuan pasang mata begini? Mau ditaruh mana mukaku nantinya?! Sangat memalukan!


"Waaaah sepertinya seluruh penonton sudah merestui hubungan kalian berdua. Upacara pernikahan sendiri akan dilaksanakan beberapa hari mendatang setelah segala persiapan selesai." Sang pembawa acara kembali mengumumkan.


"Untuk saat ini paling tidak kalian berdua dapat berciuman untuk merayakan resminya hubungan kalian. Dan sebagai hadiah hiburan untuk seluruh penonton disini yang sudah sangat bersemangat." Sang pembawa acara semakin mengompori para penonton. Membuat suasana semakin runyam.


"CIUM CIUM CIUM CIUM CIUM!!"


"CIUM CIUM CIUM CIUM CIUM!!"


Bagaimana ini? Haruskah kami berdua melakukannya? Maukah Ruby melakukannya denganku ditengah arena ini? Aku tak dapat memutuskannya. Kupandangi gadis cantik di hadapanku itu untuk mencari jawaban.


Diluar dugaanku, Ruby sama sekali tidak menolak. Gadis itu mengangguk dan tersenyum dengan sangat indah seakan memberikan persetujuannya padaku.


Dengan persetujuan darinya seakan memberiku keberanian dan semangat yang membara. Membuatku mengabaikan segala gengsi dan rasa malu yang menyerang dadaku.


'Bodoh amat apa kata orang, yang penting Ruby bersedia dan tidak keberatan.'


Kudekati gadis itu, kutatap matanya, kunikmati wajah cantiknya, dekat dan semakin dekat. Kuangkat wajahnya perlahan, kuturunkan wajahku ke wajahnya. Sampai akhirnya kedua wajah kami semakin dekat bahkan tak berjarak.


Dapat kudengar gemuruh teriakan, siulan, tepukan tangan dan segala keributan lainnya semakin ramai dan membahana di segala penjuru arena. Bersemangat menyoraki adegan ciuman kami berdua.


Aku dan Ruby seakan tak memperdulikannya keramaian di sekitar kami. Seakan dunia ini hanya milik kami berdua saat ini. Yang lain anggap saja ngontrak.


Perlahan namun pasti bibir kami bertemu dan bertautan. Saling hisap, gigit, dengan lidah yang menari-nari dan bertukar Saliva. Kami berciuman di tengah arena pertandingan Bloody Hell dengan ribuan pasang mata menjadi saksi.


Ciuman yang begitu manis, panas dan menggairahkan. Menghasilkan segala rasa dan sensasi yang menyenangkan di seluruh tubuh kami. Kebahagiaan tak terkira...


..._______#_______...


🌼Yuuuuks gaes PLIIIIS jangan lupa kasih LIKE, VOTE dan KOMEN 🌼