
And the Bloddy Hell Tournamen has begin.
Kutarik kedua temanku itu kesudut ruangan, menghindari kerumunan orang yang bertarung dengan ganas dan brutalnya. Kutebaskan pedangku beberapa kali untuk menghalau orang yang mencoba menghalangi jalan atau melukai kami.
"Tetap disini. Jangan terpancing pertarungan tidak penting. Intinya kita harus bertahan selama mungkin, kita harus saling menjaga satu sama lain." Perintahku yang langsung dibalas dengan anggukan mantap oleh Jasper dan Saphir.
Setelah kepergian Opal, keselamatan mereka berdua murni menjadi tanggung jawabku sekarang. Aku harus bisa memimpin dan mengarahkan mereka dalam setiap kejadian. Membuat setiap keputusan yang menjauhkan mereka dari segala bahaya.
Satu jam berlalu, suasana ruangan semakin memanas dan pengap. Teriakan kemenangan, caci maki, cemooh, tawa mengejek dan pekikan kesakitan bercampur menjadi satu.
Bau keringat dan bau darah pun mulai mendominasi di seluruh ruangan. Untuk sementara kami sedikit aman terlindung di sudut ruangan. Kebanyakan para peserta hanya berkutat dan bertarung dengan ganas di tengah arena pertempuran. Bertarung sesuka hati mereka dengan siapapun yang menghadang di hadapannya. Hanya sesekali ada peserta lain yang menyerang kami. Tentu saja dapat dengan mudah kami ringkus dengan serangan kerjasama kami.
Dua jam berlalu, hampir separuh jumlah peserta tumbang, terduduk atau terkapar tak berdaya di lantai. Mengerang kesakitan dengan luka sayat dan memar-memar di sekujur tubuh mereka. Lantai hall sudah mulai memerah ternoda oleh darah mereka.
Sebagian peserta lain yang tersisa meneruskan pertarungan mereka. Beberapa peserta menerapkan cara yang sama dengan kami, mengamati keadaan di sudut ruangan sambil sesekali bertarung apabila ada lawan yang coba mendekat. Cara yang sedikit licik tapi terbukti efisien untuk model pertarungan semacam ini.
Tiga jam berlalu hanya tersisa tiga puluhan peserta yang masih sanggup berdiri, dan kami bertiga adalah diantaranya. Dengan semakin menipisnya jumlah lawan, kami semakin sulit dan tak bisa mengelak lagi menghindari pertarungan.
"Tetap bersama. Kita akan lawan siapapun yang mendekat bersama-sama." Ujarku saat lima orang berwajah bengis mendekati kami, mengayun-ayunkan pedang dan pisau mereka penuh ancaman pada kami.
Saat kelima musuh tadi sudah mendekat, tanpa aba-aba langsung kuterjang dan kuhunuskan pedangku dengan secepat kilat menebas kedua kaki salah satu diantara mereka.
Lawanku itu sangat kaget sehingga tidak sempat menghindar atau melawan. Dia menjerit, mengumpat dan jatuh terduduk dengan kedua kakinya tersayat pedangku. Tak sanggup berdiri lagi.
"Dasar kau bedebah sialan!" Dua orang langsung menyerbuku dengan penuh amarah, berniat membalas perbuatanku pada temannya. Sedangkan dua lainnya masing-masing menghadapi Jasper dan Saphir.
Kuayunkan pedangku untuk menyerang kedua musuhku sambil sesekali mengamati kedua temanku. Sedikit khawatir juga mengingat mereka berdua belum pernah bertarung secara nyata mempertaruhkan nyawa selain latih tanding yang biasa mereka lakukan.
Aku bisa sedikit bernapas lega saat melihat Jasper dapat memojokkan musuhnya dengan mudah. Yah kemampuan berpedangnya memang tak perlu diragukan lagi. Dia bukan amatir untuk ilmu berperang dan bela diri. Karena dia sudah terlatih sejak kecil, tidak seperti ilmu gear yang masih baru baginya.
Sedangkan Saphir gadis itu juga dengan lincahnya dapat menghindari setiap serangan musuh serta sesekali melancarkan serangan balasan.
Kukerahkan sedikit tenaga dalam ditanganku dan kulayangkan tinjuku dengan tangan yang sudah terisi tenaga dalam ke dada salah seorang musuhku. Seranganku membuatnya terpental jatuh dan tak sanggup berdiri lagi. Tinggal satu lagi musuhku, bukan masalah besar jika saja tidak ada gangguan.
Namun entah dari mana datang lagi tiga orang yang mengeroyok kami. Membuatku sedikit kewalahan melawan empat orang sekaligus. Rupanya mereka bersekongkol menjadikan kami target empuk.
Yah mungkin karena mereka melihat kami masih muda dan bertampang baik-baik. Mereka jadi meremehkan kemampuan kami.
Jasper yang telah meringkus lawannya segera bergabung membantuku. Kubiarkan dia melawan salah satu lawanku dan aku meneruskan beradu pedang melawan tiga orang.
Mereka bertiga cukup mahir dalam berpedang, menyulitkanku untuk menyerang dan melukai salah satu dari mereka sambil terus bertahan agar ketiga pedang tajam itu tak mengenai tubuhku.
Tiba-tiba sengatan listrik menghantam salah satu penyerangku dan dapat kulihat salah satu peserta pria dengan dandanan nyentrik melepaskan tembakan chi tadi, membantuku. Dandanan aneh yang membuatnya susah dibedakan gendernya pria atau wanita.
"Hai ganteng, sepertinya kau kewalahan" Ujarnya tersenyum ganjen padaku, memberikan flying kiss padaku, membuatku bergidik merinding saja.
Pria itu memang nyentrik dengan gayanya yang metroseksual, dan terkesan kemayu tapi tak diragukan lagi kemampuan bertarungnya jempolan.
"Tak masalah. Aku lebih senang masuk babak selanjutnya bersama anak-anak manis dan tampan seperti kalian daripada orang-orang jelek ini," jawabnya ringan sambil mengedipkan sebelah matanya padaku.
Selanjutnya selama sisa waktu sampai tenggelamnya matahari kami bertiga tetap berkumpul dan melawan siapapun yang mendekati kami.
Sementara pria nyentrik tadi terus saja berkeliling ke segala penjuru ruangan. Menghajar dan meringkus orang-orang bertampang jelek. Dan menyisakan orang dengan tampang yang enak dilihat. Apa-apaan coba?
Lebih jauh lagi, pria itu memastikan sejumlah hanya ada 11 orang yang akan maju ke babak selanjutnya. Meringkus orang-orang tak dikehendakinya. Siapakah orang itu? Kenapa bisa bertingkah seenaknya begitu? Dan lagi kemampuan bertarungnya sungguh hebat.
Tepat saat matahari tenggelam, layar jam digital di dinding hall menunjukkan angka 00.00. Sirine yang memekakkan telinga kembali berbunyi. Pertanda pertarungan babak pertama telah berakhir. Pintu-pintu besi yang mengurung kami langsung terbuka dan belasan petugas memasuki hall.
Sebagian petugas membantu para peserta yang terluka. Sebagian lain mengumpulkan kami kesebelas orang yang berhasil bertahan. Membawa kami keluar hall dan mengumpulkan kami dalam ruangan lainnya. Menjelaskan peraturan untuk babak selanjutnya.
"Selamat tuan dan nona kalian telah berhasil melalui babak pertama. Babak selanjutnya adalah pertarungan 1 on 1 dengan menggunakan gear. Dan sebelum semifinal, gear yang digunakan akan disediakan oleh panitia. Pertandingan akan dilaksanakan dua hari lagi di arena gear Bloody Hell." Salah seorang panitia menjelaskan pada kami.
"Bagaimana dengan jadwal dan penentuan lawan?" Si pria nyentrik mengajukan pertanyaan.
"Jadwal dan lawan yang akan kalian hadapi akan disampaikan pada hari pertandingan. Yah dikarenakan kami masih harus menggabungkan data dari perwakilan nona Ruby dan tuan Jade. Ada pertanyaan lagi tuan Simone? Semoga anda bisa memenangkan lagi turnamen tahun ini tuan" Lanjutnya membuatku tersadar bahwa orang nyentrik bernama Simone itu adalah pemenang turnamen tahun lalu. Pantas saja dia sangat kuat.
"Hahaha tentu. Tapi aku tak tertarik dengan Ruby. Boleh tuker gak ya nikah dengan Jade aja klo menang? Jade sangat tampan, aku mau aku mauuu." Godanya genit dan membuat kami semua mengernyitkan dahi.
Bagaimana mungkin dia tak tertarik dengan Ruby dan malah memilih Jade yang sesama pria? Dasar sableng.
"Yasudah jika tidak ada pertanyaan lagi. Kalian dipersilahkan bubar dan kita akan bertemu lagi dua hari mendatang," sang panitia tidak menanggapi pertanyaan ngaco dari Simone.
"Hei ganteng, jangan kalah sebelum melawanku lho yah!" Sapanya padaku dengan genit, memberiku ciuman jauh sekali lagi dengan meletakkan jarinya ke bibirnya dan dilemparkan padaku.
Aku hanya tersenyum menjawabnya, Ngeri. Bukan hanya ngeri karena sifat nyentriknya tapi terlebih lagi ngeri membayangkan bagaimana kemampuan bertarungnya yang merupakan juara tahun lalu itu.
"Ayo pulang kembali ke penginapan," buru-buru kugiring Jasper dan Saphir meninggalkan tempat turnamen ini. Kembali ke penginapan kami.
Setelah semua pertarungan tadi aku hanya ingin mandi, makan dan beristirahat sejenak. Membersihkan diriku dari bau darah dan keringat yang bercampur menjadi satu di tubuhku.
Sepertinya Jasper dan Saphir juga berpikiran sama denganku. Mereka berdua nampak kelelahan sehingga hanya mengikutiku ke penginapan dalam diam.
Di satu sisi aku merasa lega, paling tidak kami sudah berhasil melewati babak pertama turnamen ini. Semakin dekat lagi dengan tujuan kami. Yah semoga saja babak-babak selanjutnya dapat kami lalui dengan lancar juga. Paling tidak salah satu dari kami harus bisa melaju sampai masuk final.
Di lain sisi aku juga khawatir memikirkan nasib Jasper dan Saphir yang harus ikut bertarung. Pertarungan berikutnya adalah duel satu lawan satu dengan gear. Aku tak akan bisa membantu jika mereka dalam kesulitan. Bagaimana jika terjadi apa-apa pada mereka?
Untuk pertarungan biasa mungkin aku akan lebih tenang membiarkan Jasper dan Saphir bertarung sendirian. Tapi untuk pertarungan menggunakan gear? Jasper masih sangat amatir, dan Saphir juga belum pernah bertarung sungguhan menggunakan gear.
Aaaarrgggh, memikirnya semakin membuatku cemas saja.
..._________#________...
🌼Yuuuuks gaes PLIIIIS jangan lupa kasih LIKE, VOTE dan KOMEN 🌼