Almekia Kingdom

Almekia Kingdom
70. Jasper - Old Balz (2)



Jangankan mereka, aku saja bingung tak tahu apa yang telah kulakukan. Seakan tubuhku bergerak sendiri, seakan tubuhku mempunyai kehendak sendiri. Bagaimana mungkin aku mempunyai kedekatan emosional seperti ini dengan kakek yang baru pertama kutemui? Bagaimana aku bisa mengetahui namanya...


"Tuan muda...Tuan muda Jasper..." pria itu terus saja menangis dan memanggil-manggil namaku.


Tunggu dulu, namaku?


Bukan namaku yang disebutnya. Tapi Jasper yang lainnya. Dia pasti Mengiraku sebagai mendiang ayahnya Raja. Aku ingat benar Diamond pernah pengatakan kepadaku bahwa nama ayahku juga Jasper. Hanya nama tengah kami yang berbeda.


Lebih jauh lagi, jika semua mimpi dan penglihatan yang kudapatkan sebelumnya adalah benar kejadian masa lalu. Berarti pria berambut pirang itu adalah mendiang ayahanda Raja. Yang artinya memang wajahku dan wajahnya sangat mirip. Pantas saja pak tua ini dengan mata rabunnya tak dapat membedakan kami berdua.


"Aku disini, pak tua. Jangan menangis lagi, aku ada bersamamu." Sekali lagi aku menjawab.


Tidak, bukan aku yang menjawab. Tapi jiwa yang lain di dalam diriku. Jiwa ayahanda Raja? Bagaimana mungkin keinginan dan jiwanya seolah nyata dan dapat mengendalikan diriku begini?


Mau tak mau aku menjadi ngeri dan ketakutan dengan tubuhku sendiri. Seolah tubuh ini bukan milikku lagi. Tubuh ini bahkan menuruti perintah dan kemauan lain yang bukan dariku sendiri.


"Mereka bilang anda telah tiada tuan...Tapi aku tidak percaya..." Kakek tua itu semakin deras menangis.


"Dan sekarang keyakinanku terbukti. Anda masih hidup dan baik-baik saja."


Diam sejenak, baik aku ataupun kesadaranku yang lain tidak sanggup untuk bereaksi menjawabnya.


"Uhuuuk Nona...Nona Nefrit mana tuan?" Mata kakek itu mencari nanar keseluruh penjuru ruangan dengan panik. Dan pandangannya berhenti pada Saphir lalu kemudian dia tersenyum.


"Apapun yang terjadi, kalian harus terus bersama. Pewaris tahta Almekia Kingdom, kejayaan akan berkibar kembali saat emas yang kokoh bertemu dengan lautan biru yang dalam dan menyejukkan. Melebur dalam tenang, hanyut, bersatu..."


Kakek tua itu kembali mengatakan kata-kata misterius yang tak dapat kumengerti arti dan maknanya. Apakah dia salah mengira Saphir sebagai Nefrit? Ibunda ratu?


Mungkin mata tuanya mengira Saphir sebagai ibunda karena rambut coklat pendeknya mirip dengan rambut ibunda, ibunda waktu muda yang kulihat di dalam mimpiku. Yah hampir sama kejadiannya dengan dia salah melihatku sebagai Jasper, ayahandaku.


Setelah itu dapat kurasakan kesadaranku semakin menguat. Dan kesadaran lain di pikiranku tiba-tiba menghilang begitu saja. Ayahanda? Kau pergi kemana? Kenapa kau bisa muncul dan hilang secara tiba-tiba seperti ini?


"Uhuuuuuk uhuuuuuk Uhhhhuuuukkk." Sang kakek tua kembali terbatuk-batuk dengan kerasnya. Dia juga semakin terlihat sangat kesulitan bernapas sebelum akhirnya pingsan. Bagaimana ini? Apa yang harus kulakukan dia bisa mati kalau terus begini.


Sekelebat sosok berjubah hitam tiba-tiba menyambar tangan kakek yang kupegang, untuk memeriksa denyut nadi di pergelangan tangannya.


Sosok itu juga memeriksanya pupil mata kakek itu, serta dibukanya bajunya dan diketuk-ketuk ringan bagian dadanya sambil didekatkan kepalanya mendekat ke dada si kakek.


"Peumothorak, suster tolong cepat ambilkan infuse set, kasa steril, antiseptik dan tabung oksigen." Perintahnya pada perawat semetara dia melanjutkan pemeriksaaannya dengan cekatan.


(Pneumotoraks adalah istilah medis yang digunakan untuk menggambarkan kondisi paru-paru yang kolaps (mengempis). Udara memasuki ruangan antara paru-paru dan lapisan pleura yang menyelimuti organ tersebut. Mengakibatkan paru-paru kolaps karena perubahan tekanan udara pada paru-paru).


Siapakah dia? Dari nada suaranya dapat kupastikan dia adalah seorang wanita, dan nada itu...sepertinya aku mengenal suara itu.Tapi siapa dan dimana?...Sang perawat langsung berlari ke arah ruang obat untuk mengambil apa saja yang disebutkan tadi.


Menyadari aku hanya akan mengganggu sang sosok penyelamat dalam melakukan pertolongan, aku mundur beberapa langkah. Aku mengambil posisi berdiri disebelah Saphir yang masih berdiri keheranan sambil mencoba mencerna semua kejadian yang baru saja dan sedang dilihatnya.


"Jez..." ujar Saphir sedikit ketakutan melihat seseorang yang sedang sekarat di depan matanya sendiri.


"It's Ok. Semua akan baik-baik saja." Kugenggam erat tangannya sebagai penyemangat.


Tak beberapa lama perawat wanita tadi sudah kembali dengan berbagai peralatan medis di tangannya yang langsung diserahkan pada wanita berjubah misterius tadi. Dengan cekatan wanita tadi segera bertindak.


Wanita itu meraba dada sebelah kanan bawah sang kakek, mencari dan memperkirakan posisi jarinya. Dia mengoleskan antiseptik dengan selembar kasa pada satu bagian dada tua itu. Lalu dengan gerakan cekatan disuntikkannya sebuah jarum pada satu titik disana. Yang selanjutnya difixasi dengan plester dan kasa steril.


Dapat kulihat adanya cairan merah yang mengalir dari jarum itu keselang yang terhubung dengan sebuah tabung kaca. Dengan semakin banyaknya darah yang keluar dari selang dapat kulihat napas si kakek mulai teratur dan stabil.


Terakhir setelah pernapasan kakek sudah lebih stabil dipasangnya masker oksigen. Alat bantu pernapasan ke hidung dan mulut si kakek sehingga membuat orang tua itu tidur. Dengan lebih tenang tanpa batuk dan kesulitan bernapas lagi.


"Yah dengan ini nyawanya sudah tidak terancam lagi. Nanti akan kubuatkan resep untuknya, minumkan padanya sehari tiga kali ya," ujar si wanita penolong kepada sang perawat klinik.


"Kak Amethys!!" Pekik Saphir ternganga keheranan, tak percaya dengan penglihatannya sendiri.


"Halo Saphir, Hai Jasper." Sapa Kak Amethys dengan senyuman khasnya yang ramah.


Saphir langsung menghambur menabrak dan memeluk tubuh kak Amethys. Memeluknya erat dan menangis di pelukannya. "Aku kangen...Aku kangen semuanya..." ujar Saphir.


"Kita ngobrol sebentar yuk," Kak Amethys menepuk ringan punggung Saphir dan mengarahkannya keluar dari kamar pasien.


"Bagaimana kakak bisa ada di kota ini?" tanyaku pada kak Amethys saat kami bertiga sudah duduk dan berkumpul di ruang tunggu rumah sakit.


"Kak Diamond juga ada disini kan?" Saphir ikut mendesak bertanya.


"Iya, sebenarnya aku kesini untuk mengantarkan Diamond," Kak Amethys menceritakan alasan kedatangan mereka ke kota ini. Dia juga menceritakan tentang Ruby yang menculik Opal dan Platina. Juga tentang Diamond dan Opal yang harus ikut turnamen sebagai perwakilan dari Ruby.


"Jadi Opal dan Platina..." Saphir tak dapat membayangkan bagaimana nasib kedua temannya itu yang sedang dalam status tawanan.


"Ruby, tak kusangka dia adalah pimpinan perampok Padang pasir itu." Aku ikut berkomentar.


"Dia jahat sekali! Bagaimana keadaan Opal dan Platina?" Saphir kembali bertanya khawatir.


"Sementara ini Opal dan Platina masih baik keadaannya. Dan semoga saja Ruby tidak berniat menyakiti mereka." Ujar kak Amethys.


"Kak Diamond, bagaimana keadaan kakakku itu? Dia jelas belum sembuh benar kan?" Saphir menanyakan kecemasannya tentang keadaan Diamond.


"Iya, dia masih dalam tahap penyembuhan."


"Apakah aman untuknya bertarung melawan Jade?" aku ikut bertanya penasaran. Aku tahu benar bagaimana rasanya bertarung melawan pria sinting itu. Pria yang tak segan untuk membunuh lawannya.


"Mengkhawatirkan..." jawab Kak Amethys dengan nada sedikit gusar.


"Jangan biarkan dia bertarung, kak. Cegahlah dia untuk melakukan hal yang membahayakan nyawanya lagi." Saphir ikut merasa tak tenang mendengarnya.


"Benar sekali. Diamond bisa mengundurkan diri kan? Pakai saja alasan kesehatannya yang tidak baik." Aku juga mendukung saran Saphir. Terlalu berbahaya dan membahayakan nyawanya untuk bertarung melawan Jade. Cari mati saja.


"Tidak bisa begitu juga, nyawa Opal dan Platina masih di tangan Ruby. Paling tidak Diamond masih harus bertarung meski nantinya akan kalah." Kak Amethys mengingatkan posisi serba salah mereka.


"Tapi bagaimana kalau dia kenapa-napa?" Saphir masih tak dapat terima. Bagaimana mungkin mereka harus mengorbankan Diamond untuk keselamatan Opal dan Platina, terlalu kejam.


"Zircon dimana?" Kak Amethys bertanya tanpa menjawab pertanyaan Saphir.


"Tadi sih masih di turnamen hall. Mungkin sekarang sudah kembali ke penginapan," jawabku.


"Aku harus menemuinya." Kak Amethys memutuskan. Sepertinya dia memiliki suatu rencana di dalam kepalanya untuk mengatasi situasi ini.


"Ini kunci kamar kami di penginapan batas kota. Lantai dua kamar, nomer 7." Kuserahkan kunci kamar penginapan kepada gadis itu.


"Baiklah, terima kasih. Aku duluan ya." Pamit Kak Amethys pada kami. Sepertinya dia akan langsung ke penginapan untuk bertemu dengan Zircon.


"Semua akan baik-baik saja kan, Jez?" tanya Saphir tak berdaya setelah kepergian kak Amethys. Terlalu khawatir sesuatu yang buruk terjadi pada Diamond.


"Pasti. Kak Amethys mempunyai rencana, dan Zircon pasti dapat membantunya juga." Ujarku menenangkan Saphir, meski aku sendiri tak tahu apa yang akan kedua orang itu lakukan untuk mencegah keadaan menjadi terlalu berbahaya.


"Semoga semuanya selamat." Saphir memanjatkan doanya dan aku hanya sanggup untuk mengamini doanya sebagai reaksi balasan untuknya.


...____________#____________...


🌼Yuuuuks gaes PLIIIIS jangan lupa kasih LIKE, VOTE dan KOMEN 🌼