Almekia Kingdom

Almekia Kingdom
101. Zircon - True Love



Setelah kepergian kelima sahabatku dari Bloody Hell, kini tinggalah aku, Jasper dan Ruby yang tersisa di kota ini bertiga saja. Kami bertiga yang bertugas untuk mengungkapkan misteri tentang mendiang paduka Raja yang terkubur di kota ini.


Tadi pagi setelah mengantar kepergian mereka dari hanggar, Ruby menawarkan kepada kami untuk bermain ke rumahnya. Ke kediaman Nightray, untuk mencari beberapa petunjuk yang kemungkinan ditinggalkan oleh paman Obsidian. Mungkin ada sesuatu jejak atau clue yang bisa kami dapatnya darinya sebelum tiba-tiba menghilang dari Bloody Hell.


Jasper tentu saja sangat bersemangat dan menyetujui ajakan Ruby itu. Aku pun tak keberatan untuk ikut bersama mereka, menunaikan tugas pertamaku sebagai pengawal Jasper selama di Bloody Hell ini.


Sementara di lain pihak? Siapa yang tidak senang mendapatkan undangan main ke rumah gadis yang disukainya? Cuma main saja si, karena jelas Ruby tinggal sendirian jadi tak bakalan ada adegan ketemu keluarganya. Apalagi adegan minta restu calon kakak ipar atau ayah mertua. Jangan harap.


Maka disinilah kami bertiga sekarang, di kediaman Nightray. Rumah terbesar dan termegah di wilayah Middle Part. Bangunan ber-cat putih dan berdiri tepat menghadap kepada danau indah dengan air jernihnya yang terdapat ditengah kota.


Danau keabadian, dengan kuil kecil di salah satu sisinya. Yang dipercaya sebagai kuil keramat tempat melalukan upacara pernikahan yang sakral sejak beberapa generasi yang lalu. Konon katanya siapapun yang menikah disana akan mendapatkan cinta yang abadi. Walaupun terpisahkan mereka akan tetap saling mencintai, selamanya.


Dari cerita Jasper tentang hasil pencariannya ke kuil, kami ketahui bahwa paduka ratu dan mendiang paduka raja juga melangsungkan pernikahan mereka di kuil tepi danau itu.


Seolah menjadi bukti nyata bahwa cinta mereka berdua tetap abadi, tak lekang oleh usia dan waktu. Sesuai dengan mitos tentang pernikahan yang dilakukan di kuil itu. Paduka ratu sampai saat ini pun masih begitu setia mencintai paduka raja yang telah meninggalkannya belasan tahun yang lalu.


Di satu sisi kisah ini akan menjadi kisah kasih yang mengharukan dan sangat romantis dimana kisah cinta dua insan manusia akan berlangsung abadi selamanya. Namun disisi lain juga bisa menjadi suatu kutukan mengerikan dimana apabila salah satu dari mereka pergi karena maut. Maka siapapun yang ditinggalkannya tak akan dapat berpaling dan menemukan cinta yang lain.


Sangat menyedihkan untuk membayangkan nasib yang menimpa seorang gadis muda seperti paduka ratu waktu ditinggal mati oleh paduka raja. Waktu itu paling paduka baru berusia sekitar dua puluh tahunan.


Tentunya masih sangat muda, cantik dan tak sedikit yang mau dan ingin mempersuntingnya sebagai isteri. Tetapi sang ratu harus bertahan seorang diri selama bertahun-tahun hanya dengan kenangan cinta abadi dari suaminya. Padahal seharusnya dia juga berhak untuk bahagia dengan cinta baru yang lainnya.


Bukannya aku mendukung gerakan menikah lagi atau mencari yang kedua. Tetapi aku sungguh tak dapat mengatakan cinta abadi yang terjadi antara paduka ratu dan paduka raja adalah sebuah anugerah. Bagiku cinta mereka yang terlalu dalam lebih menjadi sebuah musibah dan kutukan bagi paduka ratu yang malang.


Untuk menjadi janda diusia yang sangat muda. Dan akan seterusnya menjanda selamanya.


Ruby mengajak kami berkeliling ke setiap bagian rumahnya. Rumah yang lumayan besar dan mewah untuk daerah midle part Bloody Hell ini. Sama seperti bangunan lainnya di midle part, rumah ini juga beratap kubah dan berwarnah putih dengan jendela-jendela yang lebar sebagai sirkulasi udara.


Kami bertiga berakhir di ruang keluarga yang hangat. Di salah satu dinding ruangan dapat kulihat beberapa foto tergantung dalam piguranya di sana. Aku dan Jasper mendekat ke dinding itu dan mengamatinya. Mengamati foto-foto keluarga Ruby.


"Itu ayah dan ibuku," ujar Ruby menunjuk salah satu foto yang menampilkan sebuah acara sepasang pria dan wanita dalam balutan busana pernikahan. Disana terlihat seorang pria kekar dengan badan bongsor dan berambut merah menyala. Warna rambut yang sama persis seperti rambut Ruby.


Pria itu mengenakan tuxedo putih yang terlihat kekecilan di badannya. Disampingnya, bersanding seorang wanita cantik, berkulit pucat yang juga memakai gaun pengantin putihnya yang sederhana berekor panjang. Lengkap dengan veil transparan dari kepalanya, menjuntai sampai ke punggung.


"Apa kau pernah melihat wajahnya, Jez?" tanyaku pada Jasper. Berharap dia pernah memimpikan sesuatu atau melihat bayangan tentang paman Obsidian. Tentang kejadian masa lalu.


"Apa mereka, ayah dan ibumu juga menikah di kuil tepi danau keabadian?" Kali ini aku bertanya kepada Ruby. Hanya ingin sekedar memastikan kembali tentang kekuatan cinta abadi itu.


"Tentu saja. Sebagai seorang pembesar di Bloody Hell tentu kedua orang tuaku juga menikah disana. Di buku catatan pernikahan juga terukir nama mereka berdua." Jawab Ruby memastikan.


"Sudah berapa lama ibumu meninggal? Dan setelah itu ayahmu tak pernah menikahi wanita lainnya lagi?" Aku kembali bertanya.


"Ibuku memang sudah sakit-sakitan sejak awal bahkan sebelum menikah dengan ayah. Lihat saja kulitnya sangat pucat bahkan di hari pernikahannya."


"Menurut ayah, ibuku meninggal sesaat setelah melahirkan aku. Berarti sudah dua puluh tahunan yang lalu. Dan memang benar ayahku tak pernah menikah atau berhubungan dengan wanita lain lagi setelahnya."Jawab Ruby menjelaskan tentang keluarganya. Tentang kedua orang tuanya.


'Satu lagi korban dari ikatan cinta abadi,' batinku.


"Paman Obsidian bernasib sama dengan paduka ratu, Jez. Mereka berdua terjebak dalam ikatan cinta abadi mereka. Menjalani sisa kehidupannya mereka di dalam kesedihan. Tenggelam dalam ingatan akan cinta mereka pada pasangan abadinya." Aku mengungkapkan teoriku tentang hubungan antara pernikahan dengan kuil keramat itu.


"Mereka pasti sangat menderita." Celetuk Jasper lirih.


Sepertinya Jasper teringat akan ibundanya di istana. Sang ratu yang sering kali terlihat sangat sedih dan kesepian. Tentu saja dia sangat sedih, karena tak pernah dapat melupakan suaminya yang telah tiada. Cinta abadinya yang tak akan pernah lekang oleh waktu. Bahkan mungkin sampai maut menjemput.


Jasper mengeluarkan sebuah foto lama dari saku kemejanya. Sebuah foto yang menampakkan gambar pernikahan kedua orang tuanya. Sepasang suami istri yang terlihat tersenyum dan berbahagia dengan balutan busana pernikahan di tubuhnya.


Jasper memandangi foto itu lekat- lekat, bergantian dengan foto orang tua Ruby di dinding. Seolah mencoba mencari persamaan dari kedua foto itu. Kesamaan nasib, takdir kejam yang memaksa perpisahan kedua pasangan yang saling mencintai.


"Kau benar. Hal ini sangat mengerikan. Aku tahu sendiri bagaimana sedih dan terpuruknya ayahku dalam kesendiriannya. Bagaimana dia bahkan sama sekali tak tertarik dengan wanita manapun yang dikenalkan atau mendekat padanya." Ujar Ruby dengan nada suara sedih.


"Apa kau ingin kita menikah disana nantinya, Ruby?" Tanyaku pada gadis itu. Ingin tahu bagaimana konsep pernikahan yang diinginkan olehnya. Karena sebagai calon suami aku juga ingin mewujudkan pernikahan yang diidamkannya olehnya.


Aku pribadi tidak begitu suka dengan ide menikah di kuil itu. Tetapi jika Ruby menginginkan untuk kami melaksanakan pernikahan disana, maka aku pun tak akan keberatan. Akan kuturuti semua keinginannya.


..._______#_______...


🌼Yuuuuks gaes PLIIIIS jangan lupa kasih LIKE, VOTE dan KOMEN 🌼