Almekia Kingdom

Almekia Kingdom
90. Opal - Friends



Zircon membawa Ruby ke arah klinik dengan tetap menggenggam erat jemarinya dan aku mengikuti mereka dari belakang mereka.


'Ternyata jadi obat nyamuk kayak gini rasanya ya? Sangat menyebalkan.'


Kudahului langkah mereka berdua untuk mengetuk pintu klinik dan Saphir lah yang membukakakan untuk kami tak lama kemudian.


"Here he comes, our champion", ujarku masuk ke ruangan terlebih dahulu, mengumumkan kedatangan sang juara turnamen kepada seluruh yang hadir di ruangan tunggu klinik.


"Zircon!" pekik Kak Amethys. "Selamat ya. Kau keren sekali tadi." dia langsung menghampiri Zircon dan memeluknya lembut, memberi selamat.


"Selamat kak Zircon," Platina ikut menyalami dan memberi selamat juga.


"Selamat Zirc," Saphir juga tak mau ketinggalan ikut menyalami Zircon.


"Zirc. Selamat ya dah terima kasih banyak." Ujar Jasper memberikan bro hug kepada Zircon.


Sementara Diamond tetap duduk dikursinya sambil mengacungkan kedua jempolnya disertai serigai lebarnya yang khas.


"Good job, bro." Semuanya yang ada di sana tertawa bahagia, bersuka ria merayakan kemenangan Zircon. Memuji jalannya pertandingan dan strategi yang digunakan Zircon untuk mengalahkan Jade.


Keramaian mereka berhenti seketika saat aku mempersilahkan Ruby memasuki ruangan. Gadis itu dengan sedikit ragu dan malu-malu melangkahkan kakinya memasuki klinik.


"Oiya semuanya, kita kedatangan tamu istimewa kali ini." Ujarku memberitahukan kedatangan Ruby.


"Halo...Selamat sore semuanya," sapa Ruby setelah memasuki ruangan. Terlihat malu-malu dan menundukkan kepalanya.


Apa-apaan coba? Jadi gadis brutal ini bisa bersikap manis seperti ini juga? Entah yang mana sebenarnya kepribadian Ruby aslinya.


"Haaaaaah???!!!"


Pekik semua yang hadir di ruangan keheranan dengan kehadiran Ruby disana. Ekspresi mereka semua nampak keheranan dan bertanya-tanya. Lucu sekali, membuatku tertawa tanpa bisa tertahankan. Ternyata bukan hanya aku kan yang heran dengan kehadiran Ruby disini. Dan tunggu saja sampai mereka tahu soal kedekatan Ruby dengan Zircon, pasti seru.


Hanya Diamond yang terlihat tidak terlalu kaget dengan kehadiran Ruby disana. Dia malah terlihat cengar-cengir kegirangan melihat kehadiran Ruby di antara kami.


'Jangan-jangan dia sudah tahu tentang hubungan Zircon dan Ruby? Bagaimana bisa? Apa Zircon yang memberitahunya? Sepertinya tidak mungkin.'


"Ruby, perkenalkan mereka semua adalah teman-temanku," Zircon mengenalkan semua yang hadir didalam ruangan satu persatu pada Ruby.


"Dari sudut sana ada Opal, Jasper, Saphir Platina. Dan tentunya kau sudah mengenal mereka, Diamond dan Kak Amethys." Zircon menunjuk kami satu persatu sesuai nama yang dia sebutkan.


Ruby terlihat mengangguk-anggukkan kepalanya tanda mengerti. Berusaha mengingat-ingat nama-nama mereka. Sebenarnya hanya perlu mengingat dua nama lagi sih, Jasper dan Saphir yang belum pernah sekalipun bertemu dengannya.


Sementara sisanya, Ruby sudah hapal benar nama-nama mereka. Aku dan Platina yang tawanannya. Diamond dan asistennya Kak Amethys. Serta tentu saja Zircon si pemenang turnamen yang akan menjadi calon suaminya.


"Dan ini adalah Ruby Nightray, dia..." Zircon melanjutkan.


"Calon istri tuan Zircon" jawab Ruby malu-malu sambil menautkan lengannya ke lengan Zircon.


Dan anehnya, Zircon pun tak menolak perlakuan Ruby padanya. Malah wajahnya ikutan bersemu merah juga, malu-malu.


'What the? Apa-apaan coba? Sudah sejauh apa hubungan mereka berdua?'


"Eeeeeeehhhhh??"


Seisi ruangan kembali terpekik tak percaya dengan apa yang mereka dengar dan lihat. Yah berita ini memang bener-benar diluar dugaan kami. Bagaimana mungkin hubungan mereka berdua sudah sejauh itu?


"Mencurigakan," celetuk Diamond jahil.


"Benar. Kalau memang seperti itu kejadiannya, kalian seharusnya tidak mengenal satu sama lain kan?" Aku ikut menyuarakan sesuatu yang mengganjal di pikiranku dari tadi.


"Tapi kalian berdua terlihat terlalu akrab untuk ukuran orang yang baru kenal. Untuk ukuran dua orang yang terpaksa harus menikah." Lanjutku menyelidik.


Baik Zircon atau Ruby terdiam tanpa sanggup menjawab. Hanya rona merah di semakin bersemu di wajah mereka. Membuat kami semua semakin kepo dan penasaran saja pada hubungan kedua orang itu.


"Kalian berdua sudah saling kenal?" Saphir tak dapat menahan rasa ingin tahunya untuk bertanya. Tak habis pikir sepertinya kapan Zircon bisa bertemu dengan Ruby? Kapan mereka bisa berhubungan satu sama lainnya? Memang sungguh aneh.


"Iya," jawab Zircon singkat.


"Astaga kapan kau menemuinya? Kenapa kami yang sekamar dan selalu bersama denganmu tak pernah tahu akan hal ini?" Jasper ikut menyuarakan keheranannya pada Zircon.


"Kami sudah beberapa kali bertemu." Kali ini Ruby yang menjawab.


"Jadi sudah sejauh apa hubungan kalian berdua?" Kak Amethys ikut penasaran juga. Mungkin dia heran dengan Ruby yang pernah mengatakan menyukai Diamond, kok secepat ini pindah haluan?


"Belum apa-apa hanya sekali berciuman." Jawab Ruby kalem dan tak punya dosa.


"Whaaaaaaat?" Seluruh yang mendengar langsung memekik kaget mendengar pengakuan Ruby. Dan pengakuan itu seolah diperjalas kebenarannya dengan wajah Zircon yang sudah Semerah tomat matang.


"One step closer, Zirc. Hahahaha." Diamond tertawa ngakak kegirangan. Entah dia bahagia karena akhirnya Zircon menemukan tambatan hatinya. Atau karena dia mendukung hubungan kedua muda mudi itu. Yah Diamond memang yang paling berpikiran terbuka soal hubungan pria dan wanita.


Berbeda dengan kami atau pikiran kebanyakan orang lainnya. Misalnya kalau untuk orang normal pasti akan berpikir beberapa kali lipat untuk berhubungan dengan gadis berbahaya seperti Ruby. Gadis yang bahkan tega menculik, meminta tebusan, mengancam untuk mengikuti turnamen dan merampok di Padang pasir.


"Aku, aku tak tahu kalian semua berteman," ujar Ruby dengan wajah sedikit menyesal. Seolah gadis itu dapat membaca keraguan semua orang padanya.


"Terutama untuk Opal dan Platina, aku minta maaf atas segala yang pernah aku lakukan pada kalian"


"Sudahlah. Lupakan saja semua sudah berlalu," balasku padanya. Toh pada akhirnya dia tak melukai dan melepaskan kami.


"Iya aku sudah memaafkanmu kok." Platina ikut menjawab dengan ramah.


Padahal setahuku selama proses penculikan dan penyekapan dialah orang yang paling menderita oleh tindakan Ruby.


"Kau tidak minta maaf padaku?" Goda Kak Amethys sinis penuh tantangan pada Ruby.


Hehehe, sepertinya Kak Amethys belum melupakan sikap kasar Ruby padanya. Bahkan mungkin karena sifat Ruby untuk Diamond.yang kadang terlalu mesra.


"Tidak akan! Kau sudah merebut kolonel Diamondku! Sampai mati pun aku tak akan meminta maaf padamu!" jawab Ruby bersihkeras tak mau kalah.


"Merebut? Sejak awal dia sudah milikku." Balas Kak Amethys penuh kemenangan. Dan Ruby semakin merenggut kesal.


"Wah wah sepertinya calon istrimu masih tergila-gila padaku, Zirc," celetuk Diamond menggoda Zircon dan Ruby sekaligus, mencoba sedikit mencairkan suasana tegang yang terjadi.


"Tak masalah. Tak lama lagi dia juga akan tahu bahwa aku jauh lebih baik darimu." Jawab Zircon santai tetapi mampu membuat seisi ruangan tertawa terbahak-bahak dan bersorak meledeknya.


Ternyata Zircon bisa juga begitu, bisa-bisanya dia menjawab ejekan Diamond dengan telak. Bisa-bisanya juga dia jatuh cinta pada seorang wanita. Ternyata sifat dinginnya itu akhirnya bisa ditundukkan oleh Ruby, gadis padang padang pasir yang cantik dan berani. Sangat sesuai dengan namanya yang mencerminkan batu permata berwarna merah.


..._______#_______...


🌼Yuuuuks gaes PLIIIIS jangan lupa kasih LIKE, VOTE dan KOMEN 🌼