
Setting tempat kembali berubah untuk kesekian kalinya dengan perputaran yang sangat cepat. Begitu keadaan mulai stabil kudapati diriku berada di sebuah ruangan luas yang sepertinya adalah main hall di lantai tiga istana Almekia Kingdom.
"Teng, teng, teng!" lonceng berdentang dengan sangat nyaring, menandakan dimulainya suatu acara kerajaan. Mungkin pesta Akbar atau perayaan lainnya.
Ruangan ini telah dipenuhi dengan segala pernak pernik merah khas natal, dengan pohon-pohon Cemara di pinggir ruangan. Di tengah ruangan dan menjadi pusat perhatian semua orang, bersandinglah ibunda dan ayahanda. Keduanya sedang berdansa dengan mesranya.Mereka berdua kompak memakai gaun dan tuxedo berwarna putih. Keduanya tampak sangat tertawa dan tersenyum bahagia, saling mengasihi dan mencintai satu sama lainnya.
Benar-benar pasangan yang sangat serasi. Dadaku terasa sangat sesak melihat mereka berdua, melihat wajah kedua orang tuaku. Dadaku semakin sesak dan sulit bernapas saat melihat wajah ibunda yang begitu bahagia dan tertawa lepas bersama suaminya, wajah yang sekalipun tak pernah sekalipun kulihat dari wajah ibunda Ratu sebelumnya.
Tiba-tiba suasana pesta berubah menjadi runyam dan ramai, suara tembakan dan ledakan terdengar dimana-mana. Orang-orang berlarian kesana kemari mencari tempat untuk menyelamatkan diri.
Ayahanda, paman-paman, bibi-bibi dan beberapa prajurit lain bergegas meninggalkan ruang pesta. Para pria itu bersiap menghadang musuh yang menyerang kerajaan dan istana mereka. Sementara ibunda dan wanita-wanita lainya juga sibuk bergegas ke ruang bawah tanah, tempat perlindungan di istana.
Selama beberapa lamanya kekacauan semakin parah, api berkobar di berbagai bagian istana. Mayat-mayat mulai bergelimpangan di sepanjang koridor istana. Baik itu mayat prajurit kerajaan atau mayat dari pihak penyerang. Ditambah lagi korban terluka juga tidak sedikit jumlahnya berjatuhan bagi kedua belah pihak.
Sampai akhirnya fajar menyingsing di ufuk timur, dan serangan-serangan akhirnya berhasil dihalau dan dihentikan. Suasana kembali heboh dengan berbagai orang yang mulai memadamkan bagian-bagian istana yang terbakar. Serta beberapa lainnya yang mencari dan mengobati orang-orang yang terluka.
Ibundaku berlari dengan tergesah-gesah setelah keadaan istana dinyatakan aman. Beliau berlari dari lantai bawah tanah tempat persembunyian ke lantai teratas istana. Dengan masih mengenakan gaun pesta putihnya.
Tak lama kemudian sebuah gear merah yang kukenali sebagai gear ayahanda mendarat di hadapannya ibunda Ratu. Kokpid gear terbuka dan dari sana keluarlah sosok suaminya dalam keadaan yang sangat mengenaskan. Pria itu terluka dengan sangat parah, bersimbah darah sehingga tuxedo putihnya berwarna merah penuh noda darah.
Ibunda berhasil menangkap tubuh ayahanda yang hampir jatuh saat mendarat di lantai. Memeluk tubuhnya dengan sangat erat, berbicara padanya sambil berlinang air mata. Ibunda berusaha mengerahkan tenaga penyembuhnya untuk menyelimuti tubuh suaminya itu.
Dipeluknya dengan sangat erat tubuh suaminya yang sudah mulai mendingin. Berusaha mengehentikan perdarahan dan menyembuhkan luka-lukanya. Tapi sepertinya semua usahanya sia-sia. Luka Paduka Raja terlampau parah dan tak bisa diobati lagi.
Sampai beberapa saat kemudian akhirnya tubuh sang pria itu, tubuh ayahandaku melorot jatuh dari pelukan ibunda. Dan seakan ikut terseret oleh gaya gravitasi tubuh ibunda juga ikut jatuh dan terduduk disana. Dengan masih memeluk erat tubuh suaminya.
Untuk sesaat pandangan ibunda Ratu menjadi kosong sampai akhirnya dia menjerit dan menangis sejadi-jadinya. Menangisi suaminya yang telah tak bernyawa dipangkuannya.
Ibunda menangis sejadi-jadinya, berteriak dan meraung-raung dengat sangat pilunya dan menyayat hati siapapun yang melihatnya. Menangisi tubuh tak bernyawa ayahanda yang masih terus berada didalam pelukannya. Seakan tak mau melepaskan tubuh suaminya itu, seakan tak ingin berpisah darinya.
Ayahanda meninggal dunia! Tepat sehari setelah hari natal. Hari yang seharusnya membahagiakan mereka. Sekarang aku tahu kenapa ibunda ratu tidak pernah sekalipun nampak berbahagia di hari natal, beliau selalu nampak bersedih di tengah meriahnya pesta pesta natal. Mungkin malam natal tragis ini masih selalu melekat di dalam ingatannya.
Entah mengapa dadaku menjadi sangat sesak demi melihat kejadian ini. Inikah saat-saat kematian ayahanda raja? Inikah kisah akhir hidup mendiang ayahanda raja? Ayah kandungku?
Tanpa kusadari air mataku jatuh meleleh di pipiku tanpa tertahankan. Terlalu menyedihkan untuk melihat kedua pasangan yang saling mencintai itu dipisahkan oleh maut yang begitu kejam. Terlalu menyedihkan untuk mengetahui saat-saat perpisahan antara ayahanda dan ibunda untuk selama lamanya.
Aku tiba-tiba tersentak bangun dan tersadar dari mimpi panjangku. Langsung tersadar sepenuhnya dengan ingatan tentang mimpiku yang sangat berharga tentang kedua orang tuanku. Aku terduduk tertegun dan merenung tentang apa saja yang telah kulihat dalam mimpiku barusan.
Kudapati air mataku mengalir deras tanpa bisa kucegah membasahi kedua pipiku. Keringat dingin pun ikut mengucur deras di punggungku. Untuk beberapa saat aku hanya bisa termenung mencoba mengingat-ingat kembali rentetan mimpi panjangku tadi, mimpi yang terlihat sangat nyata.
Apakah benar mimpiku adalah kenyataan masa lalu yang benar-benar terjadi? Apakah benar ayahanda meninggal pada malam natal itu?
Aku jadi teringat kata-kata bibi Agata saat aku mengatakan bahwa ibunda melarangku mengenal gear, 'Tidak mungkin, tidak mungkin Nefrit melarangmu menyentuh gear. Tidak jika sampai akhir hayatnya pun ayahmu berada bersama gear!'
"Jez? Jasper kau kenapa?" Saphir menghampiriku di ranjang dengan khawatir.
"Kenapa kau menangis? Apa kau bermimpi buruk?"
"Ayahanda...ayahandaku meninggal..." jawabku. Entah mengapa air mataku masih tak bisa berhenti mengalir. Rasa kehilangan, rasa sedih, rasa frustasi yang amat sangat tiba-tiba memenuhi hatiku.
"Iya aku tahu Jez, ayahmu sudah meninggal lama sekali, bertahun-tahun yang lalu." Jawab Saphir kebingungan mendengar jawabanku, disapunya keringat dan air mataku dengan sapu tangan yang dibawanya.
"Aku melihatnya, Saphir! Aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri! Beliau menghembuskan napas terakhirnya di pangkuan ibundaku!" jawabku dengan emosi yang meledak tanpa bisa kukendalikan.
Saphir kaget sekali mendengar jawabanku, dia hanya terdiam tak bisa berkata-kata. Dia memelukku sangat erat dan mengelus punggungku. Entah dia menganggapku hanya bermimpi, gila atau sinting, aku sudah tak perduli. Aku hanya ingin mengatakan apa yang ada di dalam kepalaku saat ini.
"Aku tahu betapa orang tuaku saling menyayangi dan mencintai. Betapa bahagianya mereka hidup berdua, betapa serasinya mereka bersanding bersama."
"Aku tahu betapa hancurnya hati ibudaku. Betapa sedihnya beliau saat kehilangan ayahanda, pria yang paling dicintainya ..." kutuangkan semua kesedihanku dalam pelukan hangat Saphir.
Saphir tetap tak sanggup untuk berkata-kata atau sekedar memberikan semangat. Nampaknya dia tahu benar kesedihan yang kurasakan begitu nyata adanya. Dan gadis itu dengan sabar akhirnya tetap memeluk erat tubuhku dan menepuk-nepuk punggungku sebagai bentuk rasa simpatinya kepadaku.
Untuk beberapa saat lamanya kami berpelukan sampai air mataku bisa kukendalikan dan berhenti mengalir dengan sendirinya.
Begitu bisa mengendalikan diriku lagi, aku cepat-cepat ke kamar mandi. Kuseka dan kubasuh wajahku dengan air dingin di wastefle, menyegarkan wajahku, mengembalikan kesadaran dan kewarasan pikiranku.
Kuhampiri Saphir yang masih termenung di atas ranjang. Mungkin dia masih keheranan Memikirkan semua perkataanku padanya barusan.
"Maaf kau melihatku dalam keadaan yang tidak keren," Ujarku saat menghampirinya.
Saphir tersenyum manis menjawabku. "Keren kok. Sangatlah keren malah. Memang wajar untuk seorang anak menangisi kematian orang tuanya. Bukti nyata bahwa kau juga sangat mencintai mereka, Jez." Saphir menjawab sambil memberikan senyuman terindahnya untukku. Senyuman yang dapat membuatku merasa hangat dan sedikit melupakan kesedihanku.
Pembicaraan kami terhenti karena Zircon yang tiba-tiba bangun dari tidurnya. Sahabatku itu keheranan melihat kami berdua sudah bangun bahkan sebelum dirinya bangun tidur. Merasa aneh karena biasanya dialah yang pertama bangun diantara kami.
"Jam berapa ini?" tanyanya sedikit bingung.
"Tenang saja Zirc, bukan kau yang kesiangan kok. Tapi kami yang kepagian" jawab Saphir riang.
"Ayo cepat kita bersiap dan berangkat. Hari ini adalah hari turnamen yang kita tunggu-tunggu!" tambahnya beranjak dari ranjang untuk mempersiapkan senjata-senjata yang akan kami pakai.
Kuhampiri Saphir dan kubantu dia membongkar isi ransel kami. Sementara Zircon membersihkan diri dan memulihkan kesadarannya di kamar mandi.
...________#_______...
🌼Yuuuuks gaes PLIIIIS jangan lupa kasih LIKE, VOTE dan KOMEN 🌼