
Sesuatu yang hangat di telapak tangan kananku adalah hal pertama yang dapat kurasakan. Kehangatan yang menenangkan dan mampu memberikan dorongan untuk bangkit serta mulihkan kesadaranku.
Begitu kubuka mata kudapati sosok cantik itu, sosok wanitaku yang paling kucintai, Amethys. Gadis itu begitu setia menggenggam sebelah tanganku, menunggui disamping ranjangku.
"Hai, kau sudah sadar?" sapanya ramah begitu menyadari aku sudah membuka mataku.
Amy tersenyum sangat indah padaku, nampak sangat jelas kelegaan dari wajahnya. Amy meletakkan telapak tangan kanannya ke dahiku untuk memeriksa suhu tubuhku.
"Demammu sudah redah, syukurlah."
"Aku?...aku kenapa?" Tanyaku sedikit bingung dan pusing, ingatanku rasanya masih timbul tenggelam di kepalaku.
"Bagaimana pertandingan dengan Jade... aku kalah?" tambahku setelah dapat mengingat sebagian besar kejadian yang kualami sebelum pingsan.
Kuperhatikan keadaan di sekelilingku saat ini, dan kudapati aku terbaring di ranjang pasien dalam sebuah ruangan yang mirip dengan ruangan klinik.
"Tak apa. Kau sudah berusaha dengan sangat gigih. Lebih dari yang seharusnya kau lakukan," jawab Amy penuh penekanan.
Aku tahu betul dia sedang memperhalus semua kata-katanya. Maksud sebenarnya dari perkataannya adalah aku terlalu berlebihan. Terlalu sembrono dan gegabah, memaksakan tindakan diluar kemampuan fisikku saat ini. Terlalu mengambil resiko yang bahkan dapat membahayakan nyawaku sendiri.
"Terima kasih kau sudah menyelamatkanku," ujarku padanya.
Aku ingat gear ungu yang muncul ditengah pertandinganku dengan Jade tadi. Leviathan private gear Amy, gear itu menggantikan gearku menerima serangan energi super besar yang dikerahkan Jade. Serangan yang seharusnya dapat menghancurkan gearku dan membunuhku.
"Tentu saja. Aku tak mau menjadi janda bahkan sebelum menikah," jawab Amy dengan nada datar dan kalemnya. Sementara aku yang mendengar perkataannya saja jadi ngeri juga membayangkan nasib Amy jadi janda sebelum menikah. Karena aku?
"Berapa lama aku pingsan?" tanyaku sambil mengedarkan pandanganku keseluruh ruangan untuk mencari orientasi waktu.
"Sehari semalam, hampir 24 jam" jawab Amy.
"Sepertinya tubuhmu sudah semakin pulih, tak kukira kau bisa sadar secepat ini... Oiya apa kau lapar? Aku akan mencarikan beberapa makanan untuk mengisi perutmu." Amy beranjak dari duduknya di kursi sebelah ranjangku.
"Amy..." panggilku dengan meyambar sebelah tangannya sebelum gadis itu berjalan menjauhi ranjangku.
"Ya? Kau membutuhkan sesuatu?" tanyanya padaku dengan pengertian.
"Mana ciuman selamat pagi ku?" ujarku menagih sesuatu yang biasanya dia berikan padaku namun tak kudapatkan hari ini.
"Dasar kau ini. Hari ini sudah lewat tengah hari tapi kau masih meminta morning kiss?" gerutu Amy dengan wajahnya yang sedikit bersemu merah.
Dengan gerakan yang anggun dia membungkukkan badannya, mendekatkan wajahnya ke wajahku dan mendaratkan bibir lembutnya ke pipi kananku.
Kecupan ringan dan manis dia berikan untukku yang cukup untuk memekarkan bunga-bunga dihatiku. Memberiku semangat untuk lekas sembuh.
"Sudah ya?" Beberapa saat kemudian, Amy bangkit berdiri setelah memberiku kecupan.
"Kurang! Pipi kiri belum!" ujarku meminta lebih.
Tanpa membantah Amy pun kembali membungkuk dan memberi kecupan ringan pada pipi kiriku. Gadis itu pun menambahkan dengan satu kecupan ringan lagi tepat di bagian bibirku. Kecupan manis yang mampu membuat tubuhku seakan melambung tinggi di angkasa saking bahagianya.
Amethys melakukannya bahkan sebelum aku memintanya. Heran bisa-bisanya dia membaca pikiranku. Bagaimana dia tahu kalau aku akan meminta lagi? hehehe
Amethys cepat-cepat mengangkat wajahnya yang sudah merah padam, menjauhkannya dari wajahku. Gadis itu membalikkan badannya dariku dan berjalan ringan meninggalkanku keluar dari ruangan tanpa bisa kucegah.
Kucoba untuk menggerak-gerakkan tubuhku, menghilangkan kekakuan tubuhku karena terlalu lama tidur. Tidak sakit, tak rada rasa sakit tajam yang menyerangku. Kubangkitkan tubuhku perlahan dari posisi tidur ke posisi duduk.
Hanya sedikit rasa ngilu yang kurasakan saat otot-otot dadaku tertarik karena gerakanku. Benar kata Amy sepertinya tubuhku sudah semakin pulih. Hanya tinggal rasa lelah karena kehabisan tenaga yang kurasakan. Hal yang biasa terjadi setelah pertarungan sengit habis-habisan dengan mengerahkan seluruh tenaga dalam.
Tak lama setelah Amy keluar ruangan tiba-tiba pintu ruangan terbuka lagi dengan sangat keras. Seorang gadis dan pemuda berjalan, memberondong masuk ke dalam ruangan.
"Kakaaak!" Sang gadis langsung menyerbu ke arahku, memeluk tubuhku dengan sangat erat.
"Saphir? Hei anak nakal, aku kangen sekali." Kubalas pelukan adikku itu dan tepuk-tepuk halus kepalanya.
"Maafkan aku kak, aku telah membuatmu khawatir. Membuat ayah dan ibu cemas, merepotkan semua orang di seluruh kerajaan karena kenakalan kami." Ujar Saphir yang masih dalam pelukanku dengan nada penyesalan yang seolah-olah mau menangis.
"Aku pribadi sih sudah memaafkanmu. Tapi kau masih harus menerima hukuman nanti setelah kembali ke istana." Jawabku sambil perlahan melepaskan pelukannya di tubuhku.
"Kakak sampai seperti ini karena kami. Seharusnya kakak masih perlu banyak beristirahat di rumah sakit. Tak seharusnya kakak datang kesini dengan mempertaruhkan nyawa begini..."
"Hei, aku belum mati kan? Tenang saja kakakmu ini sangat kuat! Aku tak akan mati semudah itu," Jawabku mencoba mengurangi sedikit rasa bersalah adikku itu.
"Tapi kau sudah nyaris mati berapa kali hah?!" Kali ini suara lelaki yang memprotesku tajam. Sang pemuda yang tadi memasuki ruangan bersama dengan Saphir, Jasper.
"Hallo jez. Tidak bertemu beberapa saat saja kau sudah tumbuh dewasa ya?" sapaku pada Jasper.
Dapat kulihat tatapan mata pemuda itu telah berubah menjadi semakin matang dan dewasa. Mungkin petualangannya kali ini telah memberikan banyak pelajaran hidup yang berharga.
Wajah Jasper sedikit memerah karena ucapanku, mungkin dia sedikit malu dipuji tentang kemajuan yang didapatnya.
"Opal, Platina dan Zircon? Bagaimana keadaan mereka?" tanyaku pada Jasper dan Saphir.
"Opal dan Platina sudah dibebaskan dari tawanan oleh Ruby. Sementara Zircon, dia baik-baik saja dan sangat bersemangat untuk pertandingan finalnya nanti." Jawab Jasper.
"Syukurlah kalau begitu," aku membuang napas lega.
Yah paling tidak Ruby memenuhi janjinya untuk melepaskan Opal dan Platina dari tawanannya. Bahkan setelah aku gagal memenuhi keinginannya untuk memenangkan turnamen Bloody Hell ini.
"Opal dan Platina pasti sekarang sedang bersama Zircon di hanggar gear. Membantu persiapannya sebelum pertandingan." Saphir ikut menambahkan.
Pintu ruangan terbuka lagi dan Amethys memasuki ruangan dengan senampan makanan, entah darimana dia bisa mendapatkan makanan secepat itu.
"Ini makanlah dulu, kau perlu mengisi tenagamu dan minum obat," Amy menyodorkan nampan berisi makanannya ke pangkuanku.
Dapat kulihat cream soup jagung yang masih hangat dengan beberapa iris garlic bread tersaji disana, didampingi oleh segelas teh hangat yang harum baunya. Tanpa babibu lagi langsung kusantap makananku karena memang perutku sudah sangat lapar.
"Setelah turnamen ini berakhir, kita harus memikirkan rencana selanjutnya." Ujar Amethys mengambil duduk di kursi sebelah ranjangku. "Apakah kita akan tetap berada di kota ini atau akan kembali ke istana."
"Aku tak mau kembali ke istana. Tidak sebelum aku berhasil mengungkap semua misteri kematian ayahanda," jawab Jasper.
"Bagaimana denganmu Saphir?" Amethys ganti menanyai Saphir yang terlihat bimbang.
"Aku...aku ingin bersama Jez, tapi aku...aku juga ingin pulang," ujar Saphir kebingungan.
"Misiku kesini adalah untuk membawa kalian pulang. Paduka ratu sendiri yang meminta padaku untuk membawa kalian kembali ke istana dengan selamat." Kataku setelah menelan beberapa suap supku.
"Aku tak akan memaksa untuk membawa pulang Jasper. Yah bagaimanapun aku juga mendukung segala usahanya untuk mengungkap misteri tentang paduka raja." aku kembali menambahkan. "Tapi aku tak setuju jika harus melibatkan para wanita dalam pelarian yang berbahaya ini."
"Aku akan membawa pulang Saphir dan Platina bersamaku kembali ke istana," Amy membantuku menjelaskan maksud kami.
"Disini terlalu berbahaya. Biarkan saja kalian para pria berjuang sesuai keyakinan kalian dan kami para wanita akan menantikan kepulangan kalian di istana."
"Dengan begitu kita dapat bertindak dengan tenang tanpa memikirkan keselamatan mereka lagi. Mereka akan aman di istana." Aku memberi kesimpulan.
"Aku sudah berbicara dengan Opal dan dia setuju untuk memulangkan Platina. sekarang tinggal kalian berdua, Kalian mau pulang atau tetap disini dengan segala resikonya?" tanya Amethys dengan sedikit mendesak pada kedua anak muda itu.
"Biar aku saja yang pulang. Jasper akan tetap disini melanjutkan segala perjuangan kami." Saphir akhirnya memutuskan.
Rupanya adikku itu juga sudah tumbuh dewasa. Dia bukan lagi gadis manja yang mengedepankan egoisme tanpa memikirkan logika. Sekarang dia dapat memutuskan sesuatu berdasarkan untung dan ruginya, memutuskan sesuatu yang tepat dengan resiko terkecil.
"Tapi bagaimana mereka dapat kembali? free zone sangat berbahaya untuk tiga orang wanita tanpa pengawalan." Jasper sedikit khawatir akan keselamatan ketiganya.
"Aku akan mengantar mereka sampai ke WestLine. Setelah sampai disana Goldy yang akan mengurus pemulangan mereka ke istana dengan aman." kataku mencoba menenangkan kecemasan Jasper.
"Kau dengan kondisimu sekarang?" ujar Jasper dengan nada tidak percaya.
Sialan! dia anggap aku selemah apa? Dengan keadaanku saat ini, aku bahkan bisa mengalahkannya dengan mudah dalam pertarungan gear.
"Aku akan meminta Opal menemani Diamond. Hanya sampai West Line, kemudian mereka berdua akan kembali kesini lagi membantumu dan Zircon." Amethys lagi-lagi memberikan solusi yang tepat.
"Zircon sendiri akan cukup untuk menjaga keselamatanmu disini untuk sementara waktu."
"Benar. Setelah turnamen berakhir Zircon akan dapat mengawalmu," Saphir menyeletuk menyetujui keputusan kami.
"Yah kurasa ini adalah keputusan terbaik yang dapat kita buat saat ini," Jasper akhirnya menyetujui.
"Aku masih berharap agar Zircon dapat memenang pertandingan final. Untuk memudahkan langkah kita mencari paman Obsidian dan memecahkan misteri."
"Tenang saja Zircon pasti bisa menghajar Jade," Jawabku. Aku percaya betul Zircon adalah tipe petarung sejati, dia pasti dapat mengerahkan segala kemampuanya untuk menghadapi Jade nanti.
"Ya kupikir Zircon dapat memanfaatkan sifat Jade yang overconfident. Semoga saja Zircon dapat menemukan celah dan mengalahkan Jade." Amy ikut berkomentar.
Yah memang Jade terlalu percaya diri dengan kemampuannya. Memang dia adalah gear master yang hebat. Tapi sifatnya yang terlalu meremehkan lawannya itu bisa menjadi bumerang yang merugikan dirinya sendiri.
Seperti saat melawanku di pertarungan sebelumnya, seharusnya aku bisa meringkus Jade kalau saja aku tak kehabisan energi. Jade terlalu meremehkanku sehingga dia tak mengerahkan energinya secara maksimal di awal serangan. Membuatku mendapat kesempatan untuk menyerangnya.
Yah tapi dewa keberuntungan tak berpihak padaku saat itu dan aku tetap kalah. Semoga saja sang dewa keberuntungan akan memihak Zircon pada pertandingan final nanti.
..._______#_______...
🌼Yuuuuks gaes PLIIIIS jangan lupa kasih LIKE, VOTE dan KOMEN 🌼