
Pagi-pagi sekali kupencet bel pemanggil dokter yang menggantung disamping ranjangku. Bunyi bel ini akan langsung terhubung ke kamar pribadi atau kantor Amethys di rumah sakit ini.
Sebenarnya aku tak ingin merepotkannya dengan bel ini tapi Amy begitu ngotot memasangnya. Bahkan lebih jauh bel itu khusus berbunyi di kantor dan kamar pribadinya. Katanya sih agar dia bisa langsung datang begitu aku membutuhkannya.
Karena itulah sudah seminggu sejak aku sadar tak pernah sekalipun kupencet bel itu separah apapun rasa sakit yang kuderita. Tentu saja karena aku tak ingin merepotkannya. Mana tega.
Tetapi walaupun begitu entah bagaimana Amy selalu saja datang setiap aku membutuhkannya meski tanpa kupanggil sekalipun. Entah dia itu punya naluri yang kuat, telepati atau apa.
Dan sekarang bukannya aku iseng, usil atau kurang kerjaan untuk membangunkan dia di pagi buta begini. Tapi saat ini aku benar-benar membutuhkannya…
“Diamond?...Ada apa Diamond?... Bagian mana yang sakit?” Tak sampai lima menit kemudian Amy sudah berlari memasuki kamarku dengan sangat tergesah-gesah dan panik.
Mau tak mau aku tersenyum geli melihat penampilan Amethys kali ini. Kalau saja bekas luka - lukaku tidak sakit saat dipakai bergerak, bahkan hanya untuk tertawa. Aku pasti sudah ngakak terbahak-bahak untuk menertawakannya.
Bayangkan saja Miss Perfect amethyst Sumeragi yang selalu tampil cantik dan sempurna. Kali ini dia hadir dengan rambutnya yang setengah basah dan terurai kusut, wajah polos tanpa make up (yang tentunya tetap cantik), kemejanya sedikit miring karena kancing-kancing yang salah letak lubangnya, roknya miring, serta dia masih memakai sandal tidur dengan motif kepala boneka.
Kapan lagi coba aku bisa melihatnya begini? Dia tampak begitu manis dan menggemaskan sekali.
“Tolong bantu aku duduk, Amy.” Aku sedikit merasa bersalah membuatnya secemas itu.
“Ehm rapikan dulu penampilanmu, aku tak akan melihat.” lanjutku menutup mata.
“Hei jangan bilang kau memanggilku hanya untuk ini.” ujarnya dengan nada mengancam sambil berkacak pinggang.
Amy membalikkan tubuhnya dariku untuk sedikit merapikan penampilannya. Beberapa saat kemudian dirinya sudah serapi biasanya. Yah walaupun rambutnya yang sudah kering dengan sedikit aliran chi masih terurai dan masih memakai sandal boneka.
“Tentu tidak.” jawabku cepat-cepat tak ingin membuatnya marah.
Amy tersenyum mendengarnya, kemudian mencondongkan tubuhnya, membantuku duduk dan memasang bantal di sandaran ranjangku.
“Uuuuuughhh,” rintihku tak tertahankan saat rasa sakit yang luar biasa menyerang sewaktu tubuhku digerakkan. Hanya untuk bergerak saja sudah sesakit itu? Parah sekali sepertinya luka-lukaku.
“Bagian mana yang sakit?” Tanya Amy langsung waspada setelah menegakkan tubuhnya kembali. Memeriksa keadaanku dari kepala ke ujung kaki.
“Seluruh tubuhku” jawabku dengan sedikit manyun. “Kenapa si yang kau katakan selalu saja tentang penyakitku?” protesku padanya.
“Itu karena kau tidak pernah mau mengatakannya dengan jujur tentang rasa sakitmu, kau tak pernah mau membaginya denganku atau dengan orang lain! Padahal aku ingin sekali ikut merasakan penderitaanmu, rasa sakit yang kau rasakan. Katakanlah! Mengeluhlah padaku! Toh hal itu tak akan mengurangi kadar kejantananmu sedikitpun.” Jawab Amy tanpa malu-malu sedikitpun, begitu lugas, dewasa sekali.
Sebaliknya aku dikatai begitu saja olehnya sudah membuat temperature wajahku naik beberapa derajat, entah seperti apa rona wajahku sekarang. Mungkin sudah semerah kepiting rebus. Sepertinya ilmu playboyku sama sekali tak berguna saat berhadapan dengan Amethys.
“Sudahlah. Ada apa sebenarnya kau memanggilku pagi-pagi begini? Huh bodoh sekali aku sampai mencemaskanmu.” Amy melanjutkan perkataannya dengan tenang, bahkan dingin.
Yah mungkin inilah resiko menjalin hubungan dengan wanita yang berusia dan berfikiran jauh lebih dewasa. Wanita itu akan memperlakukan kita hampir seperti perlakuan ibu kita pada kita.
Oiya kami sudah resmi in relationship lho, tidak seruwet yang kuduga ternyata…
Pada malam pertama aku siuman dari koma kubilang padanya aku bisa kembali sadar karena mendengar suaranya dari alam sana. Alam persimpangan antara hidup dan mati. Kukatakan juga padanya bahwa aku juga mencintainya, sangat mencintainya dari dulu dan tak pernah berubah sampai sekarang.
Kemudian kuajak dia untuk menjalin hubungan resmi denganku sebagai kekasihku. Amethys setuju dan mau menerimaku dengan segunung persyaratan untukku. Cintanya untukku ternyata bersyarat hehe.
Tentang perbaikan sikapku dalam menghadapi cewek lain, tak boleh jadi play boy lagi. Tentang sikapku yang dianggapnya terlalu sembrono dan tidak sayang nyawa. Tentang gaya berpakaianku yang tidak rapi. Tentang banyak hal detail yang tidak penting lainnya.
Dan aku menyetujuinya, menyanggupi semua persyaratan yang diajukannya. Dilain sisi aku sama sekali tak mengajukan syarat apapun untuknya, aku benar-benar mencitainya tanpa syarat.
“Aku ingin jalan-jalan. Kau mau menemaniku kan?” tanyaku dengan sedikit nada penekanan, memaksanya secara halus.
“Apa? Jalan-jalan? Yang benar saja Diamond! Kau bahkan belum bisa duduk, berjalan ataupun berdiri sendiri! Bagaimana mungkin?”
Amethys tidak menjawab malah melirikku dengan pandangan tidak suka. Sepertinya dia tak setuju dengan ide jalan-jalan dalam kondisi tubuhku yang seperti sekarang ini.
"Yasudah kalau kau tidak mau mengantarku, tolong panggilkan saja suster yang paling cantik untuk mengantarku.” lanjutku pura-pura pasrah tapi sambil sedikit menggodanya.
“Apa? Dasar kau buaya!" Umpatnya kesal dan aku langsung tertawa menanggapinya.
"Sebenarnya apa sih maumu?” Amy menjawab dengan ketus. Sepertinya mulai dapat menangkap maksud lain dari keinginan jalan-jalanku.
“Aku mendapat firasat buruk, aku khawatir pada seseorang…” Ucapanku terhenti karena amy menyelanya.
Heran juga, belakangan ini kami jadi sering berselisih atau bertengkar hanya karena hal-hal kecil dan tidak penting sekalipun. Apa memang begini hubungan sepasang kekasih? Ternyata tidak semanis yang kubayangkan sebelumnya.
“Kau mengkhawatirkan orang lain? Siapa? Bukannya kaulah orang yang paling patut dikhawatirkan saat ini?” Protesnya terang-terangan.
“Aku serius, Amy. Sudahlah, Kalau kau tak mau membantuku, biar aku pergi sendiri saja.”
Kucoba untuk mengerahkan segenap tenagaku untuk menggerakkan tubuhku, berusaha bangkit sendiri dari ranjangku. Tapi tubuhku seakan tak mau menuruti perintahku, hanya berpindah beberapa senti meter saja. Dan sebagai gantinya rasa sakit maha dahsyat kembali menyerangku, membuatku mengernyit dan merintih pelan tak tertahankan.
“Sudah! Cukup! Hentikan!” Amy dengan cekatan mencegahku bertindak dan bergerak lebih jauh lagi. Sepertinya tak tega juga melihatku kesakitan.
"Dasar egois, keras kepala," omelnya padaku. "Mau kemana kau sebenarnya sepagi ini?” Dia beranjak mengambil kursi roda dari locker di sudut kamarku.
“Menemui bibi Nefrit.” Jawabku meringis, menahan rasa sakitku.
“Paduka ratu? Sepagi ini? Untuk apa?” Didorongnya kursi roda itu kearah ranjangku.
“Kemarin, sebelum dan sesudah ujian baik Jasper, Zircon ataupun Opal sama sekali tak ada yang menghubungiku. Setelah kekalahan Jasper aku takut mereka akan melakukan hal-hal nekat yang berbahaya.” Kujelaskan alasan kekhawatiranku.
“Tenang saja, mereka itu otaknya jauh lebih waras daripada kamu kok,” celetuk Amy dengan sedikit candaannya.
Yah memang biasanya aku yang paling nekat diantara mereka si. Tapi dalam keadaan tertentu bahkan seseorang paling pasrah bisa jadi nekat.
“Aku Cuma ingin mencegah yang terburuk” Jawabku tak menghiraukan candaannya.
“Satu hal yang paling kubenci dari dirimu adalah sikap ringan tanganmu dalam membantu orang lain. Kumohon Diamond, lain kali pikirkanlah dirimu dulu sebelum memikirkan orang lain!” Ujar amy menggengggam erat jemariku.
Aku hanya tersenyum dan mengangguk ringan menjawabnya. Amy menundukkan kepalanya, mendekatkan wajahnya semakin dekat ke wajahku, lalu dia mencium keningku ringan sebelum mengangkat tubuhku perlahan dan membantuku duduk ke kursi roda, baru kausadari ternyata ciuman ringan tadi cukup ampuh juga untuk mengurangi sedikit rasa sakitku.
Amy mendorong kursi rodaku perlahan menyusuri koridor dan melewati ruang jaga perawat. Amy melaporkan keadaan tubuhku dan mengatakan akan membawaku jalan-jalan sebentar untuk melemaskan otot-ototku yang kaku.
"Hei perawat berambut pendek itu manis juga. Aku tak keberatan kalau dia yang mendorong kursi rodaku," sedikit kugoda gadisku itu.
Amy tidak menjawabku, dan dapat kulihat wajahnya sedikit merengut kesal. Dia memasukkan kursiku rodaku dengan dorongan kasar ke dalam sebuah ruangan. Ruangan yang selanjutnya kuketahui sebagai ruangan kerjanya.
Amy mengganti sandal bonekanya dengan sepatu berhak tinggi resminya, memakai sedikit make up minimalis ke wajahnya dan merapikan keseluruhan penampilannya di depan cermin. Dalam sekejap dia sudah kembali seperti sosok kesehariannya sebagai Amethys Sumeragi yang sempurna.
Setelahnya Amy kembali mendorong kursi rodaku ke arah lift dengan dorongan yang tetap kasar. Sepertinya dia masih kesal padaku.
"Aduh-aduh, maaf aku tak akan menggodamu lagi." Ujarku merasa tidak nyaman dengan sikapnya. Baru kusadari ternyata Amethys adalah tipe pencemburu yang tidak suka digoda dan dibanding- bandingkan dengan gadis lain. Dia tipe yang ingin memilikiku sepenuhnya, tanpa ada gadis lain yang mengganggu. Aku suka itu, dia manis sekali hehe
Dari lift kami melanjutkan perjalanan ke garasi mobil di lantai underground. Amy membantuku masuk dan duduk dimobilnya sebelum dia sendiri duduk di depan kemudi dan melajukan mobilnya ke arah istana.
..._______#________...
🌼Yuuuuks gaes PLIIIIS jangan lupa kasih LIKE, VOTE dan KOMEN 🌼