Almekia Kingdom

Almekia Kingdom
67. Opal - Unpredictable



Tepat pukul 14.00 panitia turnamen memanggil namaku untuk ke hanggar gear dan melakukan persiapan. Didalam hanggar telah menantiku gear standart berwarna hijau dengan senjata tombak. Segera kunaiki gear itu, kuperiksa status gear di layar komputer, jurus kombo, fuels dan berbagai perlengkapannya.


Hmmm, gear kali ini tak seburuk gear di putaran sebelumnya. Tak ada kerusakan yang berarti, tak seperti gear di babak sebelumnya yang bahkan beberapa tuas dan handle-nya berkarat. Kuperiksa sensor interna dan eksternal gear juga mampu merespon perintah dengan lumayan cepat. Sepertinya usia gear standart ini belum terlalu tua.


Setelah semua persiapan selesai segera kuterbangkan gearku dari hanggar dan kudaratkan di arena pertandingan. Disana sudah berdiri menantiku sebuah gear berwarna ungu metalik yang dipiloti oleh Simone. Dapat kulihat gear itu membawa cambuk ganda sebagi senjata. Simone ini katanya adalah pemenang turnamen tahun lalu, Pasti kemampuan gearnya tak dapat diremehkan.


Seperti biasa wasit mengenalkan kedua peserta yang akan bertanding. Dan sambutan serta sorakan untukku tentu tak sebanding dengan jumlah sambutan untuk Simone. Wah kalah telak soal pamor sepertinya.


Begitu wasit menyatakan pertandingan dimulai gear ungu Simone langsung melayangkan tarian cambuk yang bertubi-tubi dan membabi-buta padaku. Gerakannya begitu lincah dan indah, hampir mirip seperti gerakan penari atau atlet senam tali.


Tapi dibalik segala keindahan itu, setiap pecutan cambuknya sangat tajam dan berbahaya bahkan mampu membuat retakan besar di lantai arena. Bisa gawat jika salah satu saja cambukan itu sampai mengenai tubuh gearku.


Senjata cambuk memang sangat jarang digunakan. Yah sejauh yang kutahu hanya Jasper dan almarhum paduka raja saja yang memakainya di istana. Baru kusadari ternyata tipe senjata ini bisa sangat mengerikan tergantung keahlian pemakainya. Dan lawanku kali ini, as expected dari pemenang turnamen tahun lalu. Tentu saja kemampuan tempurnya sangat mengerikan bahkan dia bisa memakai senjata seperti whip yang notabene jarang digunakan seperti ini.


Kugerakkan gearku kekanan, kekiri, maju, mundur bahkan sesekali melompat dan menunduk untuk menghindari tarian cambuknya. Selama beberapa menit berlalu pertarungan terus saja begitu, aku sama sekali tak bisa menemukan celah untuk melancarkan serangan padanya. Hanya sibuk meliuk-liuk bergerak kesana kemari menghindari tarian cambuknya.


Aku mundur beberapa langkah mengambil jarak beberapa meter diluar jangkauan cambuknya. Kupaksakan otakku loading lebih cepat, memikirkan bagaimana caranya agar seranganku bisa mengenai gear ungu itu tanpa terhalang oleh tarian cambuknya?


Akhirnya kuputuskan bahwa aku harus bisa menghentikan gerakan cambuk yang menggila itu. Terlebih dahulu harus menyingkirkan kombinasi serangannya agar menyerangnya secara langsung.


Kukerahkan energiku ke tombakku dan kubuat serangan chi es dengan mengayunkan tombakku membelah udara dan terus ke lantai arena. Aliras es dengan cepat menjalar dari ujung tombakku mengikuti arah retakan yang dibuat oleh tombakku. Terus saja merambat ke tubuh gear ungu lawanku. Seranganku berhasil membekukan dan menghentikan gerakan gear ungu itu untuk sementara.


Kumanfaatkan momentum itu untuk mendekat padanya. Kulancarkan serangan mematikan dengan tombakku yang sudah kualiri tenaga dalam, langsung kuarahkan ke dada gear itu tanpa basa basi.


Betapa kagetnya aku saat kudapati barier kasat mata melindungi gear musuhku itu. Hanya lima centi meter dari dada gear itu, serangan tombakku tiba-tiba terhenti. Seakan menabrak tembok kasat mata yang sangat tebal. Kukerahkan seluruh tenagaku, seluruh kekuatanku untuk menekannya, memaksa untuk menjebol barier, tetapi tembok itu terlalu kokoh dan tak bergeming sama sekali.


Dan sekali lagi diluar prediksiku, serangan es yang kulakukan tadi untuk membekukan gear Simone sudah meleleh. Cepat sekali dia dapat menetralisir efek beku dari seranganku tadi. Seharusnya efek beku dan tidak dapat bergerak dari serangan es-ku bisa bertahan sampai belasan menit. Kenapa bisa cepat sekali hilangnya?


Dapat kulihat gear ungu itu sedikit berwarna kemerahan dan mengepulkan asap. Ternyata Simone telah menggunakan chi api untuk menyerang dirinya sendiri. Demi melelehkan serangan es dariku. Perlahan namun pasti gear ungu itu mulai dapat bergerak, terlepas dari kungkungan es yang membekukannya.


Tanpa bisa kucegah tarian cambuk kembali beraksi melecut kesegala arah dengan kecepatan sangat tinggi. Cambukan yang memukuliku, gearku yang tentunya tidak bisa menghindar karena jarakku dengannya yang terlalu sudah dekat. Ribuan cambukan menghantamku, memukuli dan mencabik-cabik seluruh tubuhku.


Dapat kurasakan getaran dan pukulan dahsyat pada setiap cambukan yang mengenai tubuhku, seakan tubuhku terkena secara langsung oleh cambukan itu. Setelah beberapa rangkaian tarian dilemparkannya gearku keatas sehingga mengambang ke udara. Dan disambutnya dengan cambukan terakhir yang membuatku terhempas dan berdebam keras ke lantai arena. Terkapar disana.


"Uuuuhhhg," rintihku kesakitan. Dapat kurasakan darah mengalir di sudut bibirku. Tubuhku pun terasa sakit semua karena benturan- benturan tadi.


Segera kuperintahkan gearku untuk kembali bangkit dan kembali melakukan perlawanan. Tetapi gear ini hanya diam saja, tidak mau merespon, kenapa ini?


Dengan panik segera kuperiksa monitorku, mengamati keadaan statistik gear yang kupiloti ini. Siall! Pantas saja dia tak mau bergerak dan menuruti perintahku.


Bagian lengan dan kaki gearku telah hancur karena tarian-tarian cambuk tadi, remuk sehingga tak dapat menopang berat keseluruhan gear. Berarti memang dari awal Simone sudah mengincar anggota gerakku, untuk melumpuhkan pergerakan gearku.


Ketahanan gear standart ini terlalu lemah, jauh dibawah ekspektasiku. Hydra private gearku yang biasa kugunakan pasti dapat bertahan tanpa cedera yang berarti setelah menerima serangan seperti tadi. Yah mungkin aku sudah terlalu sering mengendarai dan merasakan kenyamanan private gear sehingga melupakan bagaimana rasanya dan tak berdayanya harus mengendarai gear standart dengan segala keterbatasannya seperti gear yang kugunakan kini.


Bagaimana ini, dengan keadaan gearku sekarang tentunya aku tak bisa melanjutkan pertandingan ini? Gearku bahkan tidak bisa bergerak dan berpindah tempat. Hanya akan menjadi sasaran empuk setiap serangan musuh. Kalaupun memaksakan terus bertarung hanya akan cari mati saja.


"Aku menyerah," seruku lantang dan diikuti oleh tepuk tangan, teriakan dan sorak sorai bahkan umpatan-umpatan dari segala penjuru.


"Maafkan aku kak, sepertinya aku tak bisa banyak membantu. Kita serahkan harapan kita pada Zircon dan Diamond saja," kujangkau pikiran Kak Amethys dan kubuat-kubuat telepati padanya.


"Tak apa-apa yang penting kau selamat," Jawab kakakku dengan nada kalem dan menenangkan.


Aku berjalan cepat ke hanggar, kulewati saja tempat penyimpanan gear itu dan terus berjalan lurus ke ruang tunggu. Begitu memasuki ruangan kudapati Ruby yang bersengut marah langsung menyerbuku, memukul-mukul dadaku dengan keras.


"Dasar brengsek bodoh! Kenapa bisa kalah?! Aku tak mau menikah sengan Simone! Dia pria g*y!" Protesnya padaku, seenaknya seperti biasa.


"Maaf..." Hanya kata itu yang bisa terucap dari mulutku. Tak sanggup membuat alasan atau excuse apapun. Aku sudah kalah.


"Hahahaha si cecunguk lemah ini yang kau gadang-gadang untuk menang melawanku?" Jade tertawa dan tersenyum sinis padaku penuh ejekan.


Kemudian pandanganya beralih pada Diamond yang sudah bangun dari tidurnya dan berdiri berdampingan dengan Kak Amethys di dekat layar.


"Tinggal dia kandidatmu? Kupastikan akan membunuhnya besok hahahaha." Jade mengacungkan jari tengahnya kepada Diamond sebagai tantangan. Diamond hanya tersenyum tanpa menjawab, memang tidak tepat untuk menambah provokasi pada orang sekejam Jade.


"Tidak akan! Dia pasti menang! Kau yang akan kalah!" Ujar Ruby tak mau kalah menantang.


"Oh ya? Coba saja besok!" Jade meletakkan satu jarinya di leher dan membuat gerakan seakan sedang memenggal kepala.


Kemudian dia berlalu, mengambil sesuatu di meja dan melemparkannya kepada Ruby. Sebuah pahatan kayu kecil berbentuk hati. Sesuatu yang dari tadi dibuatnya dengan sangat serius. Selanjutnya pria itu pergi meninggalkan ruangan dengan santainya.


Dapat kulihat Ruby mengerutkan dahinya, sedikit kebingungan Ruby demi memandangi pahatan kayu pemberian Jade.


"Apa-apaan ini brengsek? Dasar maniak! Sister complex abnormal?" teriak Ruby marah sambil melemparkan, membuang pahatan kayu berbentuk hati pemberian Jade ke lantai.


"Kau harus menang pokoknya! Apapun yang terjadi kau harus mengalahkan Jade sialan itu!" Ruby menghampiri Diamond kali ini, memeluk sebelah lengannya dengan manja, dan bergelayutan manja di sebelah lengan sahabatku itu.


"Kita lihat saja nanti," jawab Diamond datar.


Sangat berbeda dengan dirinya yang kukenal. Biasanya Diamond yang tak kenal rasa takut pasti akan menjawab tantangan ini dengan optimis. Dia pasti akan senang untuk bertarung habis-habis melawan musuh sekuat Jade.


Sepertinya Diamond tahu dan sadar betul akan kelemahan, keadaan tubuhnya saat ini. Mungkin dalam hidupnya baru kali ini dia merasakan ketidak berdayaan akan kemampuannya yang sanggup mengikis segala ego dan rasa percaya dirinya.


Kualihkan pandanganku pada Kak Amethys, dia terlihat tanpa ekspresi memandangi Diamond yang dipeluk-peluk oleh Ruby.


Menyeramkan, aku tak pernah melihat kakakku itu mengeluarkan aura membunuh segelap dan sekentara ini. Dan sepertinya Diamond juga dapat merasakan aura itu sehingga dia tak berani membalas pelukan Ruby, hanya pasrah saja sebelah tangannya digelandoti oeleh Ruby.


Membuatku mau tak mau tersenyum geli melihat pemandangan menggelikan dibhadapanku ini.


..._________#________...


🌼Yuuuuks gaes PLIIIIS jangan lupa kasih LIKE, VOTE dan KOMEN 🌼