
Rambut merah panjangnya seakan terbang menari-nari dipermainkan angin malam. Kulit wajahnya yang putih bersih bagaikan marmer semakin bersinar memantulkan cahaya sang rembulan. Cantik, sungguh sangat cantik dan mempesona.
Tak salah lagi dia adalah gadis itu, Ruby... Seakan terhipnotis oleh alunan lagu yang disenandungkannya, aku berjalan perlahan mendekatinya.
**Sendiri aku mencari di kegelapan,
Untuk jejak cinta yang kau tinggalkan di hatiku yang kesepian.
Untuk menenun dengan mengambil potongan-potongan yang tersisa.
Melodies of Life, kehilangan cinta.
Ke langit luas burung-burung terbang
Selamanya dan seterusnya.
Jauh dan tinggi, lihat burung itu terbang,
Meluncur menembus bayang awan di langit,
Kutitipkan ingatan dan impianku di atas sayap-sayap itu.
Pasrahkan pada mereka sekarang dan lihat apa yang dibawanya besok untukku.
Dalam ingatan tersayangmu, apakah kau ingat pernah mencintaiku?
Apakah itu nasib yang membuat kita dekat dan sekarang kau meninggalkanku?
Sebuah suara dari masa lalu, bergabung
Suaraku dan suaramu.
Menambah lapisan harmoni.
Dan begitulah seterusnya, terus dan terus.
Melodi kehidupan.
Ke langit luas burung-burung terbang
Selamanya dan seterusnya.
Jika aku harus meninggalkan dunia yang sepi
Suaramu masih akan terngiang menyanyikan melodi kita.
Sekarang kutahu aku yang akan menyanyikan
Melodi Kehidupanku.
Melingkari dan tumbuh jauh di dalam hati,
Selamanya selama aku masih bernafas**
Aku tecengang, tertegun dan terngangah demi mendengar lagu yang terasa begitu pilu dan kesepian itu. Melodies of life, melodi kehidupan.
Apakah dia sedang menyanyikan lagu tentang dirinya sendiri? Apakah Ruby ini sebegitu kesepiannya sehingga duduk sendirian di lorong sepi ini tengah malam dan bernyanyi lagu sendu sambil menatap sang purnama. Menyedihkan, sangat menyedihkan.
"Siapa itu?" Teguran kasar itu menyentakku, menyadarkanku dari lamunan. Rupanya Ruby telah menyadari kehadiranku.
"Selamat malam nona Ruby," sapaku dari bawah tampatku berdiri seramah mungkin, mendongakkan untuk memandang kepadanya.
"Oh kau pria yang waktu itu," jawabnya sedikit heran.
Entah mengapa hatiku terasa senang dan berbunga menyadari dia masih mengingat wajahku sejak pertemuan pertama kami.
"Kemarilah!" Diluar dugaanku dia melambaikan tangganya padaku dan menepuk tempat di sebelahnya. Menawarkan kepadaku untuk menemani duduk di sebelahnya.
Tanpa pikir panjang aku melompat ke dinding-dinding bangunan itu dan mendarat dengan ringan di atap tepat di sebelahnya. Dengan sedikit gugup aku mengambil duduk tepat di sebelahnya.
Ruby tetap menatap lekat pada sang rembulan. Cuek saja seakan dia tak memperdulikan kehadiranku di sebelahnya.
"Sangat indah bukan?" celetuknya bahkan tanpa mengalihkan pandangannya kepadaku.
"Eh? Iya sangat indah," ujarku tergagap sambil terus menatap wajahnya, memang sangat indah gadis di depanku ini. Keindahan yang tak kalah dengan keindahan bulan purnama yang bersinar terang di atas sana. Rembulan yang menyinari gelapnya malam dengan sinarnya yang lembut nan ramah.
Ruby diam saja tak menjawab ucapanku. Yah paling tidak dia tak keberatan dengan kehadiranku disini.
Gadis berambut merah itu mengeluarkan sebuah botol minuman dari bungkusan yang ada di dekatnya. Tak lama kemudian dia memberiku sebuah gelas sake kecil dan menyiapkan pula untuknya sendiri. Dia lanjut menuangkan minuman kegelas kecilku dan gelasnya sendiri dengan gerakan cekatan.
"Mari bersulang," Ruby menyodorkan gelasnya padaku, membuatku mau tak mau mengangkat gelas ku juga untuknya. Gadis itu kemudian membenturkan gelasnya pada gelasku sebelum meneguk habis isi gelasnya. Kemudian dia kembali menatap sang rembulan di atas langit nun jauh disana.
Kuteguk dan kuhabiskan juga isi gelasku untuk menghormatinya. Dapat kurasakan di inderaku rasa yang sangat menyengat, manis, asam dan pahit menjadi satu. Rasanya mirip dengan sake, soju atau minuman keras tradisional lainnya. Entah apa nama minuman ini, yang pasti mengandung alkohol.
"Hari ini adalah hari peringatan kematian ibuku," tiba-tiba Ruby membuka suara. Dan lagi-lagi aku hanya diam tak tahu harus menanggapi bagaimana.
Pantas saja dia terlihat sangat sedih bahkan menyanyikan lagu yang sangat menyayat hati seperti itu. Mungkin dia sangat merindukan ibunya. Ruby kemudian terdiam, hanya duduk membisu memandangi bulan purnama yang menerangi malam.
Aku mengikutinya memandang rembulan yang bersinar sangat indah, tetapi aku tak dapat memahami apapun dari sana. Jadi kuputuskan untuk lebih mengalihkan pandanganku untuk menatap Ruby saja. lebih menyenangkan rasanya dan membuat jantungku berdebar tak karuan hanya dengan menatapnya.
"Aku ingin pergi dari kota terkutuk ini. Tapi aku tak bisa... Ayah dan kakakku brengsekku selalu saja menangkap dan membawaku kembali setiap kali aku berusaha kabur." Ruby tiba-tiba membuka percakapan setelah cukup lama berdiam diri.
"Karena itulah aku ingin menikah. Aku ingin pergi bersama pria yang kucintai dari kota terkutuk ini. Atau setidaknya dengan pria tangguh yang bisa membawaku pergi jauh dari sini..."
Sekarang aku mengerti alasan kenapa dia dikejar-kejar oleh beberapa pria menyeramkan waktu pertama kali kami bertemu. Rupanya karena dia ingin kabur atau pergi dari rumah?
Lebih jauh, aku juga jadi memahami tujuannya mengadakan turnamen dan keputusannya untuk menikahi siapapun yang memenangkan turnamen itu.
Dia membutuhkan sosok seorang pria yang bisa mendukungnya, melindunginya, membawanya pergi ke tempat yang lebih baik dari tempat ini. Membawanya pergi dari kota bobrok yang bagaikan neraka ini.
Dia bahkan sama sekali tak memperdulikan siapa dan bagaimana tampang orang yang akan dinikahinya kelak. Siapa pun yang berhasil memenangkan turnamen ini akan menjadi suaminya. Mungkin karena dia sudah pasrah, merasa tak mungkin untuk memilih. Hanya bisa berserah diri pada takdirnya saja...
"Namaku Zircon, Aku juga ikut turnamen Bloody Hell."
"Benarkah?" ucapanku kali ini berhasil membuat Ruby mengalihkan pandangannya kepadaku. Gadis itu memperhatikanku, mengamatiku dari atas sampai bawah dengan tajam, kemudian tersenyum manis.
"Lumayan, Kau sangat tampan dan perawakanmu juga sempurna. Sepertinya tidak terlalu buruk juga jika harus menikah denganmu" ujarnya ringan namun mampu membuat wajahku memanas mendengarnya.
Apa maksudnya? Apa dia tak keberatan kalau harus menikah denganku? Apa dia menyukaiku?
"Tapi kau harus menang dulu di turnamen tahun ini. Dan pasti bukan perkara mudah untuk dilakukan."
"I can try," jawabku padanya.
Memang aku tak dapat menjamin aku akan menang mengingat lawan-lawan yang dihadapi sangat hebat. Tapi satu hal yang dapat kupastikan adalah aku akan encobanya, dan aku tak akan menyerah sebelum mencoba.
"Good luck," ujar Ruby memberikan semangatnya disertai sebuah senyuman manis di bibirnya.
Deg, untuk sesaat jantungku terasa berhenti berdetak demi melihat senyumannya. Senyuman yang sangat indah bagaikan bidadari.
Untuk beberapa saat aku seperti terhipnotis dan tak dapat mengalihkan pandanganku darinya. Sampai kemudian semua keindahan itu buyar seketika saat Ruby beranjak pergi menjauh. Membubarkan lamunan dan kesenanganku serta melayukan bunga-bunga yang sudah bermekaran di dalam hatiku.
Tanpa sempat kucegah Ruby tiba-tiba melompat dari tempatnya duduk di sebalelahku. Gadis itu tiba-tiba sudah mendarat ringan di tanah di bawahku. Dan sekali lagi aku hanya bisa memandangnya yang berjalan pergi menjauh dariku.
"Aku harus pergi sebelum orang-orang brengsek itu mencariku. Cyaaa" dia melambaikan sebelah tangannya bahkan tanpa menoleh lagi padaku.
Terus berjalan dengan sebelah tangannya memegangi bungkusan berisi arak dan gelas tadi. Gadis itu melangkah pergi dan menghilang dalam kegelapan malam, meninggalkanku sendirian yang masih termenung disana.
Kukutuk dan kusesali kebodohanku yang tak sanggup bereaksi tadi. Seharusnya kukejar dan kuantarkan dia pulang untuk menjamin keselamatannya dan untuk sedikit lebih mengenalnya lebih jauh kan.
Bagaimana mungkin aku membiarkan seorang gadis berjalan sendirian di malam gelap dan ditengah kota berbahaya yang mengerikan ini? Yah meski bagi Ruby kota ini sama sekali tidak menyeramkan. Karena dia sudah dibesarkan disini.
Jadi inilah sosok asli dari seorang Ruby? Dia itu sebenarnya hanyalah gadis kesepian yang tidak punya tempat untuk mengadu. Mungkin kakak dan ayahnya tidak pernah ada untuknya.
Mungkin keadaan sekitarnya yang memaksanya untuk menjadi seorang gadis yang kasar, brutal dan seenaknya. Tapi diluar semua itu dia tetaplah seorang gadis manis yang polos.
Entah mengapa gemuruh yang dari tadi telah ada semakin menggema di dadaku, jantunggku berdebar dengar sangat kencang, dan seluruh tubuhku memanas beberapa derajat rasanya.
Apakah ini yang dinamakan cinta? Kenapa aku berbunga setiap kali bersamanya atau sekedar mengingat akan dirinya? Apa aku menyukai gadis itu? Rasanya sangat berbeda dengan perasaan yang pernah kurasakan pada Kak Amethys dulu.
Perasaanku pada Kak Amethys waktu itu tidak lebih pada rasa kagum, rasa ingin memilikinya karena segala kelebihannya. Karena segala kesempurnaan, seperti kebanyakan orang yang ingin mendapatkannya. Mungkin dengan mendapatkan Kak amethys sama halnya dengan mendapatkan sebuah tropi emas.
Tapi kali ini berbeda, perasaanku pada Ruby ini lebih murni, terlepas dari segala kelebihan dan kekurangan gadis itu. Lebih karena aku ingin bersamanya, ingin melindunginya, ingin menyelamatkanya dari segala lingkungan buruk disekitarnya.
..._______#______...
🌼Yuuuuks gaes PLIIIIS jangan lupa kasih LIKE, VOTE dan KOMEN 🌼