Almekia Kingdom

Almekia Kingdom
62. Zircon - Ruby



Pertandingan yang akan berlangsung selanjutnya adlaah pertandingan antara perwakilan Ruby yang kedua melawan Yuna. Gadis yang dipanggil yuna itu berjalan santai menuju panitia di perbatasan hanggar gear begitu namanya dipanggil.


Tak lama kemudian dari layar ruang tunggu dapat kulihat gear biru yang dipakai perwakilan Ruby kedua berhadapan dengan gear putih yang dikemudikan oleh Yuna di arena pertandingan.


Ketika keduanya telah diperkenalkan dan menyatakan siap wasit pun segera memulai pertandingan. Gear biru tetap diam ditempatnya sementara gear putih Yuna menyerangnya dengan serangan yang bertubi-tubi dan membabi buta.


Namun ternyata diluar dugaan, gear biru itu bisa menangkis semua serangan Yuna. Ah gaya bertarung itu, aku semakin yakin bahwa perwakilan Ruby yang kedua ini adalah Opal.


Dia memang tipe petarung yang tidak agresif, dia lebih suka bertahan, mengamati kemampuan dan kelemahan lawan terlebih dahulu sebelum akhirnya menyerang balik. Dia akan memikirkan masak-masak dulu serangan macam apa yang paling efektif untuk digunakan melawan musuhnya.


Entahlah kadang aku juga tidak bisa mengikuti jalan pikiran Opal yang rumit. Dia terlalu pintar dan terlalu memikirkan segala sesuatu sebelum bertindak. Bahkan kadang sesuatu yang tidak penting juga.


Setelah beberapa menit berlalu akhirnya gear biru Opal dapat meringkus gear putih Yuna. Gemuruh teriakan dan tepuk tangan kembali menggema diseluruh hall. Dasar Opal, harusnya dia dapat mengalahkan Yuna dengan mudah tanpa harus membuang-buang waktu begitu. Dapat kulihat kemampuan Yuna tak begitu hebat, jauh dibawah kemampuan tempur Opal.


Selanjutnya panitia memanggil namaku dan Victor. Seorang pria berbadan sangat kekar mirip beruang grizzy menyunggingkan senyuman mengejek padaku, berjalan bersamaku ke arah hanggar.


"Semangat Zirc kau pasti bisa," teriak Saphir dari belakang. Dan aku mengacungkan jempol sebagai jawaban kepada Saphir. Sedikit malu dengan caranya memberikan semangat yang terlalu heboh.


Kudapati gear berwarna merah menungguku di hanggar bersama seorang petugas. "Ini gearmu, silahkan bersiap," kata petugas itu menyambutku.


Aku mengangguk sebagai jawaban dan segera melompat memasuki kokpid gear merah itu. Yaampun gear ini benar-benar parah, bobrok, dan benar-benar dibawah standart keselamatan.


Entah sudah berapa lama gear ini dipakai bertarung di turnamen ini tanpa dilakukan perbaikan dan pengantian sparepartnya yang rusak. Gear ini seharusnya sudah menjadi barang rongsokan, tapi malah masih dipakai untuk bertarung begini.


Kunyalakan komputernya dan kudapati kenyataan gear ini begitu lambat merespon perintah. Bahkan layar komputer di depanku sudah sangat buram layarnya. Setelah mengatur beberapa tombol dalam kokpid gear segera kupacu gear merah ini keluar hanggar dan mendarat di tengah arena.


Tak lama kemudian Victor mendaratkan gear hijaunya di hadapanku. Wasit menanyakan kesiapan kami sebelum akhirnya menyatakan pertandingan dimulai. Lawanku itu langsung menerjang dengan ganas, mengayun-ayunkan gada super berat yang menjadi senjatanya.


Kubelokkan gearku ke kanan dan ke kiri untuk menghindari serangan itu. Kumanfaatkan momentum saat dia berhenti sebentar. Mengingat senjatanya sangat berat, dia pasti membutuhkan sedikit waktu untuk memperbaiki posisinya.


Kugerakkan gearku kebelakang gear Victor, kutendang dia hingga terpental beberapa meter di depanku. Dia berusaha berdiri, tapi sebelum dia memberbaiki posisinya aku sudah menerjangnya dan kutusukkan pedangku ke dada gear itu.


Terjadi kongsleting pada gear lawanku sebelum akhirnya dia menyatakan menyerah dan wasit mengumumkan kemenangan untukku. Dapat kudengar sorakan teriakan dan dan tepuk tangan penonton menyambut kemenanganku.


Aku kembali memarkir gearku ke hanggar. Keluar dari gear itu dan berjalan santai keluar hanggar menuju tunggu. Kuhampiri Jasper dan Saphir yang sudah menungguku dengan senyuman lebar.


"Yay, kita bertiga berhasil lolos semua Zirc," Saphir melompat kegirangan. Dia bahkan lebih jauh memeluk aku dan Jasper sekaligus saking senangnya.


"Yah. Tapi babak selanjutnya akan lebih berbahaya" jawabku sedikit ngeri membayangkan Saphir harus bertanding melawan perwakilan pertama Ruby.


"Udah gak usah dipikirkan yang akan terjadi nanti terjadilah," Saphir tak mau kalah.


"Saphir benar Zirc. Untuk saat ini kita nikmati saja kemenangan kita," Jasper menyetujui ucapan Saphir.


"Boleh nanti kita makan dan minum sepuasnya."


Aku tak membalas atau berkomentar tentang rencana pesta mereka, tak berminat. Aku lebih memilih kembali mengamati pertandingan yang sedang berlangsung dari layar di ruang tunggu ini.


Tak ingin melewatkan siapa yang akan menjadi lawanku selanjutnya. Paling tidak aku bisa sedikit mendapat gambaran sekuat apa musuhku nantinya. Tak beberapa lama pertandingan berakhir dan Valeria berhasil memenangkannya. Berarti aku harus melawannya di babak selanjutnya.


Malam harinya entah mengapa aku tak bisa memejamkan mataku. Bahkan setelah makan dan minum sepuasnya sebagai pesta perayaan pun masih belum bisa membuatku mengantuk. Padahal tubuhku sangat lelah karena seharian tadi kuhabiskan waktu di tournamen hall.


Aku sangat lega dan bersyukur bahwa kami bertiga akhirnya sanggup masuk menjadi delapan besar. Tapi kecemasan lain melanda dan menghantuiku. Ketakutan lain melanda saat memikirkan babak selanjutnya akan diadakan besok lusa.


Bagaimana keadaan Saphir yang harus melawan perwakilan Ruby pertama nantinya? Perwakilan Ruby itu adalah seorang gear master yang sangat tangguh. Saphir tak akan mungkin dapat mengalahkannya. Sudah pasti bakalan kalah telak.


Yang kutahu, jelas sekali dia bukanlah Opal. Bahkan Opal pun tak akan semudah itu menebas dan melumpuhkan sebuah gear lawan dengan sekali ayunan pedang seperti yang dilakukan perwakilan pertama Ruby tadi. Dia levelnya lebih jauh lagi dari Opal, dari level seorang sersan.


Belum lagi Jasper, apa dia akan baik-baik saja nanti saat melawan Jade? Aku memang belum tahu bagaimana kemampuan Jade, tapi yang jelas aku tahu dan terlihat jelas di wajahnya bahwa dia adalah pria yang sangat bengis dan sadis.


Apakah Jasper akan baik-baik saja? Aku tak berharap banyak padanya untuk bisa mengalahkan Jade. Karena sama saja dengan mengharapkan sesuatu yang mustahil. Aku hanya berharap agar dia dapat melewati pertarungan itu dengan selamat. Dapat bertahan hidup saja sudah cukup.


Karena mataku tak kunjung terpejam, kuputuskan untuk jalan-jalan  sebentar mencari udara segar diluar. Mencari sesuatu yang bisa dilihat atau pun hanya sekedar menghabiskan waktu di jalanan kota.


Sekilas kulihat Jasper dan Saphir sudah tertidur pulas di ranjang doble mereka, saling memunggungi dan tidur dengan posisi sangat dipinggir pada  kedua sisi ranjang. Yah mungkin mereka juga  kelelahan setelah seharian aktivitas tadi. Pantas saja bisa tidur sepulas itu, dan tanpa beban? Dasar mereka ini. Mereka bahkan tak mau pusing-pusing memikirkan apa yang mereka hadapi nanti.


Kutinggalkan kamar penginapan kami perlahan agar tidak membangunkan mereka. Kulihat jam dinding di di lobi penginginapan menunjukkan pukul 12.15 malam. Sudah cukup malam, pantas saja tak ada orang sama sekali disana, hanya ada sang resepsionis yang duduk tertidur di mejanya sambil sesekali mengorok keras.


Kususuri jalanan di sekitar Bloody Hell yang semakin suram karena diselimuti gelapnya malam. Kuhirup dalam-dalam udara malam yang dingin, menjernihkan otakku, berjalan dan terus berjalan kususuri kota ini. Berjalan dan terus berjalan tak tentu arah.


Entah bagaimana tanpa kusadari aku telah sampai di tempat aku bertemu dengan si gadis berambut merah beberapa hari yang lalu. Kenapa aku kesini? Apakah alam bawah sadarku yang menuntun langkahku kesini? Kenapa? Apa aku berharap dapat menemukan gadis itu lagi disini? Menemukan Ruby?


Perlahan dan samar-samar dapat kudengar sebuah nyanyian sendu dari arah atasku. Suara sayup-sayup merdu yang terbawa oleh tiupan angin malam.


Kudongakkan kepalaku mencari dari mana asal suara itu. Kontan dapat kurasakan desiran aneh didadaku saat kudapati sesosok tubuh disana. Sosok yang kucari dan kuharapkan untuk bertemu.


Gadis itu mengenakan baju serba hitam malam ini. Dia sedang duduk di salah satu atap bangunan, mendongakkan kepala untuk memandangi bulan purnama yang bersinar terang. Gadis itu bersenandung kecil dan bernyanyi.


Rambut merah panjangnya seakan terbang menari-nari dipermainkan angin malam. Kulit wajahnya yang putih bersih bagaikan marmer semakin bersinar memantulkan cahaya sang rembulan. Canti, sungguh sangat cantik mempesona...Tak salah lagi dia adalah gadis itu, Ruby


..._________#_________...


🌼Yuuuuks gaes PLIIIIS jangan lupa kasih LIKE, VOTE dan KOMEN 🌼