
Beberapa saat setelah kami menyelesaikan prosesi makan kami, suasana markas menjadi sedikit gaduh. Pertanda rombongan penjemputan telah tiba di markas ini, rombongan perdana menteri telah tiba.
Kami bertiga segera bangkit dari kursi kami. Beranjak meninggalkan meeting room menuju ke hanggar gear. Beberapa maid memasuki ruang pertemuan tadi, membereskan sisa jamuan kami. Kemungkinan juga mereka mempersiapkan jamuan berikutnya untuk rombongan perdana menteri.
Begitu sampai di hanggar, kami mendapati sebuah sand submarine. Kendaraan khas padang pasir yang biasa digunakan untuk pergerakan militer di padang pasir. Kapal selam padang pasir yang bahkan dapat masuk dan menyelam ke dalam lautan padang pasir.
Kendaraan yang cocok digunakan untuk pengintaian dan bersembunyi di padang pasir tandus yang tanpa ada apapun diatasnya selain lautan pasir. Kapal ini juga dapat melaju diatas permukaan padang pasir, digunakan sebagai alat transportasi darat.
Rombongan perdana menteri terdiri dari lima orang. Perdana menteri, Paman Kunzite, Menteri luar negeri Paman Gildart, seorang yang sepertinya sekretaris kerajaan, dan dua orang yang seperti pengawal pribadi kedua menteri itu.
Beberapa parajurit rendahan yang juga mengawal mereka dan tetap stay di kapal mereka. Entah mengapa aku merasa formasi ini terlalu berlebihan kalau hanya untuk menjemput kami. Sepertinya ada maksud lain dari rombongan mereka ini.
"Tak biasanya perdana mentri yang datang sendiri ke markas kecil ini?" Dapat kudengar Goldy bertanya kepada Paman Kunzite setelah melakukan penghormatan dan sambutan formalnya kepada beliau dan rombongannya.
"Kami ada urusan diplomasi dengan Saxan Kingdom. Membahas tentang perbatasan wilayah setelah penyerangan mereka ke West Line kapan hari. Masalah yang harus segera diselesaikan sebelum menimbulkan konflik lebih jauh lagi." Jawab Paman Kunzite pada Goldy.
Benar dugaanku, rombongan ini baru saja menyelesaikan tugas diplomasi ke wilayah kerajaan lain. Dan karena melewati West Line dalam perjalanan pulangnya, mereka sekalian singgah untuk sekalian menjemput rombongan kami. Jadi bukan sengaja menjemput kami dengan rombongan lengkap begini.
Aku, Saphir dan Platina langsung menghampiri dan menghadap kepada rombongan itu. Memberikan penghormatan resmi kami kepada mereka.
Paman Kunzite menyambut penghormatan kami dan Goldy mempersilahkan rombongan itu untuk ke ruangan meeting. Mengundang mereka untuk menikmati jamuan yang telah disediakan disana.
Paman kunzite meminta ruangan lain untuk berbicara dengan kami bertiga sementara sisa rombongan menikmati jamuan. Goldy tentu hanya bisa menyetujui dan menyediakan keinginanya. Dia mempersilahkan kami ke ruangan pertemuan yang lebih kecil.
Paman Kunzite duduk di kursi pimpinan dan kami bertiga duduk di hadapan beliau seperti akan disidang saja. Beliau memberikan tatapan setajam silet kepada kami bertiga satu persatu. Tatapan yang mampu membuat bulu kuduk meremang dan nyali kami menciut seketika dibuatnya.
"Jadi, bagaimana laporannya sersan Opal Sumeragi?" Beliau menagih laporanku padanya.
"Lapor perdana menteri. Saya Sersan Opal Sumeragi, bersama dengan Sersan Zircon, Pangeran Jasper, Saphir dan Platina yang melarikan diri dari istana berhasil tiba di Bloody Hell dengan selamat. Memang ada sedikit masalah seperti penculikan saya dan Platina yang menyebabkan kolonel Diamond dan dokter Amethys harus ikut menyusul kami kesana."
"Tetapi semua masalah sudah berhasil teratasi dengan damai. Pangeran Jasper dan sersan Zircon memutuskan untuk tetap tinggal di kota Bloody Hell untuk melanjutkan pencarian mereka. Sementara ketiga gadis akan kembali ke istana." Aku memberikan laporan dengan nada formal pada beliau.
"Bagaimana keadaan Kolonel Diamond dan dokter Amethys?" Tanya beliau sedikit khawatir menyadari Diamond dan kak Amethys tidak nampak batang hitungnya dari tadi.
"Kolonel Diamond dan dokter Amethys sudah tiba di markas West Line juga. Tetapi karena kondisi tubuh Kolonel masih sedikit lemah, beliau memerlukan sedikit perawatan di klinik. Dokter Amethys sedang bersamanya di klinik saat ini." Aku melanjutkan laporanku mengenai Diamond dan Kak Amethys.
"Laporan diterima." Jawab Paman Kunzite. Kulihat beliau membuang napas lega. Selain itu beliau sedikit menyunggingkan senyuman padaku. Sepertinya beliau senang mendengar kami semua selamat dan tak ada yang terluka parah.
"Perkara hukuman untukmu nanti akan diputuskan selanjutnya. Sebagai seorang Sersan, Opal dan Zircon, hukuman kalian juga akan diputuskan oleh pengadilan militer." beliau menambahkan padaku.
"Siap, laksanakan." Jawabku mantap. Memang tak dapat dihindari tindakanku ini sudah sewajarnya mendapatkan sanksi militer yang cukup berat.
"Saphir dan Platina apa kalian sudah tahu kesalahan kalian?" Lanjut Paman Kunzite mengalihkan pandangan dan bertanya pada kedua gadis yang duduk disebelahku. Kedua gadis yang sudah gemetar ketakutan daritadi.
"Sudah paman, kami sudah memahami kesalahan semua kami." Jawab Platina dengan nada menyesal.
"Maaf ayah, kami bersalah. Kami siap menerima hukuman apapun atas kesalahan kami." Saphir menambahkan dengan nada sedikit ketakutan. Padahal Paman Kunzite adalah ayahnya sendiri.
"Apa begini hasil didikan kalian sebagai seorang putri yang anggun dari kerajaan Almekia? Kabur dari istana dan melarikan seorang pangeran?" tanya Paman Kunzite dengan nada menusuk.
Baik Saphir maupun Platina tak berani menjawab, malah semakin menunduk dalam. Tak berani mengangkat wajah dan menatap si penanyanya. Sadar benar bahwa mereka melakukan kesalahan yang sangat fatal dan layak dihukum.
"Aku pribadi dan semua orang tua kalian sangat menyayangkan tindakan kalian ini. Kami benar-benar kecewa dengan pikiran kekanakan kalian."
Baik aku ataupun kedua gadis disebelahku tak ada yang sanggup menjawab. Tak dapat mengelak atau memberikan pembelaan dan pembenaran atas kesalahan fatal yang kami lakukan.
"Nanti di istana paduka ratu yang akan memberikan hukuman langsung pada kalian Platina dan Saphir setelah kembali ke istana. Kalian sepertinya terlalu manja dan perlu sedikit pendisiplinan." Paman Kunzite akhirnya memutuskan.
"Ba, baik..." Saphir dan Platina menjawab hampir bersamaan. Terdengar masih ketakutan.
"Jasper, apa Jasper menemukan sesuatu di Bloody Hell?" Tanya Paman Kunzite menyelidik setelah kami hanya berduaan saja.
Dapat kulihat wajah Paman Kunzite sedikit melunak. Sepertinya ingin melanjutkan pembicaraan dengan lebih santai denganku. Suasana sudah sedikit melunak sekarang, suasana informal.
"Jasper menemukan sebuah kuil keramat di sebelah danau, danau keabadian. Lebih jauh lagi dia juga melihat catatan pernikahan paduka ratu dan almarhum paduka raja disana. Jasper bahkan mendapatkan selembar foto pernikahan kedua orang tuanya dua puluhan tahun yang lalu." Jawabku menceritakan penemuan Jasper tentang catatan pernikahan kedua orang tuanya.
Paman Kunzite terlihat sangat kaget mendengarnya, tetapi sepertinya beliau sudah dapat menduga akan hal itu. Mungkin beliau sudah dapat menduga apa yang akan kami temukan di kota Bloody Hell.
"Jasper juga sering mendapat halusinasi atau mungkin ingatan-ingatan masa lalu tentang kedua orang tuanya." Aku juga mengatakan kejanggalan dari Jasper yang sedikit mengusikku. Ingin memastikan kebenaran dari penglihatan-penglihatan Jasper itu.
"Halusinasi? Ingatan bagaimana?" Kali ini Paman Kunzite terlihat benar-benar penasaran.
"Jasper mengatakan dia seolah menyaksikan prosesi pernikahan kedua orang tuanya bahkan dia juga melihat saat-saat kematian paduka raja, ayahandanya. Melihatnya langsung," jawabku menjelaskan.
Wajah Paman Kunzite langsung memucat seketika demi mendengar jawabanku. Ada tatapan ketidak percayaan disana. Yah memang tidak masuk akal rasanya untuk mempercayai ingatan yang dilihat Jasper. Siapapun yang mendengarnya pasti menganggap Jasper gila. Tapi tetap saja sebagai sahabatnya, aku percaya sepenuhnya pada Jasper.
"Obsidian, Kalian sudah bertemu dengan Obsidian disana?" tanya beliau menyelidik.
"Sampai kami pergi dari Bloody Hell, kami belum bertemu Paman Obsidian. Beliau tiba-tiba menghilang begitu saja." Jawabku jujur pada beliau.
Paman Kunzite terlihat lega kali ini begitu mendengar jawabanku. Mungkin beliau bisa sedikit lega bahwa Jasper belum sempat bertemu Paman Obsidian, belum sempat mendengar apapun darinya.
"Paman, boleh aku bertanya satu hal?" Tanyaku dengan ragu-ragu padanya.
"Katakanlah," beliau sepertinya tidak keberatan.
"Apakah Diamond adalah putra kandungmu?"
"Opal! Bicara apa kau?!" Tanpa kuduga Paman Kunzite langsung bereaksi yang sedikit berlebihan. Terlihat sangat marah degan mata berkikat.
"Maaf paman. Paduka ratu pernah memintaku untuk mencocokkan DNA nya dengan Diamond. Dan hasilnya 99,9% cocok." Aku mengatakan alasanku untuk menanyakan hal ini padanya.
"Astaga Nefrit..." Paman Kunzite terdengar pasrah.
"Apa kau sudah mengatakan hal ini pada Diamond?" Tanya beliau selanjutnya tidak sabaran.
"Belum. Aku rasa anda yang lebih berhak untuk memberitahu langsung padanya," ujarku.
Beliau kembali terdiam, seakan mempertimbangkan kemungkinan untuk mengatakan kebenaran ini pada Diamond atau tidak. Aku pun sebenarnya sangat penasaran dengan misteri ini. Tapi kurasa aku tidak berhak untuk mengetahuinya sebelum Diamond sendiri mengetahui kenyataan sebenarnya tentang siapakah orang tua kandungnya.
"Bagaimana keadaan anak itu sekarang?"
"Sudah jauh lebih baik. Hanya saja dia masih mudah kelelahan. Hal yang normal mengingat dia masih dalam masa penyembuhan."
"Apakah mumungkinkan untuk berbicara padanya saat ini?"
"Mungkin beberapa jam lagi. Diamond masih dirawat di tabung penyembuh sekarang."
"Baiklah nanti aku akan bicara padanya setelah dia siuman." Paman Kunzite mengakhiri percakan kami.
"Terimakasih, kau boleh pergi sekarang." Ujarnya mengusirku dari ruangan.
Aku pamit mohon diri padanya sebelum meninggalkan ruangan. Dapat kulihat pria paruh baya itu seperti sedang termenung dan berpikir keras. Mungkin beliau memikirkan ucapanku, mungkin beliau memikirkan bagaimana cara untuk memberitahu Diamond tentang kebenaran ini.
...______#_______...
🌼Yuuuuks gaes PLIIIIS jangan lupa kasih LIKE, VOTE dan KOMEN 🌼