Almekia Kingdom

Almekia Kingdom
79. Jasper - Meet Again



Hari ini adalah hari pertandingan semifinal turnamen Bloody Hell. Pertandingan akan diadakan siang hari, saat matahari sudah tegak diatas kepala. Yang bertanding hari ini untuk babak pertama adalah Diamond vs Jade sedangkan untuk babak kedua adalah Zircon vs Simone.


Besar harapanku agar Diamond atau Zircon dapat memenangkan pertandingan semifinal ini. Atau salah satu saja dari mereka setidaknya. Agar dapat melaju ke babak final, dan selanjutnya menjadi juara turnamen ini mewakili kami. Mewujudkan harapan kami untuk dapat ke middle part dan bertemu dengan paman Obsidian.


Pertandingan pertama antara Diamond melawan Jade telah berlangsung dengan sangat sengit dan brutal. Benar-benar pertarungan gear master tingkat tinggi. Bagaimana kecepatan, ketepatan serangan, ketajaman senjata, kemampuan menghindar bahkan keputusan untuk memakai chi dan energi tenaga dalam kedua gear itu sangat hebat.


Jadi sehebat itukah kemampuan Diamond? Seorang dengan pangkat kolonel yang memimpin 1000 prajurit di perbatasan West Line? Sangat hebat, sama sekali tak terbayang olehku yang biasa melihat tingkahnya yang selengekan dan banyak bercanda.


Sayangnya kondisi Diamond sedang kurang baik hari ini. Bahkan mungkin setiap hari juga tidak baik. Dia belum sembuh benar sepertinya. Jika dengan kondisi tubuhnya yang optimal, aku percaya pasti dia dapat mengalahkan Jade tadi. Jika saja dia tak kehabisan energi dan tenaganya duluan seperti tadi.


Keadaan yang sangat berbahaya tentu saja untuk kehabisan tenaga di tengah pertandingan serius begitu. Untung saja Kak Amethys datang tepat pada waktunya untuk menyelamatkannya. Jadi untuk inilah Kak Amethys ingin menemui Zircon kemarin? Untuk merencanakan penyelamatan Diamond ini?


"Jez? Mau?" Saphir tiba-tiba datang menghampiriku dan menyodorkan sebuah es cream cone untukku dengan wajah sedikit memerah malu-malu.


Aduh gadis ini makin lama makin manis dan sangat menggemaskan saja. Dari mana coba dia membeli es cream ini? Kuterima es cream itu dengan senyuman sebagai tanda terima kasihku padanya, dan segera kujilati untuk menikmati manisnya rasa coklat dari es cream itu.


"Eh ada rame-rame apa ya?" kata Saphir beberapa menit kemudian sambil menunjuk ke arah ruang karantina peserta. Ruangan khusus yang hanya bisa dimasuki oleh para semifinalis turnamen.


Kugenggam sebelah tangan Saphir yang tidak sedang memegang es cream. Kuajak dia beralih dari tempat kami di hadapan layar besar untuk menonton pertandingan. Berjalan beriringan mendatangi keramaian itu untuk mencari tahu apa yang sedang terjadi disana. Daripada penasaran kan?


Suasana di tournamen hall begitu ramai, sesak dan gaduh saat ini. Aku benar-benar tak ingin berpisah dari Saphir, takut bahwa kami akan susah untuk bertemu lagi jika berpisah diantara lautan ribuan manusia ini.


Ternyata sumber kehebohan tadi berasal dari tiga sosok tubuh yang baru saja keluar dari ruang tunggu dan karantina peserta. Kak Amethys yang baru keluar dari ruangan diikuti oleh Opal yang menggendong sesosok tubuh di dadanya. Diamond.


Para penonton sibuk mengerubungi mereka, menebak-nebak siapa mereka. Bahkan sebagian sudah berkomentar, menghina dan mencaci maki mereka bertiga. Ketiganya orang itu tampak tak perduli dan terus melangkah dan melaju ke arah klinik di sayap kiri tournamen hall.


"Ayo kita kesana, Saphir." Dengan tetap bergandengan tangan kuajak Saphir untuk mengikuti mereka.


"Kakakku...Kak Diamond kenapa Jez?" Tanya Saphir dengan nada khawatir.


Bagaimana tidka khawatir saat melihat tubuh kakaknya di pelukan Opal dengan noda darah yang banyak di sekitar dadanya. Saphir membuang es cream yang bahkan belum dimakannya separuh. Aku pun melakukan hal yang sama, seakan tak ada gairah lagi untuk menikmati rasa manis dari es cream itu.


Dapat kulihat mereka bertiga masuk ke dalam ruangan klinik dan menutup rapat pintunya. Membuat kerumunan orang yang mengerubuti mereka bubar, menjauh dan berpindah dari tempat itu.


Aku dan Saphir menghampiri pintu klinik. Penasaran dan ingin tahu apa yang terjadi disana. Kuketuk pelan pintu itu, dan Opal membukakan pintu itu untuk kami tak lama kemudian. Terlihat keheranan melihat kehadiranku dan Saphir disana, buru-buru dia menarik kami masuk, menutup dan menguncinya dari dalam.


"Selamat siang pangeran Jasper." Sapa Opal dengan membungkuk padaku.


"Apa-apaan si Opal. Hentikan kebiasaan menyebalkanmu itu selama kita tidak di istana," balasku sebal menerima penghormatannya. Dan Opal hanya tersenyum menanggapi protesku padanya.


"Bagaimana keadaanmu dan platina? Kudengar dari Kak Amethys kalian diculik dan menjadi tawanan Ruby? Aku bertanya padanya dengan khawatir.


"Platina mana? Dia gak pa-pa kan?" Saphir ikut bertanya tentang keadaan Platina.


"Iya kami memang dijadikan tawanan. Tapi sementara ini perlakuan Ruby cukup baik. Yah paling tidak dia tak menyiksa kami." Jawab Opal sangat tenang. Berarti memang tidak seburuk itu sifat Ruby pada mereka.


"Bekas lukanya terbuka lagi. Dia kehilangan banyak darah serta menguras terlalu banyak energi dan tenaga dalamnya. Sepertinya dia harus tertidur selama satu atau dua hari penuh untuk memulihkan tubuhnya." Opal mengajak kami ke ruangan perawatan. Menghampiri Kak Amethys dan Diamond yang sudah ada disana duluan.


Dapat kulihat tubuh Diamond sudah diletakkan di atas sebuah bed klinik. Kak Amethys melepas plester di dada Diamond yang penuh darah dengan sangat hati-hati. Kemudian membersihkan luka-luka di dada Diamond, mengolesinya dengan obat dan kemudian menutup kembali luka-luka itu dengan kasa steril.


"Opal bantu aku," pinta Kak Amethys dan Opal dengan cekatan membantu mendudukkan Diamond sehingga Kak Amethys dapat memasang perban yang melingkari seluruh permukaan dada dan punggung Diamond. Membuatnya seperti separuh mumi saja.


"Pasang infuse, masukkan NaCl, antibiotic dan analgesic sekaligus," perintah kak Amethys pada Opal. Dan dengan cekatan Opal langsung melaksanakan perintah kakaknya itu.


Sementara Kak amethys sendiri sibuk mengompres dahi Diamond yang sepertinya sedang demam karena perdarahannya.


Aku dan Saphir hanya bisa melihat saja kedua orang itu bekerja dengan cekatan dari jarak yang agak jauh. Yah kami tak bisa membantu apapun, paling tidak kami tak ingin mengganggu mereka bekerja. Setelah beberapa saat Kak Amethys menyelimuti tubuh Diamond dengan selimut tebal, kemudian mengajak kami keluar dari ruang perawatan.


"Treathmen done. Keadaannya sudah stabil, dia hanya butuh istirahat saat ini." Ujar Kak Amethys pada kami.


"Apa Kak Diamond baik-baik saja?" tanya Saphir masih mengkhawatirkan keadaan kakaknya itu.


"Cuma itu yang bisa kita lakukan untuknya. Selanjutnya tinggal menunggu dia sendiri untuk bangun." Jawab Kak Amethys pasrah.


"Sepertinya pertandingan Zircon segera dimulai" celetuk Opal mengalihkan perhatian kami. Dia menghidupkan layar di ruang tunggu klinik ini.


Dan benar saja layar itu juga terhubung dengan server yang menayangkan pertandingan di arena secara langsung. Kami berempat pun berdiri menghadap layar, memoerhatikan jalannya pertandingan.


"Aku penasaran dengan pertandingan ini. Simone...dia benar-benar tak bisa diprediksi," celetuk Opal.


Yah Opal memang kalah telak dari Simone pada pertandingan sebelumnya. Mungkin dia penasaran bagaimana cara Zircon untuk menghadapi pria nyentrik itu nanti. Penasaran apakah Zircon dapat mengalahkan Simone atau malah berakhir dengan kekalahan seperti dirinya.


"Bagaimana peluang kemenangan Zircon?" tanyaku.


"Sepertinya kekuatan mereka hampir seimbang. Siapa saja yang dapat menggunakan strategi dan taktik yang tepat akan keluar sebagai pemenang." Opal menjawab dengan sedikit ambigu.


"Belajar dari pertandingan Diamond tadi, sepertinya mereka berdua akan bertarung dengan tempo lambat. Untuk menghemat penggunaan chi dan tenaga dalam. Siapa yang dapat bertahan paling lama adalah pemenangnya," Kak Amethys menjelaskan, ikut memperhatikan layar dengan serius. Mengamati kedua gear yang telah berhadapan di arena dan wasit yang memperkenalkan keduanya.


"Benar sekali. Para pemenang pertandingan hari ini harus memikirkan juga tentang tenaga dan energi. Untuk pertandingan final besok, sangat tidak menguntungkan kalau tenaga sudah habis pada hari ini. Sehingga besok tidak bisa maksimal." Opal membenarkan penjelasan kakaknya.


"Gear Simone sangat menjijikkan. Dia kan laki-laki kenapa memakai gear warna pink dan lagi apaan itu gambar bunga mawar?" komentar jujur Saphir membuat kami semua kompak tertawa ngakak membayangkan kenyentrikan Simone.


"Hush. Meskipun sedikit nyentrik Simone itu gear master yang hebat," aku mengingatkan.


"Ready?....Goooo!!" terdengar wasit sudah menembakkan pistol serta meneriakkan aba-aba tanda dimulainya pertandingan semifinal kedua ini.


..._______#_______...


🌼Yuuuuks gaes PLIIIIS jangan lupa kasih LIKE, VOTE dan KOMEN 🌼