
Setelah pertarungan Jasper yang sangat dahsyat melawan Jade di pertandingan sebelumnya, pertandinganku terpaksa harus diundur beberapa jam. Arena pertandingan benar-benar hancur berantakan karena ledakan dari gear yang dipiloti Jasper tadi.
Serpihan-serpihan dan pecahan tubuh gear itu berserakan di segala penjuru arena. Logam-logam, lempengan besi serta berbagai sparepart yang hangus dan tersisa dari bangkai gear yang meledak itu. Sehingga memaksa panitia turnamen untuk melakukan sedikit perbaikan dan pembersihan arena sebelum memulai pertandingan berikutnya.
Syukurlah, aku lega sekali mengetahui Jasper dapat selamat dan tidak terluka parah. Sungguh beruntung dia selamat setelah melawan Jade yang luar biasa brutal dan tak segan-segan membunuh itu. Untungnya Jasper dapat memutuskan untuk menyerah dan mengakhiri pertarungan mereka di saat yang tepat. Bukan memaksa terus bertarung dan malah membahayakan nyawanya sendiri.
Aku sedikit kaget dan ikut merasa bangga demi mengetahui perkembangan emosional Jasper. Jasper adalah seorang pangeran lugu yang sampai beberapa bulan yang lalu tidak tahu apapun. Hanya kehidupan istana yang aman dan nyaman saja yang dia tahu. Tak tahu bagaimana kerasnya kehidupan diluar istana.
Sekarang dia tiba-tiba sudah dapat membuat keputusan yang tepat dengan mengacuhkan segala rasa gengsi, harga diri dan ego-nya. Sesuatu yang tentu tidak mudah untuk seseorang dengan status seperti dirinya. Seorang pangeran yang bisa mendapat segala keinginannya dengan mudah. Seorang yang selalu dididik untuk menjunjung harga diri.
Dan sekarang? Demi keselamatannya, demi mempertahankan nyawanya Jasper rela mengatakan kata menyerah. Sadar bahwa tak ada yang lebih penting lagi dibanding nyawanya.
Salah seorang pengawal Ruby memintaku untuk mengikutinya berpindah ruangan. Mungkin dia akan membawaku ke ruang tunggu peserta yang langsung terhubung ke hanggar gear arena.
"Aku pergi dulu," pamitku pada Platina yang sedari tadi disekap di ruangan ini bersamaku.
Platina mengangguk dan memberikan senyumannya ringan padaku. Senyuman yang kubutuhkan sebagai menyemangat jiwa dan raga.
"Ya kak, good luck ya Kak Opal." Jawab Platina sambil meraih dan menggenggam tanganku singkat sebelum melepas kepergianku. Kutepuk pelan puncak kepala gadisku itu sebelum meninggalkannya.
Kuikuti pengawal itu berjalan perlahan menyusuri tournamen hall yang penuh sesak. Di sana sudah berkumpul berbagai macam orang yang menonton, bercakap-cakap, bercengkerama atau bertaruh untuk turnamen ini. Pengawal itu membawaku ke salah satu ruangan di bagian terdalam bangunan. Dibukanya salah satu pintu dan dipersilahkan aku untuk masuk.
Kudapati sebuah ruangan dengan sofa-sofa di sepanjang dindingnya, meja-meja berisi makanan dan minuman juga tersedia. Layar besar menempel di salah satu sisi dindingnya untuk menampilkan siaran langsung keadaan di arena pertandingan.
Dari ruanganku disekap tadi juga ada layar serupa tapi lebih kecil ukurannya. Dari layar itulah aku dan Platina bisa mengetahui dan mengamati jalannya pertandingan dari peserta turnamen yang lainnya.
Kuambil dua segelas minuman soda dingin diatas meja, langsung kuteguk dan kuhabiskan segelas. Kuambil juga selembar roti gandum, daging dan beberapa hidangan lain kesebuah piring, untuk mengisi perutku. Sejak tadi pagi sampai tengah hari begini Ruby sama sekali tidak memberi kami makanan dan minuman di ruang penyekapan tadi. Mungkin dia lupa pada kami karena terlalu sibuk untuk mengurusi turnamen ini.
Saat kugigit dan kunikmati rotiku, ada sedikit rasa bersalah pada Platina yang merasukiku. Gadisku itu juga sama lapar dan hausnya denganku dari tadi. Tapi sampai saat ini dia bahkan belum menyentuh makanan sama sekali, dia pasti sangat kelaparan dan kehausan saat ini.
Kuambil tempat duduk di salah satu sofa disudut ruangan untuk menyantap makananku. Bukannya aku tidak setia atau tidak mau berbagi penderitaan dengan Platina dalam masalah ini. Tapi tidak lama lagi aku harus bertarung dengan mengendalikan gear dan tentu saja aku membutuhkan banyak tenaga untuk dapat mengerahkan energi selama pertarungan nanti. Tenaga yang tak akan bisa kukerahkan dengan maksimal jika aku kelaparan.
Percuma saja sok-sokan romantis dan solidaritas menahan lapar bersama. Bukan waktunya untuk itu sekarang. Sekarang aku harus realistis, makan yang banyak, mengisi cadangan energi tubuhku.
Sambil menyantap hidangan di piringku, kuedarkan pandanganku ke seluruh ruangan. Hanya ada beberapa orang di ruangan ini. Dua orang panitia turnamen menjaga pintu ke arah hanggar gear, mereka jugalah yang nantinya bertugas memanggil nama peserta apabila sudah waktunya bertanding.
Kemudian di tengah ruangan dapat kulihat Jade yang sibuk berkutat dengan pisau belati kecil yang tajam dan sebilah kayu ditangannya. Duduk dan sibuk sendiri dengan ditemani rokok dan sebotol minuman keras di mejanya. Entah apa yang sedang dia kerjakan, memahat? dia terlihat sangat serius menekuni kesibukannya itu.
Di sudut lain ruangan yang agak jauh dari tempatku duduk dapat kulihat dua orang lagi penghuni ruang tunggu. Salah satunya berbaring tiduran di sofa dengan lengan menutupi wajahnya dan satu orang lagi duduk di sofa sebelahnya. Kedua orang itu mengenakan cape panjang berwarna gelap yang menutupi wajah dan tubuh mereka. Sehingga aku tak dapat melihat wajah mereka.
Siapakah mereka ini? Kalau melihat dari daftar peserta turnamen sepertinya salah satu dari mereka adalah perwakilan Ruby yang lain selain diriku. Peserta turnamen lainnya yang didapatkan melalui jalur seleksi seperti Zircon, Jasper, dan Saphir tak ada disini. Jadi bisa dipastikan ruang tunggu ini khusus hanya untuk perwakilan Ruby dan Jade saja.
"Opal?" Sapa seseorang padaku.
Aku kaget sekali saat tiba-tiba kurasakan seseorang memanggilku, ya benar kurasakan lebih tepatnya bukan kudengarkan.
Jangan-jangan salah satu dari mereka berdua?
Kupusatkan kembali pandanganku ke arah dua orang diujung ruangan tadi. Salah seorang yang mengenakan cape dengan posisi duduk tadi sedikit mengangkat gelasnya. Kemudian memutar-mutar gelas ditangannya itu sebelum meminum sebagian isinya. Apa benar dia Kak Amethys?
"Kakak?" Jawabku membuka pikiranku lebih luas.
Kulebarkan jangkauan pikiranku agar kakakku bisa masuk ke pikiranku untuk bertelepati lebih lancar. Kakakku juga mempelajari ilmu wishperer sama sepertiku. Walaupun terbatas karena kami bukan tipe wishperer murni, kemampuan ini ternyata sangat berguna terutama untuk situasi darurat seperti sekarang. Untuk berkomunikasi dua arah tanpa diketahui oleh orang lain.
"Bagaimana kakak bisa ada disini? Dengan siapa?" Lanjutku bertanya kepadanya dengan keheranan.
"Aku kesini bersama Diamond..." Kak Amethys lalu menjelaskan padaku soal surat Ruby pada Diamond. Tentang isi surat yang menyatakan telah menawanku dan Platina, serta tentang Ruby meminta Diamond untuk bertarung di turnamen sebagai perwakilannya sebagai salah satu syarat penebusan tawanan. Untuk menyelamatkanku dan Platina.
"Sudah kuduga pasti akan ada sesuatu yang tidak baik saat Ruby mengambil beberapa helai rambut Platina." Kecurigaanku ternyata benar terbukti sekarang.
"Sepertinya Ruby ini gadis yang cukup licik." Kak Amethys mengomentari tentang Ruby.
'Jadi kandidat calon suami Ruby yang lain adalah Diamond?' Semakin ngeri saja aku membayangkan tingkah seenaknya Ruby yang bisa memaksaku dan Diamond sekaligus untuk bertarung dalam turnamen ini. Bertarung memperebutkan dirinya.
"Platina bagaimana keadaannya?" Tanya Kak Amethys kemudian dengan sedikit khawatir.
"Tina baik-baik saja. Sementara ini dia ditawan di ruangan lain di gedung ini. Agar aku mau ikut turnamen sialan ini," jawabku.
Kemudian aku teringat kedaan Diamond yang bahkan masih sangat lemah waktu kami meninggalkan istana. Apa dia sudah sembuh? Tidak mungkin kan luka separah itu bisa sembuh secepat ini? Apalagi dengan darah Solaris ditubuhnya yang sangat alot untuk disembuhkan.
"Bagaimana Diamond? Apa dia bisa bertarung menggunakan gear?" Tanyaku tak bisa membayangkan Diamond yang harus melawan Jade pada pertandingan selanjutnya.
Jade yang tidak akan segan untuk membunuhnya. Dalam keadannya yang biasa aku yakin Diamond dapat mengimbangi bahkan mungkin mengalahkan Jade, tapi dengan keadaanya saat ini...
"Dia tertidur, sepertinya dia sedikit kelelahan." Jawaban Kakakku membuatku sekali lagi mengamati sosok yang berbarimg di sofa tadi.
Benar saja perawakan itu adalah perawakan Diamond, tak salah lagi. "Dia masih dalam masa penyembuhan. Dia tak akan bisa bertahan terlalu lama dalam pertarungan gear," lanjut kakakku dengan nada sangat khawatir.
"Ruby itu adalah putri paman Obsidian kak. Paling tidak aku, Diamond atau Zircon harus memenangkan turnamen ini untuk dapat mendekatinya dan menanyakan keberadaan Paman Obsidian padanya." Kuberitahukan hasil penyelidikanku tentang Ruby, Jade, dan pertemuanku dengan Zircon.
"Aku tidak suka gadis genit dan egois itu." Ujar kakakku dengan nada kesal. Aku tertawa dalam hati, ternyata bisa juga kakakku ini merasa cemburu.
Wajar saja si dia seperti itu, mengingat pemenang turnamen akan menikah dengan Ruby. Wanita mana coba yang rela kekasihnya tiba-tiba harus bertarung bertaruh nyawa tapi kemudian harus menikahi gadis lain begitu memenangkan pertarungan?
..._______#_______...
🌼Yuuuuks gaes PLIIIIS jangan lupa kasih LIKE, VOTE dan KOMEN 🌼