
Ruby langsung mendorong tubuh Jade menjauh darinya, terbungkuk dan terbatuk batuk-batuk mengatur napasnya yang memburu.
Keadaan Ruby tampak sangat terpuruk menyedihkan, tubuhnya terhuyung dan jatuh terduduk dilantai. Dia memandang Jade dengan tatapan nanar penuh kebencian dan dendam membara.
Dapat kulihat air mata mengalir di sudut matanya. Entah itu air mata kemarahan, kesedihan, kekecewaan. Atau karena harga dirinya yang terluka.
"Jahanam! Tak kusangka kau sebrengsek itu!" umpatnya pada Jade.
Jade perlahan berjalan kembali mendekati Ruby, dia berjongkok didekatnya. Dia mendongakkan wajah gadis itu hingga sangat dekat sekali dengan wajahnya sendiri, menatapnya sangat tajam.
"Selama ini aku sudah bersabar untuk memperlakukan kamu dengan baik. Tapi kamu terus saja memprovokasiku. Jangan kau kira aku sebaik itu, aku juga bisa membuatmu menderita. Jadi hentikan semua tingkahmu dan turuti saja apa kataku!" Ancam Jade dengan nada mendesis penuh ancaman.
Tanpa kenal takut Ruby balas menatap tajam pada Jade. Menunjukkan tekat bulat dan keberaniannya bahwa dia tidak takut dengan segala ancaman Jade.
Untuk beberapa saat keduanya hanya diam, saling bertukar tatapan penuh amarah dan kebencian. Mungkin hanya bisa saling mengumpat dan memaki di dalam hati mereka masing-masing.
"Aku tak akan segan membunuh siapapun yang berani menghalangi jalanku untuk memilikimu!" Jade akhirnya melepaskan wajah Ruby dari cengkeraman tangannya. Meninggalkan gadis yang masih terduduk di lantai itu begitu saja. Jade terus melangkah meninggalkan ruangan ke arah hanggar gear.
Kuhampiri Ruby yang masih meringkuk dan menangis di lantai. Perlahan kubantu dia berdiri, kudekap dia dalam pelukanku, berusaha menenangkannya.
Gadis itu diam saja menerima perlakuanku dengan tubuhnya yang berguncang hebat dan tangisnya semakin meleleh dalam pelukanku. Zircon dan Simone juga mendekat, menghampiri kami dan melihat Ruby dengan tatapan prihatin.
Dapat kurasakan sesuatu yang hangat dan basah mengalir dan membasahi kemerja bagian depanku, air mata Ruby. Kuusap lembut rambut merah Ruby dan sesekali kutepuk ringan kepalanya untuk sedikit menenangkannya.
Entah mengapa aku tak tega melihatnya begitu. Begitu lemah dan tak berdaya sangat berbeda dengan penampilan kesehariannya yang arogan dan egois.
Meskipun Ruby adalah gadis nakal yang seenaknya sendiri, entah mengapa aku merasa sayang pada gadis itu. Rasa sayang seperti pada Saphir atau Platina, sebagai adik perempuan kecilku yang manis.
Karena itu juga lah sejak dulu aku tak pernah marah saat dia melakukan aksinya di daerah West Line. Kuanggap dia hanya melakukan kenakalan remaja untuk mencari perhatian, karena dia kesepian. Aku akan yang selalu mendatanginya dan menyelesaikan masalah yang dibuatnya sendiri tanpa memerintahkan anak buahku. Karena aku tahu dia hanya ingin bertemu denganku, mendapat perhatianku.
"Aku...aku ingin pergi darinya. Dia sudah sinting...Bawa aku pergi dari sini, pergi jauh darinya..." ujar Ruby bergetar ketakutan disela-sela tangisnya.
Baik aku, Zircon maupun Simone hanya bisa terdiam membisu tak sanggup membalas permohonam Ruby. Yah bagaimanapun salah satu dari kami bertigalah yang diharapkan oleh gadis itu untuk mengalahkan Jade, menyelamatkannya dari cengkraman Jade.
Kumasuki hanggar gear dengan langkah ringan begitu panitia memanggil namaku untuk melalukan persiapan. Ketika sudah memasuki hanggar gear itu, kudapati gear merah yang sudah tidak asing menantiku disana, Phoenix.
Sesuai peraturan turnamen gear yang digunakan dalam babak semifinal dan final adalah private gear pribadi dari masing-masing peserta. Tentu saja untuk menyuguhkan pertandingan yang lebih menarik. Agar peserta turnamen dapat mengerahkan segala kemampuan bertarungnya dengan maksimal.
Segera saja kunaiki kokpid gearku itu. Kuperiksa segala perlengkapan dan persenjataan gearku, kuambil dua buah pedang laser pendek dan kusematkan keduanya di paha gearku. Kuambil juga sebilah pedang berukuran standart dengan gagang merah dan kupasang di tangan kanan gearku.
Kupasang juga sebuah perisai baja berbentuk belah ketupat yang memanjang di tangan kiri gearku. Rangkaian senjata yang biasa kugunakan disetiap pertarungan dan peperanganku dengan Phoenix. Kuhidupkan komputer utama gearku dan kusapa dia.
"Hallo Phoenix. Kita akan bertarung untuk turnamen hari ini," sapaku padanya.
"Halo Diamond. Mode bertarung apa yang kau inginkan kali ini?" Artificial intelegen Phoenix menjawab sapaanku.
"Fast agresive battle dengan meminimalkan penggunaan magic power. All set." Phoenix kembali menampilkan rangkaian jurus kombo yang bisa kugunakan serta pembagian energi dan fuels yang akan dilakukannya selama pertandingan nanti.
"Eh?" Aku keheranan melihat settingan Phoenix yang tidak biasanya ini.
Bagaimana dia bisa tahu bahwa aku harus menghemat tenaga dalamku dengan meminimalkan penggunaan magic? Aku bahkan tidak pernah memprogram gearku sedetail itu.
Pasti Amethys yang melakukannya! Siapa lagi yang bisa mengutak atik gearku dan mensetingnya agar dapat memudahkan dan mengurangi beban tubuhku seperti itu. Tetapi aku tak suka mode pertarungan yang terlalu ribet, mengikat dan banyak aturan begitu. Aku lebih suka bertarung bebas dan habis-habis mengikuti instingku.
"Kembalikan ke pengaturan awal. Full pilot controle." Perintahku pada Phoenix.
"Kau hanya perlu mensuport dan memback up jika keadaan terdesak"
Phoenix langsung memproses perintahku, membuat tampilan statistik di layar gearku berubah total. Ternyata tujuan Amethys meninggalkanku pagi-pagi untuk mensetting gearku? Terus sekarang dimanakah dia berada? Bukankah seharusnya dia sudah kembali kesisiku setelah melakukan tujuannya?
Kenapa dia bahkan belum kembali sampai sekarang? Apa terjadi sesuatu padanya? Apakah dia tertangkap saat berusaha memprogram gearku? Entah mengapa kecemasan dan pikiran-pikiran buruk menghantuiku saat memikirkan Amy.
"Satu lagi, pasang indikator waktu dan peringatan setiap sepuluh menit," perintah terakhirku pada gear itu. Aku ingat betul limit time yang dikatakan modori padaku, limit daya tahan tubuhku saat ini.
Selanjutnya kukeluarkan kotak obat yang dulu diberikan oleh midori padaku di West Line dari saku celanaku. Kubuka kotak itu dan kudapati tiga ampule obat disana. Kuambil satu ampule dan kusimpan kembali dua ampule yang tersisa. Kupatahkan tutup ampulenya, kudapati jarum tajam dibalik tutup itu, terhubung dengan badan ampule yang berisi cairan obat.
Segera kutancapkan jarum ampule itu ke lengan atas kiriku. Dapat kurasakan aliran obat memasuki dan terserap oleh tubuhku. Sensasi aneh kurasakan saat semakin banyaknya cairan itu masuk ke tubuhku, semakin ringan pula rasanya tubuhku. Seakan aku bisa melayang di udara tanpa adanya beban dari berat badanku.
Benar-benar gila! Obat ini bahkan berkali-kali lipat lebih kuat daripada analgesic oral lain yang biasa kukonsumsi setiap harinya.
"Let's go, Phoenix," Kuterbangkan gearku begitu pintu hanggar gear terbuka dan dari arena sudah terdengar germuruh riuh dan sorakan-sorakan penonton dari segala penjuru.
Kudaratkan gearku tepat di tengah arena dan tak lama kemudian Jade juga mendarat tepat di hadapanku dengan gear berwarna hijau zamrudnya. Gear hijau itu terlihat kokoh dan canggih dengan pedang dan tameng di kedua tangannya. Jadi senjata yang dipakainya sama denganku? At least pertarungan ini akan menjadi pertarungan yang adil.
"Halo semuanyaaaaa! Selamat siang dan selamat datang di pertandingan semifinal tournamen tahunan BloodyHell. Jangan lupa untuk memasang taruhan karena hadiah pertaruhan untuk babak ini akan dilipat gandakan. Segerah pilih dan dukung jagoan kalian masing-masing" Suara Wasit membuka acara, menggema dan menggelegar di segala penjuru arena disertai sambutan meriah oleh seluruh penonton yang kuperkirakan berjumlah ribuan orang.
"Kali ini yang akan bertanding adalah Tuan Diamond yang merupakan perwakilan dari Nona Ruby yang pertama. Dia akan bertarung dengan mengendalikan gear merahnya, Phoenix." Wasit memperkenalkan aku dan gearku kepada seluruh penonton yang disambut oleh mereka dengan teriakan- teriakan, tepuk tangan dan berbagai macam kehebohan lainnya.
"Penantang dalam pertandingan ini adalah Tuan Jade Nightray yang merupakan putra dari Jendral Obsidian Nightray dan kakak Nona Ruby sendiri. Tuan jade akan bertarung dengan mengendalikan gear warna hijaunya, Grock." kali ini wasit memperkenalkan Jade dan gear hijaunya kepada seluruh penonton.
Para penonton langsung memberikan sambutan dengan lebih heboh untuk Jade. Berbagai macam teriakan-teriakan, tepuk tangan dan berbagai bunyi-bunyian heboh lainnya.
'Hehe menarik, Sepertinya lebih banyak yang mendukung Jade daripada aku...'
"Baiklah apa kalian berdua siap?!! .... READY? ... GOOOOO!!!" wasit memberi aba-aba dan menembakkan pistol tanda dimulainya pertandingan.
..._______#_______...
🌼Yuuuuks gaes PLIIIIS jangan lupa kasih LIKE, VOTE dan KOMEN 🌼