
Kudapati diriku berada dalam sebuah ruangan lembab, suram dan gelap. Hanya ada lantai batu yang dingin dan jeruji besi mengelilingi ruangan ini, sepertinya ruangan ini adalah sel penjara bawah tanah. Dapat kulihat dua sosok anak kecil, laki-laki berambut pirang dan perempuan berambut coklat meringkuk ketakutan di sudut ruangan.
Keduanya memakai pakainya yang bagus dan terlihat mewah seperti bangsawan kerajaan. Meskipun kini pakaian mereka sudah lusuh dan terkena noda tanah dan lumpur dimana-mana.
Mungkin mereka adalah pangeran dan putri kecil dari suatu kerajaan yang sedang ditawan oleh musuh kerajaannya. Karena kepentingan politik atau bahkan persaingan dua kerajaan yang saling menjatuhkan. Memang sudah menjadi resiko dan nasib bagi para penerus kerajaan disamping segala fasilitas dan kemewahan dunia yang dapat mereka dapatkan.
Seorang algojo berperawakan kekar, berkepala botak dan bertampang sangat bengis menghampiri mereka. Menanyai kedua anak kecil itu tentang berbagai hal. Tapi keduanya tak mau menjawab sampai algojo itu kehabisan kesabaran dan mengacungkan cambuk berdurinya untuk memukuli mereka.
Anak laki-laki mencoba melawan, mencegah algojo itu mendekati anak perempuan yang semakin takut dan meringkuk ke dinding penjara. Tetapi karena ukuran tubuhnya jauh lebih kecil dengan mudah anak kecil tadi dihempaskan oleh sang algojo. Algojo itu semakin mendekati anak perempuan dan mengacungkan cambuk padanya, hendak mencambuki si gadis kecil.
Anak laki-laki yang tadi terhempas tiba-tiba sudah bangkit kembali, berlari dan menjadikan tubuhnya sebagai tameng menutupi tubuh sang gadis. Menerima pecutan cambuk berduri dengan punggungnya, berkali kali tubuh kecil itu menerima cambukan demi melindungi sang gadis kecil.
Siapa kedua anak kecil itu? Mengapa dadaku bergemuruh melihat tatapan sendu namun berani dan menantang mereka? Tatapan tajam gadis itu mengingatkanku pada tatapan tajam ibunda ratu.
Kali ini kulihat seorang gadis berusia belasan tahun dengan rambut coklat pendeknya. Tunggu dulu wajah cantik gadis itu mirip sekali dengan wajah ibunda ratu yang dipermuda beberapa tahun. Gadis itu berlari ketakutan melewati semak-semak, melewati rumput dan ilalang berduri, menembus gelapnya malam.
Dibelakangnya belasan prajurit bersenjata lengkap mengejarnya dengan membabi buta. Menebas setiap semak yang menghalangi jalan mereka. Dekat, dekat dan semakin dekat mereka mengejar sang gadis.
Sampai akhirnya salah seorang dari mereka dapat mendekat dan menyusul sang gadis. Prajurit itu menyabetkan pedangnya pada sang gadis yang tak sempat menghindar.
Si gadis cantik sudah jatuh terjerembab di atas tanah. Tak ada Luka pada tubuhnya, hanya syok dan kaget saja. Sehingga tubuhnya bergetar hebat, apalagi saat dia melihat pemandangan di hadapannya.
Merah, percikan darah merah dimana-mana. Tapi bukan darah sang gadis, melainkan darah seorang pemuda. Seorang pemuda yang tiba-tiba sudah berdiri di depan sang gadis untuk melindunginya. Pria itu mendorong tubuh sang gadis sampai jatuh terjerembab, menggantikannya menerima sabetan pedang dari prajurit tadi.
Kuamati lebih lekat lagi wajah pria itu. Dia adalah anak kecil laki-laki yang sebelumnya kulihat. Dia telah tumbuh beberapa tahun, wajahnya pun telah berubah menjadi...wajahku!
Pemuda itulah yang melindungi sang gadis, sayangnya dia tak sempet menghindari sabetan pedang. Darah merah segar mengalir deras dari wajahnya, mata kirinya.
Apakah ini masa lalu ibunda? Lalu siapa pria berambut pirang itu itu? Apakah dia pria yang sama dengan pria di ingatanku sebelumnya? Pria yang bertarung dan saling menopang dengan paman Morgan. Rambut pirangnya yang bagaikan emas, mata birunya yang sejernih lautan, serta mata kirinya yang cacat dan tertutup kain hitam.
Pria itu, pria yang berwajah sama denganku. Kini telah tumbuh semakin dewasa, sama persis dengan yang kulihat sedang bertarung di Bloody Hell dengan paman Morgan. Dia menyerbu sebuah castle yang penuh dengan prajurit musuh sendirian.
Dia terus menerjang dan menyerang tanpa kenal takut untuk membebaskan sang gadis. Gadis yang kini aku yakin 100% bahwa dia adalah ibundaku. Gadis itu, ibundaku sedang ditawan di kamar teratas castle itu.
Pria berambut pirang itu akhirnya berhasil menemukan dan membebaskan ibunda dari tawanan musuh, tapi dalam perjalanan keluar castle sepasang musuh tangguh menghadang mereka, pria dan wanita. Diakhir pertarungan pria itu berhasil menghabisi musuh lelaki tapi membiarkan hidup musuh wanitanya yang sudah tak sanggup melawannya.
Pria itu mendapat luka tusukan pedang yang cukup dalam di perutnya akibat pertarungan tadi, tapi dia tak perduli. Digandengnya tangan ibundaku dan dibawanya berlari dan terus berlari ke atap castle.
Gear itu mengayun-ayunkan cambuk gandanya pada belasan gear musuh yang menghadangnya. As expected dari gear terhebat sekelas Xenogears, bahkan gear merah itu dapat bergerak selincah itu dalam mode autopilot.
Gear itu segera membuka kokpitnya begitu menyadari kedatangan majikannya. Bahkan tanpa menghentikan gerakan menyerangnya. Sungguh sangat canggih.
Pria berambut pirang menggendong tubuh ibundaku dan melompat menaiki kokpit gear. Dia meletakkan tubuh ibundaku di pangkuannya. Dengan sangat cekatan pria itu mengendalikan gearnya, membuat gear merah itu jauh lebih kuat berekali-kali lipat daripada sebelumnya. Sehingga dalam waktu singkat dapat meringkus seluruh musuh-musuh yang menghadang mereka di atap castle.
Setelah keadaan cukup aman, pria itu mengendalikan dan menerbangkan gear merahnya. Ibunda dengan sigap memberikan pertolongan heal pada luka di perutnya sang pria dengan tenaga dalamnya.
Ibunda adalah seorang Healer? Aku kaget sekali karena baru mengetahui kenyataan ini. Bahkan aku dapat melihat kemampuan penyembuhannya sangat kuat. Dia dapat menutup luka dan menghentikan perdarahan dengan mengerahkan tenaga dalamnya selama beberapa saat saja.
Apa karena ibunda Ratu ini berdarah Solaris murni? Memang kemapuan seorang Solaris darah murni tak akan bisa terbayangkan oleh akal sehat. Terlalu hebat dan tidak masuk akal untuk dibayangkan. Bagaimana ibundaku dengan tubuh kecilnya dan usianya yang waktu itu masih sangat muda bisa sehebat itu?
Setting suasana kembali berubah dengan cepatnya, pemandangan di sekitarku pun berubah seketika. Kali ini kudapati diriku berada di dalam sebuah kuil mungil namun indah di tepi sebuah danau. Danau yang sangat besar dengan airnya yang jernih serta pohon-pohon besar mengelilinginya. Kuil ini terasa asing gaya arsitekturnya, sepertinya bukan dari kerajaan Almekia ini. Tapi tak dapat dihindari kesan sakral dan damai dapat terasa disana.
Kuil itu dihiasi dengan dengan berbagai macam bunga hidup yang indah dengan berbagai warna, pita-pita berwarna merah, pink dan putih serta segala pernak-pernik pesta yang sangat meriah. Pemandangan yang biasa ada dalam sebuah pesta pernikahan. Pernikahan siapakah ini?
Ditengah altar dapat kulihat mempelai wanita dengan gaun pengantin putihnya yang melebar di bagian bawah. Ibunda Ratu terlihat sangat cantik dan menakjubkan dalam balutan gaun pengantin putihnya. Wajahnya memancarkan rona bahagia dan senyuman penuh cinta dan rasa syukur.
Disamping ibunda Ratu, berdirilah seorang pria berambut pirang yang berkali-kali menyelamatkan nyawanya. Pria itu juga menggenakan baju pengantin, setelan tuxedo putih yang membuatnya terlihat semakin tampan dan bersinar. Rambut panjangnya tersisir rapi dan terkepang sampai ke punggung. Mata kirinya yang cacat tertutup kain putih juga kali ini.
Tunggu dulu! Kalau menikah dengan ibundaku berarti pria berambut pirang panjang itu adalah ayahandaku? Mendiang paduka raja? Pantas saja wajahnya begitu mirip denganku.
Sang mempelai pria menyematkan sebuah cincin dari bahan emas putih dan bertahtahkan berlian besar ke jari manis ibunda. Cincin yang sudah kukenali dan kuketahui masih menghiasi jari manis tangan ibundaku bahkan sampai saat ini.
Sebagai balasan sang mempelai wanita juga menyematkan sebuah cincin polos ke jari manis suaminya juga. Menjadikan keduanya memiliki cincin berpasangan di jemari masing-masing.
Kedua mempelai itu tersenyum dan berpandangan penuh kasih sayang. Selanjutnya mereka juga berciuman di hadapan khalayak ramai sebagai bukti dalamnya cinta mereka berdua.
Para paman dan bibi serta beberapa mentri kerajaan yang kukenal hadir disana. Dengan wajah mereka yang tampak lebih jauh lebih muda dari yang kukenal saat ini. Jadi sebenarnya mereka semua mengetahui tentang ayahandaku? Mereka bahkan hadir dalam pernikahan ayahanda Raja dan ibunda Ratu? Lalu mengapa mereka harus merahasiakan semua kenyataan ini padaku?
Semua yang hadir dan menjadi saksi pernikahan ini bersorak dan bertepuk tangan. Ikut berbahagia menyambut kedua pengantin baru itu. Ikut bangga dan sekaligus terharu menyaksikan pernikahan agung antara Raja dan Ratu dari Almekia Kingdom.
...________#_______...
🌼Yuuuuks gaes PLIIIIS jangan lupa kasih LIKE, VOTE dan KOMEN 🌼