
Sore harinya akhirnya setelah seluruh pertandingan perempat final selesai, kami para peserta diperbolehkan untuk meninggalkan turnamen hall. Sebelumnya diadakan sedikit breafing untuk menjelaskan peraturan untuk babak semifinal yang akan datang. Intinya tidak banyak perubahan peraturan, hanya saja gearnya yang dipakai dalam pertandingan nanti adalah private gear.
Private gear dari masing-masing peserta turnamen. Yang aktinya semakin ganas dan brutal pertandingan untuk babak selanjutnya. Mengingat masing-masing peserta dapat mengerahkan segala kemampuan dna potensinya dengan gear pribadinya sendiri. Aku sedikit lega juga bahwa Saphir, Jasper dan Opal tidak harus bertanding dalam babak berikutnya. Terlalu berbahaya dan beresiko bagi mereka.
Kudapati kamar yang sudah kami tinggali beberapa hari ini kosong saat aku kembali dari ke penginapan. Kuletakkan pedang dan barang bawaanku lainnya ke meja kecil di dekat sofa yang biasa kujadikan sebagai tempatku tidurku. Dapat kulihat secarik kertas diatas meja berisi tulisan tangan Saphir. Kuambil kertas itu dan kubaca isinya:
*Kami jalan-jalan ke kota dulu ya Zirc, refreshing.
Jangan cemaskan kami, kau istirahat saja di penginapan.
Jez n Saphir*
Dasar mereka berdua ini kemana sih? Disuruh beristirahat di penginapan malah keluyuran gak jelas juntrungannya kayak gitu. Masa iya mereka sempat-sempatnya berkencan di saat-saat seperti ini?
Ah sudahlah, bukan urusanku. Lagipula mereka kan sudah dewasa. Jez sudah berusia 18 tahun dan Saphir pun seusia dengannya. Aku tak perlu terlalu khawatir, mereka pasti bisa menjaga diri mereka sendiri.
Kulangkahkan kakiku ke kamar mandi, kulepaskan seluruh pakaianku disana. Aku mengguyur seluruh tubuhku dengan air shower yang dingin dan sangat menyegarkan. Ternyata cukup ampuh untuk menghilangkan segala kelelahan, kepenatan dan kegerahan setelah seharian berkativitas.
Ketenangan ritual mandiku terusik beberapa menit kemudian saat kurasakan adanya hawa keberadaan seseorang di dalam kamar. Hawa keberadaan satu orang saja. Apakah Jasper atau Saphir?
Kurasa bukan. Tidak mungkin mereka datang dengan terpisah. Dan kalaupun salah satu dari mereka yang datang pasti sudah mengeluarkan suara. Bukan mengendap-endap diam seperti seseorang ini.
Segera kupakai celana panjangku cepat-cepat bahkan tanpa mengeringkan tubuhku. Dari celah pintu kamar mandi yang kubuka sedikit dapat kulihat sesosok tubuh yang memakai mantel panjang. Mantel itu berwarna gelap lengkap dengan tudung kepalanya. Menutupi seluruh permukaan tubuhnya dengan sempurna. Membuatku tak dapat melihat dan mengenali wajahnya.
Sosok itu berdiri membelakangiku, terlihat santai tanpa tekanan. Dia menatap dan mengamati segala yang ada di ruangan dalam diam.
Siapakah dia? Bagaimana dia bisa masuk ke kamar ini? Kulihat pintu kamarku baik-baik saja. Tak ada tanda pembobolan atau telah dibuka dengan paksa. Aku berjalan perlahan tanpa suara bersiap menyergap siapapun penyusup itu. Menyergap penyusup yang berani masuk ke kamar kami tanpa ijin.
Setelah berhasil mendekatinya, kuterjang sosok itu. Langsung kurangkul tubuhnya dari belakang, kurangkul tubuhnya dengan lengan kiriku. Kemudian kuarahkan lengan kananku kearah lehernya. Dengan jarak sedekat ini tak akan sulit bagiku untuk membuhunya, mengiris lehernya dengan mengerahkan sedikit tenaga dalam ke jemariku
"Siapa kau?" Tanyaku padanya dengan nada penuh ancaman. Ingin membuatnya gentar.
Lawanku mengangkat kedua tangannya dalam diam, dengan gerakan sangat tenang. Tidak ada rasa takut atau ragu dalam setiap gerakannya. Dia bahkan sama sekali tidak ada niat untuk melakukan perlawanan.
"Masa kau sudah lupa padaku, Zirc?" Jawabnya dengan nada lembut dan kalem. Dari suaranya dapat kuketahui bahwa dia adalah seorang wanita.
Tunggu dulu, suara ini? Jangan-jangan...
Dengan sedikit panik segera kubalikkan tubuh berjubah itu. Dan sesuai dugaanku adalah sesosok tubuh seorang wanita. Kusibakkan tudung yang menutupi kepalanya serta scraf yang menutup wajahnya. Lalu kudapati wajah cantik itu, senyuman khas itu, serta tatapan lembutnya padaku. Tak salah lagi...Kak Amethys.
"Kak, Kak Amethys? Kenapa bisa ada disini?" Segera kulepaskan tubuhnya yang masih kupeluk erat dengan sangat canggung.
"Tidak bertemu beberapa saat sepertinya kau sudah tumbuh dewasa ya, suiit suiiit." Jawab Kak Amethys sambil sedikit bersiul ruangan menggodaku. Dia terang-terangan mengamatiku dari atas kebawah.
Wajahku kontan memanas dikatai seperi itu olehnya. Dan baru kusadari bahwa aku masih bertelanjang dada daritadi. Menampakknya bagian atas tubuhku yang bisa dibilang cukup kekar karena latihan yang kujalani setia harinya sebagai anggota militer.
Segera saja aku beranjak memunggunginya, kuambil salah satu kemeja di ranselku dan kupakai di tubuhku cepat-cepat. Dapat kudengar Kak Amethys terkikik ringan melihat tingkahku yang malu-malu kepadanya.
"Tadi aku ketemu Jazper dan Saphir di rumah sakit kota. Mereka berdua yang memberiku kunci ini." dikeluarkan sebuah kunci dari kantong mantelnya dan diletakkannya di meja. Mengembalikannya padaku.
"Jez? Rumah sakit?" Tanyaku khawatir. Apa jasper terluka karena pertarungannya dengan Jade tadi? Mengapa aku sampai tak menyadarinya?
"Tidak, Jez tidak apa-apa. Sepertinya mereka hanya sedang jalan-jalan dan mengamati keadaan."
"Dan kakak sendiri? Apa kakak terluka?" Entah mengapa hanya pertanyaan bodoh ini yang terucap dari mulutku.
Ternyata masih agak susah dan canggung bagiku untuk berhadapan dengan wanita ini. Rasa sukaku padanya memang sudah tak sebesar dulu lagi, tapi entah mengapa jantungku tak mau diajak kompromi. Dengan seenaknya saja jantungku tetap berdetak lebih kencang tak terkendali saat Kak Amethys berada sedekat ini denganku.
"Masa kau tidak bisa menebaknya? Tentu saja untuk dia." Jawab Kak Amethys tersenyum sangat manis. Gadis itu mengambil duduk di sofa dan memberiku isyarat untuk duduk di sebelahnya.
Aku menurut saja ikut mengambil duduk disebelahnya dalam diam. Tentu saja aku tahu dan dapat menebak untuk apa Kak Amethys ke rumah sakit. Dan sedikit banyak aku dapat menebak juga alasan gadis cantik ini sampai pergi dari istana dan jauh-jauh kesini, ke kota Bloody Hell ini. Pasti untuk Diamond.
Aku sudah tahu dari Saphir bahwa lawannya di pertandingan sebelumnya adalah Diamond. Tapi mengapa Diamond sampai mengajak Kak Amethys ke kota berbahaya ini? Bagaimana mungkin dia mau membawa kekasihnya ke tempat seberbahaya ini? Apa karena dia masih belum sembuh benar? Lantas mengapa dia nekat kemari kalau belum sembuh?
'Dasar si tolol yang tidak sayang nyawa.'
"Tadi kebetulan waktu aku di rumah sakit, aku melihat tingkah aneh Jasper. Bukan aneh yang bagaimana si, tapi sepertinya dia mendapat kesadaran lain yang tumpang tindih dengan kesadarannya sendiri." Kak Amethys memulai pembicaraan serius.
"Maksudnya?" Tanyaku kaget, tak bisa sama sekali membayangkan ucapan Kak Amethys.
Memang beberapa hari yang lalu Saphir sempat memberitahuku kalau Jasper sempat pingsan di tengah jalan. Saphir diberitahu oleh Jasper bahwa dirinya seolah mendapat penglihatan atau fatamorgana. Bahkan lebih jauh Jasper juga sering bermimpi aneh tentang kedua orang tuanya. Tapi masa si sampai dia kehilangan kesadaran begitu?
"Entah bagaimana dia menangis melihat seorang pasien tua disana. Jasper bahkan dapat menyebutkan nama kakek itu dengan tepat. Old Balz...Kakek Baltazar. Padahal tentu saja Jasper sama sekali belum pernah bertemu dengan kakek itu sebelumnya."
"Dan setelah kukonfirmasi informasi ke cucu sang kakek. Aku ketahui bahwa kakek itu dulunya mantan buttler kerajaan yang bertugas mengurus almarhum paduka raja waktu masih kecil"
"Intinya kakek itu mempunyai hubungan kedekatan secara emosional dengan mendiang padukan raja. Tapi entah mengapa Jasper tadi bertingkah seolah-olah dialah paduka raja itu sendiri." Kak Amethys menyelesaikan ceritanya.
"Bagaimana mungkin bisa terjadi?" tanyaku bingung.
"Entahlah. Aku juga tak bisa mengira-ngira. Sepertinya ingatan di dalam kepala Jasper masih tersimpan sebagian kenangan atau ingatan mendiang paduka Raja. Dan ingatan itu akan bangkit saat dia melihat sesuatu atau seseorang yang berhubungan dengan masa lalu." Jawab Kak Amethys sedikit ragu.
"Orang yang berhubungan dengan masa lalu. Seharusnya kita bisa menanyainya," saranku.
"Kurasa tidak. Dia sudah pikun, dan sepertinya dia hanya mengetahui kejadian sampai paduka raja dan ratu anak-anak saja. Ditambah lagi karena penyakitnya kurasa usia kakek itu tak akan lama lagi..." Kak amethys mengakhiri ceritanya tentang Japer. Terdiam sebentar seolah memberi jeda pembicaraan.
"Lalu kenapa kakak ada disini?" Kembali kutanyakan keherananku akan kehadirannya di kota ini.
...____________#____________...
🌼Yuuuuks gaes PLIIIIS jangan lupa kasih LIKE, VOTE dan KOMEN 🌼