Almekia Kingdom

Almekia Kingdom
81. Zircon - Desire



Beberapa saat sudah berlalu setelah pertandingan menyebalkanku dengan Simone berakhir. Pertandingan menyebalkan yang membuat seluruh bulu kudukku berdiri saking gelinya.


Kukembalikan dan kuparkirkan gearku ke hanggar gear tournamen. Kukatakan pada fenrir untuk menganalisa segala kerusakan dan keabnormalan mesin yang mungkin terjadi akibat pertandingan tadi. Sehingga nanti memudahkan aku untuk meminta perbaikan dan maintenance pada teknisi gear turnamen.


Setelahnya aku masih harus menghadiri breafing singkat mengenai pertandingan final besok. Kulangkahkan kakiku keluar hanggar gear dan berakhir di ruang tunggu peserta turnamen.


Ruby, Jade dan beberapa panitia turnamen sudah berkumpul di salah satu sudut ruang saat aku memasuki ruang tunggu dan karantina dari pintu hanggar. Kuhampiri mereka dan memberikan sapaanku, memberitahukan kehadiranku.


"Selamat sore," sapaku pada semua yang hadir.


"Sore tuan Zircon," hanya salah satu panitia tournamen yang menjawab sapaanku.


"Baiklah kedua finalis sudah berkumpul sekarang. Mari kita mulai breafing singkat kita sekarang"


"Pertandingan final besok akan dilaksanakan sore hari. Tepat pukul 4 sore," sang panitia memulai penjelasannya.


"Tuan Jade dan Tuan Zircon diharapkan hadir satu jam sebelum perandingan dimulai"


"Pertandingan besok akan menggunakan private gear yang dipakai pada pertandingan semifinal tadi. Jadi apabila ingin melakukan perbaikan, maintenance atau service silahkan dilakukan sampai batas waktu satu jam sebelum pertandingan," tambahnya. "Apa ada yang perlu ditanyakan?"


"Tidak ada," jawabku.


Jade juga menggelengkan kepalanya sebagai jawabannya.


"Pemenangnya akan langsung menikah denganmu Ruby? Saat itu juga?" Jade melemparkan pertanyaan bukan pada sang panitia melainkan pada Ruby.


"Akan butuh sedikit persiapan ini itu untuk melaksanakan pesta pernikahan. Mungkin beberapa hari setelahnya baru bisa dilaksanakan pestanya" jawab Ruby berusaha terdengar datar.


"Tapi aku tak bisa menunggu lebih lama lagi untuk memilikimu," Jade semakin mendekatkan tubuhnya ke arah Ruby.


"Menangkan dulu pertandingan besok!" Ruby mendorong tubuh Jade menjauh darinya.


Mungkin dia masih trauma dengan tingkah nekat Jade yang menciumnya dengan kasar sebelumnya. Dia tak ingin kejadian itu terulang lagi. Kemudian gadis itu berlalu meninggalkan kami keluar dari ruangan.


"Hahahaha dasar wanita j*lang. Besok kau akan jadi milikku!" Teriak Jade sebelum Ruby sempat keluar dari ruang tunggu ini.


"Dan kau, jangan harap aku akan selembek Simone dalam pertandingan besok. Aku akan membunuhmu!" Jade ganti berbicara padaku, mengancamku dengan senyum sinisnya.


"Jika sudah selesai. Saya permisi juga," pamitku pada Jade dan beberapa orang panitia di hadapanku, tanpa menghiraukan ancaman Jade padaku. Terlalu malas untuk berdebat dengan pria sister compleks gila ini. Aku segera beranjak dari ruangan tunggu, keluar dari pintunya menuju main hall.


Betapa kagetnya aku saat menapakkan kakiku keluar pintu ruang tunggu, seseorang tiba-tiba menyambar sebelah tanganku. Menariknya dan menggiringku untuk berjalan cepat mengikutinya. Dengan sekali lihat aku dapat mengenali sosok yang menarikku itu. Rambut merah panjang itu, tubuh ramping tapi sintal dan berisinya, kulit putihnya, serta pakaian sporty yang dipakainya... Ruby.


Karena tahu Ruby lah yang menggandeng dan menarik tanganku aku sama sekali tak melakukan perlawanan. Pasrah saja mengikutinya mau membawaku kemana.


Langkah kami terhenti di depan sebuah ruangan di bagian terdalam tournamen center ini, Ruby membuka pintunya dan menggiringku masuk kedalam ruangan. Kudapati ruangan ini berupa sebuah kamar yang lengkap dengan perabotan sederhana yang mirip dengan perabotan di penginapan.


Sebuah ranjang double size, almari, sofa, coffe table dan kursi, mungkin ini adalah kamar Ruby di tournamen center ini selama dirinya disibukkan menjadi panitia turnamen.


Ruby menghentikan langkahnya di tengah ruangan, melepaskan pegangan tangannya dari tanganku lalu dia berdiri berhadapan denganku. Dia mendekat dan semakin dekat padaku. Melemparkan pandangannya yang sangat tajam menusuk padaku.


"Tuan Zircon..." Sapanya.


"Ya, nona Ruby."


"Apa kau menyukaiku?" Tanyanya tiba-tiba.


"Iya. Aku suka."


"Hmmmm sepertinya belum," kali ini aku sedikit kebingungan untuk menjawabnya.


Kugaruk kepalaku yang sebenarnya tidak gatal. Aku masih belum tahu perasaanku pada Ruby ini cinta atau apa.


Apakah perasaan ini adalah rasa suka, kagum, cinta atau hanyalah nafsu belaka. Nafsu seorang pria kepada seorang wanita yang cantik dan menarik. Aku masih tak dapat menemukan bagaimana definisi dari kata cinta itu sendiri. Dan aku tak dapat memutuskan aku mencintainya atau tidak.


"Hehe Belum? At least kau tak menjawab dengan kata 'Tidak'. Aku masih bisa membuatmu jatuh cinta padaku" Ruby menyunggingkan senyumnya yang sangat indah.


Dia melangkahkan kakinya semakin mendekatkan tubuhnya padaku, jemari tangan kanannya terulur, mengarah dan meraih wajahku, membelai dan mengelus wajahku dengan sangat halus, lembut dan menggoda. Dahiku, pipiku, hidungku, daguku, diusapnya berulang kali. Terakhir jemarinya berhenti dan bermain main dengan bibirku.


Sial. Apa-apaan ini? Apa yang dilakukannya? Dia merayuku? Dia berusaha menggodaku? Entah mengapa suhu tubuhku tiba-tiba naik, memanas, sangat panas. Jantungku berdebar sangat kencang seakan mau copot rasanya.


Dan sialnya lagi dapat kurasakan adanya sesuatu yang tidak beres dengan tubuhku. Rasanya ada sesuatu yang tegak tapi bukan kebenaran, sesuatu yang menonjol tapi bukan bakat...Gairah membara yang entah darimana datangnya.


Ruby semakin mendekatkan tubuhnya padaku, wajahnya juga semakin mendekat pada wajahku, dekat dan semakin dekat. Jemari tangannya beranjak dan bergerak dari bibirku. Menuju ke leherku, berjalan ke bagian tengkukku, dia mendorong dan mengarahkan wajahku untuk ikut mendekat ke wajahnya.


Dan tanpa dapat dihindari lagi, bibir kami bertemu. Awalnya aku sedikit kaget dengan sensasi lembut dan manis yang menempel di bibirku itu, sensasi yang seakan mampu membakar seluruh tubuhku.


Kupejamkam mataku, entah setan mana yang merasukiku tanpa kusadari kedua tanganku ikut bergerak dengan agresif. Kudapati aku memeluk tubuh Ruby dengan sangat kuat, kurangkul dan kudekap bagian pinggang dan punggung gadis itu.


Kedua bibir kami beradu dan dan bertemu dengan gerakan yang cukup intens, saling menyambut dan membalas satu sama lain. Kedua napas kami sama-sama cepat dan memburu sehingga kami dapat merasakan hembusan napas masing-masing. Detakan jantung kami berdua pun terdengar sangat keras dan bertalu-talu, dalam jarak sedekat itu tentunya kami dapat saling mendengar detak jantung masing-masing.


Sisa-sisa kesadaran dan kewarasanku mengingatkanku untuk menahan diri dari bertindak brutal yang lebih jauh. Aku harus menghentikannya sebelum setan jahat semakin merasuki pikiranku.


Dengan gerakan lembut kulepaskan tautan bibirku dari bibirnya dan kulonggarkan pelukanku padanya. Kuatur kembali napasku yang tidak teratur untuk memasukkan banyak-banyak oksigen ke otaku, untuk membuatku kembali berpikir rasional. Tak kusangka gadis ini, Ruby yang telah merebut ciuman pertamaku...


"Maaf..aku kelewatan," ujarku dengan sangat canggung dan kikuk demi melihat gadis berambut merah yang masih di dekapanku itu.


Ruby terengah-engah mengatur nafasnya yang belum teratur. Dengan wajahnya yang merah padam gadis itu terus menatapku tajam.


Ah sialan! pasti raut wajahku pun tak kalah kacau denganya, wajahku yang terasa panas mendidih pun pasti tak akan kalah merah dengan wajahnya.


Perlahan kulepaskan pelukanku dari tubuh Ruby dan aku berpaling mengalihkan pandanganku darinya. Mencoba mengatur emosiku, meredam gairahku, dan meredakan segala gejolak yang bergemuruh didadaku.


"Tolong aku...Selamatkan aku dari Jade. Dan aku akan menjadi milikmu...Aku akan belajar mencintaimu dan berusaha membuatmu mencintaiku juga." Ucapan Ruby terdengar sangat pilu dengan menekan segala emosi, ego dan perasaannya.


Gadis itu meraih bagian ujung sarung pedangku yang kugantungkan di ikat pinggangku menariknya dan menggenggamnya dengan erat seakan tak mau melepasnya lagi.


"Kumohon apapun yang terjadi, bagaimana pun caranya kalahkan Jade. Menangkan pertandingan final dan jadilah sang juara," kali ini Ruby melepaskan genggamannya dari pedangku. Gadis itu kemudian berlari dan memeluk tubuhku dari belakang.


Dapat kurasakan tubuh gadis itu bergetar, ketakutan dan putus asa di punggungku. Ada sensasi rasa panas dan basah yang mengalir deras membasahi punggungku. Gadis itu menangis, menangis terseduh-seduh dan sesenggukan di punggungku...


"Aku tak mau menikah dengan Jade... Tolong aku...Dia, dia adalah psikopat abnormal," ketakutan Ruby semakin menjadi-jadi dan pelukannya ke tubuhku semakin kencang.


Perlahan kuraih kedua jemarinya yang memelukku. Kugenggam erat kedua jemari itu untuk memberinya kehangatan dan kekuatan.


"Baiklah...Aku akan berusaha..." Jawabku akhirnya.


Aku tak dapat menjanjikan kemenangan dengan pasti karena pertandingan yang belum terjadi. Karena pertarungan melawan Jade pastilah tidak akan mudah. Karena aku tahu benar kekuatanku sendiri.


Aku pun tahu benar kehebatan Jade dari pertandingan-pertandingannya yang sebelumnya. Tapi satu hal yang dapat kujanjikan padanya aku akan berusaha. Aku akam berusaha untuknya. Aku akan berjuang sekuat tenaga untuknya.


..._______#_______...


🌼Yuuuuks gaes PLIIIIS jangan lupa kasih LIKE, VOTE dan KOMEN 🌼