Almekia Kingdom

Almekia Kingdom
78. Zircon - Crazy



"Pada semifinal kedua ini, yang akan bertanding adalah Tuan Zircon di sudut kanan. Dia akan bertarung dengan mengendalikan gear birunya, Fenrir." Wasit memperkenalkan aku dan gearku kepada seluruh penonton. Yang langsung disambut oleh mereka dengan teriakan- teriakan, tepuk tangan dan pekikan-pekikan yang memanggil namaku.


"Penantang dalam pertandingan ini adalah Tuan Simone yang merupakan pemenang tournamen Bloody Hell tahun lalu. Tuan Simone akan bertarung dengan mengendalikan gear warna pinknya, Shiva."


Kali ini wasit memperkenalkan Simone dan gear pink noraknya kepada seluruh penonton yang disambut dengan jauh lebih meriah oleh teriakan-teriakan, tepuk tangan, yel-yel yang memanggil namanya, dan berbagai bunyi-bunyian heboh lainnya.


'Sekali lagi aku menjadi peserta yang tidak difavoritkan ya? Menarik.'


"Baiklah apa kalian berdua siap?"


"READY? ... GOOOOO!!!"


Wasit pertandingan menanyakan kesiapan kami. Lanjut memberi aba-aba dan menembakkan pistol sebagai tanda dimulainya pertandingan.


Simone langsung melemparkan kedua cakram kembarnya ke udara begitu pertandingan dimulai. Kedua senjata itu langsung mengejar dan mengincarku, mengikutiku kemanapun aku bergerak dan menghindar. Seakan kedua cakram itu mempunyai mata sendiri untuk mengincarku.


Kuterbangkan gearku kesegala penjuru arena untuk menghindari kejaran liar kedua cakram itu. Sesekali kuarahkan dan kutembakkan pistolku ke tubuh gear Simone yang mengontrol gerakan cakramnya dari jauh. Mencoba mengalihkan perhatiannya atau menghentikan serangannya padaku.


Sial dia benar-benar pengguna cakram yang hebat. Benar-benar berbeda jauh dengan Valerie yang bahkan tak tahu cara menggunakan kedua cakramnya.


Dapat kulihat Simone mengerahkan energi di tangan kanannya. Sepertinya dia akan menggunakan serangan chi. Akupun bersiap menahan serangan energi itu dengan membentuk barier shield dari udara mengelilingi gearku.


Tembakan energi dilepaskan oleh Simone dari telapak tangannya. Serangan yang langsung melaju dan melesat ke arahku dengan kecepatan tinggi. Aku sudha bersiap sedia untuk menahan serangan itu.


Namun keanehan terjadi. Tepat sebelum menabrak barierku, serangan energi itu meledak dengan sendirinya. Hancur menjadi serpihan bunga-bunga api yang indah. Menghujani gearku dengan percikan-percikan bunga apinya yang lembut.


'Eh? dia tidak berniat menyerangku? Dia cuma ingin membuat kembang api?' Aku benar-benar keheranan.


Seluruh penjuru turnamen seketika menjadi heboh dengan teriakan-terikan kagum dan tepuk tangan demi melihat kembang api besar itu. Ada pula yang mengumpat dan memaki karena Simone menyia-nyiakan kesempatan untuk menyerangku. Malah bermain-main dengan kembang apinya.


'Dasar pria sinting, dia niat bertarung gak si?'


Simone selanjutnya mengerahkan chi api dan menggabungkannya dengan kedua cakramnya. Membuat kedua cakramnya nampak semakin menyeramkan dengan kobaran api disekitarnya. Seakan siap membakar apa saja yang dilewatinya.


Kemudian setelah semua energinya terkumpul, Simone melemparkan cakramnya itu ke arahku. Kedua cakram itu mengelilingiku dan berputar-putar dalam satu pattern tetap. Sehingga membuat bentukan api berkobar dari jalur yang dilaluinya.


Aku diam saja di tempatku, menunggu dengan siap siaga mangantisipasi serangan yang akan dilakukannya. Tapi setelah beberapa saat kusadari kedua cakram itu hanya berputar-putar mengelilingi tubuh gearku.


Ternyata lagi-lagi Simone tidak menyerang atau melukaiku, hanya mengurung tubuhku dalam kobaran api yang panas membara. Kuamati bentukan api yang berkobar mengelilingi tubuhku ini, berbentuk mirip seperti hati, love pattern...


"What the..." aku tak habis pikir dibuatnya.


'Bisa-bisanya dia berbuat begitu dalam pertandingan? Apa lagi coba kalau bukan orang sinting?'


"Gila! Pria ini benar-benar sinting," gumanku gregetan.


Kukerahkan energiku membentuk chi api juga dan kugabungkan dengan senapanku. Kusatukan kedua senapanku menjadi satu untuk memperkuat efek tembakannya. Kulayangkan tembakkan bersamaan dengan membidik bagian dada gear Simone.


Kedua peluruku melaju dengan sangat cepat kearah dada gear Simone tapi entah bagaimana dia dapat menghindarinya begitu saja. Gear itu seakan dapat bergerak lebih cepat dari kecepatan peluruku.


Sambil terus menghindari kejaran peluruku, gear Simone meliuk-liuk dengan lincahnya. Dan tanpa kusadari gear itu tahu-tahu sudah berada tepat berdiri di depanku saja. Gear pink itu seakan tak membuang waktu, dia menendangku saat jarak kami sudah cukup dekat.


Tendangan yang mampu membuatku terlempar dan terhempas beberapa meter dari tempat awalku berdiri. Gear pink Simone tak menyia-nyiakan kesempatan itu untuk kembali menerjang gearku. Sekali lagi dikerahkannya energi di tangan kanan gearnya. Kemudian dia menerjangku sambil mengacungkan tinjunya dengan tangan yang sudah dipenuhi energi.


Sial, posisiku benar-benar buruk saat ini. Tak akan dapat untuk menghindari dan menahan serangan ini. Kupejamkan mataku rapat-rapat untuk bersiap menerima ledakan energi yang akan menghantam tubuhku. Menerima serangannya secara langsung.


"Duaaarrrr....Blaaaarrr!!"


'Eh? tapi kenapa aku tak merasakan apa-apa?'


Tak ada guncangan, getaran atau apapun yang kurasakan sebagai dampak dari ledakan energi itu. Tak ada pula rasa sakit atau damage yang diterima oleh gearku akibat serangan barusan. Perlahan kubuka mataku dan kudapati kepalan tinju yang dilayangkan Simone padaku berhenti hanya dalam jaral setengah meter dari dadaku.


Kumpulan energi itu meledak disana, bukan meledak sebagai serangan yang dahsyat. Tetapi sekali lagi energi itu berubah menjadi kembang api yang besar melesat dan meledak di udara diatas kami.


Kuamati keadaan di atas gear kami. Dapat kulihat suatu ledakan bunga api yang membentuk suatu pola seperti kelopak bunga mawar yang sedang mekar sempurna. Ukuran kembang api ini bahkan jauh lebih besar daripada yang pertama tadi. Menghiasi langit sore ini dengan kemilau cahayanya yang terlihat samar-samar, Indah sekali.


Seakan belum cukup membuat aku dan seluruh yang hadir di tournamen hall ini ternganga, tercengang dan keheranan. Gear pink Simone mengangkat kedua tangannya dan mengumumkan sesuatu.


"Aku menyerah...Aku tak bisa melukai pria tampan seperti Tuan Zircon." Ujar Simone dengan pengeras suara gearnya sehingga dapat didengar oleh semua orang di segala penjuru arena.


"Huuuuuuu...."


"Apaaaaa?"


"Haaaaah???!"


"Eeeeekkkkhh?"


"What the??"


"Naniiiii?"


Segala pekikan ketidak percayaan, kekecewaan, cemooh dan makin-makian penonton dari segala penjuru arena bergemuruh dengan hebohnya. Banyak yang tidak dapat menerima keputusan Simone untuk menyerah begitu saja. Menyerah bahkan tanpa melakukan perlawanan dan pertandingan dengan serius. Sama sekali tak menunjukkan kemampuannya.


Bagaimana mungkin Simone menyerah begitu saja jika keadaannya masih segar bugar begitu? Yah mungkin mereka yang mencemooh dan mengeluh adalah orang-orang yang sudah bertaruh untuk kemenangan Simone dengan jumlah besar. Mereka yang mengharapkan kemenangannya. Kalah telak dalam taruhan di babak ini.


"Apa anda yakin untuk menyerah, Tuan Simone?" tanya wasit untuk memastikan keputusan Simone.


"Benar. Percuma saja dilanjutkan lagi. Kalaupun aku menang, di final juga harus berhadapan dengan Tuan Jadeku yang lebih tampan... Mana sanggup aku untuk melawannya. Gak kukuuuuh." Jawab Simone dengan nada sinting yang semakin kronis.


"Baiklah jika itu keputusan anda." Sang wasit mendengus pasrah mendengar jawaban Simone.


"Pertandingan semifinal kedua saya nyatakan berakhir. Dengan Tuan Zircon sebagai pemenang dan beliau yang berhak untuk melaju ke babak final besok." Wasit akhirnya mengumumkan kemenanganku.


Pengumpan yang langsung diikuti dengan gemuruh teriakan heboh penonton dengan segala ekspresinya.


"Eeeehhh? Dia menyerah begitu saja?" Gumanku benar-benar tak dapat mengikuti jalan pikiran pria sinting itu. Dasar gila!


Apa-apaan dia itu? Aku bahkan belum bertarung dengan serius melawannya. Bukannya tadi dia ingin pertarungan yang berdarah- darah?


Apa dia sebegitu tidak inginnya menikahi Ruby? Apa dia sebegitu gilanya tak bisa melukai aku dan Jade? Tidak bisa melukai pria berwajah tampan?


Ah sudahlah, hanya Simone dan Tuhan yang tahu alasan dibalik segala kesintingan ini.


Akhirnya kuterbangkan gearku kembali ke hanggar saja daripada terus berdiri di tengah arena yang masih ricuh. Ricuh karena berbagai protes ketidak puasan dari para penonton di segala penjuru. Tetapi tetap saja keputusan wasit tak bisa bersifat mutlak dan tidak bisa diganggu gugat lagi.


Keputusan akan kemenanganku.


..._______#_______...


🌼Yuuuuks gaes PLIIIIS jangan lupa kasih LIKE, VOTE dan KOMEN 🌼