Almekia Kingdom

Almekia Kingdom
59. Opal - Reunion



Beberapa waktu kemudian Ruby meninggalkan kami berdua di ruangan itu. Tak lupa dia menugaskan empat orang anak buahnya untuk terus menjaga dan mengawasi segala gerak-gerik kami.


Sepertinya Ruby disibukkan dengan berbagai macam urusan turnamen. Dari perkembangan situasi yang kuamati Ruby dan timnya yang mengurusi segalanya tentang turnamen. Bahkan bisa dikatakan dialah yang menyelenggarakan turnamen ini.


Kumanfaatkan waktu luang yang kami punya untuk mencari informasi sebanyak- banyaknya. Dari kertas-kertas dan dokumen yang ditinggalkan Ruby begitu saja diatas meja didalam ruangan ini, bahkan sesekali kutanyai keempat pengawal kami. Pertanyaan standard yang sekiranya dapat mereka jawab tanpa mencurigaiku.


Selanjutnya dapat kusimpulkan bahwa turnamen seperti ini rutin diadakan di BloodyHell tiap tahunnya. Untuk memilih para petarung dan gear master hebat yang akan yang akan menjadi bagian dari orang-orang terpandang disini. Untuk tahun ini ada sedikit hadiah spesial tambahan bagi pemenang yaitu akan menjadi saudara Ruby jika wanita dan akan menikahinya jika pemenangnya seorang pria.


Ratusan orang yang telah terdaftar untuk mengikuti turnamen tahun ini dan telah didapatkan 11 orang yang lolos dari babak penyisihan. Babak penyisihan rupanya telah dilaksanakan beberapa hari yang lalu dengan sistem battle royal.


Dan mulai hari ini akan dilaksanakan babak lanjutan, dengan duel gear 1 lawan 1. Aku seperti yang dikatakan Ruby tadi akan ikut menjadi peserta yang ikut bertarung dalam turnamen ini tanpa bisa kuhindari. Menjadi perwakilan dari Ruby.


Aku menjadi semakin penasaran siapakah Ruby ini. Bagaimana dia bisa memiliki begitu banyak anak buah? Bagaimana dia bisa mengadakan sebuah turnamen sebesar ini? Bagaimana dia bisa memiliki pengaruh sebesar itu disini? Pengaruh besar yang bahkan dapat membuat ratusan pria ingin menikah dengannya bahkan dengan pertaruhan nyawa.


Dia memang gadis yang cantik dan menawan. Tapi kupikir tidak mungkin hanya karena kelebihan fisiknya saja, para pria itu sampai tergila-gila padanya. Pasti ada alasan yang lain pada dirinya.


Kalau mengingat usia Ruby yang masih sangat muda, kuperkirakan paling dia masih seusia denganku, sekitar awal 20 tahunan. Tak mungkin dia adalah sang pemimpin di kota Bloody Hell ini, atau jangan-jangan dia adalah putri dari pimpinan itu sendiri?


"Ruby itu siapa nama belakangnya?" Tanyaku pada salah satu anak buah Ruby. Pertanyaan standart.


"Nightray," Jawabnya acuh dan singkat. Merasa tak keberatan dengan pertanyaanku.


"Ruby Nightray? Dia putri dari Obsidian Nightray?" Tanyaku tak percaya dan orang yang kutanyai hanya mengangguk ringan dengan malas sebagai jawaban.


Bagaimana mungkin Ruby adalah putri dari Paman Obsidian, orang yang kami cari selama ini? Berarti tujuan kami sudah semakin dekat. Disinilah aku baru menyesali kebodohanku karena tidak menanyakan nama belakang Ruby sebelumnya. Seharusnya sudah kutanyakan sejak awal sehingga kami bisa mengorek sedikit informasi darinya.


Setelah mengetahui kenyataan ini, membuatku ikut tertarik denangan turnamen ini. Dengan memenangkan turnamen berarti akan mempermudah langkah kami untuk mendekati Ruby dan menemui ayahnya. Hal ini semakin bertambah kuat alasanku untuk mengikuti turnamen ini.


"Maaf saya ingin ke toilet." Pintaku pada anak buah Ruby yang menjagaku.


Dia hanya mengernyit dan berpandangan dengan teman-temannya tanpa menjawab, terlihat ragu.


"Sudah hampir keluar ni. Atau aku harus ngompol disini?" Desakku sedikit memaksa.


Dan akhirnya mereka mengijinkanku. Dua orang mengawalku ke kamar mandi dan dua orang yang lainnya tetap di ruangan untuk menjaga Platina. Aku tersenyum dalam hati, ternyata aktingku lumayan juga hehe. Bakat juga jadi artis ni sepertinya.


Sebenarnya aku hanya ingin keluar dari ruangan penyekapan kami, ingin melihat-lihat keadaan diluar, ingin mempelajari situasi dan lokasi kami saat ini.


Ratusan telah orang memenuhi ruangan, sibuk berbincang dengan orang disebelahnya atau hanya berdiri diam mengamati situasi dan melihat layar.


Kuhentikan langkahku sejenak di depan layar besar yang menampilkan pengumuman. Kubaca apa yang tertulis disana. Nama-nama peserta turnamen yang berhasil lolos dari babak penyisihan. Betapa kagetnya aku saat kudapati nama-nama yang terdengar tidak asing tertulis disana, Zircon, Jasper dan Saphir.


Dasar bodoh, mengapa mereka malah memakai nama sebenarnya? Dan lagi mengapa Zircon membiarkan Jasper dan Saphir mengikuti turnamen berbahaya ini? Diluar segala kekhawatiranku sebenarnya ada rasa lega juga mengetahui bahwa mereka bertiga masih hidup sampai saat ini. Yang penting mereka bertiga selamat sampai ke kota Bloody Hell ini.


"Ayo jalan," salah satu anak buah Ruby tidak sabar. Kembali menggiringku berjalan ke arah toilet.


Dan sesampainya disana, mereka bahkan mengikutiku masuk sampai ke dalam toilet tersebut. Kuhampiri salah satu wastafel yang tersedia disana, kuambil air ditelapak tanganku dan kubasuhkan ke wajahku. Kubasahi seluruh wajah dan sebagian rambutku, ah rasanya segar sekali.


Betapa kagetnya aku saat dari pantulan kaca didepanku dapat kulihat sosok yang sangat kukenal, Zircon. Dia keluar dari salah satu bilik toilet, menuju ke wastafel disebelahku. Sahabatku itu menyalakan kran dan mencuci tangannya dalam diam.


Dapat kulihat dia sedikit bereaksi menyadari kehadiranku. Tapi kemudian dia meneruskan kegiatannya mencuci tangannya, seolah-olah tak mengenalku. Ini dia akting yang paling dikuasai olehnya, sok cuek dan pura-pura tidak mengenal seseorang. Kayaknya hampir setiap hari dia begitu. Jadi yah, natural sekali sikapnya saat ini.


Kukerahkan sebagian tenaga dalamku untuk menjangkau pikirannya, kucoba untuk sedikit bertelepati padanya. Yah sedikit-sedikit aku bisa ilmu ini meskipun aku bukan wishperer murni.


Sama seperti seorang healer, wishperer juga merupakan bakat alami. Sebagian dari kami dapat mempelajari ilmu ini dengan sangat terbatas. Jumlah pesan yang dapat kami kirimkan sangat sedikit dan juga jarak antara pengirim pesan dan penerimanya tidak bisa terlalu jauh.


"Zircon.." sapaku padanya melalui telepati.


Zircon tetap diam tanpa bereaksi tapi aku tahu dia dapat mendengarkanku. Seperti dugaanku tentu saja dia tak dapat membalasnya karena dia mungkin tidak mempelajari ilmu whisperer yang memang sering diabaikan karena dianggap tidak penting.


Kebanyakan orang lebih fokus pada ilmu bela diri saja daripada ilmu-ilmu penunjang seperti healer dan wishperer.


Kedua penjagaku sudah mulai gelisah melihatku telalu lama di wastafel. Aku pun beranjak dari sana untuk menghindari kecurigaan mereka. Kumasuki salah satu bilik toilet sempit untuk mengerjakan keperluanku. Mereka berdua tidak ikut masuk karena bilik toilet tentu saja terlalu sempit untuk lebih dari satu orang.


"Zircon, aku dan Platina baik-baik saja. Nanti aku akan ikut turnamen sebagai perwakilan Ruby. Mereka menawan Platina, menjadikannya sebagai Sandra agar aku mau ikut turnamen ini." kukirimkan pesan sesingkat dan sepadat mungkin pada Zircon. Kuharap dia dapat mendengarnya dengan jelas.


Setelah menyelesaikan ritual toiletku, aku keluar dari bilik dan kembali ke wastafel tadi untuk mencuci tanganku. Zircon sudah tidak ada disana. Bagus sekali sepertinya dia memahami pesanku. Yah dia memang sudah cool dari sononya, tak akan susah baginya untuk berakting diam seribu bahasa dan pura-pura tidak mengenalku seperti itu.


Dan harapanku hanya satu, semoga saja kami tidak harus berhadapan satu sama lainnya sebagai lawan tanding nanti.


..._______#________...


🌼Yuuuuks gaes PLIIIIS jangan lupa kasih LIKE, VOTE dan KOMEN 🌼