
“Hai jez, akhirnya kau sadar juga.” Ujarku lega saat kulihat Jasper mulai membuka matanya perlahan.
Sahabatku itu kelihatan bingung dan sangat ketakutan. Dia memandangku dengan pandangan sedih, tak berdaya dan putus asa.
“Sudah, istirahatlah dulu. Tenagamu masih belum pulih sepenuhnya.” Kubantu dia duduk bersandar pada bantal-bantal yang telah kutata disandaran ranjangnya.
"Ini? Ini dimana?"
"Di dalam kamar mewahmu di istana."
“Ujianku. Bagaimana ujianku, Opal?” Tanya Jasper semakin kalut dan ketakutan.
“Tak apa-apa, kau sudah berusaha keras.” Jawabku sehalus mungkin padanya.
Bagaimana ini? Aku harus bicara apa padanya? Bagaimana aku bisa menenangkannya dan dapat membuatnya menerima semuanya.
Kenapa bagian menyebalkan begini selalu saja dilimpahkan padaku sih? Bagian menghibur dan memberikan motivasi yang tentunya sangat susah karena berhubungan dengan emosi dan empati.
“Jadi bagaimana akhir pertandinganku? Apa aku kalah?” desak Jasper lebih agresif lagi padaku.
Aku hanya bisa mengangguk sebagai jawaban, kegagalan memang rasanya sangat menyakitkan. Apalagi jika kita sudah berusaha dengan sangat keras sebelumnya.
”Setelah pertemuan ledakan enegi tadi kalian berdua terhempas. Kau pingsan karena dampak ledakan itu, sedangkan Zircon masih sanggup berdiri tegak. Bahkan dia yang menyelamatkanmu dari kobaran api dan ledakan listrik.” Kujelaskan akhir pertandingan yang tidak sempat dia saksikan karena pingsan.
Jasper langsung lemas mendengar jawabku.
“Begini Jez, aku sudah berkali-kali bilang padamu. Sangat wajar jika kau kalah dari Zircon dalam pertarungan gear. Apalagi jika dia memakai senjata lengkap andalannya." Aku mencoba menghiburnya.
"Jangankan kau yang baru mengenal gear beberapa bulan ini. Aku saja belum tentu bisa menang jika harus melawannya yang sedang serius bertarung.”
“Mungkin benar kata ibunda aku memang tidak cocok mengendarai gear."
"Berarti aku harus melepaskan Advandli, padahal aku sangat menyukai gear itu…” ujar Jasper dengan nada sangat pilu, pasrah, putus asa.
“Tapi kau sudah memberikan perlawanan yang sangat bagus. Siapapun yang melihat pertarungan tadi tidak akan menyangka kalau kau masih amatir. Seandainya tidak terkena ledakan tadi mungkin kau masih bisa bertahan."
"Sudahlah, dapat bertahan sejauh ini dari Zircon yang bersungguh-sungguh sudah merupakan prestasi tersendiri bagimu.” aku mencoba terus menghiburnya dengan kata-kata manis.
“Kau memiliki bakat gear yang luar biasa Jez, kau hanya perlu waktu untuk lebih jauh mengasahnya.”
“Buat apa punya bakat kalau toh akhirnya aku tak bisa memiliki ataupun mengendarai private gear?”
“Siapa bilang gak bisa?” Zircon tiba-tiba muncul dari arah balkon dengan tampang cool tanpa dosanya.
Haduh dasar anak itu! Padahal siapa coba yang sudah mengalahkan Jasper? Tambah lagi dia masuk secara illegal begitu, dasar Zircon.
“Zirc, coba kau katakana sesuatu pada Jasper agar dia tidak terus menerus bersedih. Aku sudah kehabisan akal menghadapinya.” Aku meminta bantuan Zircon, siapa tahu dia malah bisa menenangkan Jasper.
“Jangan mimpi bisa ngalahin aku dengan kemampuanmu sekarang Jez. Kecepetan 100 tahun tahu!” Jawab Zircon seenaknya, membuatku menyesal meminta bantuannya.
“Apa kau bilang? Dasar brengsek! Kurang ajar kau!” Jawab Jasper bersungut tapi akhirnya diapun tersenyum mengakui kekalahannya.
“Kali ini aku kalah, tapi lain kali aku akan membalasmu. Pasti! Camkan itu!”
Kemudian keduanya terdiam tak berbicara lagi, hanya berpandangan penuh arti dan bertukar senyum.
Aku lega sekali melihat mereka berdua bisa saling tersenyum lembut seperti itu setelah pertarungan sengit mereka.
“Sekarang bagaimana?” tanyaku pada mereka memulai pembicaraan serius.
“Melihat situasi saat ini rasanya tidak mungkin kita dapat melanjutkan penyelidikan kita lebih jauh lagi. Jasper tidak akan diijinkan memiliki gear bahkan mungkin juga dia tak akan diijinkan mengendalikan private gear lagi seumur hidupnya. Itu artinya kita tak akan bisa ke Bloodyhell”
“Hei kalian tak usah memikirkanku” Jawab Jasper yang jelas sekali terlihat dibuat-buat seriang mungkin.
“Kalian kan bisa pergi tanpaku, pergilah kesana dan temui paman Obsidian. Tanyakan segala kebenaran tentang Ayahanda raja padanya, dan nanti ceritakanlah padaku.” Meskipun berusaha ditutupi, namun kekecewaan Nampak jelas di wajah Jasper. Membuatku frustasi saja melihatnya begitu.
“Enak saja!” sanggah Zircon sekali lagi dengan nada kasarnya.
Duh anak ini memang paling tidak bisa bermulut manis.
“Begini maksud Zircon.” Aku berusaha memperhalus ucapan Zircon.
“Kalau harus pergi tanpamu, buat apa kita, uumm lebih tepatnya kami sampai berbuat sejauh ini? Tanpa bersusah payah pun kami pasti bisa pergi kesana."
"Tapi masalahnya kami ingin kau ikut, Jez! Kami ingin kau melihat dan mendengarnya dengan mata dan telingamu sendiri…”
Jasper sedikit kaget mendengarnya, kemudian dia menunduk sedih demi mendengar perkataanku. “Maafkan aku, karena aku usaha keras kalian menjadi sia-sia” Jawabnya lirih.
“Yang penting sekarang kau ingin pergi ke BloodHell atau tidak?” Tanya Zircon sedikit mendesak, tak mau membuang waktu dengan pembicaraan yang bertele-tele.
“Bagaimana, Jez?”
Jasper terdiam, tak sanggup membalas, dia terlihat sangat bimbang entah apa yang sedang dipikirkannya. Kuputuskan untuk angkat bicara membantu Zircon.
“Jez, maaf jika perkataanku ini akan menyinggungmu. Setelah kami, aku dan Zirc mengevaluasi pertarungan kalian tadi dan berpikir masak-masak tentang ujian ini. Kami jadi berpikir alasan sebenarnya paduka ratu menyuruhmu bertarung melawan salah satu dari kami bertiga dalam duel gear. Tentu saja hal itu dikarenakan kau sudah dapat dipastikan akan kalah, kau tak mungkin menang melawan kami!"
"Ya mungkin beliau sedikit terkejut dengan kemampuanmu yang mampu menahan Zircon sampai sejauh tadi."
"Jadi sejak awal beliau memang tidak berniat memberimu sebuah private gear. Semua latihanmu juga ujianmu hanyalah kamuflase untuk memberikan kesan bahwa beliau sudah memberikan kesempatan padamu tetapi kau gagal.”
Sebenarnya aku tak tega mengatakan hal ini pada Jasper. Tapi mau bagaimana lagi? Paduka ratu sudah keterlaluan kali ini. Dan aku tak bisa membiarkan terus begini. Kami sudah berusaha meminta tes ulang untuk Jasper yang diadakan beberapa bulan lagi. Saat Jasper kira-kira sudah lebih siap daripada sekarang.
Tetapi Paduka Ratu malah menolaknya mentah-mentah bahkan dengan dinginnya beliau akan menghadiahkan Advandli kepada pangeran dari kerajaan sahabat sebagai hadiah diplomasi.
Aku sendiri sampai tak percaya bibi Nefrit yang lemah lembut dan penyayang bisa sekejam ini. Ketakutan dan kebenciannya pada gear mengalahkan segalanya…
“Tidak mungkin! Ibunda ratu bukanlah orang seperti itu!” Protes Jasper dengan suara meninggi, campuran rasa marah, syok dan tidak percaya.
“Sudah terbukti, Jez! Kalau tidak cepat bertindak Advandli jadi milik orang lain lho!” Kali ini kubiarkan Zircon yang menjawab karena aku tak bisa menemukan kata-kata yang tepat.
Walaupun terkesan kasar dan serampangan, jawaban Zircon selalu mengena dihati dan tepat pada inti permasalahan.
“Apa maksudmu jadi milik orang lain?” Tanya Jasper penuh selidik.
“Paduka ratu akan memberikannya kepada pangeran Jack Versalius dari Great Canyon Kingdom sebagai hadiah ulang tahunnya, untuk mempererat hubungan diplomasi dengan kerajaan kita.” Jawabku sedikit pelan untuk sedikit mencegah amarah Jasper.
"Tidak mungkin!" Jasper memprotes ucapanku.
“Sekarang terserah kau, mau pasrah atau melakukan perlawanan?” Tantang Zircon sambil tersenyum sinis penuh tantangan pada Jasper.
“Perlawanan? Perlawanan apa maksud kalian?” Tanya Jasper sedikit curiga.
“Kalau tidak bisa mendapatkan Advandli dengan baik-baik. Kita harus merebutnya dengan cara kasar” Aku sedikit merinding mengatakannya. Seumur hidup aku tak pernah mendapatkan sesuatu dengan cara kasar, tak pernah melakukan kecurangan dalam bentuk apapun.
Tapi saat ini kami benar-benar terjepit, tak ada pilihan lain. Bahkan Zircon yang berharga diri tinggi saja sampai memilih jalan ini, membuang semua gengsinya demi Jasper.
“Percayalah, kami akan membawamu ke BloodyHell” Lanjut Zircon dengan pandangan dan senyumannya padaku dan Jasper bergantian yang seolah mengatakan ‘Boleh-boleh saja kan membalas kecurangannya dengan kecurangan?’
“Tentu saja aku percaya kepada kalian, tapi ini rencana gila! Apa yang akan kalian lakukan? Mencuri dan melarikan gear sebesar itu?” Jasper menggeleng-gelengkan kepalanya tak habis pikir mendengar rencana kami.
“Bukan kami, tapi kita! Kita bertiga yang akan melakukannya…” Aku tak melanjutkan kata-kataku karena suara ketukan dipintu kamar, pengawal pribadi yang memantau Jasper tiap jamnya.
Zircon segera melesat pergi dan kembali bersembunyi di balkon.
“Masuk!” Teriakku berpura-pura memeriksa keadaan Jasper yang juga berpura-pura tertidur.
“Jam 12 malam ini di hanggar,” bisikku selirih mungkin pada Jasper sebelum kedua pengawal pribadinya Dextra dan Sinistra mendekat dan menghampiri kami.
“Pangeran Jasper tidak apa-apa. Dia hanya butuh banyak istirahat, sebaiknya kita tinggalkan dia!” Kusambut mereka sebelum sempat memeriksa dan menyadari Jasper sudah sadar.
Kudahului kedua pengawal itu berjalan menuju pintu dan akhirnya mereka mengikutiku dengan serba salah, tak berani membantahku.
...________#________...
🌼Yuuuuks gaes PLIIIIS jangan lupa kasih LIKE, VOTE dan KOMEN 🌼