
Matahati sudah hampir tenggelam saat kami sampai di wilayah West Line, markasku. Perjalanan dari kompleks istana ke West Line kali ini benar-benar memakan waktu yang sangat lama. Bagaimana tidak, biasanya dalam keadaan normal hanya dibutuhkan waktu 3 sampai 4 jam saja dengan kecepatan standart gear untuk sampai kesana.
Kali ini lama perjalanan yang kami tempuh hampir dua kali lipatnya. Kenapa bisa selama ini? Tak lain dan tak bukan karena Amy yang terlalu over protectiv padaku. Sedikit-sedikit dia mengecek keadaanku. Meminta berhenti untuk beristirahat setiap beberapa puluh kilo meter jarak tempuh.
Yah siapa si yang tidak seneng diperhatikan oleh kekasihnya. Tetapi kalau perhatiannya berlebihan gini juga sangat merepotkan. Menyebalkan juga rasanya.
Kudaratkan gearku di hanggar markas dan tak lama kemudian Amy ikut mendaratkan gearnya disebelah gearku. Begitu keluar dari kokpid kudapati puluhan anak buahku sudah berdiri disana, mereka bersorak riang gembira dan bertepuk tangan menyambut kedatanganku.
Letnan Goldy juga ikut hadir dibarisan paling depan, langsung menyapa dan menyalamiku.
"Selamat datang, Kolonel. Senang sekali melihat anda kembali," ujar Goldy.
"Terima kasih..." jawabanku terhenti karena tiba-tiba saja puluhan anak buahku yang dari tadi diam berdiri menyerbuku.
Mereka mengangkat tubuhku tanpa permisi, menggotong dibatas kepala mereka dan melempar- lemparkanku ke udara. Mereka juga bersorak sorak riang, menyanyikan lagu selamat datang untukku. Sambutan meriah yang sangat mengharukan tentunya. Sebegitu senangnya kah mereka melihatku lagi? Melihatku yang kembali ke markas hidup-hidup?
"Hei apa-apan ini? Turunkan aku!" protesku sebagian karena malu dan sebagian lain karena tak ingin luka-luka di dadaku terbuka lagi. Cukup riskan karena tubuhku dilemar-lempar begitu.
Tapi apalah dayaku, para prajurit sepertinya tak mau mendengarkan bahkan semakin liar melempar tubuhku keudara. Terlalu bersemangat dalam euforia perayaan mereka. Mungkin mereka lupa kalau aku masih baru sembuh dari sakit parah.
"Sudah-sudah cukup. Please Stop..." Lanjutku pasrah.
Beberapa menit kemudian tak ada tanda-tanda mereka mau menurunkanku, sementara beberpa bagian tubuhku sudah mulai terasa ngilu. Duh bisa gawat ini kalau lukaku terbuka lagi...
Seakan bisa membaca kekhawatiranku, Amethys yang dari tadi hanya melihat dengan senyuman gelinya mulai bertindak juga. Gadis itu dengan ringan melompat dan terbang diatas kerumunan anak buahku, meraih dan mengambil tubuhku. Dia menggendong tubuhku dengan kedua lengan yang terulur di depan tubuhnya.
Gendongan ala-ala bridal style yang terbalik. Gimana gak terbalik, wong yang menggendong pihak wanita dan yang digendong pihak prianya. Sungguh memalukan dan mencabik harga diriku rasanya.
"Amy?...Jangan model begini. Bantu bolong saja..." Aku mencoba melakukan penawaran.
"Yang sekarat gak berhak protes." Jawabnya ketus, dan aku langsung mingkem tak berani melawan lagi.
'Yah yah aku memang sedang sekarat kan?'
Akhirnya Amethys meneruskan gendongannya padaku, lalu melompat turun dan mendarat ke lantai dengan santainya.
Menyadari hal itu seluruh prajuritku kontan berorak dengan semakin hebohnya, bersiul-siul bahkan bertepuk tangan dengan sesekali menggoda kami.
"Ciee cieee,"
"Suiiiiiit suiiiiiit,"
"So sweeet,"
"Jadi pengen,"
"Mantab kolonel, pulang-pulang bawa cewek."
"Akhirnya kita punya nyonya kolonel."
Aduh sial! Apa-apan coba? Mana ada ceritanya cowok digendong oleh ceweknya begini? Kebalik tau! Benar-benar memalukan dan lebih lagi disaksikan oleh begitu banyak anak buahku.
Entah seperti apa raut mukaku saat ini, yang pasti wajahku sudah sangat panas menahan malu. Sedangkan Amy wajah cantiknya seakan tanpa ekspresi, terlalu cool dan kalem seperti biasanya. Masa dia tidak merasa malu sedikitpun?
"Amy, sudah turunkan aku" pintaku pasrah.
Tanpa membantah Amy segera menurunkan tubuhku dari gendongannya. Dan sekali lagi sial aku tidak bisa mendarat dengan sempurna karena tiba-tiba kurasakan seperti tersengat aliran listrik saat kakiku menjejak ditanah. Membuat aku oleng untuk sesaat, nyaris jatuh tersungkur jika saja Amy tidak kembali menangkap tubuhku.
"Kau tidak apa-apa?" Tanyanya sedikit khawatir mengamatiku dari ujung kepala sampai ujung kaki.
"Hati-hati jangan terlalu banyak bergerak"
Inilah yang tidak kusuka dari Amethys, dia dengan sikapnya yang terlalu dewasa. Sifat yang kadang menyebalkan dan gak ada manis-manisnya.
Letnan Goldy langsung menggiring kami ke ruang pertemuan dan menyuguhkan beberapa jamuan kecil untuk kami.
"Maaf Kolonel, anda akan stay atau hanya mampir kesini sebentar?" Tanya Goldy tanpa basa-basi.
"Sepertinya kau sudah tahu apa yang terjadi?" Tanyaku menyelidik. Pasti Goldy sudah tahu keadaan yang terjadi. Bahkan mungkin dia tahu lebih banyak lagi.
"Maafkan saya Kolonel. Beberapa hari yang lalu rombongan Panggeran Jasper singgah ke markas ini," Jawab Goldy sesuai dengan dugaanku.
"Dan anda tidak menahan serta mencegah mereka pergi?" Amy ikut bertanya dengan nada tidak percaya.
"Saya rasa tekad mereka sudah sangat bulat. Jadi percuma saja jika saya mencegah pun mereka pasti akan melawan dan tidak akan tinggal diam"
"Tapi kan anda bisa mengerahkan pasukan untuk mencegah. Bahkan anda bisa mengejar dan menangkap mereka. Pasukan sehebat prajurit West Line tidak mungkin gagal untuk menangkap lima orang buronan saja." Amy tetap tidak mau terima.
"Sudahlah Amy, kau kayak gak kenal saja dengan anak-anak keras kepala itu. Semakin dicegah mereka malah akan semakin menjadi liar memberontak. Menurutku apa yang dilakukan Goldy sudah benar." Aku mencoba menenangkan Amy.
"Daerah ini belum stabil setelah perang kapan hari itu, para prajurit juga masih sangat sibuk mengurusi berbagai hal. Sangat tak mungkin untuk Letnan Goldy megerahkan pasukan pengejaran untuk mereka." lanjutku ingin mengakhiri perdebatan mereka yang membuat kepalaku makin pusing ini.
"Tapi bagaimana jika terjadi sesuatu pada mereka?"
"Tenang saja nona Sumeragi. Saya sudah menginstal navigasi map wilayah sekitar West Line pada gear mereka. Paling tidak mereka tidak akan tersesat untuk bisa sampai ke Bloddy Hell" Goldy kali ini menjawab.
"Tetap saja terlalu berbahaya untuk mereka..." Amy tetap besikeras tak mau kalah.
"Mereka semua dapat bertarung sendiri dengan gearnya masing-masing. Dan sersan Opal serta sersan Zircon ikut mengawal mereka. Jadi pasti aman." Goldy balik menjawab.
"Tiga orang itu masih amatir dalam pertempuran gear. Bahkan dua orang sersan pun pasti akan kesulitan mengawal mereka bertiga sekaligus. Apalagi untuk daerah berbahaya sepert ini..."
Perdebatan mereka berhenti saat pintu ruangan terbuka. Dan aku mendengus lega serta sangat berterima kasih karenanya.
Masuklah ke dalam ruangan, seorang gadis kalem dengan rambut tersanggul rapi. Dialah Midori, dokter yang bertugas di West Line ini yang sekaligus adalah tunangan Letnan Goldy.
"Seru sekali perdebatan kalian hehe," dia tertawa renyah mencairkan suasana yang terasa sangat menegangkan di dalam ruangan.
"Mungkin anda lupa, mereka berlima sudah dewasa, nona Sumeragi. Mereka pasti bisa menjaga diri sendiri. Sudah saatnya anda tidak menggap mereka sebagai adik-adik kecil lagi" Lanjutnya sambil tersenyum ramah menuangkan teh hangat yang dibawanya ke gelas-gelas di hadapan kami.
"Saya sudah menyiapkan tabung penyembuh untuk anda Kolonel. Mungkin anda ingin beristirahat sejenak," tawarnya sambil tersenyum ramah padaku.
Midori ini memang sudah seperti kakak perempuan dan dokter pribadiku. Dia yang paling tahu keadaan tubuhku, dia juga seperti bisa mengetahui keadaanku hanya dengan sekali lihat. Aku tak pernah bisa menyembunyikan luka atau rasa sakit di tubuhkuku darinya. Pasti ketahuan.
"Tentu," jawabku meneguk habis teh dari gelasku.
"Letnan Goldy tolong kau urus soal Ruby," perintahku pada Goldy dan langsung dijawab dengan anggukan olehnya. Menyanggupi dan memastikan semua perintahku akan dia bereskan.
Selanjutnya aku mohon pamit padanya untuk menuruti saran Midori dan beristirahat sejenak di klinik. Aku berjalan perlahan ke arah klinik diikuti oleh Amy dan Midori sekaligus.
Ada apa ini? Kenapa tubuhku jadi begini? Mungkin memang aku belum sembuh benar dan masih dalam tahap penyembuhan. Rasanya memang sudah tidak sakit, tapi entah mengapa aku merasa lelah sekali. Hanya karena perjalan jauh dengan gear bisa membebani tubuhku separah ini? Bagaimana jika harus bertarung nantinya?
Begitu sampai di klinik langsung kulepas gear suit bagian atasku. Amy membantuku membereskan barang dan pakaianku, sementara Midori menyiapkan alat dan tabung penyembuh yang akan kupakai.
Tanpa banyak basa basi aku langsung tidur diatas meja perawatan. Tak beberapa lama kemudian sebuah kaca berbentuk tabung muncul mengelilingi tubuhku. Dapat kurasakan cairan dingin berwarna hijau bening mengalir dan memenuhi seisi tabung, membuat tubuhku tenggelam didalamnya. Kututup mataku saat aliran energi penyembuh mengalir disekujur tubuhku. Meresap kedalam setiap jengkal pori pori kulitku.
Rasanya begitu hangat dan nyaman.
...________#________...
🌼Yuuuuks gaes PLIIIIS jangan lupa kasih LIKE, VOTE dan KOMEN 🌼