Almekia Kingdom

Almekia Kingdom
50. Diamond - Healer



"Tapi kumohon dengan amat sangat, Diamond selamatkan anakku, selamatkan Jasper. Hanya kau yang bisa menyelamatkan mereka. Aku, aku benar-benar tak berdaya dengan segala kekuasaan ini, aku tak bisa berbuat apa-apa...” Baik aku, Amy dan Paman Topaz hanya bisa melongo melihat perbuatan paduka ratu itu.


Setelah dapat menguasai diri, kugerakkan tubuhku secepat mungkin. Turun dari ranjangku, kuhampiri dan kuberdirikan paduka ratu.


Rasa sakit akibat gerakan spontan yang kulakukan yadi kalah oleh rasa sakit hati dan kepedihan Paduka ratu yang tertangkap nyata olehku.


Tidak, ini bukanlah sosok paduka ratu yang agung. Ini adalah sosok asli Bibi Nefrit yang rapuh, kesepian dan haus kasih sayang. Entah kenapa dadaku jadi sesak melihatnya, seakan aku melihat ibuku sendiri yang dirundung kesedihan yang amat sangat. Tak tega.


“Sudahlah bi, tanpa berbuat seperti inipun aku pasti akan pergi membawa mereka semua kembali untuk bibi." Kucoba sedikit menghiburnya.


“Terima kasih. Terima kasih Diamond, anakku.” Bibi Nefrit memelukku sangat erat dan hangat layaknya memeluk putranya sendiri.


“Tapi keadaannya masih belum memungkinkan, bi” Amy mengingatkan, masih tak rela kalau aku harus pergi dengan segala resiko berbahaya ini.


“Ya, Amethys benar. Kau tidak boleh pergi dengan keadaan mengkhawatirkan begini. Berbaringlah, bibi akan coba melakukan sesuatu padamu, semoga saja bisa membantu kesembuhanmu.” Bibi Nefrit memberikan perintahnya padaku.


Sebenarnya aku penasaran dengan apa yang akan dilakukan olehnya, tapi aku diam saja tak bertanya toh nantinya juga akan akan tahu. Aku kembali berbaring perlahan ke ranjangku. Bibi Nefrit mengambil posisi berdiri disamping kanan ranjangku, melayangkan kedua tangannya tepat di atas tubuhku, bagian dada.


“Paduka jangan terlalu memaksakan diri. Meski kau adalah healer sejati tapi luka Diamond sangat parah. Dan darah solarisnya sangat susah disembuhkan, lagipula sudah lebih dari dua puluh tahun anda tidak pernah melakukannya lagi.” Paman Topaz mengingatkan paduka Ratu.


“Aku tahu benar apa yang kulakukan, Topaz” jawab bibi Nefrit ringan. Tak ingin seseorang mengganggu apa yang akan dilakukannya.


“Kita mulai, Diamond!” bibi Nefrit mengerahkan tenaganya membentuk suatu cahaya putih yang menyelimuti tubuhku, rasanya sangat hangat dan nyaman.


Dapat kurasakan energi ini berkali-kali lipat lebih besar daripada yang biasa diberikan Paman Topaz.


Aku baru tahu kalau bibi Nefrit memiliki energi penyembuh sebesar ini. Jadi begini kehebatan seorang healer murni saat mengobati? Sangat hebat! Sama sekali tidak bisa dibandingkan dengan semi healer yang merupakan petarung juga, seperti Paman Topaz.


Yah semi healer juga masih lebih baik soal pengobatan daripada petarung murni sepertiku. Tapi saat ini healer jumlahnya sangat sedikit karena kemampuan ini merupakan bakat alami, yang susah diturunkan. Bahkan keturunan seorang healer juga belum tentu memiliki bakat ini.


Entah sudah berapa lama aku tertidur, terbuai dalam kehangatan dan kenyamanan dari cahaya penyembuh yang menyelimutiku, energi penyembuh yang dihasilkan Bibi Nefrit.


Saat semua kenyamanan itu tiba-tiba menghilang, aku tersentak bangun dan membuka mataku. Dapat kulihat dengan jelas bibi Nefrit terhuyung-huyung dan pasti sudah jatuh jika Paman Topaz tidak menangkapnya dan mendudukkannya di kursi.


“Sudahlah Nefrit, kau sudah terlalu banyak mengeluarkan tenaga dalammu.”


“Tidak Topaz, sedikit lagi! Biar kusembuhkan dia dengan sempurna,” bibi Nefrit bersikeras walau dapat kulihat wajahnya sudah sepucat mayat.


“Sudahlah bi, jangan paksakan dirimu,” Amy yang dari tadi menentangpun ikut terharu melihat kesungguhan bibi Nefrit. Ditunjuknya monitor penunjuk kesehatan yang baru disambungkannya ke jari telunjukku.


“Dengan ini presentase kesehatan Diamond sudah 94%. Aku tak akan keberatan melepasnya pergi, yah orang sehat sekalipun jarang menunjukkan angka 100%. Maka bisa dikatakan dia sudah cukup sehat saat ini. Asalkan, asalkan aku juga diijinkan untuk ikut dengannya karena akan sangat berbahaya dalam banyak arti kalau dia pergi sendirian.”


“Terima kasih, Amethys,” Bibi Nefrit mengangguk lemah.


“Aku sih mau saja kau pergi, tapi bagaimana dengan orang tuamu?” beliau menoleh pada Paman Topaz yang langsung mengangguk setuju sebagai jawaban.


“Pergilah dengannya Amethys, jagalah dia agar tidak kecantol dengan gadis cantik diluar sana,” lanjut beliau tersenyum pada kami berdua.


Kemudian paduka Ratu pamit undur diri. Dan paman Topaz memapah beliau keluar dari kamarku, ke ruang perawatan.


Kupandangi kedua orang itu pergi, aku masih tak habis pikir bagaimana bibi Nefrit dengan tubuh kecil dan lemahnya bisa mengeluarkan energi penyembuh sebesar itu.


Bayangkan saja beliau bisa meningkatkan presentase kesembuhanku sebesar 17% hanya dalam sekali proses. Padahal darah solarisku ini benar-benar sulit dan alot untuk disembuhkan. Paman topaz saja hanya mampu memberikan kemajuan 2% kesembuhan saja setiap melakukan satu sesi heal padaku.


“Siapa sebenarnya Ruby itu? Sepertinya kau akrab dengannya?” Amy menarik selimutku dengan kasar dan melipatnya.


“Seorang gadis manis salah satu penggemarku” jawabku sambil beranjak dari kasurku.


Aku melompat-lompat, melakukan kayang dan koprol beberapa kali untuk mengembalikan kelenturan tubuhku.


“Oh hampir saja aku lupa bahwa Kolonel Diamond Alexiel leonheart yang hebat memiliki banyak sekali penggemar diluar sana” sungut Amy tak puas dengan jawanku.


”Kenapa suratnya begitu mesrah padamu?”


“Hah? Mesra? Bagian mananya? Bagian dia menawan Opal dan Platina?”


“Bagian kangen-kangenan itu!!” jawabnya sebal.


“Kau cemburu ya?” godaku nakal. Kuhentikan pemanasanku untuk melihatnya.


Amy buru-buru membuang muka dan berkutat merapikan ranjangku.


“Sudahlah jangan buang-buang tenagamu dengan melakukan gerakan sia-sia begitu ... Ayo cepatlah mandi dan...” belum sempat dia menyalesaikan kalimatnya aku sudah melesat kearahnya secepat kilat. Kucium sebelah pipinya yang halus, lembut dan wangi, wangi lavender seperti biasa. Tak lupa juga kubisikkan kata ‘i do love you’ padanya.


“Dasar nakal! Sana cepat mandi, tubuhmu sudah bau!” Amy mendorong tubuhku menjauh dengan wajah merah padam.


Manis sekali, aku suka dia yang seperti ini hehe


Aku melangkah ringan kearah almariku, mengambil handuk dan gear suit merah yang sudah disiapkan ibuku, baru kemudian melangkah ke kamar mandi.


Beliau memang hebat. Seolah sudah tahu apa yang akan terjadi, ibu telah mempersiapkan segala perlengkapanku disana. Mulai dari pakain dalam sampai pedang dan pistol yang biasa kupakai.


Butuh waktu cukup lama untuk prosesi mandiku kali ini, karena aku sudah lama aku tidak mandi, yah biasanya hanya diseka sehari dua kali dengan air hangat, selain itu bekas-bekas luka tembak disekujur tubuhku ternyata masih sangat perih saat terkena air sabun.


Setelah mandiku selesai, aku keluar kamar mandi dengan hanya memakai celana gear suitku dan bertelanjag dada. Aku ingin Amy melakukan sesuatu dengan bekas-bekas lukaku karena rasanya tidak nyaman saat bergesekan dengan gear suit yang ketat.


Seakan bisa membaca pikiranku, Amy menyambutku dengan gulungan perban di tangannya. “Duduklah, akan kupasangkan perban untukmu”.


Akupun langsung menurut mengambil tempat duduk dihadapannya, dan tak perlu waktu lama baginya untuk melilitkan perban melingkari dada, bahu dan lengan atasku, menutup semua bagian tubuhku yang terdapat bekas luka. Setelah memastikan aku masih bisa menggerakkan kedua lenganku dengan lincah, Amy membantuku memakai atasan gear suit, pistol dan pedangku.


“Periksalah bawaanmu, mungkin masih ada yang kulupakan,” ujarnya menyerahkan salah satu tas dari kedua tas yang dibawanya padaku. Kuperhatikan amy juga sudah siap dengan gear suit ungunya yang sexy.


“Sudahlah aku percaya padamu. Bahkan mungkin kau lebih teliti dariku dalam mempersiapkan segala sesuatu,” tanpa kuperiksa lagi langsung kusandang tas ransel itu dibahuku.


“Kau siap? Ayo kita berangkat!”


Setelahnya Amy mengangguk mantap kugandeng tangannya dan berjalan beriringan ke gear pad di halaman rumah sakit. Disana telah menunggu kami ayah dan ibuku serta Paman Topaz dan bibi Giok, orang tua Amy bersama kedua gear kami Poenix dan Leviathan.


“Jaga dirimu baik-baik anakku, jemput adik-adikmu dan bawalah mereka kembali kesini,” Ibuku memelukku sangat erat saat aku pamit padanya.


“Jangan lupa jaga Amethys lahir batin,” tambah beliau mencium ringan keningku.


“Lakukan yang terbaik, Diamond.” Ujar ayahku sambil menepuk pundakku penuh kepercayaan.


“Draw your sworld, soldiers. May glorious and heaven wait us home in Almekia” tambahnya.


“Kupercayakan putraku yang ceroboh ini padamu, Amethys. Jagalah dia agar tidak melakukan hal-hal bodoh yang membahayakan nyawanya,” Ujar ibuku sambil memeluk Amy. Kemudian kami berdua pamit pada kedua orang tua Amy yang juga memeluk dan mengatakan hal-hal yang kurang lebihnya sama dengan orang tuaku.


“Kembalilah dengan selamat, dan kau boleh merebut Amethys dari tangan kami, Kolonel Diamond,” tambah Paman Topaz mampu membuat kami semua tersenyum. Setelah proses berpamitan selesai kami memasuki gear kami masing-masing, menyetelnya dan kemudian melesat pergi.


...________#________...


🌼Yuuuuks gaes PLIIIIS jangan lupa kasih LIKE, VOTE dan KOMEN 🌼