
"Baiklah apa kalian berdua siap?" Wasit menanyakan kesiapan kepadaku dan Jade.
"READY? ... GOOOOO!!!" wasit memberi aba-aba dan menembakkan pistol tanda dimulainya pertandingan.
Tanpa membuang waktuku, langsung saja kuterjang gear hijau lawanku itu. Kukerahkan sedikit energi ke pedangku dan langsung kusabetkan pedangku dengan kecepatan kilat ke tubuh gear itu.
Ternyata Jade dapat mengantisipasi serangan dadakanku, dia menangkis sabetan pedangku dengan sabetan pedang juga. Kedua pedang beradu dengan bunyi dentingan keras. Dengan kekuatan energi yang sama kuat, saling menyerang dan kemudian meledak begitu saja saat tak ada yang dapat mengalahkan satu sama lainnya.
Kugunakan perisai di tangan kiriku untuk menghindari ledakan energi tadi mengenai tubuh gearku. Segera kuterjang lagi gear hijau itu dengan pukulan dari perisaiku, kulayangkang tendangan ke arah badannya, kusabetkan pedangku juga beberapa kali padanya. Kuserang dia bertubi-tubi.
Gear hijau itu dapat menangkis sebagian besar seranganku sambil sesekali menyerang balik. Serangannya yang kurang lebih bisa kutahan dan kutangkis juga. Sejauh ini nampaknya kekuatan kami berdua sangat berimbang. Pasti akan sulit untuk mengalahkan satu sama lainnya.
"Sepuluh menit," Phoenix mengingatkan penunjuk waktuku. Sudah sepuluh menit sejak dimulainya pertarungan kami.
Yaampun, aku bahkan sampai tak sadar kalau sudah sepuluh menit kami bertarung dan bertukar jurus serangan. Tapi sampai saat ini pun tak ada salah satu yang dapat menemukan celah untuk melayangkan serangan fatal pada musuh. Kami berdua hanya mampu saling memberikan luka ringan pada lawan kami. Saling menjajaki kemampuan lawan.
"Tak usah menghemat energi, kita harus cepat selesaikan pertarungan ini," perintahku pada Phoenix.
Sudah sepuluh menit berlalu, batas waktu yang diberikan Midori untukku bertarung dengan gear telah habis. Memang dengan bantuan obat tadi aku masih bisa bertahan dan dapat melanjutkan pertandingan. Aku bahkan belum merasakan kelelahan atau kesulitan bergerak. Tapi sampai kapan? Berapa lama lagi tubuh ini dapat bertahan?
Kukerahkan energiku untuk membentuk chi api yang kusingkronkan dengan pedangku. Kuterjang sekali lagi gear hijau Jade, menyabetkan pedang apiku berkali-kali padanya.
Jade masih terus menghindari seranganku sambil meliuk-liukkan tubuhnya dan sesekali melancarkan serangan balasan padaku. Begitu kudapatkan sedikit celah langsung kutendang gear hijau itu sehingga terpental beberpa meter dari tempatnya berdiri.
Tanpa menyia-nyiakan kesempatan dan momentum yang kudapatkan, momen saat dia kehilangan keseimbangan. Langsung kuterjang gear itu dan kuhunuskan pedangku untuk mengincar dadanya. Gear jade berguling-guling di lantai arena untuk menghindari tusukan pedangkuku, dengan cepat memperbaiki posisinya.
Selanjutnya tanpa kuduga dia dapat menghimpun energinya dan melancarkan serangan balasan berupa tembakan chi petir padaku. Membuat gearku tersengat petir dan terasa paralized, membuatku tak dapat bergerak untuk sesaat. Waktu yang cukup untuk dimanfaatkannya menedang tubuh gearku hingga terpelanting jauh menabrak tembok arena.
"Uuuughh," rintihku saat kurasakan sakit yang luar biasa siseluruh tubuhku yang terbentur keras ketanah. Dapat kurasakan beberapa bekas luka didadaku sepertinya terbuka lagi, perih dan ngilu rasanya.
"Hei cecunguk brengsek. Kenapa buru-buru? Santai saja nikmati kematianmu pelan-pelan." Wajah Jade tiba-tiba muncul di komputer gearku. Dia tersenyum sinis dan mengejek padaku.
'Brengsek!' umpatku dalam hati saja.
Tanpa menjawab provokasinya segera kumatikan sambungan darinya. Kublokir juga agar dia tak bisa menghubungiku lagi.
Sial! Apa dia tahu kelemahanku? Apa dia tahu batas waktuku? Apa dia sengaja memperlambat tempo pertarungan untuk menghabiskan waktuku?
Segera kuberdirikan gearku kembali, Kubuang perisai ditangan kiriku, kuambil sebuah pedang laser dari pahaku sebagai gantinya. Tak perlu bertahan lagi, aku akan menyerang dengan kekuatan penuh sekarang. Attack is the best defence.
Segera kuterjang dan kuserang gear hijau itu dengan kedua pedang ditanganku. Serangan yang lebih agresif dan membabi buta. Memaksa gear hijau itu sibuk meliuk-liukkan tubuhnya, menggunakan pedang dan tamengnya sekaligus untuk menahan serangan beruntun dariku.
"Dua puluh menit," Phoenix kembali mengingatkan waktu pertarungan kami. Dan memang dapat kurasakan aku sudah mulai kepayahan sekarang. Tubuhku sudah mulai memanas dan keringatku mengucur mengucur deras. Harus segera kuakhiri pertarungan ini.
Kukerahkan kembali tenagaku untuk membentuk serangan tenaga dalam di telapak tanganku. Jade juga terlihat mengerahkan tenaganya ditelapak tangannya. Beberapa saat kemudian kami kembali beradu, saling menghantamkan tenaga dalam di telapak tangan kami.
Dalam waktu hampir bersamaan aku dan Jade melayangkan energi di tangan untuk saling menghantam musuh. Kedua energi ditangan kami saling bertemu, saling hantam dan saling menghancurkan satu sama lain.
Kumanfaatkan momen saat Jade sibuk memfokuskan perhatiannya ke energi di tangannya. Untuk menahan tembakan energi dari tangan kananku.
Kukumpulkan sekali lagi energi ditangan kiriku yang bebas. Aku menciptakan serangan chi petir dengan tangan kiriku yang masih bebas. Kubuat bentukan energi yang menyerupai tombak. Kulemparkan tombak petir yang kuciptakan dengan tangan kiriku ke arah gear hijau Jade. Serangan yang pasti berhasil mengenainya dari jarak sedekat ini.
Jade dapat bereaksi menghadapi seranganku itu meskipun sedikit terlambat. Jade memakai lengan kirinya untuk menahan serangan tombakku. Dan tentu saja lengan itu langsung hancur berkeping-keping.
Jade mengabaikan lengan kirinya, tak perduli lengan kirinya hancur. Sebuah pengorbanan yang memang harus dilakukan untuk mencegah damage yang lebih besar lagi akibat seranganku.
Jade semakin memfokuskan tenaga dalamnya untuk menambah kekuatan energi chi di tangan kanannya yang masih beradu dan bertemu dengan energiku.
"Uuuuuhhhgt," dapat kurasakan tekanan energi Jade semakin besar.
Seakan beban berat berton-ton yang tiba-tiba menghantam tubuhku, mencoba menghancurkan dan meremukkanku. Kukerahkan kembali energiku untuk mencoba menahan serangan energi itu.
Tak bisa...
Seakan energi dan tenaga di dalam tubuhku sudah terkuras habis tak tersisa, tak ada lagi energi yang dapat kukeluarkan. Perlahan namum pasti energi ditangan kananku semakin melemah.
Pandanganku mulai kabur dan menggelap. Kepalaku sangat pusing dan berputar putar, bahkan sekujur tubuhku rasanya lemas seakan tak bertulang.
'Gawat! Sepertinya aku bahkan tak sanggup mempertahankan kesadaranku lagi sekarang.'
Energiku semakin melemah, kecil dan menghilang. Sementara disisi lain energi Jade semakin membesar, mengahantam tubuh gearku...
Jadi begini akhirnya? Akhirnya aku harus mengakui kekalahanku dari Jade?
Terhantam ledakan energi sebesar itu dengan jarak yang sangat dekat, pastinya akan mengakibatkan kerusakan yang amat fatal pada gearku. Bahkan mungkin bisa membunuhku.
Tanpa bisa dihindari ledakan energi pun terjadi saat serangan Jade menghantamku. Guncangan keras dan menyakitkan kembali kurasakan saat gearku terhempas menerima serangan itu. Sensasi panas dan terbakar juga kurasakan sebagai dampak pancaran energi Jade yang menyerangku.
Kesadaranku semakin timbul tenggelam ditambah dengan rasa sakit dan nyeri di sekujur tubuhku...
Tapi kenapa gearku tidak meledak? Kenapa gearku masih bisa bertahan setelah menerima serangan sedahsyat itu? Bagaimana mungkin?
Dengan kesadaran semakin memudar dapat kulihat dari kepulan asap sebuah gear lain berdiri diantara gearku dan Jade. Gear itu menghadang serangan Jade padaku, menggantikanku menerima serangan Jade secara langsung.
Gear itu berwarna ungu...Leviathan? Amethys? Kau kah itu?
Gear ungu itu mengembangkan perisai baja berukuran besar berbentuk seperti kelopak bunga mawar yang indah. Kemudian dipadukan dengan energi chi shield untuk tambahan pertahanan dan barier. Pertahanan sempurna yang bahkan dapat menahan serangan energi dan tembakan rudal, bazoka, atau nuklir.
Gear itu menghampiriku, membantu gearku berdiri, memapah dan membawaku menjauh dari arena pertarugan...Pemandangan terakhir yang kusaksikan sebelum akhirnya semuanya menjadi gelap, aku kehilangan kesadaranku.
..._______#_______...
🌼Yuuuuks gaes PLIIIIS jangan lupa kasih LIKE, VOTE dan KOMEN 🌼