
Aku terbangun sore harinya karena perutku memberontak kelaparan. Setelah mandi dan membersihkan diri, kutinggalkan pesan untuk jasper dan Saphir yang masih tidur terlelap. Mereka berdua tidur tanpa bantal di ranjang doble size.
Mau tak mau aku tersenyum melihat bantal-bantal yang mereka pakai sebagai pembatas yang membagi ranjang menjadi dua bagian memisahkan mereka.
Sengaja kukenakan pakaian khas padang pasir dengan potongan sederhana. Pakaian dengan detail longgar dan berbahan tipis pemberian Goldy tadi waktu di Westline. Aku ingin membaur tanpa terlihat terlalu mencolok di wilayah ini.
Kutinggalkan salah satu kunci kamar diatas pesanku lalu aku keluar dan kukunci pintu kamar. Tak lupa kuperintahkan dalam pesan agar mereka berdua juga memakai pakaian padang pasir juga kalau ingin keluar kamar atau berkeliling kota.
Aku berjalan seorang diri keluar hanggar gear plus penginapan kami, menuju kota Bloody Hell. Kota yang terlihat sangat suram walau cuaca sore hari ini sangat cerah. Rencananya aku mau melihat-lihat keadaan kota, mencari informasi tentang Paman Obsidian, serta tujuan utama yaitu untuk mengisi perut.
Kesan pertamaku begitu memasuki Bloody Hell adalah rasa kagum. Bloody Hell ini adalah Kota yang hebat terlepas dari segala kebobrokan dan kekumuhannya. Semua bangunan di kota ini berbentuk kotak, persegi ataupun persegi panjang dari bahan bata atau tanah liat.
Semua bangunan memiliki ventilasi udara yang lebar dengan korden kain melambai-lambai beraneka warna. Bentuk bangunan yang sangat sesuai untuk daerah gurun pasir super tandus ini. Bangunan- bangunan itu bertingkat-tingkat dan dihubungkan dengan jembatan gantung dari tali ataupun kayu dari satu bangunan ke bangunan yang lain.
Sebagian bangunan lain yang menginjak tanah terbuat dari besi berbentuk memanjang mirip gerbong kereta api atau kontainer.
Entah kenapa aku jadi membayangkan Diamond dan Opal yang senang menyelinap pasti akan senang tinggal di kota ini. Mereka pasti akan senang terbang dan melompat dari satu lantai ke lantai lain serta kesana kemari, main petak umpet. Tapi mereka nyatanya tidak disini. Kami terpisah dan berada di belahan bumi yang berbeda saat ini.
Sepanjang jalan yang kulewati banyak sekali orang-orang bertampang sangar dari berbagai golongan usia. Mereka terang-terangan melakukan kejahatan seperti transaksi obat-obatan terlarang, mabuk-mabukan, pencurian, pencopetan, perampokan dan perampasan. Bahkan banyak sekali perkelahian, perusakan dan pengeroyokan dimana-mana. Mau tak mau aku harus meningkatkan kewaspadaanku saat berada disini, kalau tidak sepertinya aku bisa celaka.
Kumasuki sebuah gerbong kumuh berpapan nama sebagai sebuah tavern. Aroma bir yang menyengat dan asap rokok yang tajam mengepul memenuhi tempat ini. Walaupun masih sore tavern ini sudah penuh dengan pengunjung, mulai dari orang yang bermabuk-mabukan, berjudi, bercinta sampai yang hanya makan dan ngobrol.
Kuambil tempat duduk dihadapan bartender dan kupesan makanan serta minuman.
“Jam segini rame ya pak?” tanyaku berbasa basi sambil menyantap makanan pesananku yang telah dihidangkan, bartender itu hanya mendengus menjawabku tak berminat.
“Anda tahu orang yang bernama Obsidian Nightray?” tanyaku lagi sambil menyodorkan uang 10.000 gils.
“Kau orang baru?” tanya bartender itu menyelidik. Kelihatannya sudah mulai menunjukkan minatnya untuk berbicara padaku, cepat-cepat diambilnya uang yang tadi kusodorkan.
Aku hanya mengangguk sebagai jawaban untuknya.
“Semua orang di tanah berdosa ini pasti mengenal jendral besar Obsidian Nightray. Satu-satunya orang yang berhasil menciptakan peraturan dasar yang ditaati oleh seluruh rakyat,” lanjutnya menjelaskan.
“Bukannya daerah ini bebeas peraturan?” kukorek informasi lebih banyak lagi darinya.
“Memang, untuk kejahatan-kejahatan ringan tak akan ada yang menghukum kami. Tapi bagaimanapun juga kami masih diatur terutama soal pembunuhan dan penganiayaan. Jendral Obsidian dan anak buahnya akan menindak tegas semua pelakunya. Karena itulah daerah yang dulunya seperti neraka ini kini perlahan mulai nyaman dihuni.”
“Dimana saya bisa menemui beliau?” Aku langsung ke pokok masalah.
“Hehehe kau benar-benar tak tahu apa-apa soal kota ini rupanya. Jendral Nightray tinggal di middle part, pusat kota ini yang tak bisa didatangi sembarang orang. Tak mungkin kau bisa menemuinya, beliau hanya mau menemui orang-orang tangguh terutama seorang gearmaster. Sudahlah anak muda, urungkan saja niatmu, kau tak munngkin bisa menemuinya.”
“Bagaimana dia bisa tahu ketangguhan seseorang yang akan ditemuinya?” tanyaku lagi.
“Disini ada sebuah turnamen untuk menentukan kekuatan. Hanya orang yang terkuatlah yang bisa memasuki daerah midle part, pusat kota yang tertutup bagi kalangan luas. Kudengar disana sangat bersih dan rapi, tak ada kejahatan dan pekerjaan terjamin seperti bukan di Bloody Hell saja."
"Jika berhasil memenangkan beberapa kali pertandingan dalam turnamen dan masuk perempat final. Kau pasti akan diijinkan masuk midle part. Kau bisa mendatangi kediaman Jendral Nightray dan bertemu dengannya disana”
“Kapan dan dimana turnamen itu akan diadakan?”
“Di balai ujian, tournamen hall. Bangunan terbesar di sayap kanan kota. Turnamen berikutnya akan diadakan akhir minggu ini, 3 hari lagi,” bartender itu menyerigai.
“Kalau boleh tahu kenapa kau tinggal di neraka ini? Apa yang telah kau lakukan?”
“Lebih baik bebas dineraka daripada terkekang disurga” Jawabku ringan dengan sedikit ambigu.
“Hahahha sudah kuduga, paling tidak kau pernah membunuh kan? Tatapan matamu sangat tajam menunjukan kau tak akan segan membunuh orang. Tapi pikirkan lagi kalau kau ingin mengikuti turnamen. Kau bisa terbunuh dan mati konyol disana.”
Aku tak ingin menimbulkan kecurigaan bartender tadi. Entah bagaimana dia bisa mengetahui bahwa aku pernah membunuh orang hanya dari tatapanku saja. Yah sebagai seorang prajurit militer yang sering ikut berperang memang hal ini tak bisa dihindari. Kami harus memilih antara membunuh atau dibunuh. Dan kami sudah lama membuang rasa kemanusiaan kami untuk dapat menghabisi nyawa lawan tanpa ragu.
Tak ingin membuang waktu lagi, kutinggalkan tavern itu setelah habiskan makanan dan minumanku serta kubayar ongkos makananku. Aku berjalan terus kearah kanan mencari bangunan besar yang dikatakan bartender tadi, sesekali berbelok saat kutemui jalan buntu.
Setelah cukup lama aku berjalan, aku tak bisa menemukan gedung itu malah kudapati diriku berada di kawasan yang semakin sepi. Hanya ada gerbong-gerbong disekitarku, dan kebanyakan gerbong itu kosong tak ditempati lagi. Daerah ini tampak lebih kumuh lagi, seperti daerah pinggiran yang terbuang dan tak terpakai.
Yah harus kuakui sepertinya aku kesasar, aku benar-benar buta arah di kota ini. Aku kehilangan orientasi arah mata angin.
Bentuk bangunan di kota ini yang hampir mirip-mirip semua membuatku kehilangan pegangan arah, bingung. Kuputuskan untuk kembali saja ke arah aku datang, tak mau mengambil resiko kesasar lebih jauh lagi.
“Keluarlah nona!” tiba-tiba beberapa pria bertubuh kekar dan bertampang sangar beterbangan dari satu gerbong ke gerbong yang lain diatasku, sepertinya sedang mengejar dan mencari seseorang.
“Hei brengsek, kau lihat seorang gadis bersembunyi disekitar sini?” tanya salah seorang dari mereka padaku dengan nada kasar tak tahu sopan santun.
“Tidak,” jawabku seramah mungkin, tak ingin mencari masalah dengan mereka.
Tanpa memperdulikanku lagi si penanya langsung bergabung dengan temannya dan beranjak pergi mencari ke kawasan lain. Kuedarkan pandanganku kesegala penjuru untuk mencari sosok yang mereka cari.
Tak lama kemudian kudapati sesuatu yang janggal di pipa saluran air yang menempel di salah satu gerbong besi. Sesuatu yang panjang berwarna merah menyala, menjuntai melewati mulut pipa. Benar-benar cara bersembunyi yang buruk.
Setelahnya kupastikan keamanan disekitarku dan yakin sekawanan pengejar tadi sudah pergi cukup jauh dari lokasiku. Perlahan kuhampiri pipa saluran air yang terlihat janggal tadi.
“Mereka sudah pergi, anda sudah aman, nona” ujarku sehalus mungkin agar tidak membuat siapapun yang sedang bersembunyi disitu ketakutan.
Aku yakin seorang gadis pasti akan sangat ketakutan jika dikejar-kejar gerombolan pria seseram tadi. Apalagi sampai harus bersembunyi di pipa saluran air, yang untung saja sedang kering karena tidak terpakai ini.
Perlahan sesosok tubuh keluar dari pipa tersebut, digerak-gerakkan tubuhnya begitu berdiri di tempat yang lapang. Sejenak namun pasti dapat kurasakan jantungku berhenti berdetak demi memperhatikan gadis itu.
Sungguh ciptaan tuhan yang sangat indah, wajahnya cantik, kecantikan bagaikan bidadari, rambut merahnya yang panjang diekor kuda, kulitnya seputih mutiara meskipun tinggal di daerah sepanas ini, sangat kontras dengan warna rambut merah menyalanya dikepalanya, mantel panjang dan scraft juga menambah keistimewaan penampilannya bagiku.
“Dasar brengsek! Gara-gara kau aku harus bersembunyi di tempat bau itu lebih lama!” Umpatan gadis itu bagai petir menggema di telingaku.
Yang benar saja? Gadis seperti ini bisa berbicara sekasar itu? Bagaimana mungkin?
“Seharusnya anda berterima kasih karena saya sudah menyelamatkan anda” jawabku berusaha tetap sopan meski sedikit sebal dan kecewa akan sikapnya.
“Hah? Dasar keparat! Terima kasih katamu? Jangan mimpi! Aku toh gak minta bantuanmu, lagian tanpa kebohongan konyolmu aku bisa saja lolos dengan mudah. Cecunguk-cecunguk itu tak mungkin bisa menangkapku!” cemoohnya angkuh.
“Kau yang harus minta maaf, brengsek! Karena ketololanmu mereka berkeliaran lebih lama. Bajuku jadi bau lumut!”
Aku benar-benar speachlees menghadapi gadis sombong, egois, keras kepala dan berlidah tajam ini. Jujur saja ini pertama kalinya aku bertemu dengan gadis tipe begini, biasanya yang kutemui hanyalah gadis-gadis istana dan bangsawan yang lembut, anggun dan sopan.
“Uhm...Maaf...”Kataku akhirnya tak tahan dengan pandangan menusuknya yang terkesan sangat menyalahkanku.
'Sial! Padahal kan aku tidak salah apa-apa.'
“Ah persetan denganmu. Waktuku jadi terbuang sia-sia disini!” tanpa mengucapkan terimakasih ataupun selamat tinggal gadis itu beranjak pergi.
Gadis berambut merah itu meninggalkanku yang masih terbengong-bengong. Dia melompat dari satu gerbong ke gerbong yang lain dengan lincah dan cepat, melihat gerak-geriknya aku yakin dia memiliki ilmu beladiri yang cukup tinggi...
Akhirnya aku tak melanjutkan pencarianku dan malah memutuskan kembali ke penginapan dengan perasaan kacau dan campur aduk yang aneh pada gadis cantik berperagai kasar yang aku bahkan tak tahu siapa namanya itu...
..._______#________...
🌼Yuuuuks gaes PLIIIIS jangan lupa kasih LIKE, VOTE dan KOMEN 🌼