Almekia Kingdom

Almekia Kingdom
69. Jasper - Old Balz



Udara sore hari di kota BloodyHell begitu panas, terik matahari pun masih bersinar dengan garangnya bahkan dipenghujung senja ini. Hembusan angin kering dengan butiran pasir lembut yang ikut terbawa angin menyapu wajahku berkali kali.


Kuamati keadaan sekitarku, kota BloodyHell yang biasanya ramai orang berlalu-lalang sekarang sepi seperti kota kosong yang ditinggal penghuninya.


Yah hampir semua penghuni kota ini memang sekarang sedang berada di tournamen hall. Menonton, menikmati pertarungan bahkan bertaruh untuk pertandingan perempat final yang sedang berlangsung hari ini.


Aku berjalan santai dengan Saphir mengelilingi jalanan kota ini. Ingin menenangkan dan sedikit menghibur hati kami yang telah kalah dalam pertandingan hari ini. Anggap saja kencan kecil-kecilan.


Kuhentikan langkahku saat kusadari kehadiran bangunan rumah sakit kecil yang berdiri di seberang kanan jalan. Kubalikkan tubuhku kekanan untuk mengamati bangunan itu lebih lekat.


Rumah sakit kecil dan tua ini adalah rumah sakit yang pernah kulewati sebelumnya dan aku pingsan di depan bangunan ini beberapa hari yang lalu.


"Jez? Jasper, Ada apa?" Tanya Saphir yang sudah berjalan agak jauh mendahuluiku, dia keheranan melihatku yang masih tertinggal dibelakangnya. Kemudian gadis itu berlari ringan menghampiriku.


"Sepertinya aku merasakan ada yang memanggilku." Jawabku masih menerawang memandangi bangunan di depanku.


"Siapa?" Saphir menolehkan kepalanya ke kanan dan kekiri mencari kesegala arah. "Tak ada siapa-siapa, hanya ada kita berdua di sepanjang jalanan sepi ini."


"Ini rumah sakit yang waktu itu, Saphir. Apa kau tak ingin masuk melihat-lihat kedalam?"


Pertanyaanku pada Saphir yang langsung dibalasnya dengan anggukan mantap. Digandengnya tanganku dengan erat sebelum kami berjalan bersama memasuki bangunan ini. Mungkin Saphir takut kalau aku pingsan lagi setelah memasuki bangunan ini.


Ada rasa penasaran dan ingin tahu yang mengusikku tiba-tiba. Apa ada sesuatu yang penting di rumah sakit ini? Akhirnya daripada memendam rasa penasaran kuputuskan untuk melihat-lihat lebih kedalam rumah sakit tua ini. Sekilas dari luar bangunan ini terlihat seperti klinik rawat inap daripada disebut rumah sakit karena ukurannya yang kecil.


Dengan masih bergandengan tangan dengan Saphir, aku memasuki gedung rumah sakit tua itu. Kudapati ruang tunggu dan front office rumah sakit yang kumuh, kotor dengan beberapa kursi tunggu dari besi yang sudah berkarat. Peralatan dan perabotan di seluruh ruangan pun nampak sudah tua dan lapuk dimakan usia. Terlihat tidak sehat dan tidak steril untuk standart rumah sakit.


Entah mengapa rasanya ada suatu kerinduan yang mendalam melandaku akan tempat ini. Perasaan seperti akhirnya bisa pulang kerumah setelah lama bepergian. Perasaan aman dan nyaman seakan mendapat perlindungan setelah lelah dan terluka dalam peperangan.


Seorang perawat wanita berambut pendek menghampiri dan menyambut kami dengan ramah.


"Ada yang bisa saya bantu? Apa anda terluka?" Tanyanya padaku, mengamati tubuhku, tepatnya pakaianku yang sedikit tergores dan robek dibeberapa bagian karena efek ledakan gear di pertandingan tadi.


"Hanya luka ringan," jawabku sekenanya.


"Apa anda ingin melalukan perawatan atau hanya meminta obat?" tanyanya lagi.


"Uhm...Obat saja," putusku akhirnya.


Perawat itu mengangguk sebagai jawaban kemudian kembali ke mejanya untuk menuliskan sesuatu di buku dan mengambil beberapa obat dari lemari obat.


"Kenapa disini sepi sekali?" Celetuk Saphir sambil mengamati keadaan rumah sakit yang kosong melompong. Hanya ada satu dua orang saja yang terlihat beralalu lalang disana. Bahkan tidak kami menjumpai petugas rumah sakit yang lain selain perawat ini.


"Tentu saja. Karena orang di kota ini tidak suka untuk ke rumah sakit kecuali saat terluka sangat parah atau sekarat. Dan lagi rumah sakit ini sudah nyaris bangkrut dan kami hanya bisa melakukan pelayanan sederhana sebisanya. Yah kami bahkan kekurangan pegawai saat ini. Tak ada dokter yang mau bekerja disini..." jawab si perawat pasrah.


"Bagaimana mungkin? Rumah sakit adalah bangunan yang paling penting dan harus ada di setiap kota. Bangunan yang harus dipelihara." Saphir memprotes tak percaya.


"Nyatanya memang begitu. Tak ada yang perduli dan mendukung keberadaan kami. Kami bisa bertahan sejauh ini hanya dengan sumbangan dari dari pasien serta aset kakekku sang pemilik rumah sakit ini." Diserahkannya sebungkus plastik berisi obat berbentuk salep oles dan beberapa tablet kepadaku.


"Oleskan salep ini pada lukamu sehari tiga kali dan untuk tabletnya bisa kau minum sebiji bila terasa sakit saja," ujarnya memberikan instruksi.


"Terima kasih," kuserahkan beberapa lembar uang kepadanya sebagai bayaranku.


Perawat itu tertegun memandang uang yang barusan kuberikan padanya.


"Ambil saja. Pakailah untuk rumah sakit ini." Jawabku ringan, tergerak ingin membantu rumah sakit ini.


"Terima, terima kasih tuan..." Perawat tadi kegirangan memasukkan uang pembayaranku ke laci mejanya.


"UHuuuk Uhuuk Uhuuuuk Uhuuuk." Tiba-tiba terdengar suara seseorang terbatuk batuk dengan sangat keras dari ruang rawat inap.


Batuknya sangat keras dan terus menerus tidak mau berhenti seakan-akan mau memuntahkan organ dalamnya keluar tubuh. Sepertinya orang yang terbatuk itu sedang menderita dan sangat kesakitan.


"Kakek!" Perawat itu langsung berlari panik menuju ke ruangan rawat inap disebelah kanan tempat kami berdiri. Berlari mendatangi si pasien yang menderita.


Entah karena ingin tahu, penasaran, kasihan atau rasa kemanusiaan aku dan Saphir juga ikut berlari dibelakangnya. Mengikutinya ke arah kamar pasien yang terbatuk-batuk tadi.


"Kakek? Bagian mana yang sakit kek?" Tanya perawat itu panik sambil mendudukkan tubuh pasien itu, menepuk-nepuk punggung lelaki tua yang terbatuk sangat parah itu.


Kuperhatikan lebih lekat lelaki tua itu, usianya pasti sudah lebih dari 75 tahun dengan kulit tubuhnya yang keriput total dan rambut yang seputih kapas. Tubuhnya pun sudah sangat kurus dan ringkih termakan oleh usia dan penyakitnya.


Entah mengapa hatiku terasa sangat sedih demi melihat keadaan pria tua itu. Terasa di dalam hatiku ada kerinduan yang sangat mendalam padanya. Serta rasa kasih sayang kepada sosok tua itu, seakan aku pernah mengenalnya dalam waktu yang lama. Seakan pria itu adalah kakekku atau orang yang paling dekat dan pernah merawatku untuk beberapa lama.


"Old Balz..." Sekali lagi keanehan terjadi. Entah bagaimana kata itu seakan meluncur begitu saja dari mulutku. Kata yang bahkan sama sekali teknterpikirkan olehku sebelumnya. Karena tentu saja aku bahkan tak mengenal kakek itu, bagaimana aku bisa tahu namanya?


Dan kudapati tubuhku bergerak dengan sendirinya. Aku menghampiri tubuh tua itu sedekat mungkin ke ranjangnya. Mengambil duduk di sisi ranjang itu.


"Tu, Tuan muda? .... Uhuk...Tuan muda, andalah itu?" Pekik kakek itu kaget begitu melihatku.


Kakek itu langsung buru-buru meraih dan mencengkeram sebelah tanganku. Kedua matanya menatapku tajam dengan sedikit mengerutkan dahi. Mengamati wajahku seakan ingin memastikan apa yang sedang dilihatnya nyata atau tidak.


Dan beberapa detik kemudian mata tua itu menangis. Menitikkan air matanya dengan sangat menyedihkan. Kenapa? Kenapa dia menangis begitu?


"Old Balz ini aku..." Kutepuk ringan punggung tangan kakek tua itu yang sudah keriput dengan sebelah tanganku yang masih bebas.


Aku...seakan melihat diriku yang lain yang sedang mengendalikan tubuhku. Tak dapat menahan diri dari segala hal yang ingin dilakukan olehnya. Melakukan sesuatu yang bahkan tak pernah terpikirkan olehku.


"Old Balz, Kau terlihat tua sekali..." mulutku kembali berujar tanpa permisi. Dan lebih parah lagi dadaku terasa semakin sesak dan kedua kelopak mataku terasa panas. Tak bisa kubendung air mataku untuk tiba-tiba menetes disudut mataku begitu saja.


Ada apa ini? Siapakah kakek ini? Mengapa aku merasa sedih sekali melihat keadaanya setua dan selemah ini. Mengapa aku bahkan sampai meneteskan air mata untuk pria tua yang tidak kukenal ini?


"Tuan muda masih setampan dulu...Puluhan tahun yang lalu, uhuuuk uhuuk." Old Balz semakin menangis terharu.


"Aku masih yang dulu, pak tua." Mulutku menjawab.


"Aku pasti sudah tua dan pikun...uhuk uhuk. Bagaimana mungkin tuan muda masih sama seperti dulu...uhuk uhuk uhuuuk."


Saphir dan perawat tadi hanya bisa bengong dan melongo melihat kejadian di depan mereka, melihat apa yang baru saja kulakukan. Melihat kedekatanku dengan si kakek tua.


Jangankan mereka, aku saja bingung tak tahu apa yang telah kulakukan. Seakan tubuhku bergerak sendiri, seakan tubuhku mempunyai kehendak sendiri. Bagaimana mungkin aku mempunyai kedekatan emosional seperti ini dengan kakek yang baru pertama kutemui? Bagaimana aku bisa mengetahui namanya....


..._________#_________...


🌼Yuuuuks gaes PLIIIIS jangan lupa kasih LIKE, VOTE dan KOMEN 🌼