
Tanpa sempat berpikir lagi aku reflek melesat kearah Platina dan gearnya. Tak menghiraukan sususan formasi kami dan prioritas untuk melindungi Jasper.
Jantungku berdegup sangat kencang tak karuan demi memikirkan keadaan dan keselamatan gadisku itu. Apa dia baik-baik saja? Apa dia terluka?
Sialnya belum sampai aku menghampiri Platina dan gearnya, tiba-tiba muncul belasan gear lagi dari dalam pasir. Mereka langsung mengepung dan menyerang kami dengan ganasnya.
Kuelakkan setiap serangan yang diarahkan padaku, sama sekali tak ada niatan untuk membalas, aku hanya ingin secepatnya menghampiri Platina.
Kusabetkan pedangku pada setiap gear musuh yang menghalangi jalanku, terus bergerak dan bergerak sampai kudapati Serpent yang tersungkur di pasir. Kubantu gear itu berdiri dan kuperiksa keadaannya dari ujung kepala sampai kaki.
“Kau tidak apa-apa, Platina?” tanyaku sangat cemas apalagi sambunganku tak kunjung dibalasnya.
"Tina? Kau bisa mendengarku?"
"Jawablah... kumohon..."
“Ehm Kak Opal? Aku tidak apa-apa. Cuma sedikit pusing karena benturan tadi” jawab Platina setelah beberapa saat kemudian akhirnya bisa menjawab sambunganku.
Dapat kulihat dia tersenyum berusaha untuk menenangkanku walaupun dapat kulihat darah segar mengalir disudut keningnya. Warna merah yang sangat kontras dengan kulit putih pucatnya.
Melihat keadaan Platina begitu, dapat kurasakan dadaku berkecamuk dan bergemuruh. Segala amarah memenuhi pikiranku, seakan aku dapat merasakan rasa sakit yang dideritanya puluhan kali lipat.
Tanpa membuang waktu lagi aku dan Platina melibatkan diri dalam pertempuran, membantu teman-teman kami yang sudah sangat terdesak.
Bagaimana tidak? Zircon harus menghadapi 6 gear musuh sendirian, Jasper 3 gear musuh dan Saphir 2 gear musuh serta gear merah pimpinan gerombolan perompak ini. Gear merah sialan yang tadi menembak Platina.
Platina segera mengambil posisi membantu Zircon. Sementara aku membantu Saphir, tujuan utamaku adalah untuk menghajar sang pemimpin yang telah melukai Platina.
Kutembaki gear-gear lain yang mencoba mengganggu jalannya pertarunganku dengan si gear merah. Kupancing gear itu untuk menghadapiku satu lawan satu dan sedikit menjauhi medan pertempuran.
Kutebaskan pedangku, kuayunkan tinjuku, kulancarkan tendanganku, bahkan sesekali kukerahkan serangan combo dan tembakan chi beruntun padanya.
Tapi gear merah itu tetap kokoh tak tergoyahkan. Dia mampu menghindari dan menahan semua seranganku. Entah pilot macam apa yang mengendalikannya. Yang pasti tak dapat dipungkiri kalau dia adalah gear master yang handal. Mungkin selevel denganku atau Zircon, atau bisa lebih.
1 menit, 2 menit, 4 menit, 7 menit berlalu, pertarungan semakin berat dan menyusahkan saja karena banyaknya musuh yang harus kami hadapi. Sangat menguras fuels dan stamina kami semua. Apalagi kami dalam keadaan kelelahan setelah menempuh perjalanan yang sangat jauh.
Zircon sudah berhasil menumbangkan 3 gear musuh sekaligus. Sedangkan jasper, Saphir dan Platina masing-masing meringkus satu gear. Meskipun begitu gear-gear musuh yang tersisa sama sekali tidak mengurangi serangannya malah semakin membabi buta menyerang kami.
'Damn!! Bagaimana ini sebaiknya?'
Kalau diteruskan seperti ini kami pasti akan kalah. Jelas sekali musuh-musuh kami sengaja mengulur waktu, menanti kami lengah atau kehabisan stamina dan fuels. Kupaksakan otakku loading lebih cepat disela-sela pertarunganku dengan gear merah tadi, memikirkan cara teraman agar kami bisa lepas dari kawanan perampok ini.
“Zirc!” Kubuat hubungan dengan Zircon.
“Kau bawalah Jasper, Saphir dan Platina pergi dari sini. Aku akan berusaha menahan mereka di sini. Pergilah secepatnya dan sejauh mungkin karena aku tak akan bisa bertahan terlalu lama menghadapi lawan sebanyak ini,” ujarku cepat-cepat agar Zircon tidak sempat menyelaku.
“Kau gila? Tidak! Kami tak akan meninggalkanmu sendirian disini!” jawabnya marah.
“Jangan naif!” Bantahku dengan nada lebih keras “Kau tahu kan bagaimana posisi kita sekarang? Keselamatan jasper adalah prioritas utama, dia harus sampai ke BloodyHell. Bawa mereka pergi, Zirc!”
“Tapi Opal, kau...”
Sementara itu Zircon yang tahu keputusanku sudah bulat tak dapat membantah lagi. Temanku itu akhirnya siap siaga melindungiku dari setiap serangan yang mengarah padaku.
“Sekarang Zirc! Kutitipkan mereka padamu!” Perintahku padanya sebelum membuat sambungan kepada ketiga gear lainnya
“Semuanya, kita harus mundur dari pertarungan ini. Dalam hitungan ketiga segeralah pacu gear kalian dengan kecepatan maksimal ke arah barat daya. Jangan menoleh ke belakang lagi.” Aku memberikan aba-aba kepada semua temanku.
Jasper, Saphir dan Platina mengangguk siaga sebagai jawaban. Sementara Zircon masih memberikan pandangan tak setuju padaku.
"Satu...dua...tiga...GOOOOO!!!” keempat gear teman-temanku langsung melesat dan meluncur pergi ke arah yang telah ditentukan.
Kuhalangi setiap musuh yang bermaksud mengejar, menghadang atau menyerang mereka. Dan setelah kurasakan keempat gear itu menjauh kukerahkan seluruh tenaga dalamku. Kulepaskan energi chi api super besar yang kira-kira bisa meledak dalam radius 500 meter dariku. Untuk membakar semua gear musuh kawanan perampok itu sekaligus.
Ledakan dahsyat pun terjadi tanpa bisa dielakkan, api panas berkobar-kobar membakar setiap benda yang berada dalam radius seranganku. Seandainya ada seekor sapi disana pasti sudah jadi sapi panggang.
Celakanya diluar dugaan jurus ini menguras terlalu banyak tenagaku, maklum saja, jurus sedahsyat ini sangat jarang digunakan dalam situasi normal. Bisa juga dikarenakan tubuhku yang sudah sangat lelah dan staminaku hampir habis saat melancarkan jurus tadi.
Sekujur tubuhku rasanya lemas dan tak dapat digerakkan. Hydra yang tidak kuset autopilot juga hanya bisa berdiri terdiam bak patung di tengah kobaran api, menyesuaikan kondisi tubuhku.
Alhasil tak dapat terelakkan lagi aku dan gearku juga terkena ledakan api yang kuciptakan sendiri, tak sanggup menghindari kobaran api yang panas menbara. Hanya bisa pasrah menantikan berapa banyak damage yang akan kuterima, atau bahkan mungkin bisa membunuhku.
‘Yah paling tidak aku tidak mati sendirian, belasan perampok tadi juga ikut mati bersamaku’ dalam keputusasaan kucoba menghibur diriku sendiri.
Bagaimana ya keadaan teman-temanku tadi? Semoga saja mereka sudah terbang cukup jauh dari sini. Semoga mereka tidak terkena dampak dari ledakan yang kuciptakan. Semoga mereka berempat bisa sampai Bloodyhell dengan selamat.
Bagaimana keadaan ayah dan ibuku di istana? Bagaimana reaksi mereka mengetahui pelarianku ini? Bagaimana keadaan kakakku? Diamond saja belum sembuh sekarang, tapi aku malah menambah kekhawatirannya.
Entah mengapa pikiranku jadi kemana-mana. Memikirkan orang-orang yang aku cintai nun jauh disana. Tiba-tiba ketakutan besar melandaku, bagaimana jika aku mati? Bagaimana dengan mereka, orang-orang yang kusayangi.
Dapat kurasakan gearku mulai memanas, terbakar, mulai terjadi kerusakan dan kongsleting dimana-mana. Tapi aku masih tetap tak bergeming, membatu. Tak bisa bergerak.
“Kak Opal...Kak Opal...” Sayup-sayup kudengar seseorang memanggil namaku.
“Kak Opal jangan diam saja! Kita harus pergi dari sini!” suara halus yang sangat kukenal itu membuat kesadaranku yang mulai hilang bangkit kembali.
“Tina? Platina?...Kenapa kau disini?” tanyaku kalut.
“Aku kembali begitu menyadari kau tidak ikut kabur bersama kami. Zircon tak mau menjawab saat kutanya kau dimana. Jadi kuputuskan untuk mencarimu sendiri kemari. Aku tak mau pergi tanpamu, Kak Opal. Aku ingin selalu bersamamu.”
Jawabnya membuatku sangat senang sekaligus resah akan nasib kami selanjutnya. Kurasa dia akan lebih aman jika bersama dengan rombongan Zircon. Kenapa dia malah kembali kesini untukku?
Platina membantuku bergerak perlahan melintasi kobaran api, baru beberapa langkah saja kami beranjak gerakan kami kontan terhenti karena perubahan setting yang sangat mendadak. Lautan api yang kuciptakan dengan mengerahkan segenap tenagaku tiba-tiba saja padam.
Berubah menjadi lautan es yang dingin dan membekukan segalanya, bahkan jilatan-jilatan lidah api pun ikut menjadi bongkahan es. Kuamati keadaan sekitarku dan kudapati gear merah tadi masih hidup dan lengannya masih setengah telulur tanda bahwa dialah yang mengeluarkan Chi es untuk memadamkan apiku...
Karena perubahan suhu udara yang terlalu mendadak gearku dan gear platina seakan membeku tak bisa bergerak, kemudian dengan sangat cepat gear merah itu berhasil mendekati kami, dan meringkus kami berdua hingga pingsan.
...__________#__________...
🌼Yuuuuks gaes PLIIIIS jangan lupa kasih LIKE, VOTE dan KOMEN 🌼