
"Maaf tuan dan nona, kalian berdua datang kemari untuk apa? Apakah ingin mendaftarakan pernikahan kalian?" tanya biarawati itu sopan kepada kami.
"Per, pernikahan?" tanyaku langsung salah tingkah mendengar pertanyaan dari biarawati itu. Menikah? Yang benar saja. Kami berdua masih terlalu muda untuk itu. Kami bahkan. belum genap berusia dua puluh tahun bagaimana mungkin dapat memikirkan sebuah pernikahan?
"Apa? Per, Pernikahan siapa?" Saphir ikutan kaget mendengar pertanyaan pendeta itu. Kontan saja wajahnya berubah menjadi merah padam dan bereaksi berlebihan untuk mengelak pertanyaan itu.
"Tidak tidak, kami tidak...kami belum ingin menikah"
"Kami orang baru disini. Kami hanya ingin melihat-lihat keadaan di sekitar kota." Aku ikut menjelaskan alasan kedatangan kami ke kuil ini.
"Oh saya mengerti. Kalian pasti penduduk baru yang berhasil melewati turnamen tahun ini." Sang biarawati menebak-nebak dari mana asal kami.
"Benar sekali." Saphir menjawab lega.
"Sebenarnya kuil apa ini?" Tanyaku semakin penasaran dengan kuil ini? Apa memang khusus untuk mengadakan upacara pernikahan?
"Dulunya kuil ini dipergunakan khusu untuk pernikahan sakral para bangsawan dari berbagai macam kerajaan. Tapi sekarang sudah jarang sekali orang yang menikah disini, kebanyakan orang datang kesini hanya untuk berdoa dan melakukan permohonan." Biarawati itu menjelaskan kepada kami.
"Apakah ada catatan siapa saja yang pernah melangsungkan pernikahannya di sini?" Aku mengungkapkan rasa ingin tahuku. Jika memang tempat ini khusus seperti vendor pernikahan, seharusnya ada catatan tentang semuanya.
"Ada, tentu saja ada. Catatan itu bahkan sudah ada sejak puluhan tahun yang lalu." Sang biarawati menjawab dengan nada bangga.
"Jez? Apa maksudmu?" Saphir bertanya dengan sedikit ragu-ragu. Mungkin dia dapat menebak maksud dari pertanyaannku.
"Bolehkan saya melihat cacatan itu?" Pintaku pada biarawati itu tanpa basa basi.
"Untuk apa?" Sang biarawati bertanya sedikit curiga.
"Saya pernah dengar kedua orang tua saya melangsungkan pernikahannya disini. Saya cuma ingin membuktikan kebenarannya saja." Ujarku sedikit berbohong, mencari alasan.
"Orang tua Jez sudah meninggal dunia. Karena itulah kami mohon anda mengijinkan kami untuk melihat catatan itu untuk mengobati kerinduannya." Saphir menambahkan dengan lebih dramatis.
'Hei, ayahku memang sudah meninggal. Tapi ibuku masih sehat, Saphir.' protesku dalam hati.
"Oh, kau sungguh pemuda yang malang...Tentu saja. Kau boleh mencari cacatan tentang orang tuamu." Tapi ternyata taktik Saphir untuk mendapatkan rasa simpati dan belas kasihan cukup efektif juga untuk meluluhkan hati sang biarawati.
"Silahkan ikuti saya" jawabnya tak keberatan dengan permintaanku.
Biarawati itu menggarahkan langkah kami ke arah salah satu ruangan di dalam kuil. Membawa kami masuk ke dalamnya. Dia meminta kami menunggu di depan sebuah meja kayu sederhana. Sementara dirinya beranjak ke Almari besar di salah satu sudut ruangan.
Dia mengeluarkan buku berukuran besar dan tebal yang terlihat sangat tua. Buku itu bersampul dari bahan kulit dengan ukiran rumit dan indah dipinggirannya. Warna lembaran kertas dari buku itu sudah menguning dimakan waktu. Terlihat seperti buku kerajaan dari beberapa generasi yang lalu.
"Ini cacatan pernikahan di kuil ini. Setiap nama pasangan ditulis dengan tinta yang berbeda-beda sesuai status sosial mereka." Sang biarawati meletakkan buku besar itu di meja kayu dihadapan kami, menyodorkannya kepada kami.
"Warna tinta hitam adalah untuk kalangan orang biasa. Tinta merah untuk prajurit militer dan gearmaster handal yang sudah diakui secara luas. Tinta biru untuk para bangsawan dari berbagai kerajaan. Dan terakhir tinta berwarna emas untuk pasangan raja dan ratu dari kerajaan tertentu." Lanjutnya menjelaskan.
"Jadi, jadi banyak raja dan ratu yang melangsungkan pernikahannya disini?" Saphir bertanya dengan nada takjub, kagum, dengan mata berbinar-binar.
Aku dapat membaca pikirannya yang kira-kira menginginkan pernikahannya dilaksanakan di kuil ini juga kelak. Dasar Saphir ini...Tipikal gadis kebanyakan yang menginginkan pesta pernikahan yang sakral layaknya seorang raja dan ratu.
"Benar sekali. Beberapa raja, ratu, pangeran dan putri kerajaan disekitar sini banyak yang melangsungkan upacara pernikahannya di kuil ini. Sejak dahulu bahkan sampai saat ini." Sang biarawati menjawab bangga.
"Kenapa begitu?" Saphir terlihat penasaran.
"Entahlah, tapi sejak dahulu pernikahan di kuil ini dipercaya sangat sakral. Dan danau keabadian itu seolah memberikan kekuatan spiritual pula bahwa cinta kedua mempelai akan abadi selamanya." Jawab sang biarawati.
"Apakah ada catatan sekitar dua puluh tahun yang lalu?" tanyaku mengalihkan pembicaraan mereka. Sedikit sangsi mengingat pernikahan ibunda dan ayahanda yang pasti dilaksanakan sudah lama sekali.
"Ada. Disini bahkan tertulis data sejak lebih dari lima puluh tahun yang yang lalu."
Sang biarawati semakin bersemangat untuk membuka lembar demi lembar buku catatan itu. Membolak balik setiap halaman buku dengan sangat hati-hati. Seakan tak ingin merusak cacatan penting dan bersejarah itu.
Dapat kulihat tulisan-tulisan bertinta Emas ditulis dengan sangat megah dan indah pada satu halaman penuh buku besar itu. sedangkan untuk bangsawan menghabiskan setengah halaman buku, sementara untuk orang militer proporsinya lebih kecil lagi. Dan terakhir tulisan untuk rakyat biasa hanya beberapa baris saja yang dicatatkan.
"Stop...Ini...ini dia." Ujarku dengan suara bergetar. Seluruh tubuhku rasanya merinding saking bersemangatnya melihat tulisan di hadapanku.
Kuulurkan tanganku yang tiba-tiba terasa dingin dan sedikit bergetar juga ke arah buku itu. Kupegang buku itu, kuelus lembut halaman buku itu. Satu lembaran kertas yang menampilkan tulisan indah dari tinta emas dengan detail rumit.
Tulisan itu memenuhi satu halaman penuh buku. Tulisan indah bak kaligrafi yang seakan mengabadikan pernikahan sakral nan agung lebih dari dua puluhan tahun yang lalu. Catatan pernikahan kedua orang tuaku, bukti nyata pernikahan Ibunda ratu dan ayahanda raja. Mereka pernah menikah...di kuil ini...
Pandangan mataku mulai kabur dan tak jelas, terhalangi oleh lapisan tipis dan bening air. Mataku berkaca-kaca saat ini, air mata bisa saja meleleh kapan saja bagikan mendung hitam yang menggantung siap menurunkan hujan deras.
Kupandangi tulisan yang terpahat indah di buku itu, Kubaca perlahan, kuresapi dan kutanamkan dalam-dalam memenuhi ingatanku. Kusimpan setiap kata yang tertulis dengan tinta emas disana di dalam ingatanku. Tulisan yang indah bak kaligrafi:
*Dengan segala cinta dan kejayaan yang semoga selalu melingkupi kerajaan Almekia
Atas nama cinta abadi yang mengalir dalam aliran darah dan mengiringi setiap hembusan napas, kami putra putri Kerajaan Almekia berjanji akan mengikat pernikahan yang suci :
Jasper Soltnse Durchlaucth
dan
Nefrit Mesyats Mountbatten
Hope our love will last forever. Happily ever after...For the glorious of Almekia Kingdom*
Dibawah untaian kata-kata indah itu kedua mempelai membubuhkan tanda tangannya disana. Tanda tangan ibunda ratu yang sangat kukenal dan satu lagi tanda tangan ayahandaku. Tak ketinggalan keduanya membubuhkan cap jarinya, cap jempolnya dengan tinta emas juga, berdampingan.
Kubaca lagi, lagi dan sekali lagi. Kuhayati setiap kata-kata yang tertulis disana. Kata-kata sederhana namun terasa sangat indah. Mewakili perasaan bahagia dan kebanggan bagi kedua mempelai untuk dapat bersatu dan saling memiliki satu sama lainnya. Demi cinta abadi mereka dan kejayaan kerajaan.
Sakit, sedih, haru, pilu, rindu, aku tak tahu lagi bagaimana dapat kugambarkan segala perasaan yang ada di dalam hatiku. Berkecamuk dan bergemuruh di dalam dadaku bagaikan amukan badai yang hebat.
Tanpa kusadari air mataku mengalir deras begitu saja, tanpa bisa kubendung lagi. Tetesan air mataku membasahi pipiku, menetes ke tanganku, menetes pula ke lembaran kertas itu.
Tak pernah bosan dan jenuh, kubaca berkali-kali tulisan indah itu. Sebuah prasasti suci yang menjadi bukti nyata cinta kedua orang tuaku. Bukti nyata bahwa keduanya pernah mengikrarkan janji suci sehidup semati di sini, janji suci dalam ikatan pernikahan yang sakral. Di kuil kecil tepi danau Midlle Part ini. Tempat yang sejuk dan sangat indah bagaikan surga ditengah gersangnya padang pasir diluar sana.
Saphir yang daritadi berdiri disampingiku juga ikut terkejut melihat cacatan di halaman buku itu.
Gadis itu pun ikut meneteskan air mata, menangis bersamaku. Saphir mengenggam sebelah tanganku untuk sedikit memberikan kekuatan dan ketabahan padaku. Memberiku kehangatan dan mengingatkanku bahwa dirinya masih ada disini, setia menemaniku.
Kami berdua menangis dalam diam, air mata seakan mengalir deras begitu saja tanpa sanggup kami bendung. Berkali kali kuseka air mataku agar tidak membanjiri dan merusak buku dihadapanku. Sambil terus memandang dan memegang halaman buku itu, mengelusnya perlahan.
'Akhirnya aku dapat menemukan jejakmu ayahanda. Membuktikan bahwa kau adalah sosok yang nyata. Pernah hidup di dunia.'
..._______#_______...
🌼Yuuuuks gaes PLIIIIS jangan lupa kasih LIKE, VOTE dan KOMEN 🌼