
Alarm di jam tanganku berbunyi lirih tepat jam 12 malam. Tepat setelah aku mematikannya pintu kamarku terbuka, Dextra dan Sinistra masuk ke dalam kamar.
Kedua pengawal pribadiku itu memeriksa keadaan seluruh penjuru kamar dan keluar lagi setelah melihatku yang berpura-pura tidur pulas. Kutunggu beberapa menit untuk memastikan mereka sudah keluar kamarku. Setiap hari jam 12 malam adalah pemeriksaan terakhir sebelum pemeriksaan pagi jam 5 keesokan harinya.
Aku bergegas bangkit dari ranjangku, kutata guling dan bantalku. Kututup dengan selimut tebal hingga terlihat seperti orang tidur.
Kusambar tas ranselku yang sudah kuisi dengan uang dan emas secukupnya, beberapa helai baju, obat-obatan, dan alat-alat yang sekiranya diperlukan dalam perjalanan. Tak lupa kumasukkan pedang dengan lambang kerajaan yang biasa kupakai sebagai senjataku sehari-hari, Astral sword.
Terakhir kuselipkan cambuk ganda pada ikat pinggang yang akan kugunakan sebagai senjata cadangan. Hanya untuk berjaga-jaga saat diperlukan, mengingat ini adalah pertama kalinya aku akan keluar istana tanpa pengawalan ketat.
Aku berjalan ke balkon dan hendak melompat saat tepukan halus mendarat dipundakku.
Deg! Jantungku seakan berhenti berdetak.
Siapa ini? Tepukannya begitu halus, tak mungkin dia adalah Zircon atau Opal. Lalu siapa? Apakah ibunda ratu? Bagaimana mungkin beliau ada disini? Pada jam segini pula? Bagaimana mungkin beliau mengetahui rencana kami?
Perlahan kubalikkan badanku, kulebarkan mataku agar bisa melihat jelas dengan keadaan sekelilingku yang gelap gulita. Nyaris saja aku melompat gembira saat kudapati siapa yang menepukku. Dia bukanlah ibunda ratu seperti yang kutakutkan, melainkan seorang gadis manis dengan gear suit birunya yang juga secerah awan, Saphir.
"Halo Jez, apa kau sudah siap?" tanyanya melirik kearah tas ransel yang sudah di pundakku.
"Saphir? Sedang apa kau disini? Sekarang kan sudah malam?" tanyaku keheranan melihat kehadirannya.
Setelah kupikir-pikir seharusnya pertanyaan bodoh itu tidak keluar dari mulutku. Tentu saja dia bukan datang untuk mengunjungiku dan bermain tengah malam begini kan? Tidak mungkin. Tentu saja jawabannya sudah jelas. Dia datang untuk menjemputku!
"Aku bertugas untuk menjamin keselamatanmu sampai hangar gear kerajaan. Ayo bergegaslah Jez, kita harus segera pergi sebelum ketahuan pengawal atau prajurit istana lainnya." Saphir mengedarkan pandangannya kesegala penjuru sebelum melompati balkon dengan gerakan sangat ringan.
"Ikuti aku!" perintahnya mendahului langkahku.
Tanpa menjawab aku melompati balkon juga, turun mengikutinya. Gerakan Saphir begitu ringan dan lincah sehingga aku harus berkonsentrasi penuh agar dapat mengikuti setiap langkahnya dan tidak tertinggal dalam kegelapan malam.
Perjalanan kami hampir tak ada halangan yang berarti kecuali harus berhenti dan bersembunyi sesekali. Bersembunyi untuk menghindari beberapa prajurit yang sedang berpatroli malam di sekeliling istana.
Kami tiba di hangaar gear dan masuk melalui pintu sampingnya yang minim penjagaan. Tetapi bahkan di dalam hanggar pun baik Zircon maupun Opal tidak nampak batang hidungnya. Kemana mereka?
Yang menyambut kami berdua disana malah Platina dengan gear suitnya yang cantik berwarna kuning. Apa-apaan ini? Kenapa malah melibatkan para gadis dalam misi berbahaya seperti ini?
"Tak ada masalah kan sampai sini?" Tanya Platina serius menyambut kami, cepat-cepat aku dan Saphir menjawab dengan anggukan kepala.
"Ayo Jez, cepat naiki Advandli. Kak Opal sudah menyiapkannya untukmu. Kami berdua akan mengantarmu sampai diluar wilayah ibukota kerajaan." Gadis itu segera melompat dan memasuki kokpid gear kuning ramping di sebelah Advandli, Serphent.
Tanpa basa basi lagi Saphir juga melompat dan memasuki gear biru muda yang cantik dan bersayap seperti malaikat, Seraphin.
Aku juga tak mau ketinggalan untuk segera melompat dan menaiki Ardvandli, gear hitamku. Memasuki kokpidnya dan menghidupkan mesin utamanya.
Dalam hal kemampuan militer sebenarnya kedua gadis ini sudah layak menduduki pangkat sersan. Kalau saja kedua orang tua mereka tidak melarang mereka masuk ke dunia militer dan ikut berperang. Bahkan sejujurnya mereka mungkin lebih mahir dalam mengendalikan gear daripada aku yang masih baru belajar dan mengenal tentang gear ini.
"Kenapa kalian harus mengantarku? Terlalu beresiko untuk kalian." Protesku membuat sambungan kepada kedua gear disebekahku.
"Kami harus memastikan keselamatanmu jez." jawab Saphir singkat, wajahnya muncul di salah satu layar monitor gearku. Wajah Platina juga muncul beberapa saat kemudian meskipun gadis itu tak berbicara.
"Kita harus tetap tersambung begini." Platina mengingatkan perlunya membuat sambungan ke antar gear agar kami bertiga masih terus terhubung agar dapat berkomunikasi dan berkoordinasi.
"Sudah siap semua?" Tanya Saphir. Aku dan Platina hanya mengangguk mantab menjawabnya.
Membuat aku mau tidak mau cepat-cepat memacu gearku dan ikut melesat mengejar mereka. Kami terbang bersama melewati kompleks istana, kawasan perkotaan dan terus ke wilayah pedesaan yang ada di ibukota kerajaan. Terbang semakin jauh menuju wilayah perbatasan ibukota.
"Mana Zircon dan Opal?" Tanyaku tak bisa untuk menyembunyikan rasa penasaranku serta rasa kesalku pada mereka berdua.
"Mereka sudah berangkat terlebih dahulu setelah menyiapkan segala sesuatunya." Jawab Saphir di layar komputerku.
"Mengapa mereka berangkat duluan? Bukankah lebih mudah jika aku berangkat bersama mereka saja?" Aku semakin tak habis pikir dengan jalan pikiran mereka. Masih tidak suka dengan ide melibatkan kedua gadis ini dalam pelarian berbahaya.
"Supaya tidak ada yang curiga. Mereka berdua beralasan mempersingkat liburan dan kembali ke markas masing-masing di daerah perbatasan. Otomatis mereka dan gearnya sudah dilepas secara resmi oleh kerajaan. Bisa bebas keluar masuk wilayah ibukota." jawab Platina ikut muncul di komputerku.
"Tapi untuk kita bertiga, perlu diingat bahwa gear kita ini illegal. Seharusnya kita tak boleh meninggalkan wilayah ibukota... bisa gawat kalau kita sampai ketahuan!" Saphir menambahkan dan memperingatkan kami berdua.
Aku sedikit kaget, tak kusangka untuk membawa gear keluar istana saja ada protokol yang harus dipenuhi. Harus ada ijin, harus sudah dilepas oleh istana?
Untuk beberapa saat setelahnya kami bertiga terdiam dalam gear masing-masing sibuk dengan pikiran masing-masing pula. Sampai lima belas menit kemudian kami sampai di batas luar ibukota.
Sebuah tembok raksasa super besar yang menjulang, mengelilingi ibukota. Tembok besar yang digunakan untuk pertahanan kerajaan serta penempatan pasukan tembak untuk menghalau musuh jika terjadi keadaan darurat.
Dalam keadaan normal, terdapat empat gerbang besar di empat penjuru ibukota. Gerbang yang berfungsi sebagai akses keluar masuk gear atau kendaraan lain secara resmi dari dan ke ibukota.
Tapi tidak untuk kami saat ini, kami yang ingin keluar dengan cara illegal ini. Gerbang itu dijaga ketat oleh banyak prajurit sehingga kami tak mungkin untuk melewatinya dan bilang numpang lewat kan? Alhasil kami memilih melewati tembok besar di sisi barat yang cukup jauh dari gerbang.
"Hati-hati jangan Sampai tersorot flashlight!" Platina memperingatkan pada aku dan Saphir.
Kami bertiga melajukan gear kami semakin dekat dengan tembok. Kutambahkan konsentrasiku tanpa mengurangi kecepatan gearku. Kuamati sekali lagi tembok besar yang mengelilingi kota itu, flashlight dan sinar laser menyorot kesegala arah secara acak dan sangat rapat. Lalu bagaimana cara melewatinya tanpa tertangkap sensor coba?
"Bagimana ini? apa kita harus nekat menembusnya?" Tanyaku sedikit ragu.
"Jangan ragu, terus pacu kecepatan kalian. Apapun yang terjadi jangan pernah kembali atau menoleh kebelakang lagi!" Ujar Saphir seakan mampu membaca kegalauan kami.
"Ayo maju, Jez! Tina!" lanjutnya.
"Baiklah kita sudah tak bisa mundur lagi sekarang." Platina ikut memberikan semangat.
Kutepis segala keraguan di dadaku, kupacu gearku dengan kecepatan tinggi, mensejajari kedua gear mereka di depanku.
Tepat sebelum melewati tembok, Saphir melepaskan tembakan beruntun dengan senapannya ke salah satu sisi tembok. Tembakan yang disengaja untuk membuat lampu sorot dan sinar laser kontan terarah pada titik yang terkena tembakan Saphir.
Kami memanfaatkan jeda waktu sejenak itu untuk melesat melewati tembok pembatas kota. Tapi sialnya tak butuh waktu lama bagi Flashlight dan laser itu untuk kembali menyebar kesegala arah.
Membuat kami bertiga harus meliuk-liuk menghindari sorotan lampu serta sensor laser yang kembali mengincar kami. Tak beberapa lama kemudian kami akhirnya berhasil melewati tembok.
Namun tiba-tiba terdengar suara sirine yang sangat memekakkan telinga serta suara ancaman dari pos penjagaan dibawah kami dengan loadspeaker.
"BERHENTI! BERHENTI ATAU KAMI TEMBAK!!".
________#_________
🌼Yuuuuks gaes PLIIIIS jangan lupa kasih LIKE, VOTE dan KOMEN 🌼