
Pertandingan terakhir babak perempat final hari ini adalah pertandinganku melawan seorang wanita bernama Valerie yang rencananya akan dilangsungkan beberapa saat lagi. Perkiraanku meleset kukira aku akan bertarung melawan Opal pada pertandingan berikutnya di semifinal. Yah sepertinya menyenangkan juga untuk bertarung melawanya salah satu sahabatku itu dalam duel serius seperti ini. Tentunya setelah aku berhasil mengalahlan Valerie terlebih dahulu di babak perempat final sebentar lagi.
Betapa kagetnya aku ternyata Opal harus mengakui kekalahan di tangan Simone. Memang Opal sedikit sial dalam pemilihan gear, senjata twin whip Simone jauh lebih unggul daripada tombak, senjata yang digunakan untuk gear Opal. Twin Whip Lebih fleksiblek, ringan dan memiliki jangkauan serta variasi serangan yang luas. Sedangkan tombak yang digunakan Opal memang lebih kuat secara tenaga tapi lebih kaku dan menyulitkan pergerakan serta jumlah variasi serangannya yang dapat dilakukan pun sangat terbatas.
Dan satu lagi kelebihan sekaligus kelemahan Opal adalah otaknya yang terlalu encer. Otaknya yang terlalu banyak berfikir tentang berbagai hal. Membuatnya terlalu banyak pertimbangan, terlalu memikirkan strategi dalam setiap gerakan dan serangan yang akan dilakukannya. Seharusnya dia bisa lebih bebas dalam bertarung, biarkan instingnya lebih berperan daripada otaknya.
Apalagi untuk melawan Simone lawannya di pertandingan tadi, Simone adalah tipe petarung yang sangat tidak terduga dalam setiap gerakannya. Gaya bertarungnya yang juga senyentrik penampilannya tapi tak diragukan lagi bahwa dia adalah seorang gear master yang hebat. Memang sedikit ngeri jika membayangkan kemampuan tempur Simone, tapi entah mengapa darahku malah bergejolak dan membuatku semakin bersemangat untuk dapat bertarung melawannya.
Setelah semua proses pembersihan dan perbaikan arena selesai, panitia memanggil namaku untuk ke hanggar gear. Kuangkat tanganku sebagai jawaban panggilan mereka lalu aku berjalan dengan santai memenuhi panggilan itu ke arah hanggar gear.
Tak ada proses berpamitan atau meminta semangat kali ini. Jasper dan Saphir sudah kusuruh untuk kembali ke penginapan duluan, kusuruh mereka beristirahat saja setelah melewati hari yang berat ini. Mereka tak perlu menunggu dan menghadiri pertandinganku.
Kulihat Jasper masih sedikit syok atas kekalahannya melawan Jade tadi, setelah pengalaman pertamanya bertarung dengan gear yang sungguh-sungguh dan mempertaruhkan hidup dan matinya, mempertaruhkan nyawanya. Mungkin Jasper sedikit kecewa dan depresi dengan ketidak mampuannya untuk menjadi juara turnamen ini. Jadi kuputuskan lebih baik dia beristirahat saja di penginapan untuk menenangkan diri.
Begitu sampai di hanggar kudapati gear berwarna kuning sudah berdiri tegak di gear pad menantiku. Tanpa basa basi langsung kunaiki dan kulakukan pengecekan statistik dan perlengkapannya. Aku tersenyum menyadari betapa dewa keberuntungan berpihak padaku. Gearku kali ini bersenjata dua buah senapan, senjata yang paling kusukai selain pedang.
Gear kali ini lumayan, tidak terlalu bobrok atau rusak. Perlengkapan dan sparepart di dalam kokpid juga masih bagus dan berfungsi dengan baik. Kugenggam kedua senapanku, kubawa juga beberapa peluru cadangan yang sudah disediakan panitia disana untukku.
Segera kuterbangkan gearku dari hanggar dan kulandingkan ke arena pertandingan. Disana kudapati lawanku sudah berdiri tegak dengan gear berwarna coklat dengan senjata cakram ganda di kedua tangannya.
"Halo semuanya masih semangat di sore ini? Sesaat lagi kita akan menyaksikan pertandingan terkahir babak perempat final. Pertandingan terakhir hari ini antara tuan Zircon dengan gear kuningnya melawan nona Valerie dengan gear coklatnya" terdengar suara wasit yang menggema di seluruh penjuru arena diikuti suara gemuruh dan sorak sorai penonton dari segala penjuru. "Jangan lewatkan kesempatan terakhir untuk bertaruh hari ini. Pastikan kalian memilih siapa pemenang pertandingan dan melaju ke babak selanjutnya dengan tepat"
"Baiklah langsung saja kita mulai pertandingan kita. Are you ready?....Gooooo!!" wasit itu menembakkan pistol ke udara sebagi tanda dimulainya pertandingan.
Begitu wasit menyatakan pertandingan dimulai segera kubidikkan senapanku kearah lawanku, kulancarakan tembakan beruntun kearah lawanku itu. Aku memaksanya untuk menghindar dan terus menghindari seranganku tanpa sanggup melakukan serangan balasan. Kadang kala senjata yang kita dapatkan atau gunakan untuk bertarung memang sangat mempengaruhi hasil akhir pertandingan. Yah semuanya kembali kepada keberuntungan untuk situasi turnamen ini.
Setelah beberapa menit berlalu kami masih terus saja seperti bermain kucing-kucingan. Dengan aku terus menembakinya dan Valerie terbang kesana kemari menghindari setiap tembakanku, sepertinya dia tidak tahu cara menggunakan cakram gandanya, dia hanya memakainya sesekali untuk menyerangku dari jarak dekat. Padahal seharusnya jika digunakan oleh orang yang profesional senjata itu bisa dilemparkan dan akan kembali ke pemiliknya dengan sendirinya seperti bumerang ganda.
Aku tak mau mengahabiskan peluruku untuk terus bermain main dengannya, kuserang lagi gear coklat musuhku dengan tembakan beruntun yang bertubi-tubi untuk membuatnya kerepotan menghindar, untuk membuatnya kehilangan keseimbangan dan kendali penuh atas gearnya. Dan setelah kudapatkan momen itu segera kusejajarkan kedua senapanku menjadi satu. Kufokuskan tembakan kedua senapan itu pada satu titik di dada gear coklat Valerie.
Kukerahkan tenaga dalamku untuk mengeluarkan chi api yang menyatu dengan tembakan peluruku. Kedua peluru api itu melaju dengan sangat cepat dan tentu saja Valerie yang tidak menduga seranganku tidak siap menerimanya. Terdengar dentuman sangat keras saat kedua peluruku berhasil menembus tubuh gear coklat lawanku, melontarkan tubuh gear itu sejauh beberapa meter dan membakar gear itu perlahan, api berkobat dari luka bekas tembakan yang kulancarkan tadi.
"A, aku, aku menyerah....tolong aku." Ujar Valerie dengan nada kebingungan dan ketakutan dari dalam gearnya.
Begitu mendengar kalimat menyerah Valerie, wasit menyatakan kemenanganku dan kontan terdengar sorakan-sorakan perayanaan kemenanganku bergemuruh di segala penjuru. Kuperhatikan dengan seksama tak ada seorang pun yang menghiraukan permintaan tolong Valerie. Bahkan panitia pun tak ada yang bergegas menolongnya, menyelamatkannya dari kobaran api yang membakar gearnya dan tubuhnya sendiri...
Tanpa memperdulikan semua kebisingan dan kehebohan disekitarku, kuhampiri gear musuhku yang masih tergeletak tak berdaya di lantai arena. Kukeluarkan chi es di telapak tanganku untuk memadamkan api yang berkobar hebat di badan gear itu. Segera kubuka paksa kokpid gearnya dengan tinjuku, kukeluarkan tubuh Valerie yang meringkuk terjebak, terjepit dan terlilit oleh kabel dan peralatan di dalam kokpid. Pantas saja dia tak bisa keluar dan menyelamatkan dirinya sendiri dari gear yang terbakar itu, kubantu mengeluarkan tubuhnya dari kokpid gearnya dengan tangan gearku.
Dari layar gearku dapat kulihat tubuh Valerie yang sudah lemas kekurangan oksigen, dia menatapku dengan pandangan yang sulit diartikan. Kuletakkan tubuh gadis itu ditelapak tangan kiriku lalu kuterbangkan gearku kembali hanggar dengan hati-hati.
Kudaratkan gearku sehalus mungkin di gearpad hanggar, tak ingin memberikan guncangan yang terlalu keras pada penumpang di tangan gearku. Aku keluar kokpid setelah mematikan seluruh tombol di gearku, dan melompat turun dari kokpid gearku. Valerie juga melompat turun dari telapak tangan gearku, dia menghampiriku dengan sedikit ragu ragu.
"Er, Ehm...Tuan Zircon. Terima kasih anda sudah menolongku." Ujar Valerie mendekat, menghampiriku dengan wajah merah padam.
"Sama-sama," jawabku.
"Kamu, kamu sangat baik dan tampan sekali tuan... Semoga, semoga kamu bisa memenangkan turnamen tahun ini."
Tanpa bisa kucegah tiba-tiba saja gadis itu sudah menjabat tanganku, kemudian memeluk tubuhku dan dilanjutkan dengan mencium ringan sebelah pipiku sebelum berlalu berlari menjauhiku keluar hanggar gear dengan buru-buru. Membuatku bengong, kebingungan melihat kelakuan agresifnya. Apa-apaan ini?
"Wah wah, tuan Zircon ternyata tidak hanya ahli bertarung. Anda juga pintar sekali merayu wanita." Sebuah suara dengan nada sinis menyapaku, dari nada suaranya sepertinya dia sedang sangat kesal akan sesuatu hal.
Kutajamkan penglihatanku dan dapat kulihat sesosok gadis berambut merah menatapku dengan pandangan menusuk dari salah satu sudut hanggar. Ruby! Sejak kapan dia disana? Kenapa aku tidak menyadarinya? Kulihat Wajah manis gadis itu terlihat merengut, ditekuk-tekuk dan aura gelap mengelilinginya.
"Nona Ruby," Sapaku sedikit mendekat padanya. Entah mengapa hatiku selalu berbunga saat melihat wajah gadis ini, bahkan hanya untuk bertemu dan menyapanya saja. Kebahagiaanku semakin bertambah menyadari bahwa dia masih mengingat namaku, bahkan menyapaku...
Ruby tidak menjawab sapaanku, wajahnya semakin merengut dengan bibir mengerucut.
"Huuuh," dia memalingkan mukanya dariku dengan kasar, kemudian berlalu begitu saja meninggalkanku ke arah pintu hanggar.
Kini tinggalah aku sendirian di hanggar dengan terbengong - bengong kebingungan dengan sikap Ruby tadi.
"Apa dia marah padaku?" Gumanku semakin tak habis pikir melihatnya
"Kenapa? Apa aku melakukan suatu kesalahan padanya?" Aku kembali bertanya pada diri sendiri.
Biasanya aku tak akan perduli dengan perasaan orang lain, tapi kali ini enah mengapa ada sisi lain dari diriku yang tidak bisa mengabaikan ekspresi wajah kesal dan marah Ruby tadi.
Entah mengapa susah sekali bagiku untuk mengetahui dan memahami perasaan orang lain. Aku jarang sekali bisa menebak jalan pikiran dan kata hati lawan bicaraku, terutama bila dia adalah seorang 'wanita'. Makhluk satu ini memang sangat merepotkan dan susah dimengerti dengan segala keruwetannya.
Tanpa bisa mendapatkan jawaban sekeras apapun dan bagaimanapun aku memikirkannya, akhirnya kuputuskan untuk pergi saja dari hanggar dan kembali ke penginapanku untuk beristirahat.
..._________#_________...
🌼Yuuuuks gaes PLIIIIS jangan lupa kasih LIKE, VOTE dan KOMEN 🌼