
Aku dan Saphir menangis dalam diam, air mata seakan mengalir deras begitu saja tanpa sanggup kami bendung lagi. Deras dan mendesak dengan sangat hebatnya bagaikan air bah.
Berkali-kali kuseka air mataku agar tidak membanjiri dan merusak buku dihadapanku. Sambil terus memandang dan memegang halaman buku itu, mengelusnya perlahan.
"Apakah kalian mengenal kedua mempelai yang tertulis disana?" Sang Biarawati bertanya pada kami setelah suasana haru sedikit mereda. Dia terlihat sangat kebingungan mendapati reaksi aneh kami.
Mungkin heran karena yang halaman yang terbuka adalah lembaran buku yang tertulis dengan tinta emas. Padahal tadi Saphir mengatakan bahwa aku ingin melihat catatan pernikahan orang tuaku. Sepertinya dia heran siapa sebenarnya orang tuaku sebenarnya.
"Mereka adalah kedua orang tuaku. Ayahanda dan ibundaku." Jawabku padanya setelah menyeka air mataku.
"Hormat...Hormat saya pangeran...Maafkan, maafkan segala kelancangan saya," Sang biarawati sangat kaget mendengar jawabku.
Dia langsung berlutut dihadapanku dan memohon ampunanku. Mungkin dia menyadari bahwa nama-nama yang terukir disana dengan tinta emas adalah nama seorang raja dan ratu suatu kerajaan.
"Bangunlah," perintahku, tak suka dengan penghormatan darinya.
"Apa tidak ada dokumentasi lain mengenai pernikahan ini?" tanyaku penuh harap. Berharap ada secerca harapan lain untuk mendapatkan informasi tentang acara pernikahan kedua orang tuaku. Tentang mendiang ayahanda Raja.
"Sebagai pernikahan kerajaan seharusnya ada... Sebentar saya cek dulu pangeran." Sang biarawati mohon diri untuk pamit dari hadapanku dan kembali ke almari tua di sudut ruangan.
Untuk beberapa lamanya Sang biarawati itu mencari dan mengeluarkan beberapa barang dari almari, menata dan memasukkannya lagi. Mengeluarkan barang yang lain, memasukkan lagi, begitu seterusnya dia terus mencari.
"Bagaimana kau tahu kedua orang tuamu melangsungkan pernikahannya disini?" tanya Saphir padaku dengan keheranan yang tidak ditutupinya.
"Mimpi panjangku waktu itu. Aku tak hanya melihat saat-saat kematian ayahku...Aku melihat banyak hal lainnya. Perjuangan ayah dan ibuku sejak mereka masih anak-anak sampai dewasa. Perjuangan mereka untuk melawan dan menghadapi siksaan dari musuh-musuh kerajaan yang ingin membunuh mereka berdua." Sedikit kuceritakan apa yang kulihat dalam mimpiku malam itu pada Saphir.
"Aku juga melihat pesta penikahan mereka. Kuil kecil dipinggir danau, bentuk dan desain kuilnya sama persis dengan kuil ini. Altar yang kulihat juga sama persis dengan yang ada di kuil ini. Aku bahkan melihat jalannya prosesi pernikahan mereka Saphir..."
Saphir tercengang mendengar ceritaku. Mungkin dia menganggapku benar-benar gila saat ini, biarlah yang penting aku sudah mengatakan yang sebenarnya.
Memang sebelumnya aku hanya mengatakan bahwa aku melihat kematian ayahanda. Aku tak pernah menceritakan kepada siapapun tentang memori masa lalu kedua orang tuaku yang pernah mampir kedalam mimpiku. Kisah hidup mereka berdua di masa lalu. Kisah cinta mereka yang berakhir sangat tragis.
"Oh ini dia," sang biarawati berteriak senang sambil membawa sebuah amplop yang terlihat sudah usang.
"Sepertinya ini dia. Jasper dan Nefrit dari Almekia kan?" Wanita itu menghampiri kami. Sang biarawati memberikan amplop usang itu padaku.
Dengan tangan bergetar kubuka amplop itu. Keringat dingin mengalir deras di tengkukku. Napasku juga ikut memburu saking tidak sabarnya. Rasa penasaran seolah menggelegak di dalam dadaku. Membuatku kehilangan kesabaran untuk membukanya dengan perlahan dan hati-hati. Kubuka amplop itu dengan sedikit kasar sehingga membuat pinggiran amplop itu terkoyak.
Dari dalam amplop itu kudapatkan beberapa lembar foto lama dan usang. Foto yang mulai memudar warnanya.
Sebuah foto yang bergambar kedua mempelai yang sedang berbahagia. Wajah ibunda ratu waktu muda dan tentu saja berdampingan dengan wajah ayahku. Pria berambut pirang dengan sebelah mata tertutup kain putihnya. Keduanya tersenyum lebar menampakkan kebahagiaan yang nyata disenyuman dan tatapan mereka.
Foto kedua saat kedua mempelai saling bertukar cincin cincin berlian di jari manis mereka masing-masing. Foto ketiga menampilkan gambar kedua mempelai sedang berciuman dengan mesranya. Foto keempat menunjukkan gambar kedua mempelai yang diapit oleh sahabat-sahabatnya, para paman bibi dan mentri-mentri kerajaan.
Semua orang tampak tersenyum dan berbahagia disana. Dan foto terakhir adalah foto kedua mempelai dengan beberapa pendeta, biarawati dan seorang pria tua. Pria tua yang kutemui di rumah sakit waktu itu. Old Balz, ternyata benar Old Balz mengenal kedua orang tuaku dengan baik.
Sekali lagi tanpa dapat kuhindari air mataku mengalir begitu saja membasahi pipiku demi melihat foto-foto itu. Sakit, sesak dan sedih bercampur menjadi satu. Hatiku serasa hancur melihat foto-foto mereka. Kedua orang tuaku yang sangat berbahagia di foto-foto itu. Kedua mempelai yang terlihat saling mencintai dan mengasihi satu sama lainnya.
Mereka tak pernah tahu bahwa takdir akan sangat kejam memisahkan mereka berdua. Mereka tak pernah tahu bahwa salah satu dari mereka akan pergi meninggalkan yang lainnya dalam kehampaan dan rasa kehilangan yang sangat dalam.
Saphir mengambil beberapa foto itu dari tanganku. Diamatinya foto-foto itu satu persatu. Dapat kulihat tangan gadis itu sedikit bergetar sambil memegangnya.
"Jadi ini wajah Almarhum paduka raja?...Wajahnya mirip sekali denganmu Jez!" Saphir melemparkan pandangannya kearahku dan ke foto-foto itu bergantian. Seakan ingin mencari persamaan dan perbedaan antara wajahku dan wajah ayahanda.
"Tidak hanya mirip. Kalian malah hampir sama persis, kau memang benar putra mereka Jez." Saphir sekali lagi menyeletuk dengan bersemangat.
Aku hanya bisa tersenyum menanggapi ucapan Saphir. Berusaha keras menyeka air mataku. Kuhapus sisa-sisa air mata diwajahku juga. Tak seharusnya aku terus menangisi kedua orang tuaku.
Seharusnya aku bahagia karena telah mendapatkan informasi tentang mereka. Seharusnya aku bangga dan senang setidaknya mereka berdua sempat menikmati kebahagiaan dan kebersamaan mereka berdua walaupun sangat singkat.
"Lihatlah mereka Jez, kedua orang tuamu sangat berbahagia. Mereka berdua terlihat saling mencintai satu sama lainnya." Saphir menunjukkan salah satu foto yang dipegangnya padaku.
"Mereka pasti tak akan menyesal. Mereka tak akan menyesali apapun yang selanjutnya akan mereka lalui di masa depan. Paling tidak mereka sudah menghabiskan kehidupan mereka bersama dengan sangat bahagia dan saling mencintai." Saphir memberikan pendapatnya tentang kedua orang tuaku.
"Kau benar Saphir. Aku tahu mereka sangat bahagia... Dan aku, aku jg uga akan berusaha untuk berbahagia dalam menjalani kehidupanku ini. Demi diriku, dan demi kedua orang tuaku juga." Ujarku penuh tekad.
"Benar sekali. Kau juga berhak berbahagia, Jez."
"Biarawati bolehkah saya meminta salah satu dari foto ini? Satu saja saya tak akan meminta semuanya." pintaku sambil memohon dan memelas pada sang biarawati.
"Tentu, tentu saja pangeran...Anda boleh mengambil salah satu dari foto-foto itu." Jawabnya tidak berkeberatan. Karena yang meminta adalah putra dari kedua mempelai.
"Terima kasih," ujarku dan mengambil satu foto.
Foto yang menampakkan kedua mempelai sedang tersenyum dengan bahagia. Aku ingin menyimpan yang ini. Wajah kedua orang tuaku yang seakan tersenyum padaku setiap aku memandang foto itu.
"Bolehkah saya meneruskan berkeliling untuk melihat-lihat kuil?" tanyaku lagi.
"Silahkan. Tapi jika anda sudah tidak memerlukan saya lagi, saya mohon undur diri," sang biarawati meminta izin untuk undur diri.
"Silahkan," jawabku padanya dan dia langsung menghilang dari pandangan.
Dia mengemasi amplop berisi foto-foto pernikahan kedua orang tuaku, menyimpan dan mengembalikan amplop itu ke tempatnya semula.
Kini tinggalah aku dan Saphir berduaan. Kami berdua melanjutkan perjalanan kami berkeliling menjelajahi seluruh isi kuil. Kuamati sekali lagi altar tempat kedua orang tuaku mengikrarkan janji sucinya dan kuucapkan dalam hati.
"Cinta kalian akan tetap abadi seperti kejayaan Almekia Kingdom. Ayahanda, bisa tenang disana. Aku yangbakan meneruskan menjaga ibunda Ratu dan seluruh kerajaan kita..." ujarku kutujukan kepada mendiang paduka Raja. Berharap dia dapat mendengarkan ucapanku itu.
Setelahnya, kami berdua melanjutkan perjalanan menyusuri belantaran tepi danau. Saphir langsung melepas sepatunya dan mencelupkan kakinya ke air. Bermain-main dengan riak air ditepian danau yang dingin. Aku senang sekali melihatnya, melihat gadis cantikku tersenyum ceria seperti itu.
"Jez? ngapain bengong? Ayo sini!" Ujar Saphir sambil menepuk-nepuk tempat disebelahnya.
"Ok," jawabku sambil berjalan kearah Saphir. Kulepas juga sepatuku dan kutaruh disebelah sepatu Saphir.
Kugulung celana panjangku sampai batas lutut. Lalu aku mengambil tempat disebelah Saphir. Aku duduk disana dan ikut mencelupkan kedua kakiku perlahan ke air di tepian danau itu.
Sensasi dingin dan menyejukkan langsung menyerang kakiku, merambat keseluruh tubuhku. Lama kelamaan terasa nyaman dan menyenangkan juga bermain-main air seperti ini. Kami berdua menikmati kebersamaan berdua, menghabiskan waktu dengan bermain-main air di tepian danau ini.
..._______#_______...
🌼Yuuuuks gaes PLIIIIS jangan lupa kasih LIKE, VOTE dan KOMEN 🌼