
“Kalau kalian berdua memang tidak bersalah, buktikanlah dengan ‘mind reading’ disini dan sekarang juga.” tambahnya dengan rona wajah sinis.
Mind reading? Membaca pikiran? Yang benar saja, ini adalah pelanggaran hak azasi yang paling hakiki. Bagaimana mungkin untuk membiarkan orang lain masuk dan melihat apa yang ada di dalam kepala kita? Segala pikiran, kenangan, memori dan kecerdasan kita dibuka dan dibaca seenaknya seolah sebuah buku cerita.
“Bagaimana? Kalian berani?” Mentri Syu melanjutkan bertanya sambil menyunggingkan senyum semakin lebar melihat keraguan kami.
“Tidak masalah,” jawabku. Entah mengapa harga diriku mengatakan untuk tak mau kalah melawan orang licik sepertinya. Aku tak ingin terlihat lemah dihadapannya.
“Tidak boleh!” potong Amethys tiba-tiba.
“Kalau kalian mau, baca saja pikiranku. Tapi kumohon jangan lakukan itu pada Diamond! Kondisi tubuhnya masih belum memungkinkan mengingat efek samping mind reading yang bisa sangat buruk bahkan pada orang sehat sekalipun." Amy melanjutkan dengan nada memohon yang menyedihkan.
Aku sedikit tercengang mendengarnya, Amy yang benci kekalahan sampai memohon seperti itu demi diriku? Mengabaikan kehormatan dan harga dirinya hanya demi keselamatanku saja?
Memang aku pernah mendengar soal itu sebelumnya, ada yang menjadi gila, idiot atau koma bahkan sampai meninggal karena proses mind reading. Tapi itu kan untuk pada para tahanan yang tak mau mengatakan kebenaran. Dosis yang digunakan juga mungkin terlalu berlebihan, demi mendapatkan informasi penting.
Tapi masa iya untuk kami yang bukan penjahat dan tahanan ini akan diperlakukan sama seperti itu? Yah, semoga saja dosis yang dipakai untuk kami lebih kecil nantinya, toh kami bukan tahanan atau penjahat.
“Bagaimana Perdana Mentri Kunzite? Anda ingin memberikan keringanan atau pengampunan kepada putra kesayangan anda?” Tanya Mentri Syu kali ini pada ayahku dengan nada mengejek.
'Brengsek! Beraninya dia menghina ayahku begitu!'
“Tak perlu!” sanggahku cepat-cepat. Aku tak mau melihatnya merendahkan ayahku.
“Aku akan melakukannya,” kutekan tombol penggerak otomatis kursi rodaku, kugerakkan menuju kearah mentri Syu. Kupasang wajah tegar dan berani untuk menunjukkan bahwa aku tidak gentar sedikitpun.
Sebenarnya sedikit ragu juga sih di dalam hati, kalau memikirkan apa yang akan terbaca dari isi kepalaku. Terlalu banyak rahasia baik itu pribadi, militer, tentang markas dan daerah perbatasan, bahkan tentang Mission impossible kami yang tidak boleh diketahui atau ditunjukkan kepada orang lain. Tapi aku tak akan menarik kata-kataku sendiri.
“Paman Kunzite, kumohon hentikan Diamond! Dia masih sangat lemah. Bagaimana jika terjadi apa-apa padanya?” Amethys mencoba membujuk ayahku. Dia tahu benar sifatku yang keras kepala. Aku pasti akan melakukan apa yang sudah aku katakan.
“Kumohon Paman!” pinta Amethys memohon.
“Jika itu sudah merupakan keputusan Diamond sendiri, aku tak berhak melarangnya.” Jawab ayahku dengan dagu berkedut dan mengeretakkan geliginya, terlihat sedikit tegang dalam wajahnya yang tetap dingin. Khawatirkah beliau akan keadaanku?
“Paduka ratu, tolong hentikan Diamond." Karena gagal merayu ayahku, Amy beralih menghampiri paduka Ratu. Mencoba untuk membujuk beliau.
"Andalah yang paling tahu bagaimana sulitnya proses penyembuhan dari tubuh Diamond. Anda jugalah yang berjuang paling keras untuk membantu kesembuhannya dengan menyumbangkan banyak darah untuknya..."
Bibi Nefrit nampak sangat sedih mendengar perkataan Amy dannterpukul. Yah memang tak dapat dipungkiri beliau dan ayah adalah penyelamat jiwaku.
"Bukankah anda pernah berkata bahwa anda sudah menganggap kami semua seperti putra-putri anda sendiri? Kenapa untuk mencari seorang putra yang hilang harus mengorbankan putra yang lainnya?” Amy terus mencoba membujuk paduka Ratu.
"Diamond, putraku..." ujar bibi Nefrit semakin pilu.
“Tolonglah Diamond! Kumohon Paduka…”
Sebelum Paduka Ratu sempat menjawab permohonan itu, beberapa prajurit suruhan mentri Syu sudah menghampiri Amy. Mereka mengapit kedua lengannya dengan kasar. Amy berusaha memberontak tapi tak berdaya melawan tenaga dari dua orang prajurit yang mencengkeram lengannya.
"Lepaskan tangan kalian darinya!" Teriakku berang melihat perlakuan kasar yang diterima Amy.
Jika bukan karena tubuhku tidak bisa bergerak, jika bukan karena tubuh sialan ini yang menolak perintahku. Pasti sudah kuhajar habis-habisan prajurit-prajurit rendah itu. Berani-beraninya mereka sekadar itu pada Amy? Beraninya mereka menyakiti wanita yang aku cintai?
'Fvck!' Ingin rasanya aku mengumpat dan memaki diriku sendiri. Kelemahan dan ketidak berdayaanku.
Aku benci tubuh yang lemah ini. Bahkan untuk berteriak protes seperti tadi saja sudah membuat kepalaku berdentam sangat keras dan menyakitkan. Seperti dipukuli oleh paku besar bertubi-tubi.
Dan yang membuatku semakin emosi adalah mereka tak menganggapku sama sekali. Prajurit rendahan seperti mereka tak menghiraukan aku yang seorang kolonel. Karena mereka tahu benar bahwa aku sedang tak berdaya, tak akan bisa melakukan perlawanan.
Oleh sebab itu, meski jelas mereka mendengar protes dan perintahku, mereka tetap menggiring Amy keluar ruangan dengan kasar. Sementara itu mentri Syu sendiri menghampiriku dan mendorong kursi rodaku menyusul Amy setelah terlebih dahulu pamit dan memberi penghormatan pada Ayahku dan Bibi Nefrit.
Kami dibawa ke ruangan interogasi, di ruang bawah tanah bersebelahan dengan ruang tahanan politik di istana. Kami dimasukkan ke dalam ruang kaca kedap suara kemudian didudukkan diatas sebuah kursi khusus yang menyambung dengan alat pembaca pikiran.
Alat yang terlihat sangat mengerikan, berbentuk seperti helm penuh kabel yang dihubungkan dengan layar monitor di luar ruangan. Kedua tangan dan kaki kami diikat dengan plat besi agar tidak bisa bergerak.
Apa yang selanjutnya terjadi setelah mesin itu dinyalakan? Benar-benar sesuatu yang sangat buruk.
Sakit, seluruh tubuhku terasa sangat sakit seperti tersengat listrik, perutku mual nyaris membuatku muntah. Dan yang paling parah adalah kepalaku, otakku seperti diremas-remas dan diaduk-aduk, semua memori didalamnya dipaksa untuk terbuka agar bisa dibaca layaknya sebuah buku bacaan...
Aku pulang dari West Line, duel gear brutal dengan Zircon, perang bantal di rumah sakit, kencan pertamaku dengan Amy. Tak ketinggalan juga kencan singkat bersama perawat rumah sakit, mabuk di bar bersama Zircon dan Opal, latihan gear Jasper, kembali ke West line lagi.
Kemudian ingatan berlanjut ketika aku bertemu dengan gadis perampok bertampang innocent yang akhirnya melukai sebelah lenganku. Selanjutnya tentang pesta natal, kami berempat mendapat banyak sekali hadiah, aku berdansa dengan paduka ratu, masalah dengan Zircon dan Amy, sampai aku membuat amy menangis...
'Hentikan! Ini masalah pribadiku.' Aku mencoba mengalihkan ke ingatan yang lainnya.
Beralih pada kepulanganku kembali ke markas, persiapan perang besar di perbatasan West line, sampai genderang perang ditabuh. Aku menyusup sendirian ke wilayah musuh, dan saat Zircon datang membantuku. Aku berhasil menguasai markas besar musuh dan mengadakan sambungan untuk mengakhiri perang. Lalu saat Zircon menginjak jebakan, aku mencoba untuk menyelamatkannya. Gerakan slow motion ribuan peluru menguhujani kami, sampai saat aku tertembak…
Aku siuman dari koma setelah beberapa hari, perawatan dan proses penyembuhanku yang sangat alot dan menyakitinya. Bahkan sampai ujian jasper yang kulihat dari siaran langsung di kamarku di rumah sakit. Dan terakhir saat Amy mencium keningku tadi pagi sebelum berangkat ke istana. Semua memori dan kenangan itu timbul tenggelam secara bergantian dalam otakku. Berputar-putar bergantian bagaikan rekaman Vidio yang sangat nyata.
Sebisa mungkin kututup semua ingatan yang berhubungan dengan pencarian data tentang paduka raja. Kututup dan kublokir rapat-rapat pula tentang rencana kami mencari paman Obsidian ke BloodyHell.
Dan ternyata itu bukanlah hal yang mudah, setiap melakukannya maka rasa sakit yang menyerang bahkan berkali-kali lipat lebih parah. Sakit di sekujur tubuhku dan tentu saja yang paling parah adalah sakit tak tertahankan di bagian kepalaku. Pada akhirnya aku tak dapat merasakan apa-apa lagi, dengan hanya ditemani oleh kegelapan yang sangat pekat...
...__________#__________...
🌼Yuuuuks gaes PLIIIIS jangan lupa kasih LIKE, VOTE dan KOMEN 🌼