
Setelah melalui musyawarah alot dan dengan segala pertimbangan akan kemungkinan-kemungkinan yang akan kami hadapi. Akhirnya kami memutuskan untuk pergi mencari Bloodyhell melewati West Line.
Sebenarnya jarak terdekat kesana adalah melalui South line, tetapi kami mengambil jalan sedikit memutar melewati markas Diamond itu. Alasannya sebenarnya simple saja, tidak mungkin kan aku kembali ke South Line setelah aku kabur dari istana dengan dalih kembali ke markas itu? Sama saja dengan menyerahkan diri untuk ditangkap.
Lain halnya dengan West line, Zircon pernah melaksanakan misi kesana beberapa saat yang lalu. Dan aku juga sudah sering ke markas itu atas perintah Kolonel Toshi, baik untuk misi ataupun sekedar meminta saran dari Diamond. Mungkin karena usia mereka yang terpaut tidak terlalu jauh, kolonel Toshi lebih nyaman untuk meminta saran pada Diamond.
Pertimbangan kedua adalah pengganti sementara Diamond, pimpiman West line saat ini adalah Letnan Goldy yang memiliki hubungan cukup baik dengan kami. Selain itu dia sudah seperti kakak bagi Platina, mengingat dia adalah salah satu anak angkat yang bibesarkan Paman Euclase di panti asuhannya.
Setelah melewati kota terakhir sebelum west line, aku menghubungi Letnan Goldy secara pribadi dan meminta ijin untuk singgah. Diluar dugaan dia mempersilahkan kami mampir untuk beristirahat dan mengisi bahan bakar tanpa banyak bertanya. Padahal aku berani bertaruh dia pasti sudah mendengar tentang pelarian kami. Tapi mengapa dia masih mau menerima kami semudah itu?
“Selamat datang di West line.” Sambut Letnan Goldy ramah begitu kami memarkirkan gear kami di hanggar dan menghampirinya.
Dia memeluk dan mencium kedua pipi Platina dengan hangatnya. Aku tahu ini adalah hal yang wajar mengingat hubungan mereka yang seperti saudara, tapi entah mengapa ada rasa tidak nyaman hatiku. Bahkan rasanya tubuhku ikut panas melihatnya.
Goldy juga menyambut Saphir dengan pelukan hangat sebagai adik dari atasannya. Kemudian Goldy mengajak kedua gadis itu masuk ke dalam markas.
Sementara kami, tiga orang pria ini seolah terlupakan olehnya, seperti kasat mata dan tak terlihat. Bahkan Jasper yang seorang pangeran juga dia cuekin, tak diperdulikan. Dasar sialan!
“Sampai kapan kalian mau disana hah? Tinggalkan saja gear kalian disitu, biar anak buahku yang mengisi fuelsnya.” tambahnya beberapa lama kemudian.
Setelah berjalan cukup jauh meninggalkan kami bertiga yang mematung tak berani memasuki markas orang lain ini tanpa ijin. Bak tersadar dari hipnotis kami bertiga pun serentak berlari menyusul mereka. Mengekor saja berjalan perlahan di belakang mereka bertiga.
Letnan Goldy langsung mempersilahkan kami ke ruang pertemuan, tampaknya dia ingin menyelesaikan urusan ini dengan segera.
Padahal pada keadaan biasa dia tak akan melewatkan pembicaraan dengan Platina, adik kesayangannya setelah cukup lama tidak bertemu. Apalagi dengan Saphir, dia pasti ingin sekali ngobrol panjang lebar tentang keadaan Diamond.
Sikap janggalnya semakin membuatku yakin 100% bahwa dia sudah mengetahui tentang pelarian kami dari istana, menyadari betapa sulit dan bahayanya posisi kami.
“Tadi pagi kami mendapat kabar dari istana bahwa kalian...” Letnan Goldy memulai pembicaraan saat kami semua sudah memasuki dan menduduki kursi ruang rapat.
“Jangan khawatir aku tak berniat menyerahkan kalian pada prajurit istana,” tambahnya cepat-cepat begitu menyadari perubahan mimik wajah kami.
“Kalian pergi dengan persetujuan Diamond kan? Kalau iya kami semua prajurit di West line ini tak akan ragu untuk membantu kalian. Bahkan kalau dia yang memerintahkan, kami mungkin sanggup juga untuk menentang istana hehe.” kalimat terakhir Goldy begitu ringan tapi mampu membuat nyaliku sedikit menciut.
“Tidak. Kami pergi tanpa sepengetahuannya.” Zircon yang menggantikanku menjawab dengan sedikit gelisah. Jawaban yang kontan membuat semua orang di ruangan ini kecuali aku tercengang keheranan.
“Jadi? Jadi Kak Diamond tidak tahu? Padahal kukira kalian sudah berdiskusi dengannya sebelum membuat keputusan dan bertindak sejauh ini.” Guman Saphir menggelengkan kepala tak percaya.
“Maafkan kelancangan kami berdua,” Aku mencoba memberikan alasan.
“Kami sengaja tidak mengunjungi dan memberitahu Diamond dan Kak Amethys karena mereka berdua adalah orang yang paling dicurigai keterlibatannya setelah pelarian ini. Kami berharap kalau tidak ada bukti-bukti yang memberatkan, maka mereka berdua akan aman.” Kuhentikan kalimatku untuk melihat reaksi mereka, dan kudapati mereka menggaguk setuju dengan keputusan kami.
“Tapi satu hal yang paling kami takutkan adalah ‘Mind reading’ entah apa yang akan terjadi jika mereka harus...”
“Semoga saja hal mengerikan itu tidak terjadi. Tetapi bukan tidak mungkin dilakukan, mengingat kita membawa lari seorang pangeran. Dan tentunya pihak istana bersedia melakukan apapun untuk dapat menemukannya kembali.” Jawabku melemparkan senyuman simpul pada Jasper yang dari tadi terdiam mendengarkan pembicaraan kami.
“Maaf...” Ujar Jasper lemah, terlihat sekali merasa bersalah akan segala kejadian ini.
“Tak apa Jez, kami paham betul resiko yang akan kita hadapi bahkan sebelum memutuskan untuk pergi,” jawabku menenangkannya dan ingin cepat-cepat mengembalikan arah pembicaraan ke jalurnya.
“Sekarang nasib kami berlima sepenuhnya tergantung pada anda Letnan Goldy. Terserah anda mau membantu kami atau menyerahkan kami setelah mengetahui semua ini.” Ujarku melanjutkan.
“Bagaimana kalau aku memutuskan untuk menyerahkan kalian ke istana?” tanya Goldy dengan ekspresi yang sulit kuartikan.
“Jika itu keputusan anda, maka maaf kami tidak bisa tinggal diam. Kami akan melakukan perlawanan semampu kami." Jawabku dengan mantap. Padahal aslinya sudah ketar ketir juga dalam hati.
'Mampvz, pasti tak akan berakhir dengan damai kalau harus melawan seribu prajuti di West Line ini.'
“Hahahaha menarik sekali. Bagaimana mungkin kalian berlima bisa menembus pertahanan kami prajurit West line? Kami ini penjaga perbatasan terbaik di seluruh kerajaan?” Goldy tersenyum dengan liciknya. Merasa lucu mungkin mendengar kami berlima yang nekat melawan mereka, seribu prajurit handal.
“Kami sudah bertekat, dan kami akan berusaha sekuat tenaga. Masalah hasil yang akan kami dapatkan, bukanlah kami saja yang menentukan. Ada campur tangan Tuhan yang akan menentukan sampai dimana langkah kami.” Aku sedikit bingung menghadapi dan menjawab pertanyaan-pertanyaan Goldy.
Untuk beberapa saat suasana menjadi sunyi, tak ada yang sanggup berkata-kata. Semuanya sibuk dengan segala spekulasi yang mungkin terjadi dalam kepala masing-masing. Memikirkan segala kemungkinan dan sebab akibat yang akan didapatkan dari setiap keputusan dan tindakan yang diambil.
“Hahhaahahhaha,” dan tiba-tiba saja kesunyian itu dipecahkan oleh gelak tawa letnan Goldy.
Mau tak mau aku mengerutkan keningku demi melihat reaksinya, apanya yang lucu? Dan ternyata keempat temanku yang lain juga sama bingungnya denganku.
“Diamond benar, tak mungkin bisa mengalahkan Sersan Opal Sumeragi dalam berdebat begini." ujar Goldy masih tertawa geli sambil menatapku.
Sekali lagi aku benar-benar dibuat kaget dengan tanggapan nyelenehnya, sedikit tersanjung juga sih.
“Baiklah sekarang aku ingin bertanya kepadamu, Pangeran Jasper.” Letnan Goldy mendadak memasang tampang serius lagi. Dia benar-benar angin-anginan, susah sekali membaca pikirannya.
“Anda mau pergi kemana? Dan untuk apa?” Goldy melanjutkan pertanyaan kepada Jasper.
“Saya ingin pergi ke kota BloodyHell,” jawab Jasper jujur tanpa sempat kami cegah.
Aduh kenapa dia berkata sejujur itu? Dasar polos, harusnya dia bisa sedikit berbohong disaat seperti ini.
“Saya ingin mencari kebenaran tentang mendiang paduka Raja, ayahandaku. Saya juga ingin memiliki Advandli, saya tak mau menyerahkannya pada orang lain.” lanjut Jasper membuat kami semua tercengang akan keluguannya, dia memang tidak tahu hitam putihnya dunia.
..._______#________...
🌼Yuuuuks gaes PLIIIIS jangan lupa kasih LIKE, VOTE dan KOMEN 🌼