
Sudah beberapa hari berlalu sejak turnamen Bloody Hell berakhir. Kami semua telah pindah dari daerah perifer yang kumuh menuju daerah middle part kota Bloody Hell yang lebih bersih, tertata dan teratur.
Setelah kemenangan Zircon dan Diamond otomatis kami mendapatkan fasilitas dua buah rumah yang dapat kami tempati. Kami pun membagi penghuni rumah itu agar dapat tinggal dengan nyaman. Aku dan Kak Amethys ikut menetap di rumah Diamond. Sementara Opal, Saphir dan Platina tinggal di rumah Zircon yang lebih besar.
Pembagian ini berdasarkan jumlah kamar yang memang cuma ada dua per rumah. Jadi kami mengatur agar dapat berpasang-pasangan tidurnya untuk keamanan dan kenyaman kami semua. Aku mendapat kamar bersama Diamond, sementara Kak amethys sendirian. Saphir akan tidur bersama Platina sementra Opal akan tidur sekamar dengan Zircon.
Untuk para pemenang turnamen masih diharuskan mengikuti beberapa kegiatan ramah tamah atau pertemuan-pertemuan yang tidak jelas setiap harinya. Ditambah lagi promo tour atau apalah untuk keperluan promosi produk-produk sponsor turnamen.
Sedangkan kami sisanya, orang-orang tidak berkepentingan resmi menjadi pengangguran banyak acara. Kami memanfaatkan sebagian besar waktu untuk berkeliling kota, mencari-cari informasi keberadaan Paman Obsidian yang bahkan sampai saat ini belum juga dapat kami temui.
Zircon bahkan sudah mencoba bertanya secara pribadi pada Ruby dimana ayahnya. Zircon beralasan ingin meminta ijin dan restu dari ayah Ruby untuk melamarnya secara resmi. Bahkan lebih jauh untuk dapat menikahi gadis itu. Tetapi bahkan Ruby sendiri pun tak tahu dimana keberadaan ayahnya itu.
Dan keanehan lainnya yang terjadi adalah Paman Obsidian bahkan dikatakan telah menghilang dari kota Bloody Hell sebelum perayaan natal tahun lalu. Kemana beliau pergi bahkan tanpa memberitahu pada Ruby yang putrinya sendiri?
Keanehan lainnya, setelah malam penerimaan hadiah bagi pemenang Jade ikut menghilang. Padahal dia adalah harapan kedua kami untuk bertanya dimana keberadaan Paman Obsidian. Tapi pria itu malah menghilang seolah ditelan bumi begitu saja.
Jade tiba-tiba saja pergi dari Bloody Hell bersama gearnya bahkan tanpa pamit dan mengucapkan sepatah katapun pada Ruby. Mungkin dia masih terlalu canggung dengan adiknya itu setelah apa yang terjadi diantara mereka berdua. Setelah tingkah sombong dan belagunya pada Ruby dan yang lainnya.
Hari ini aku memanfaatkan waktuku untuk jalan-jalan keliling midle part wilayah ini. Dan seperti biasa Saphir juga selalu ikut menemaniku kemanapun aku pergi. Seakan tak ingin menyia-nyiakan waktu kebersamaan dalam kebebasan kami diluar istana yang memang tinggal sebentar lagi.
Yah beberapa hari lagi rombongan para wanita akan berangkat meninggalkan Bloody Hell ini untuk menuju ke West Line, markas Diamond. Selanjutknya mereka akan dijemput dan kembali ke istana Almekia Kingdom yang aman. Sesuai dengan rencana yang sudah kami sepakati bersama sebelumnya.
At least kami, para pria yang akan meneruskan pencarian akan merasa tenang. Serta tidak kepikiran dengan keadaan dan keselamatan mereka semua.
Keadaan Midlle Part benar-benar berbeda dengan daerah Perifer Bloody Hell. Disini jalanan kota ditata teratur dengan paving-paving yang terbuat dari bebatuan berukuran besar yang dipotong sama besar dan ditata membentuk jalanan yang tertata apik. Bukan tanah padang pasir tandus seperti di daerah pinggiran yang kumuh.
Rumah-rumah disini didominasi oleh warna putih. Rumah-rumah yang didesain dengan bentuk yang hampir sama. Dengan atap bulat berbentuk seperti kubah-kubah. Jendela-jendela lebar yang bahkan tanpa daun jendela menghiasi berbagai sisi bangunan. Memudahkan sirkulasi udara di daerah panas ini.
Diluar dugaanku, daerah ini tak setandus daerah padang pasir lainnya. Bahkan disekeliling middle part banyak ditemui pepohonan rindang, pohon khas padang pasir dari marga palm fruit. Beberapa tumbuhan kecil dan bebungaan juga ditata apik untuk sekedar menghijaukan kota ini.
Tak akan ada yang mengira kalau disini masih tempat yang sama dengan bagian perifer Bloody Hell yang kumuh, kotor dan bobrok.
Aku dan Saphir berjalan beriringan berdua sambil bergandengan tangan. Menyusuri area perumahan, terus dan terus berjalan ke tengah kota yang semakin sepi dan minim bangunan.
"Jez liat itu. Aneh sekali ada danau di daerah gurun pasir begini." Celetuk Saphir padaku saat kamu melewati akhir dari kawasan rumah-rumah penduduk.
Deretan pemukiman itu berakhir dengan sebuah danau yang cukup besar disana, Oase. Danau yang cukup dalam dengan air yang sangat jernih di dalamnya. Pemandangan yang jarang sekali dapat kami lihat.
Aku mengajak Saphir berkeliling mengitari danau itu. Dapat kulihat sebuah bangunan kecil berbentuk seperti kuil di tepi danau. Tunggu dulu! Sepertinya aku pernah melihatnya. Sepertinya aku bahkan pernah berada di kuil itu. Tapi dimana?
... Kali ini kudapati diriku berada di dalam sebuah kuil mungil namun indah di tepi sebuah danau. Danau yang sangat besar dengan airnya yang jernih serta pohon-pohon besar mengelilinginya. Kuil ini terasa asing gaya arsitekturnya, sepertinya bukan dari kerajaan Almekia saja. Tapi tak dapat dihindari kesan sakral dan damai dapat terasa disana.
Kuil itu dihiasi dengan dengan berbagai macam bunga hidup yang indah dengan berbagai warna, pita-pita berwarna merah, pink dan putih serta segala pernak-pernik pesta yang sangat meriah. Pemandangan yang biasa ada dalam sebuah pesta pernikahan. Pernikahan siapakah ini?
Ditengah altar dapat kulihat mempelai wanita dengan gaun pengantin putihnya yang melebar di bagian bawah. Ibunda Ratu terlihat sangat cantik dan menakjubkan dalam balutan gaun pengantin putihnya. Wajahnya memancarkan rona bahagia dan senyuman penuh cinta dan rasa syukur.
Disamping ibunda Ratu, berdirilah seorang pria berambut pirang yang berkali-kali menyelamatkan nyawanya. Pria itu juga menggenakan baju pengantin, setelan tuxedo putih yang membuatnya terlihat semakin tampan dan bersinar.
Sang mempelai pria menyematkan sebuah cincin berlian ke jari manis ibunda, keduanya tersenyum dan berpandangan penuh arti sebelum berciuman penuh kasih. Para paman dan bibi serta beberapa mentri yang kukenal hadir disana, dengan wajah mereka yang tampak lebih muda dari yang kukenal. Semua yang hadir bersorak dan bertepuk tangan, berbahagia menyambut kedua pengantin baru itu...
Deg!! Jantungku seakan berhenti saat sekelebat ingatan hadir didalam kepalaku. Benar saja, ini adalah kuil yang kulihat di dalam mimpiku waktu itu. Kuil tempat ibunda ratu dan ayahanda raja melangsungkan upacara pernikahan mereka yang suci.
Jadi, kedua orang tuaku pernah tinggal disini? di kota ini? bahkan di bagian Middle Part ini?
"Jez? Jasper kamu kenapa?" Tanya Saphir dengan nada panik sambil menepuk-nepuk ringan kedua pipiku dengan telapak tangannya. Mungkin dia mengkhawatirkanku yang terlihat bengong daritadi.
"Eh?" Aku kaget dan terkesiap menyadari wajah Saphir yang tiba-tiba sudah sangat dekat dengan wajahku.
"Kuil ini...adalah kuil tempat ayahanda dan ibunda menikah. Entah berapa tahun yang lalu. Aku, aku melihat mereka berjalan melewati altar di kuil ini. Mereka berjanji dan mengikrarkan janji suci dalam ikatan pernikahan disini." Jawabku sambil berusaha mengingat-ingat lagi rincian mimpiku waktu itu.
Saphir sangat kaget dan tercengang mendengar jawabanku. Mungkin dia menganggapku agak sinting. Atau mungkin mengigau di siang bolong begini. Karena memang yang kukatakan adalah hal tidak masuk akal.
Kuajak Saphir berjalan menyusuri kuil, mengamatinya lekat-lekat. Bentuk dan desain bangunan kuil ini sama persis dengan yang ada di mimpiku. Semakin membuatku yakin bahwa ini adalah kuil itu, kuil sakral tempat pernikahan kedua orang tuaku.
Seorang biarawati wanita keluar dari salah satu ruangan kuil dan menghampiri kami. Dia masih cukup muda, tetapi wajahnya sudah dapat menunjukkan ketenangan spiritual yang dimilikinya. Orang suci yang tidak memikirkan tentang segala hal duniawi, hanya mengabdikan dirinya kepada Tuhan atau Dewa yang dipercayainya. Dia sedikit heran melihat kedatanganku dan Saphir.
"Maaf tuan dan nona, kalian berdua datang kemari untuk apa? Apakah ingin mendaftarakan pernikahan kalian?" tanyanya sopan kepada kami.
"Per, pernikahan?" Aku dan Saphir langsung salah tingkah mendengar pertanyaan dari biarawati itu. Menikah? Yang benar saja. Kami berdua masih terlalu muda untuk itu. Kami bahkan. belum genap berusia dua puluh tahun bagaimana mungkin dapat memikirkan sebuah pernikahan?
..._______#_______...
🌼Yuuuuks gaes PLIIIIS jangan lupa kasih LIKE, VOTE dan KOMEN 🌼