
Setelah memeriksa seluruh kediaman Nightray, Ruby mengajak aku dan Zircon untuk berjalan-jalan ke taman bunga. Untuk apa coba? Untuk memetik bunga beraneka rupa dan warna di taman bunga yang ada di tepi danau keabadian.
Diluar dugaanku, gadis itu ternyata bisa juga bersikap manis. Bukannya dia gadis yang sama yang menculik Opal dan Platina? Bukannya di juga yang meminta tebusan pada istana? Dia juga lah yang sampai bisa memaksa Opal dan Diamond bertarung untuknya.
Tapi sekarang? Melihat sikapnya terhadap Zircon, tak akan ada yang mengira bahwa Ruby pernah melakukan segala hal mengerikan itu. Gadis itu bergelayut manja di tangan Zircon, bergandengan tangan berdua disepanjang taman.
Tingkah yang sangat manis bagaikan lovie dovie yang sedang kasmaran. Membuat aku yang berada di dekat mereka nampak seperti obat nyamuk yang terbakar oleh kemesraan mereka berdua.
Zircon yang biasanya cool juga ternyata bisa bertingkah dan memberikan reaksi menggelikan juga di hadapan Ruby. Temanku itu bahkan rela memetik bunga, menatanya menjadi sebuah buket bunga yang indah dan mempersembahkannya kepada Ruby.
Sungguh pandangan yang ganjil rasanya. Yah Zircon dan bunga, perpaduan yang aneh. Kalau Zircon dan pedang sih sudah biasa hehe.
Memang cinta bisa merubah segalanya, bahkan bisa juga mengubah Zircon yang luar biasa dingin menjadi sehangat itu. Membuatnya lebih banyak tersenyum dan mengeluarkan tatapan ramah. Begitu pula Ruby, aku masih ingat bagaimana raut muka brutal dan keji gadis itu. Kini Ruby bisa menjadi gadis yang manis dan menurut pada Zircon. Apa ini sifat aslinya?
"Jez, sebaiknya kau mencari bunga juga. Yang banyak!" Perintah Ruby padaku yang daritadi keasikan mengamati dua orang itu dan lupa untuk mengisi keranjang bunga yang ada di tanganku.
"Memangnya buat apa harus mengumpulkan bunga banyak-banyak?" Tanyaku sambil mulai memetik bunga-bunga di depanku yang bermekaran.
"Untuk menjenguk ibuku," jawab Ruby singkat.
Aku tahu bahwa ibu Ruby sudah tiada. Jika gadis itu mengatakan akan menjenguk ibunya, berarti dia akan mengajak kami berziarah ke makam ibunya. Mungkin dia ingin mengenalkan Zircon, tunangannya kepada ibunya. Lebih tepatnya kepada pusara ibunya.
"Apa segini sudah cukup?" Tanya Zircon setelah mengisi hampir penuh keranjang bunga di tanganya.
"Kurasa sudah cukup, makasih ya sayang." Jawab Ruby sambil tersenyum manis. Zircon tersenyum kegirangan mendapat panggilan sayang darinya.
"Mari kita kesana." Ajak Ruby kepadaku dan Zircon sekaligus. Tak mempermasalahkan keranjang ku yang terisi bunga tak sampai separuhnya.
Ruby sekali lagi menggandeng tangan Zircon, mereka berjalan beriringan dengan mesranya. Dan sekali lagi aku hanya bisa mengelus dada, memupuk segala kesabaranku demi melihat mereka yang terus saja pamer kemesraan di depanku. Menjadi orang ketiga ternyata tidak semudah itu untuk dijalani hehe.
Kami bertiga berjalan menyusuri tepian danau. Sampai melewati kuil kecil sakral tempat pernikahan abadi. Kami masih terus berjalan sampai di komplek pemakaman yang terbentang luas di belakang kuil.
Batu-batu nisan dan moloseum tertata rapi disana. Berjajar dengan teratur dengan jalan setapak memisahkan setiap barisannya.
Ruby mengajak kami berjalan ke bagian terdalam makam. Moloseum di bagian ini tertata dengan jarak yang agak jauh satu sama lainnya. Bangunannya pun terlihat mewah mencerminkan status orang-orang yang terkubur di dalamnya. Taman-taman kecil ditata apik diantara moloseum satu dan dan yang lainnya.
Kami berhenti di sebuah moloseum besar yang yang berbentuk seperti kubah dengan patung berbentuk bunga tulip diatasnya. Di tembok mouloseum terukir indah sebuah rangkaian tulisan:
*Disini telah tertidur dengan tenang
Alexandrite Brenda Nightray
Wanita yang penuh cinta dan kasih semasa hidupnya. Senyumannya akan selalu terkenang dalam hati dan ingatan kekasih yang akan selalu mencintainya.
Obsidian Nightray*
"Ayah bilang ibu sangat menyukai bunga tulip. Karena itu ayah membuatkan bunga tulip itu diatas nisannya." Ruby mendekati mouloseum ibunya. Mengusap lembut permukaan batu yang terbuat dari granite itu.
"Ibu aku Ruby. Aku datang mengunjungimu setelah sekian lama, bu." Ujar Ruby dengan mata yang tampak berkaca-kaca sambil terus membelai lembut batu itu.
"Bu kali ini Ruby tidak datang sendirian. Ruby sudah bertunangan bu. Kenalkan ini Zircon, tunangan Ruby..." Ruby mengajak Zircon untuk mendekat ke moloseum ibunya itu. Memperkenalkan kepada ibunya.
"Halo nyonya Nightray," sapa Zircon. Dia Kelihatan sangat kikuk sedikit bingung harus bagaimana untuk menyapa sebuah buatu nisan.
"Saya Zircon, tunangan Ruby. Anda tak usah khawatir lagi, nyonya. Saya yang selanjutnya akan menjaga dan membahagiakan putri anda mulai sekarang." Zircon melanjutnya dengan kata-kata yang menyentuh dan sangat meyakinkan layaknya seorang gentleman.
Mau tak mau aku jadi keheranan melihatnya. Bisa juga Zircon berkata demikian di depan calon mertuanya. Apa karena dia sedang tidak berbicara dengan manusia melainkan dengan batu nisan sehingga dia bisa berbicara dengan selancar dan se-cool itu? Tentunya karena batu nisan tidak bisa membalas atau memprotes bahkan menolak dirinya kan?
Kemudian Ruby menaburkan bunga dari keranjang yang dibawa oleh Zircon. Semua bunga dalam keranjang itu ditumpahkan dan dihabiskan untuk mengelilingi bagian bawah moloseum. Buket bunga bikinan Zircon juga diletakkannya di atas batu, tepat disebelah patung berbentuk bunga tulip tadi.
"Aku pergi dulu ya bu. Lain kali aku akan datang lagi menemuimu." Pamit Ruby sambil membelai batu nisan itu dengan lembut untuk terakhir kalinya.
"Lain kali kita akan datang dengan jumlah personil yang bertambah." Zircon manambahkan.
"Apa? Apa maksudmu?" Ruby bertanya dengan panik.
Sementara aku sudah cekikikan melihat mereka. Personil nambah? Siapa? Anak kalian? Kau sudah kebelet nikah dan punya anak, Zirc?
"Hmmm maksudku kita bisa mengajak teman-teman untuk ikut menyapa ibumu kan?" Zircon menjawab dengan tidak punya dosa.
Oh jadi dia mikir begitu? Yah gak kaget si dari Zircon.
"Hahahaha, kau benar Zirc. Kapan-kapan kita semua bisa berkunjung lagi " Aku tak bisa menahan tawaku demi melihat wajah polos Zircon dan wajah kecele Ruby. Lucu sekali.
"Jez, sapa ibuku juga!" Pinta Ruby padaku dengan nada kesal. Sepertinya tidak suka mendengar tawaku. Melihatku tertawa diatas rasa malunya hehe.
Ruby mengambil keranjang bunga dari tanganku, tetapi tak ditaburkannya ke makam itu. Mungkin karena sudah terlalu banyak bunga disana.
"Halo nyonya Nightray. Saya Jasper, teman Zircon dan Ruby putri anda. Saya sudah mengenal Zircon dan tumbuh bersama dengannya sejak kecil. Karena itu, saya bisa menjamin bahwa Zircon teman saya ini adalah pria yang baik yang pasti dapat menjaga dan membahagiakan putri anda." Sapaku sekaligus mempromosikan Zircon kepada makam calon mertuanya. Dan benar-benar aneh rasanya ngomong sama benda mati begini.
Sementara Zircon dan Ruby tersenyum puas dengan sapaanku pada batu nisan itu. Mungkin mereka tak mengira aku akan memuji Zircon di depan sebuah batu nisan. Batu nisan calon mertuanya.
Kuedarkan pandanganku kesekitar pemakaman dan pandanganku tertuju pada satu lahan kosong tepat disebelah mouloseum ibu Ruby.
"Kenapa ada lahan kosong di sebelah makam ibumu?" tanyaku penasaran pada Ruby.
"Apa tempat kosong itu sudah dipesan oleh ayahmu?" Zircon menebak-nebak alasan yang memungkinkan.
"Iya. Ayah sudah memesannya dihari ibuku meninggal dunia. Ayah ingin saat dirinya wafat nanti untuk dimakamkan disini, tepat bersebelahan dengan makam ibu." Ruby menjawab dengan sedih. Mungkin tak ingin membayangkan ayahnya meninggal dan dikuburkan di tempat ini.
Aku tertegun mendengar penjelasannya. Mau tak mau aku jadi membayangkan ibundaku yang berada di posisi sama dengan ayah Ruby. Terikat dengan cinta sejatinya dengan almarhum ayahanda.
Apakah ibundaku juga sudah memesan makamnya disebelah makam ayahanda juga? Dimanakah makam ayahandaku berada? Dimanakah tubuh beliau disemayamkan untuk terakhir kalinya?
"Jes? Kamu kenapa?" Zircon bertanya dengan khawatir melihatku diam saja seperti melamun.
"Aku cuma kepikiran dimana kira-kira makam ayahanda raja." Jawabku padanya.
"Makam ayahmu?" Ruby tiba-tiba menyeletuk.
"Tunggu dulu, ayahku kalau pergi ke cemetery ini selalu membawa dua buket bunga. Dia bilang satu untuk isterinya dan satu lagi untuk saudaranya." Ruby berusaha mengingat-ingat kebiasaan ayahnya saat mengunjungi pemakaman.
"Saudara? Apa ayahmu memiliki saudara?" tanyaku antusias dengan siapakah saudara paman Obsidian.
"Jasper...nama saudara ayah adalah Jasper."
"Jasper?...don't tell me." Zircon kaget sekali mendengar jawaban Ruby dan aku hanya bisa ternganga takjub.
'Kaulah itu ayahanda Raja? Kaulah Jasper yang dimaksud oleh Ruby?'
..._______#_______...
🌼Yuuuuks gaes PLIIIIS jangan lupa kasih LIKE, VOTE dan KOMEN 🌼