
Kubuka perlahan mataku, kugosok-gosok mataku dengan telapak tangan dan menguap lebar-lebar untuk mengusir rasa kantukku. Aku bangkit dari tidurku, berganti dengan posisi duduk di ranjang dengan nyawa masih melayang, mengamati keadaan di sekitarku.
Sepertinya hari sudah mulai siang dan keadaan disekitar kamarku sudah terang benderang. Waktu mungkin sudah menunjukkan hampir tengah hari.
Kamar yang kutempati ini diberikan Ruby untukku selama di Bloody Hell. Salah satu kamar yang terdapat di sayap kiri Tournamen Hall. Amethys yang menyamar sebagai asisten pribadiku juga mendapat kamar tepat disebelah kamarku.
Yah sejauh ini sambutan dan perlakuan Ruby pada kami bisa dikatakan baik, hampir seperti memperlakukan tamu. Sepertinya dia masih menganggapku dan Amethys lebih baik daripada Opal dan Platina yang diperlukan sebagai tawanan.
Kugerak-gerakkan tubuhku sedikit diatas kasur, masih terlalu malas untuk beranjak darinya. Ingin melanjutkan tidur panjangku, hybernasi seperti beruang di musim dingin. Dengan malas kugerakkan lengan dan kepalaku untuk melemaskan tubuhku.
"Amy? Amy kau dimana?" Kuedarakan pandanganku ke seluruh ruangan mencari-cari sosok yang biasanya selalu hadir setiap aku membuka mata di pagi hari.
Biasanya Amy selalu hadir dikamarku bahkan sebelum aku bangun, mempersiapkan segala keperluanku. Tapi hari ini tak kutemukan sosok gadisku itu, tak ada sambutan, senyuman manis dan kecupan selamat pagi darinya.
'Kemana Amethys? Tak biasanya dia pergi dari sisiku tanpa sepatah katapun.'
Kuambil dan kubuka holophoneku dan benar saja disana kudapati pesan hologram dari Amethys untukku. Aku beranjak bangkit dari ranjangku dan kutekan tombol Play untuk membuka pesan dari Amy.
"Selamat pagi, Diamond sayang." Dapat kulihat wajah cantik Amy yang muncul sebagai gambar hologram dari layar holophoneku.
"Pagi sayang," jawabku pada sapaan vidio itu.
Amy memang tak bisa mendengar jawabanku ini karena sambungan itu hanya satu arah. Tapi entah mengapa aku merasa tidak enak klo tidak membalas sapaanya.
"Sarapan pagi sudah aku siapkan untukmu di meja."
Dengan malas kuhampiri coffe table disalah satu sudut ruanganku dan kudapati satu set menu sarapan pagi lengkap dengan susu dan jus jeruknya.
"Makanlah yang banyak, agar kau mempunyai cukup tenaga untuk pertandingan nanti."
Aku duduk di kursi tepat disebelah meja dan mulai kusantap sarapan pagiku, sambil tetap menikmati wajah cantik hologram Amethys.
"Setelah makan jangan lupa minum obatmu. Sudah kuletakkan di sebelah gelas jus jeruk."
Aku mengerutkan dahi saat kudapati obat yang dimaksudkannya telah disiapkanya untukku. Sepertinya obat pereda rasa nyeri, saat ini memang aku seperti ketergantungan dengan obat dari golongan analgesic ini. Hampir setiap hari aku harus meminumnya, bukan untuk meredakan nyeri si karena memang tubuhku sudah tidak sakit lagi.
Hanya saja tubuhku sekarang sangat mudah lelah dan rasanya tidak nyaman untuk beraktivitas. Obat ini kugunakan hanya untuk menghilangkan rasa lelah dan tidak nyaman itu sehingga aku masih dapat bergerak meskipun sudah kelelahan.
Tapi sebagai dampaknya tentu saja tubuhku tetap kelelahan. Bahkan sangat kelelahan sehingga setiap harinya aku harus memperbanyak porsi istirahatku untuk mengganti seluruh kelelahannya. Itulah mengapa aku tidak bisa bangun pagi, setiap harinya aku selalu bagun kesiangan, overslept.
"Maaf aku tak bisa menemanimu sarapan pagi ini, ada sedikit keperluan mendesak yang harus kuurus. Oiya baju dan perlengkapan yang akan kau pakai hari ini juga sudah aku siapkan di sofa. Pakailah setelah kau membersihkan dirimu. Untuk pertandingan nanti kuharap kau tidak terlalu memaksakan diri melawan Jade. Jangan terpancing emosi dan bertindak bodoh."
"Oke sayang," jawabku pada vidio itu dengan bodohnya.
Ada sedikit rasa keheranan, penasaran dan khawatir dengan apa sebenarnya yang sedang dilakukan Amethys. Mengapa dia bahkan berencana tidak menemaniku ke arena untuk pertandingan semifinal nanti? Pergi kemana dia?
Padahal biasanya Amy selalu saja memaksa untuk menempel kemanapun aku berada. Sifatnya yang overprotected sejak aku sakit membuatnya tak mau meninggalkan sisiku terlalu lama. Keperluan apa yang sangat penting, sehingga membuatnya sampai rela meninggalakanku hari ini? Apa yang sedang direncanakannya?
"Sudah dulu ya, jangan lupa lakukan semua yang kukatakan tadi. I love Diamond,"Pamit Amy mengakhiri vidio hologramnya.
Setelahnya kulanjutkan prosesi sarapanku tapi tidak kuminum obat yang yang telah disiapkan oleh Amy. Aku sudah berencana akan menggunakan obat dari Midori jika keadaan mendesak nanti, obat dengan dosis yang lebih tinggi. Tak ingin pengaruh obatnya bercampur dengan obat lain yang entah akan bagaimana jadinya mengingat aku tak tahu menahu tentang interaksi obat.
Setelah proses sarapan dan membersihkan diriku selesai, aku segera keluar dari kamarku. Berjalan ke ruang tunggu yang biasanya kami gunakan untuk karantina sebelum pertandingan.
Kuedarkan pandanganku kesegala penjuru ruangan. Hanya ada beberapa orang di ruangan ini, Zircon yang berdiri bersama seorang pria berpenampilan nyentrik yang sepertinya adalah Simone, alah satu semifinalis.
Dapat kulihat Zircon mendengarkan pembicaraan pria itu dengan muka malas. Di sudut lain ruangan dapat kulihat Ruby sedang berbicara dengan dua orang panitia yang menjaga pintu ke hanggar.
Bahkan diruangan ini pun juga tak kutemukan sosok Amethys, membuatku semakin resah dan khawatir saja. Kemana sebenarnya gadisku itu? Sedang apa dia?
Entah mengapa rasanya ada yang hilang, ada kehampaan yang marasukiku saat menyadari ketidak hadirannya. Beberapa minggu sejak aku sadar dari koma memang Amy selalu saja hadir disisiku, mengurusi segala keperluanku.
Membuatku terlena akan perhatian, cinta dan segala pelayanan yang diberikannya untukku. Yah meski kadang dia sedikit berlebihan dan overprotected juga yang kadang membuatnya menyebalkan... Baru kusadari bahwa aku merindukan Amethys setelah dia tiba-tiba menghilang begini. Something is missing...
"Halo Kolonel kau sudah datang, aku baru saja mau menjemputmu. Kukira kau belum bangun." Ruby menghampiriku dengan senyumannya yang lebar terkembang di bibirnya yang merah merona.
Gadis itu menghampiriku, mencium sebelah pipiku ringan dan memeluk sebelah lenganku, bergelayutan disana dengan manjanya.
Aku diam saja menerima perlakuannya dengan pasrah. Hampir setiap hari dia begitu saat bertemu denganku, perlawanan atau penolakanku akan tindanya pasti akan berakibat tindakan yang jauh lebih ekstrim dan jauh lagi.
Jadi kuputuskan untuk pasrah saja menerima perlakuan manjanya kepadaku. Toh aku tak rugi apapun, malah sedikit untung, hehe.
Entah mengapa tiba-tiba kurasakan adanya aura gelap disekitar Zircon saat melihatku sedekat itu dengan Ruby. Dan yang lebih parah lagi, dapat kurasakan adanya hawa membunuh yang sangat tajam yang lain dibelakangku.
Kulirikkan pandanganku kebelakang dan kudapati Jade yang baru saja memasuki ruangan ini. Jade sudah membara terbakar kemarahan dengan aura hitam kelam disekelilingnya demi melihat aku dan Ruby.
Tanpa basa-basi Jade langsung menerjang diantara aku dan Ruby, memisahkan kami. Dia mendorong tubuhku dengan kasarnya untuk menjauhi tubuh Ruby. Kemudian dia mencengkeram kedua lengan Ruby dengan kasar.
Pria itu lalu meraih dan memeluk tubuh Ruby dengan sangat erat. Bahkan lebih jauh didekatkan wajahnya ke arah gadis itu, dekat dan semakin dekat.
"Sialan! Brengsek!! Lepaskan aku Jade!" Ruby berusaha memberontak dan melepaskan dirinya dari pelukan kasar Jade.
Jade dengan tubuh dan tenaganya yang jauh lebih kuat tak memperdulikan perlawanan Ruby. Semakin didekatkan wajahnya ke arah wajah Ruby sampai dia menemukan bibir Ruby. Diciumnya bibir gadis itu dengan kasar, dilumat habis setiap inchi bibir gadis itu untuk beberapa saat. Dengan sangat lahapnya, penuh napsu dan amarah.
Sedangkan Ruby sendiri yang sedari tadi melawan pun akhirnya pasrah saja tak berdaya menerima perlakuan Jade kepadanya. Tak berdaya.
Aku hanya bisa diam melihat kejadian itu, sebenarnya aku sedikit kasihan dan ingin menolong Ruby yang sedang dilecehkan itu. Tetapi kurasa saat ini bukanlah waktu yang tepat untuk mencampuri urusan mereka.
Zircon dan sang pria nyentrik juga sama membatunya denganku, walau kulihat raut muka Zircon entah mengapa terlihat sangat kesal dan marah, dia juga tetap berdiri diam di posisinya. Dengan mengepalkan kedua telapak tangannya erat-erat.
Beberapa waktu kemudian Jade melepaskan ciuman dan pelukannya dari Ruby begitu menyadari sang gadis sudah kesulitan bernapas. Ruby langsung mendorong tubuh Jade menjauh darinya, terbungkuk dan terbatuk batuk-batuk mengatur napasnya yang memburu.
..._______#_______...
🌼Yuuuuks gaes PLIIIIS jangan lupa kasih LIKE, VOTE dan KOMEN 🌼